
Selepas makan malam yang sudah selesai qiana dan putera bergegas keluar restoran untuk pulang ke rumah
"qiana tunggu" Dion yang sedari tadi menunggu di parkiran menghampiri qiana saat sudah melihat qiana dan putera yang akan masuk mobil
qiana menoleh ke arah Dion "ada apa mas" tanya qiana dengan sopan
"kamu tadi pasti dengar obrolan mas, jangan salah paham ya" ucap Dion
qiana tersenyum tipis "qiana sama sekali gak salah paham kok mas, obrolan itu terbilang biasa saja mas. Ada atau tidak ada obrolan itu gak akan merubah presepsi qiana untuk tidak buru-buru dalam memilih pasangan" jelas Qiana
"tapi qiana" Dion ingin menggenggam tangan qiana tapi segera di tahan oleh putera
"jangan mewati batas ya tuan Dion" ucap Putera penuh peringatan
Dion menatap tajam putera "aku tahu kamu kakaknya tapi kamu terlalu melampui batas putera, jangan terlalu ikut campur akan hidup adikmu" tukas Dion
"apa kamu bilang" putera sudah tersulut emosi akan ucapan Dion yang seakan menambah bensin ke atas bara api yang sudah menyala di tubuhnya
saat putera sudah bersiap melayangkan tangannya, qiana segera menahan tangan putera "boleh qiana bicara sama mas Dion mas" pinta putera
"kok gitu sih qiana" putera tak terima qiana dekat dengan pria yang jelas jadi rivalnya itu
"aku mohon kak, sebentar saja" pinta qiana dengan muka memelas
"baiklah" putera akhirnya menyerah dan membiarkan qiana dan Dion bicara di tempat duduk dekat parkiran
Dion dan qiana duduk di bangku dekat parkiran yang tak jauh dari tempat putera berada "ada apa lagi sih mas, sepertinya siang tadi qiana sudah bahas untuk tidak membahas masalah hubungan deh" ucap qiana
"mas hanya gak mau kamu salah paham dengan obrolan mas tadi" ungkap Dion tentang kecemasan yang sedang ia rasakan karena ternyata obrolannya dapat di dengar Qiana dan itu bisa membuatnya salah paham
__ADS_1
Qiana menghela nafas pendek "obrolan mas gak begitu membawa pengaruh dalam pemilihan keputusan Qiana mas, qiana hanya belum ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan siapaun atau lebih tepatnya belum ada yang bisa menggerakkan hatiku jadi tolong jangan bersikap berlebihan mas" ungkap qiana
Dion menundukkan wajahnya "apa tiga tahun ini benar-benar tak ada artinya sama sekali untukmu qiana" Dion begitu berusaha mendekati Qiana selama tiga tahun tapi tidak ada apresiasi sedikitpun dari qiana tentang perjuangannya
qiana mengernyitkan dahinya "apa qiana yang minta itu semua sama mas Dion" tanya Qiana
Dion menggeleng "enggak, itu benar-benar dari hatiku untuk dapat dekat denganmu" balas Dion
"ini memang kesalahan qiana yang kurang tegas dengan mas" qiana menatap lekat wajah Dion "Dengar ya mas, kali ini lebih baik mas jaga jarak dari Qiana" qiana beranjak dari duduknya berniat pergi
"qiana" Dion menahan tangan Qiana "jangan jaga jarak dari mas" pinta Dion
Qiana melepas tangan Dion yang bertengger di tangannya "kita belum ada hubungan apapun mas, jadi tolong jangan bersikap berlebihan" qiana berjalan ke arah putera yang sedari tadi menahan kegeramannya
Qiana menghampiri putera yang berdiri di samping badan mobil "yuk kak pulang" ajak qiana
putera memakai sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya meninggalkan restoran yang tadi jadi tempat ia makan malam "bicara apa guru itu" tanya putera dengan ketus
qiana menoleh ke arah putera dan terkekeh melihat raut wajah putera yang sedang menahan amarah "kakak sudah mirip sama orang yang sedang cemburu saat ada orang yang deketin pacarnya tau gak" ledek qiana
"emang iya" balas putera
"apa" qiana langsung menghentikan tawanya mencoba memastikan pendengarannya
putera berdehem pelan "maksud kakak cemburu karena takut kasih sayang adik kakak nanti terbagi dengan pria lain" ucap putera membetulkan ucapannya
"kakak lucu banget sih" qiana mencubit pelan pipi putera
"gak akan ada yang bisa kalahin kasih sayang qiana buat kakak kok" ungkap qiana
__ADS_1
"sudah ah, kakak lagi nyetir ini" putera kembali konsen dengan jalanan walaupun hatinya sedang ketar-ketir tak jelas akibat ucapan qiana yang sebenarnya sederhana tapi mampu membuat hatinya berbunga-bunga
"oh ya kak, hari ini qiana pulang ke rumah kakak saja ya" ucap qiana
"lah emangnya kenapa, kok pulang ke rumah kakak" tanya putera
"kangen sama masakan tante, jugaan lagi ngehindar dari mama yang lagi kesal karena qiana gak ambil kuliah di luar negeri seperti rencana awal mama sama bunda" balas qiana
"ya sudah, nanti kakak kabari orang rumah buat siapin kamar tamu dulu" putera segera menghubungi mamanya untuk memberitahu kalau qiana akan menginap di rumah mereka
"kakak nanti kalau sudah mulai sibuk di kantor pasti jarang antar jemput qiana, apa qiana belajar nyetir saja kak" tanya qiana
"jangan, kalau kakak sudah mulai sibuk minta sopir buat antar jemput kamu saja" balas putera
"kakak emang sefrequency dengan keluarga besar kita yang terlalu mengkhawatirkan qiana'" qiana mencebikkan bibirnya saking kesalnya tentang dirinya yang selalu di batasi dalam melakukan sesuatu
"maaf qiana, kita ngelakuin ini semua karena kami sayang banget sama kamu, kejadian dulu saat kamu kecil itu masih membawa dampak buruk buat kami semua yang khawatir akan keselamatan kamu" ungkap putera tentang kejadian di masa kecil qiana yang sempat di culik dan hampir mati karena jatuh ke laut
"itu sudah lama kak, dan orang itu juga sudah di penjara" balas Qiana
"tapi tetap saja, kakak gak mau ada apa-apa dengan kamu" balas putera
"tolong jangan bahas ini depan ayah ya kak,atau ayahku akan merasa bersalah lagi" pinta qiana yang di balas anggukan kepala
qiana sewaktu berusia 5 tahun oleh Regina yang masih tidak terima kalau ayah mariotidak memilihnya smaa sekali apdahal sudah berpisah dengan mama sheryl , awalnya yang akan di culik adalah Edzard saat adik qiana itu berulang tahun yang pertama tapi dulu qiana kecil berusia menyelamatkan adiknya sehingga jadi qiana yang di bawa regina
saat itu regina di kejar oleh keluarga besar qiana, mulai dari ayah mario, papa bachtiar, papa Hans dan juga ayah Brian yang tidak ingin kehilangan jejak Regina sampai pada satu titik regina tak bisa lari lagi dan itu berada tepat di sebuah tebing yang di bawahnya laut
regina mengancam semua orang yang mengikutinya untuk tidak mendekat jika ingin qiana hidup tapi naas, saat itu tebing dalam keadaan licin dan membuat qiana jatuh ke laut, saat itu memang qiana langsung di selamatkan dan tidak terjadi kejadian fatal untuk kesehatan qiana tapi tetap saja itu menjadi momok menakutkan bagi keluarga besar qiana yang tak pernah mengizinkan qiana pergi tanpa pengawasan
__ADS_1