
"vansh" panggil qiana "vansh" qiana mencari keberadaan adiknya yang tidak ia temui di tempat yang ia datangi di setiap sudut penjuru rumah
"ya ampun vansh" qiana memukul lengan vansh karena sedari tadi ia mencari keberadaan adiknya tak kunjung ketemu dan adiknya malah bersantai di garasi mobil sekedar membersihkan sepedahnya
"apaan sih kak" vansh mengguncang lengannya yang terkena pukulan kakaknya
"kamu ke ke tempat kakek dulu ya, kakak mau ketemu temen-temen kakak soalnya " ucap qiana meminta agr adiknya untuk ke tempat kakeknya
"ketemu teman kakak ya tinggal ketemu ngapain nyuruh vansh keluar rumah" balas vansh masih asyik membersihkan sepedahnya
"kakak tuh mungkin agak lama ketemu sama teman kakak jadi kakak gak mau kamu sendirian di rumah" balas qiana
"vansh di rumah saja sih kak, vansh males ketemu om revano nanti pasti di ajarin pacaran terus padahal vansh masih juga 12 tahun" vansh paling malas ke rumah kakeknya karena selalu di ajari hal yang tidak ia sukai dari revano
"nanti kakak akan minta nenek untuk nemenin kamu jadi gak ada istilah di ajarin hal gak bener sama om kamu itu" ucap qiana
"ya sudah deh" vansh mencebikkan bibirnya terpaksa setuju untuk ke rumah kakek burhan karena orang-orang di sekitarnya masih tidak percaya jika vansh jika hanya di rumah sendirian dalam waktu lama
tak perlu menunggu lama, qiana dan vansh sudah sampai di kediaman kakek burhan "kakak nanti jemput kamu setelah ketemu teman-teman kakak ya" ucap qiana sebelum vansh turun dari mobil
"iya" balas vansh dengan nada malas
setelah melihat punggung adiknya menghilang saat memasuki rumah kakeknya, qiana pun bergegas ke tempat di mana dia janjian dengan teman-temannya
__ADS_1
di sebuah cafe dengan tema garden itu qiana meminta sopir orang tuanya menghentikan mobilnya "pak anto, nanti jemput qiana saat qiana telpon saja ya" ucap qiana
"iya nona" balas pak anto, sopir keluarga mamanya
qiana turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam cafe mencari keberadaan ketiga sahabatnya yang sudah mengabari kalau sudah sampai "qiana" cindy memanggil qiana saat qiana baru memasuki cafe
qiana menoleh ke arah sumber suara "hai" qiana melambaikan tangannya dan bergegas menghampiri ketiga sahabatnya
"sudah dari tadi" qiana menarik kursi yang masih kosong dan menghempaskan tubuhnya untuk duduk di situ
"belum lama sih" balas roland
"ngomong-ngomong ada apa ini, kok ketemuannya maksa harus kumpul semua" tanya qiana heran karena sahabatnya itu meminta untuk berkumpul tapi dengan nada bahasa yang terkesan memaksa
"lagi pengen ada yang hibur aja" sahut tiara
qiana menghela nafas "kamu ada masalah apa tiara, cerita sama kita " qiana tentu tahu kalau sahabatnya itu sedang ada masalah, melihat dari raut wajah tiara
roland, qiana, cindy dan tiara memang sudah bersahabat semenjak mereka masuk bangku sekolah dasar, tentu mereka sudah saling mengenal dengan baik raut wajah sahabat mereka yang sedang tidak baik
"aku hanya lagi bete di rumah saja" balas tiara dengan santai
"kenapa bertengkar lagi mama sama papa kamu" tanya Roland
__ADS_1
tiara memandangi sahabatnya "kemarin ayah bawa pulang seorang anak yang katanya adalah adikku" ucap tiara dengan mata yang sudah terlihat berkabut itu "mamaku menolak keras kehadiran anak itu di rumah dan...." tiara menggantungkan ucapannya
cindy dan qiana langsung menghambur memeluk tiara untuk menguatkan sahabat mereka "awalnya aku kira lebih baik mereka bercerai saja dari pada membuat kepalaku sakit tiap hari tapi nyatanya...." tiara kini terisak dalam pelukan cindy dan qiana "nyatanay sakit sekali saat mereka bilang akan berpisah "ucap tiara menceritakan isi hatinya pada ketiga sahabatnya
qiana mengusap punggung tiara "menangislah tiara, ada kami di sini" qiana terus mengusap punggung tiara saat tiara menangis dalamĀ pelukan kedua sahabatnya itu
"aku kira akan kuat qiana tapi kenapa rasanya sesakit ini saat aku tahu mereka akan berpisah, aku sempat berpikir lebih baik melihat mereka bertengkar setiap hari dari pada pada diam seperti hari ini" tiara berucap dengan sesenggukan
"kadang aku iri dengan hidup kalian, cindy punya kedua orang tua yang saling mencintai dan qiana punya dua pasang orang tua yang menyayanngi kamu, tapi kenapa aku tidak punya " keluh tiara akan hidupnya yang ia rasa jauh dari kata kasih sayang dan cinta
"jangan bialng seperti itu tiara" qiana mengurai pelukannya untuk menatap sahabatnya "terkadang hidup orang lain yang terlihat sempurna belum tentu jauh lebih baik dari kita" qiana tersenyum simpul ke arah tiara
"aku akui kesemua orang tuaku memberikan kasih sayang mereka untukku dengan melimpah tapi bukan berarti aku tidak pernah kecewa kenapa aku mempunyai orang tua berlebih dari pada orang lain" qiana terkekeh sekilas
"terkadang aku sendiri bingung dengan silsilah keluargaku, kau tahu bagaimana bingungnya panggilan kami" qiana membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat sahabatnya "kau tahu om brian bukan? ayah damian" tanya qiana yang di balas anggukan oleh ketiga sahabatnya "om brian adalah sepupu mamaku, tapi istri om brian adalah anak papaku yang itu artinya adalah kakak sambungku, coba kalian bayangkan" qiana meminta pendapat sahabatnya dengan mimik wajah yang di buat sedramatis mungkin "bingung gak panggilan damian untukku dan vansh adikku" tanya qiana meminta pendapat sahabatnya
tiba-tiba saja tiara langsung menghentikan tangisnya "bingung qiana" sahut tiara mengiyakan pikiran qiana padahal cerita ini sudah tiara tahu sejak dulu tapi tetap saat ia mendengar cerita itu lagi, masih saja saja ada rasa penasaran dan semangat untuk mendengarkannya
"terus kalian tahu kakaku, kak putra" tanya qiana lagi
"tahu" balas ketiga sahabatnya dengan serempak "dia anak om brian dan kakak dari mamaku, tapi kakak dari om brian menikah dengan kakekku dan lahirlah om revano, coba bayangin kak putera bingung gak harus manggil om revano nama saja karena om revano yang memang jauh lebih muda atau manggil om karena om revano anak kakekku" ungkap qiana
ketiga sahabatnya nampak berpikir keras membuat qiana tertawa tertahan "jadi jangan terlalu memandang hidup kita yang paling buruk dan kehidupan orang lain jauh lebih baik dari kita karena terkadang kebahagiaan hidup kita, hanya kita yang bisa menentukan jadi berbahagialah dengan apa yang kita miliki karena belum tentu yang orang lain miliki lebih baik dari apa yang kita miliki" jelas qiana agar sahabatny tidak selalu melihat kebahagiaan orang lain jauh lebih baik dari apa yang mereka miliki
__ADS_1
tiara mengusap pipinya yang basah "iya qiana, aku gak akan sedih lagi" balas tiara
"ada kalian sunggung membahagiakan "tiara memeluk roland, cindy dan qiana bersamaan seperti layaknya teletubies