
Sia berulang kali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untuk mengontrol emosinya agar bisa menghadapi tingkah suaminya yang sudah membuatnya begitu muak
Sia berjalan pelan ke arah kamar suaminya di rawat "ceklek" pintu terbuka dan ia bisa melihat sepasang mata yang begitu menatapnya sinis tapi Sia mencoba bersikap biasa saja karena memang ini sudah biasa
"dari mana saja kamu hah! suami kamu malah di tinggal sendirian!" ketus seorang wanita baya yang tak lain dan tuk bukan adalah ibu mertuanya yang bernama Amara Hasibuan
"saya habis keluar cari makan bu, saya belum makan" balas Sia
"enak banget kamu makan padahal suami kamu belum makan hah!" bentak Amra
"mas Andreas sendiri yang gak mau masakan ibu dan maunya makan tumis daging, emangnya kalau mas andreas mau makan itu harus aku kasih bu" Sia mencoba menahan sakit hatinya sekuat tenaga karena selalu di pojokkan ibu mertuanya
"ya itu tugas kamu buat ngerayu suami kamu makan, dan bukannya malah makan lebih dulu" kesal Amra
"cukup Amra!" bentak kevin, ayah mertua Sia 'jangan terus nyalahin Sia, jelas di sini yang kebanyakan mau itu andreas tapi kamu selalu nyalahin Sia, ini nih yak bikin anak kamu ngelunjak" ucap Kevin dengan nada meninggi karena Sia selalu di salahkan
"tapi emang dia yang salah kok yah" kesa amra
"ya sudah, aku gak akan makan kalau mas Andreas belum makan, tapi tolong jangan salahin aku lagi jika sampai aku sakit karena gak bisa menjaga diri" sahut Sia
Sia mengambil bubur yang masih ia simpan di termos untuk di berikan pada Andreas "makan mas" Sia menyuapkan bubur pada Andreas
karena ada ayah dan ibunya dengan terpaksa andreas makan itu sebab ia tak ingin di marahi sang ayah kembali jika sampai menolak pemberian Sia
Amra menatap sinis ke arah punggung Sia "kamu tuh bener-bener gak tahu diri ya, sudah untung kamu saya pungut jadi menantu di keluarga Murtada tapi kamu malah kebanyakan ulah" sinis Amra
"saya gak minta itu bu, kalian kan yang maksa kami menikah dulu" Sia tetap saja menyuapi Andreas makan walau mulutnya terus berucap dengan kesal
Amra menatap sinis ke arah Sia dan beralih ke arah Andreas "mending kamu cerain wanita model gini deh, ketimbang bikin susah, biarin dia dan orang tuanya jadi gelandangan saja" sinis Amra
"bu.." Andreas memutar ekor matanya ke arah ayahnya yang hanya diam dengan tatapan sinisnya
"kalau mas Andreas mau nyerain aku gak papa kok bu, mau aku tinggal di kolong jembatan juga aku sudah ikhlas" balas Sia yang sudah lelah dengan semuanya
"SIA!" terdengar suara bariton pria menginterupsi ucapan Sia "jaga kata-kata kamu SIA!" peringat sang pria yang ternyata adalah ayah Sia bernama Beni Kusuma
__ADS_1
SIA hanya diam jika sudah ada ayahnya, karena ujung-ujungnya hanya dia yang akan di salahkan jika begini "minta maaf kamu sama mertua kamu" tegur Beni
"sudah Ben, ini bukan salah Sia kok" Kevin mengusap bahu Beni agar tidak terus menyalahkan Sia sebab ia tahu betul jika semua salah Andreas
wanita paruh baya yang ada di belakang Beni hanya menatap miris hidup putri semata wayangnya "kamu sehat Sia" ibu dari Sia menepuk pelan bahu Sia
Sia menoleh ke arah ibunya dan memeluk begitu erat "aku gak maik mah" adu Sia dengan linangan air mata
Hanum, sang ibu mengusap punggung Sia "yang sabar ya nduk" ucap Hanum dengan linangan air mata sebab melihat penderitaan putrinya selama bertahun-tahun
"yang sakit itu Andres mah, mantu kita bukannya Sia" tegur Beni pada sang istri
"tapi aku lebih khawatir sama kondisi putri kita yah" sahut Hanum masih memeluk erat Sia
"emang dasar anak sama ibu tuh sama aja, sama-sama gak tahu diri" sahut Amra "mending putisin rantai modal usaha besan kamu itu yah, aku tuh lelah punya besan macam mereka" titah Amra pada suaminya
"diam kamu Amra!" bentak ayah Kevin
Kevin menghampiri Hanum "maafin aku ya num karena gak bisa didik istri dan anak aku untuk mehargai Sia" ucap Kevin dengan suara lirih
"tolong lepasin anakku ya mas, kasihan dia" pinta Hanum dengan suara lirihnya
suara Kevin tercekat di tenggorokan tak mampu berucap apapun sebab satu sisi ia juga tahu kehidupan Sia begitu menyedihkan tapi di satu sisi dia juga tak ingin anaknya kehilangan istri sebaik Sia
"kamu apa-apaan sih mah" protes Beni dengan nada tidak suka "jangan sembarangan bicara" Beni menarik tangan Hanum
Beni menoleh ke arah kevin "kami panit pulang ya vin, semoga Andreas cepat sembuh" Beni menarik tangan Hanum menjauh dari sana
Sia hanya menghela nafas panjang, sudah biasa ia mendapatkan perlakuan seperti ini oleh ayah kandungnya yang seolah-olah lebih mencintai harta ketimbang dirinya yang adalah anak satu-satunya yang ia miliki
"maafin ayah ya Sia, ayah gak bisa membiarkan kamu bercerai dari Andreas" sesal kevin
Sia hanya diam saja tak menjawab dan kembali melanjutkan menyuapi makan Andreas
***
__ADS_1
Damian berjalan ke arah taman di rumah sakit "ah lelahnya" Damian merebahkan punggungnya di sandaran kursi panjang yang ada di taman
samar-samar Damian mendengar suara seseorang dan entah karena dorongan apa, Damian menajamkan pendengarannya untuk mendengar percakapan orang itu "kamu gak bisa bantu aku apa untuk dapat kerjaan, aku butuh banget nih" ucap seorang wanita yang ternyata adalah Sia
Sia menghela nafas panjang " ya sudah kalau gitu, Terima kasih atas bantuannya" sia menutup panggilannya dan mengusap kasar wajahnya saking frustasinya
"kamu butuh pekerjaan " sahut Damian menginterupsi kegiatan Sia
Sia menoleh ke belakang "dokter" gumam Sia mendapati Damian ada di sana yang entah sejak kapan
"kamu butuh pekerjaan" tanya Damian lagi
"iya dok" balas sia
"apa jurusan kamu" tanya Damian
"mangemen bisnis" balas Sia
Damian menyerahkan sebuah kartu nama pada Sia "datang ke sini saja, dan bilang kalau saya yang rekom kamu" ucap Damian
sia membaca kartu nama tersebut "abraham group" gumam Sia memicingkan matanya ke arah Damian
"itu perusahaan keluargaku jadi aku bisa memasukan salah satu orang untuk kerja di sana, nanti temuin sepupuku saja Rania, nanti kamu bisa langsung kerja di sana" jelas Damian
"jok dokter baik sama saya" sia bertanya-tanya pada Damian kenapa bisa baik pada orang yang baru di kenalnya
Damian mengedikkan bahunya "gak tahu juga,au di Terima ya syukur kalau enggak juga ya gak papa" Damian menoleh ke arah Sia dan beranjak bangun "semua keputusan ada di tangan kamu" ucap Damian berniat pergi dari taman itu
"tunggu dok" panggil sia
Damian menoleh ke belakang "ada apa" tanya Damian
"boleh saya minta nomor ponsel Anda, jadi jika pihak sana tidak percaya saya datang atas rekomendasi anda, saya bisa menghubungi anda" balas Sia
Damian mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Damian "catat saja nomor kamu" ucap Damian
__ADS_1
"baiklah" Sia langsung bertukar nomor ponsel dengan Damian dan kembali menyerahkannya pada Damian