Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Pisah Rumah


__ADS_3

Sheryl sedang memeluk bachtiar dengan manjanya seperti seorang anak yang sedang bermanja pada ayahnya, bagaimana tidak seperti itu karena posisi sheryl saat memeluk bachtiar adalah dengan duduk di pangkuan bachtiar seperti seorang anak orang utan yang sedang memeluk indukannya


"kamu gak capek kaya gini mah" tanya bachtiar masih setia mengusap kepala sheryl yang sedari tadi sedang mode manja pada bachtiar


sheryl mendongak dengan tetap memeluk kekasihnya itu "papa bosen meluk mama" tanya sheryl mengerucutkan bibirnya


"bukan gitu mah, cuma kita kaya gini sudah 2 jam loh, dan spertinya posisi seperti ini kurang nyaman buat mama" ucap bachtiar dengan hati-hati


sheryl langsung bergegas turun dari pangkuan bachtiar "oh gitu jadinya, papa nyantai aja saat bentar lagi mama mau di bawa pulang ke rumah sana" sheryl merajuk tak jelas pada bachtiar


bachtiar hanya tersenyum lucu dengan kelakuan sheryl "kalau kamu pengen tetap di sini juga boleh kok mah, papa mah gak masalah" balas bachtiar dengan santainya


sheryl berkacak pinggang di depan bachtiar "gimana bisa mama tetap di sini, kita kan gak terikat status pernikahan, bisa di gorok sama ayah kalau tetap ngeyel tinggal di sini" balas sheryl


"hahaha" bachtiar sudah tidak bisa menahan tawanya "mama tambah menggemaskan jadi pengen papa makan deh" bachtiar memeragakan gerakan akan seperti harimau yang akan menggigit


"mama tuh serius loh pah, mama itu lusa di suruh pulang" sheryl melihat jam dinding di kamar yang di tempatinya sudah menunjukkan pukul 1 dini hari  dan menunjuk dengan tekunjuknya "lihat tuh pah sudah ganti hari, berarti besok mama di suruh pulang" rengek sheryl sambil menghentakan kakinya seperti anak kecil


bachtiar tersenyum gemas dengan tingkah sheryl, bachtiar berdiri dan berjalan ke arah sheryl lalu memeluk tubuh mungil sang kekasih "kalau kamu mau tetap di sini sama papa tanpa ada larangan dari ayahmu, ayo kita menikah"ajak bachtiar


sheryl diam mematung dengan ajakan bachtiar. buka ia tak percaya dengan bachtiar yang akan membahagiakannya tapi lebih ke hatinya yang masih belum siap menjalani mahligai rumah tangga dan menyandang status sebagai istri


bachtiar memejamkan matanya melihat reaksi sheryl, dia tentu sudah menyiapkan hati tentang sheryl yang belum siap untuk emnikah dengannya, tapi tetap saja saat di hadapkan dengan kondisi ini secara langsung tetap saja rasanya sakit. tapi bachtiar akan coba menahannya demi kenyamanan sang kekasih


"dengan mama yang kembali tinggal di sana dan tidak serumah dengan papa lagi bukan berarti kita tidak akan ketemu mah" bachtiar mengusap kepala belakang sheryl "papa masih bisa berkunjung setiap hari ke rumah untuk bertemu denganmu dan juga qiana" ungkap bachtiar


bachtiar mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah sheryl dang mengusap pipi sheryl dengan punggung tangannya "papa pasti akan rindu sekali dengan mama karena waktu kita nanti akan berlurang banyak saat bersama tapi papa akan usahakan setiap hari bisa melihat mama sebelum tidur" ucap bachtiar mengecup bibir ranum milik sheryl "jangan sedih ya" pinta bachtiar


sheryl langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang bachtiar dan terisak pelan di sana dan bachtiar hanya bisa mengusap kepala sheryl yang sedang merajuk itu


***

__ADS_1


qiana sedang berada dalam gendongan sheryl karena sedang merajuk "kenapa papa gak ikut tinggal sama kita aja mama" tanya qiana dengan wajah merah dan suara sesenggukan karena menangis sedari tadi


hans yang menjemput sheryl pun menghampiri qiana dan mengusap lembut kepala qiana "nanti papa juga datang tiap hari ke rumah sana sayang" ucap hans


"tapi kenapa gak serumah saja, nanti gak ada yang bacain qiana dongeng lagi kalau papa gak tinggal sama qiana" qiana merajuk dari tadi dan itu membuat semua orang di sana kewalahan untuk merayu qiana agar mau ikut pulang ke rumah sheryl


"nanti kan ada kakek qiana, kakek qiana bisa kok bacain qiana dongeng" sahut hans


"gak mau, maunya papa" balas qiana


"sama bibik kan bisa non" sahut bik laras


"gak mau bibik, pokoknya maunya sama papa" rajuk qiana


 bachtiar menghampiri qiana dan meminta qiana dari tangan sheryl "papa masih ke sana tiap ahri kok sayang, masih bisa bacain kamu dongeng setiap hari, jadi jangan sedih ya" ucap bachtiar


qiana mengusap ingusnya di lengan bachtiar "tapi pasti nanti kalau pagi gak ada papa" tangis qiana kembali pecah karena tidak mau di pisahkan dengan bachtiar


sheryl mengerucutkan bibirnya dengan mimik wajah sedih pada bachtiar "gimana pah" rengek sheryl memeluk bachtiar


jadilah bachtiar sedang mengatasi dua wanita beda usia yang sedang menangis di dalam pelukannya itu "ya papa harus gimana, gak mungkin ayah kamu izinin kamu tetap tinggal di sini atau papa yang tinggal di sana kalau status kita masih gini" ucap bachtiar bingung sendiri harus apa


qiana menatap mamanya dengan tatapan tajam "ya sudah nikah sama papa saja, ribet amat mama" seru qiana kembali memeluk bachtiar dan menangis dalam pelukan bachtiar


"hiks hiks hiks papa, qiana jahat sama mama" rengek sheryl


"mama yang jahat sama qiana" balas qiana kembali menangis dalam pelukan bachtiar


"ya ampun kalian berdua ini" teriak hans prustasi akan kelakuan adik ipar serta keponakannya itu


bachtiar hanya bisa mengedikkan bahunya "ya gimana coba hans" ucap bachtiar bingung harus apa mengahapai dua wanita yang sama-sama sedang merajuk

__ADS_1


***


ayah burhan melirik tajam ke arah sheryl yang masih memeluk bachtiar dengang erat dengan posisi menyamping sedangkan qiana masih menempel pada dad bachtiar seperti anak kangguru " gak usah berlebihan sheryl!" bentak ayah burhan


sheryl hanya melepas sedikit pelukannya dan tetap memegang bachtiar dengan erat seolah jika sheryl melepaskan pegangannya maka bachtiar akan kabur " ya kan sheryl mau pisah rumah sama papanya qiana jadi gak mau lepas rasanya yah" balas sheryl masih sesenggukan karena belum berhenti menangis


"tadi kalau gak hans paksa mungkin masih nanti malam atau malah besok kita sampai ke sininya yah" sahut hans jengah dengan kelakuan sheryl yang sedang merajuk


ayah burhan meraup wajahnya kasar "jangan seolah-olah ayah maksa kamu pisah sama bachtiar sheryl" ucap ayah burhan dengan mengegram tertahan


"kan emang bener ayah maksa sheryl pisah dari papanya qiana" balas sheryl


qiana mendelik tajam ke arah kakeknya "jadi kakek yang maksa qiana dan mama pisah rumah dengan papa" tanya qiana dengan ketus


"ya ampun dua orang ini" ayah burhan berdiri berkacak pinggang melihat kelakuan putri serta cucu perempuannya itu


"sabar mas" jemina mengusap pelan lengan ayah burhan agar tidak makin emosi


"gimana bisa sabar sayang, mas kan minta dia balik kesini karena mereka belum menikah kalau sudah menikah masa bodoh mas mau mereka ngapain juga. kamu tahu gimana mas nyuruh hans buat cepet-cepet nyelesain rumah yang bagian sini biar cepat bisa di huni, ini malah ayah di salahin" ayah burhan menoleh ke arah sheryl dan menatap tajam anak perempuannya itu "kalau mau tinggal serumah, nikah dulu titik gak pakai koma gakada tawar menawar, kalau qiana ngerengek urus gimana caranya biar diam. ayah maunya bachtiar keluar dari rumah ini sebelum jam 9 " sheryl akan menyela ucapan ayahnya tapi langsung di stop ayahnya "gak ada penawaran, apa yang ayah ucapkan adalah suatu keharusan" ucap ayah burhan tak ingin di bantah


ayah burhan memilih masuk kamar karena sudah lelah menghadapai kelakuan sheryl dan juga qiana yang seolah di paksa di pisahkan dari bachtiar


"kamu nya aja yang ribet bener sher, sudah nikah saja kan beres" ucap hans mulai muak dengan tingkah adik iparnya yang membuat ia harus berlama-lama di rumah mertuanya padahal istri dan anaknya sedang menunggu di rumah


sheryl mencebikkan bibirnya "ya sudah, nikah saja deh" ucap sheryl pada akhirnya


"apa tadi" bachtiar mencoba memastikan apa yang dia dengar dari mulut sheryl


sheryl menoleh ke arah bachtiar "kita nikah saja deh pah, biar bisa serumah" ucap sheryl yang seolah terpaksa menikah dengan bachtiar


senyum sumringah langsung terpampang jelas di wajah bachtiar dan langsung memeluk sheryl "papa bakal kasih pernikahan yang berkesan buat mama" ucap bachtiar mengecup kening sheryl dengan dalam

__ADS_1


hans hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah pasangan di depannya "laras, ajak tidur qiana ke dalam ya" hans menoleh ke arah sheryl "kakak panggil ayah dulu buat bicarain pernikahan kalian" ucap hans yang segera memanggil ayah burhan untuk membahas perniakhan sheryl dan bachtiar


__ADS_2