
revano kini sedang berlutut di hadapan ayahnya dengan di lihat kedua keponakannya yang memandang dengan tatapan mengasihani
"yah, jangan terlalu keras" ucap nenek jemina mengusap lengan suaminya
"kalau gak keras, dia pasti masih berulah mah, dia masih kelas satu SMA tapi pacarnya ngalahin brian yang dulunya playboy cap kucing garong" balas kakek burhan dengan nada kesal
revano hanya diam menunduk tanpa berani menjawab ayahnya
"kek, boleh qiana kasih usul" ucap qiana
revano langsung membalikan tubuhnya menatap tajam keponakannya yang selalu punya ide di luar nalarnya "jangan kasih ide gila ayahku" sentak revano
"diam kamu revano! " bentak kakek burhan
"iya ayah" revano langsung menciut mendengar bentakan ayahnya
"om revano tuh suka goda cewek dengan modal uang serta motornya itu kek jadi ambil saja" usul qiana
revano langsung menggelengkan kepalanya ke arah kakek burhan "ide bagus" balas kakek burhan setuju dengan ide cucu perempuannya
"jangan yah, nanti kalau aku butuh apa-apa gimana" tanya revano
"nanti kamu di antar jemput sopir saja, untuk yang saku akan ayah kasih setiap harinya 50 ribu" balas kakek burhan
"ayaaaaah" rengek revano tak Terima jika ayahnya mengambil fasilitas yang selama ini di berikan padanya
"ini sudah keputusan final ayah" kakek burhan berjalan ke arah ruang kerjanya agar tidak terus di protes revano
revano menatap tajam qiana "dasar kamu ya" tunjuk revano pada qiana yang malah menjulurkan lidahnya untuk meledek revano
"masa bodo" qiana berlari ke arah kamarnya untuk menghindari revano yang sudah marah
"sudah revano, tidur sana kan besok sekolah" ucap nenek jemina
"iya mah" balas revano
nenek jemina menoleh ke arah putera "kamu juga tidur ya" ucap jemina mengusap kepala putera
"iya nek" balas putera
__ADS_1
***
"pagi nenek yang cantik" qiana mengecup pipi nenek jemina dan duduk di kursi yang biasa ia tempati saat menginap di rumah kakeknya
"nanti kamu mau nginep di rumah mama dan papa kamu ya" tanya kakek burhan
"iya kek, di suruh jagain tuh bocil yang banyak ulah" balas qiana
kakek burhan menggelengkan kepalanya "kamu emang tanggung jawabnya lebih besar karena punya banyak adik jadi kamu harus belajar lebih dewasa qiana" ucap kakek burhan
"iya kakek" balas qiana
"makannya cepetan qiana, kakak ada kelas pagi" ucap putera di sela kegiatan makannya
"gak mau berangkat sama kakak" balas qiana dengan ketus
nenek jemina dan kakek burhan langsung menoleh ke arah qiana "tumben kamu gak mau ikut kakak kamu, biasanya suka ngerengek kalau di tinggal" tanya nenek jemina tak percaya dengan sikap qiana
qiana memulai mimik wajah sedih yang mungkin di buat-buat lebih dramatis
"mampus aku" batin putera berteriak sudah mengira apa yang akan di lakukan oleh adiknya itu
"kakak jahat kek" qiana mulai terisak mengeluarkan air mata palsunya "masa kemarin aku di bentak-bentak pacar kakak karena jemput aku" qiana mengusap pipinya dengan tisu yang ada di hadapannya "wanita itu ngatain aku anak manja yang minta di jemput dan maksa aku pulang sendiri" qiana menatap kakeknya dengan wajah sedihnya "qiana gak minta di jemput loh kek tapi kak putera yang kekeh mau jemput hiks hiks hiks aku sedih kek di marahin gitu" ucap qiana dengan tangisan
revano menatap tajam putera "apa-apaan ini putera! om gak suka ya ada nyang nyakitin princess kita" bentak revano yang paling tidak suka ada yang menyakiti keponakannya walaupun kadang dia sendiri juga sering usil pada qiana
"putusin wanita itu putera, wanita macam apa yang berani bentak adik pacarnya " sahut kakek burhan
putera hanya menunduk meratapi nasibnya yang langsung di balas telak oleh qiana "sudah aku putusin kok kek, gak akan lagi pacaran sama dia kek" balas putera
"kakek akan kroscek ke mama kamu biar kakek lebih yakin" ucap kakek burhan dengan tegas
"iya kek" balas putera lagi
qiana yang menunduk menarik sudut bibirnya ke atas, merasa menang
kakek burhan melirik ke arah qiana "sudah berangkat sama putera ya, nanti kalau dia bikin ulang lagi bilang sama kakek atau tante kamu, pasti dia gak akan berulah lagi" ucap kakek burhan
"iya kek" balas qiana
__ADS_1
seusai sarapan, putera mengantar revano dan qiana ke sekolah mereka dengan sedikit mengebut karena putera ada kelas pagi "nanti kamu minta sopir yang jemput ya, kakak ada kuliah sampai sore" ucap putera
"oke kakak" balas qiana
revano melirik tajam ke arah putera melalui spion "awas kalau kamu masih sama wanita modelan gitu" ancam revano
"iya sih om, sudah putus juga" balas putera dengan kesal
"tapi bukan berarti gak balikan kan" tanya revano
"gak akan, masih banyak wanita cantik di bumi ini" balas putera
putera menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah qiana dan revano "sudah sampai" ucap putera
"dah kakak" qiana mengecup pipi putera dan langsung turun dari mobil
"dah putera" revano ingin ikut mencium putera tapi langsung di dorong oleh putera
"gak usah ikut kebiasaan qiana ya om, qiana kaya gitu dari kecil tapi kalau om iiiiiih" putera bergidik ngeri memikirkan hal itu "jijik tau gak" ucap putera
revano terkekeh "iya sih" revano langsung turun dari mobil dan bergegas ke kelasnya
qiana mengikuti pelajaran seperti biasanya dengan banyak bengong dan tidak memperhatikan penjelasan gurunya
tapi jangan ragukan kecerdasan qiana, dia selalu mendapatkan nilai dengan jumlah yang sama setiap tahunnya dari kelas satu dengan ambang batas bahwa dia pasti akan naik kelas tapi tidak pernah mengalami kenaikan nilai
qiana punya alasannya sendiri untuk tidak terlihat pintar, yang mungkin itu hal konyol karena hanya tak ingin di minta mengajari adik-adiknya belajar
qiana duduk di bangku taman tampa teman-temannya yang sedang makan di kantin "tumben kamu gak ke kantin dengan geng kamu itu" tanya seseorang
qiana menoleh ke belakang "eh pak dion" qiana melihat dion yang bertanya "lagi malas ke kantin pak, tadi nenek kasih makan gak kira-kira jadi masih kenyang" balas qiana yang memang tidak ikut teman-temannya karena merasa lapar
"oh" pak dion duduk di samping qiana
"ini ada brosur kampus, bisa kamu lihat-lihat dulu" pak dion menyerahkan brosur kampus pada qiana
qiana mengernyitkan dahinya "bapak jadi tim pendukung kampus yang suka kasih selebaran" ucap qiana dengan polosnya
"jangan ngawur deh qiana, bapak cuma kasih ini sebagai wali kelasmu jadi jangan mikir yang aneh-aneh" ketus pak dion
__ADS_1
qiana terkekeh "gak usah deh pak, aku sudah di pilihin kampus buat kuliah nanti sama bunda" qiana menolak secara halus brosur pemberian pak dion
"oke deh kalau gitu" pak dion kembali mengambil selebaran kampus dan meninggalkan qiana