
Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini...
Shena sedang memilih dan mengambil barang yang ia perlukan.
"Istriku Sayang, Apakah kau sudah selesai?" Tanya Ash sangat bersabar dan lemah lembut. Namun, hatinya sangat kesal pada sang istri. Terlihat matanya yang sudah sayu akibat terlalu lama menunggu.
Shena berbalik dan melihat suaminya yang sudah terkapar di lantai. Itu bukan membuat Shena kasihan, melainkan membuatnya tertawa karena lucu.
"Iya sudah..." Jawab Shena sambil terkekeh.
Ketika mendengar Shena menjawab sudah. Ash seketika bangkit dengan semangatnya dan ia terlihat bugar lagi seolah seperti anak kucing yang lesu karena sudah lama tidak bertemu ibunya, tapi ketika bertemu, ia seperti menemukan cahaya mataharinya lagi, tidak seperti tadi yang tidak bergairah sama sekali.
"Jika perlu kau borong semuanya yang ada di sini! Aku tidak akan rugi!" Ketus Ash menyambar karena sudah 8 keranjang ia tempatkan dan Ash tinggal begitu saja setelah 1 keranjang penuh dan diganti keranjang lain, tapi nanti akan berbolak-balik untuk diambil dan bayar ke kasir.
"Hehe.. Kau merajuk?? Tapi, Ini untuk keperluan kita semua juga di Mansion. Kau tahu sendiri kan, di Mansion mu itu ada banyak orang."
"Apa sulitnya?! Kau hanya perlu meminta ku untuk memborong supermarket hari ini, bahkan di seluruh dunia jika itu perlu. Dengan begitu mereka sendiri yang akan mengantarkannya ke Mansion kita. Tidak seperti ini, kau harus mencari lebih dulu sampai lupa melihat kebelakang apakah keranjang itu sudah penuh atau belum?!" Komplain Ash menceramahi istrinya.
"Maafkan Aku, Tapi sekarang aku sudah selesai. Tolong bawakan semuanya ke depan, ya! Aku tunggu di kasir." Ucap Shena tertawa kecil setelahnya dan melenggang pergi meninggalkan Ash yang kewalahan.
"Ck, Menyebalkan sekali rasanya. Jika aku tidak mencintainya, sudah ku perlakukan dia seperti wanita lain. Ayah mertua, lihatlah putrimu yang sedang menjajah ku! Ck, Aku harus berjuang sendiri. Seharusnya tadi aku mengajak Dayn dan Arthur juga bersama ku." Mendumal Ash tiada hentinya.
Perkataannya masih terdengar oleh Shena meskipun ia sudah unggul menjauh.
"Kau tidak tulus dengan ku? Apa setelah ini kau juga ingin menceraikan istrimu." Teriak Shena mengejek.
"Agh... Iya, Iya... Baiklah Tuan putriku sayang, Aku akan segera sampai!" Teriak Ash lebih gesit mendorong keranjang itu.
Pppffftt...
Shena pun tertawa kecil di depan. Ia sangat puas berhasil mengerjai suaminya.
Di Kasir...
__ADS_1
Salah satu tempat supermarket itu sudah dibooking khusus oleh Ash yang dibuat tutup sementara hanya untuk menghitung berapa jumlah barang belanjaan mereka. Karena agar semua orang yang datang masuk untuk berbelanja tidak sampai terjadi mengantri panjang dan menunggu lama. Mereka bisa pergi ke supermarket lain. Ash sudah mewanti jika hari ini akan menjadi hari yang terasa panjang, menunggu kasir selesai menghitung barang belanjaan mereka. Tenang saja, Ash sudah mengeluarkan uang dalam jumlah besar juga sebagai mengganti kerugian supermarket yang seharusnya bisa mendapatkan pelanggan dua kali lipat hari ini.
Sembari menunggu barang belanjaan selesai dihitung sangat lama dengan keranjang mereka yang masih mengantri di belakang, Shena juga kelamaan merasa bosan.
Mata Shena yang sibuk melirik kesana kemari awalnya, kini terfokus menatap Ash yang masih berdiri di sampingnya yang sedang melihat barang itu di hitung.
"Kenapa tiba-tiba Paman ini terlihat tampan?? Aaih, Sadar Shena bodoh! Dia tetaplah Paman mesum dan aneh." Batin Shena dengan menatap lekat wajah Ash itu.
"Kenapa menatap ku seperti itu?!" Ketus Ash seketika bergeming di telinganya dan menyadarkan lamunannya. Shena pun dengan cepat memalingkan wajah dari Ash.
Tapi sayangnya...
"Kau Tampan!! Oops!" Refleks membekap mulut lemesnya yang asal ceplos itu sangat malu.
Ash tersenyum memperlihatkan rahang kuat yang begitu memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.
"Aku tahu jika suami mu ini sangat tampan. Dan sepertinya istriku ini sedang menggoda suaminya. Ayo sayang, kita lanjut belanja setelah ini. Kau ingin pergi kemana, Ke Mall?" Ash merangkul pinggang Shena dihadapan kasir yang menjadi nyamuk sejak tadi.
"I-i-iyyaa." Jawab Shena menunduk malu. Kenapa ia harus menjawab iya?!
"Emm... Begini saja. Karena sepertinya barang belanjaan kami tidak akan selesai dihitung hari ini meskipun sampai mengerahkan semua pegawai kasir di sini, Aku mengambil keputusan ini untuk keringanan saja. Aku akan membayar genap menjadi 50 Milyar saja!"
Ash terus mencoba menjelaskan...
"Aku yakin barang belanjaan kami tidak akan sampai seharga itu. Tapi jika ada lebihnya, Itu untuk kalian saja, Sekaligus dengan ganti ruginya karena membuat supermarket kalian tutup sementara. Aku menawarkan ini karena demi kalian semua yang tidak perlu repot-repot lagi menghitung sampai habis." Katanya, lalu kembali berkata.
"Jika semisalnya kurang, Kalian bisa memanggilku dan akan ku urus semuanya. Kalian kenal dengan ku, bukan? Kami juga tidak bisa berlama-lama di sini karena istriku ingin melanjutkan perjalanan belanja kami ke Mall. Bagaimana, apa kalian setuju??" Tanya Ash demikian.
"Agh, Tuan, Kami hanya pegawai yang tidak bisa memutuskan sesuatu." Jawab salah satu Kasir itu sangat syok dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak masalah. Karena semua keputusannya ada di tangan ku. Aku akan mengambil keputusan seperti itu saja. Akan ku bayar semuanya sekarang juga." Ucap Ash tidak tanggung-tanggung nya mengambil keputusan di luar nalar seseorang. Saat itu juga ia mengeluarkan beberapa black card di dompetnya sampai limit 50 Milyar itu terpenuhi untuk membayar sekali barang belanja bulanannya.
Shena sama tercengangnya. Ia benar-benar menganggap suaminya itu sudah gila! Shena sampai lupa bagaimana cara menutup mulut yang masih menganga terkejut.
__ADS_1
Dan semuanya sudah selesai di proses. Semua pegawai di sana tidak hentinya berucap syukur dan begitu senang bisa bertemu juga dengan Ash. Jadi, beginilah rasanya dibuat bahagia oleh orang terkaya dan pria ternama itu! Batin mereka.
"Nanti akan ada beberapa truk angkut yang akan mengambil barang-barang kami kesini. Jadi, Kalian tidak perlu khawatir karena aku sudah mengerahkan segalanya. Dan ini untuk kartu nama ku, kalian bisa menghubungi nomor yang tercantum di sana jika sewaktu kalian mengira uangnya kurang." Kata Ash sebelum pergi meninggalkan supermarket itu.
Dengan antusias salah satu kasir di sampingnya menyambar lebih dulu untuk mengambil kartu nama Ash.
"Apakah nomor ini milik, Tuan?" Tanya Kasir itu tidak sadar sudah melewati batas.
"Tidak. Nomor asliku hanya dimiliki oleh istriku seorang. Hanya dia satu-satunya di dunia ini yang bisa menelepon dan mengangkat telepon dariku kapan saja. Meskipun itu kartu namaku, tapi nomor yang terdapat itu adalah nomor milik anak buahku. Jika tidak seperti ini, kartu namaku saja seharusnya menjadi benda penting, bukan? Jika tidak mana mungkin aku menyebar luaskan pada yang lain."
"Yahh... Sayang sekali. Saya pikir ini nomor asli, Tuan Ash. Betapa beruntungnya jika ini benar."
Pernyataan kasir itu membuat mata Shena membelalak ia sedikit cemburu sampai raut wajahnya terlihat kesal dan ingin sekali mencakar wajah kasir itu.
Ash yang menatap wanita kasir itu masih tahu bagaimana keadaan istrinya saat ini. Wajahnya terlihat memanas dengan dahi yang mengernyit sangat dalam.
Spontan tanpa berbalik dan masih fokus menatap depan, namun tangan Ash mengusap wajah istrinya agar kembali stabil. Shena yang terhenyak saat wajahnya diusap begitu saja pun sampai menyingkirkan kasar tangan suaminya.
Ash hanya tertawa-tawa kecil saja melihat tingkah istrinya yang seolah cemburu.
Mereka jalan beriringan keluar supermarket dengan tangan Ash merangkul bahu istrinya, dan tangan sebelah membawa paper bag belanjaan yang bisa dibawa untuk mengemil di perjalanan, Sedangkan Shena tanpa sadar merangkul pinggang suaminya. Mereka berjalan disertai senyuman, tidak ada obrolan, candaan atau bahkan kecerewetan Shena entah tertinggal di mana, hari ini dia tidak begitu banyak bicara.
Di dalam, para pegawai masih membicarakan kedatangan Ash ke supermarket mereka. Mereka saling berebut untuk memiliki kartu nama milik Ash, layaknya photocard seorang idol Korea yang disukai mereka.
"Coba aku lihat!" Ambil paksa seorang kasir dari tangan teman yang memegang kartu nama Ash dengan bangganya sejak tadi.
"Wahh... Beruntung sekali. Jika bisa, kita akan dengan lancang meneror Tuan Ash melalui nomor telepon anak buahnya."
"Mana bisa. Sebelum kita menelepon tanpa ada hal yang penting, mereka pasti akan memblokir nomor kita. Kau pikir Tuan Ash adalah laki-laki yang dipungut dari tong sampah?!" Jawab kasir temannya itu berdebat.
"Tapi, Kapan Tuan Ash menikah ya, Kenapa beritanya tidak sampai terdengar ke telinga kita. Apa karena dia menutup mulut awak media?!
"Entahlah, Tapi statusnya sekarang bukan pria lajang lagi. Kau lihat tadi bagaimana tatapan istrinya melihat kita. Sepertinya dia cemburu melihat Tuan Ash di goda."
__ADS_1
"Suami orang lain memang tidak pernah mengecewakan!" Ucapnya dengan beberapa kali menghirup kartu nama itu yang sangat wangi karena menempel aroma parfum Ash.