Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Benar ucapan orang tua (Season 2)


__ADS_3

"sudah sampai" Qiana menoleh ke belakang di mana adiknya duduk


"ingat ya Edzar cukup kuliah saja dan jangan mikirin pacaran dulu sampai kamu bisa berpikir jernih " nasehat Qiana


"iya kak" Edzar mencium punggung tangan Qiana dan juga Putera secara bergantia dan keluar mobil sang kakak


Qiana menghela nafas kasar "sifatnya naif sama seperti ayah" gumam Qiana


"namanya juga anaknya sweetheart jadi wajar lah kalau sifatnya ikut ayah. Kalau ikut sifat papa bachtiar yang garang kan jadi aneh" kekeh Putera


" tapi aku kasihan sama bunda kalau sifat jelek ayah di ambil semua sama Edzar" ungkap Qiana akan ketakutannya


"kan ada kamu yang selalu bisa mengingatkan adikmu, contohnya sekarang ini" Putera mengusap kepala Qiana dengan sayang "kakak bangga sama kamu yang bisa berbuat tegas dama adik kamu" ungkap Putera menyampaikan kekagumannya pada sang istri


"kakak soalnya enak sih punya dua adik yang gak terlalu banyak ulah dan jarang bikin darah tinggi beda sama Qiana yang punya tiga adik yang punya karakter berbeda dan sama-sama punya kesulitan tingkat tinggi untuk mengatur mereka"  balas Qiana


"untuk itu kakak salut sama kamu" jelas Putera


Putera kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya agar istrinya bisa berisitirahat lebih banyak karena kejadian semalam benar-benar mengganggu istirahat istrinya


***


seusai kelasnya Edzar menunggu jemputan sopir keluarganya yang harus menjemput adiknya terlebih dahulu sebab sopir satunya sedang mengantar bundanya ke supermarket untuk menyusul ayahnya di kantor untuk memberikan makan siang tapi memang ayahnya yang selalu meminta bundanya untuk lama di kantor jadi sang sopir tak bisa cepat kembali


"kakak" panggil seseorang tak jauh dari posisi Edzar duduk

__ADS_1


Edzar tentu mengenali suara itu dan hanya bis amenghela nafas kasar "kita kan sudah putus Lea" ucap Edzar saat melihat Lea dengan seragam putih abu-abunya yang tertutup sweater berwarna cokelat itu datang emndekati Edzar


"aku gak mau putus dari kakak " protes Lea


"tapi kita harus putus Lea, bundaku gak suka sama kamu jadi tolong ngertiin kondisi kakak" jelas Edzar


Lea duduk di sebelah Edzar dan melingkarkan tangannya di lengan Edzar sembari menyandarkan kepalanya di lengan Edzar "kita bisa backstreet kak, kalau takut ketahuan sama bunda kakak" tawar Lea


"gak bisa Lea" tolak Edzar


"hiks hiks hiks" Lea mengeluarkan jurus jitunya untuk merayu Edzar "kakak gak sayang aku lagi hanya dalam waktu sekejap saja" Lea menatap Edzar dengan muka memelasnya "padahal aku sayang banget sama kakak dan rela kita pacaran backstreetan loh" ucap Lea dengan wajah melasnya


Edzar menghela nafas kasar "tolonglah lea" pinta Edzar dengan suara lirih


Lea mengecup pipi Edzar "mending kakak antar Lea pulang ke rumah, tadi uang Lea habis buat ongkos taksi ke sini" pinta Lea


"hah" Lea di buat melongo saat Edzar tak kembali membawa mobil


"mobil kakak di ambil, setega itu bunda kakak buat kakak jauhin Lea" tanya Lea tak percaya bahwa bunda Laras bisa setega itu mengambil mobil Edzar


"yang ngambil itu bukan bunda tapi kakak aku, dia yang punya kuasa untuk semua fasilitas yang kakak pakai bahkan kakak gak punya uang sepeserpun jadi kakak gak bisa kasih kamu ongkos pulang. Jalan kaki saja kalau tidak punya uang" balas Edzar dengan rasa tak tega tentunya tapi mau gimana lagi, Qiana sudah mengambil semua kartu dan dompetnya benar-benar kosong tak ada uang sepeserpun


"kok kakaknya kak Edzar tega ambil fasilitas kakak, ini pasti Kak Qiana mau ambil bagian harta kakak jadi dia bersikap kaya gitu" tuduh Lea pada Qiana yang berani mengambil fasilitas Edzar


"jaga kata-kata kamu ya Lea" Edzar tentu tidak terima jika kakaknya di bilang gila harta

__ADS_1


"kakakku bukan orang yang seperti itu, kakakku bahkan lebih kaya dari ayahku jadi jangan sembarangan berucap" Edzar tentu tahu bahwa qiana mempunya bagian harta yang sudah di persiapkan oleh ayahnya dan juga mama sheryl untuk Qiana di tambah harta kekayaan Putera, suami Qiana yang tentu tidak sedikit


"kakak sekarang gak mau percaya ucapan aku" Lea kembali menangis saat Edzar tega membentaknya


Edzar menghela nafas kasar " bukan seperti itu Lea" Edzar bingung sendiri harus bersikap apa. di satu sisi tidak tega dengan Lea tapi di sisi lain Edzar tahu betul kakaknya tidak mungkin ingin menguasi bagian harta ayahnya karena keluarga kakaknya jauh lebih kaya dari ayahnya


"itu kakak tega bentak aku" LEa terus mengusap pipinya yang sudah basah dengan air mata buayanya


"tin tin tin" terdengar suara klakson mobil


terlihat sebuah kepala keluar dari sebuah mobil sedan berwarna putih itu "ayo pulang kak, aku sudah sangat lelah" teriak Nazhief memanggil kakaknya


Edzar menoleh ke arah sumber suara "iya Nazhief" balas Edzar


Edzar mengambil tasnya yang terbaring di sampingnya lalu memakainya di punggung "aku harus pulang Lea atau aku harus jalan kaki untuk pulang" Edzar berlari ke arah mobil meninggalkan Lea yang terdiam kaku di tinggalkan oleh Edzar


melihat mobil yang di naiki Edzar menjauh Lea mengumpat kasar "SIAL" kesal Lea menendang botol minum yang ada di dekatnya "kalau kak Edzar gak di kasih fasilitas gimana? masa ia aku yang jajanin kak Edzar kalau lagi jalan dan harus naik angkot" Lea menggelengkan kepalanya  membayangkan nasib pacarannya bersama Edzar yang kini uang saku saja tidak ia miliki padahal biasanya Edzar memberikan apapun yang Lea inginkan


Nazhief menatap sinis kakaknya yang tepat duduk di sebelahnya  "kakak masih mau nyakitin hati bunda?" tanya Nazhief dengan nada tidak suka


"kakak gak ada hubungan apapun lagi dengannya Nazhief kalau itu yang kamu takutkan, kakak saja gak tahu kenapa dia bisa ke kampus kakak" balas Edzar


"dengar ya kak Edzar, orang yang paling Nazhief sayangi di dunia ini adalah bunda jadi jika kakak sampai sakitin hati bunda hanya demi seorang wanita gak jelas kaya gitu aku pasti akan buat perhitungan sama kakak dan juga wanita itu" Nazhief menatap tajam ke arah Edzar "gak peduli mau kakak ataupun ayah aku pasti akan balas berkali-kali lipat jika sakitin hati bunda" ancam Nazhief dengan bersungguh-sungguh


Edzar hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah tak percaya dengan tatapan dingin sang adik dan ancaman yang terdengar begitu serus dan akan di lakukan Nazhief jika samapi benar terjadi

__ADS_1


'iya Nazhief" balas Edzar dengan suara gugupnya


__ADS_2