
Hans terus memandangi kinan yang sedang memasak "jangan terus mandangin kinan masak mas, tunggu saja di sana paling bentar lagi juga matang" ucap kinan menunjuk meja bar di dekat dapur
"pengen mandangin kamu yang lagi masak" balas hans
"mas kok jadi sering gombal gini sih, dulu gak kaya gini kok mas" ucap kinan
Hans terkekeh "gak tahu, karena mas tahan sekuat tenaga" cicit Hans
"sudah ah mas, makan dulu yuk" kinan membawa nasi goreng yang ia buat untuk dirinya dan Hans ke meja bar di dapur
hans mengekor di belakang kinan dan duduk tepat di sebelah kinan "makan yang banyak mas" ucap kinan ikut menyendokan nasi goreng kemulutnya
"iya" hans menyendokan nasi gorengnya ke mulutnya dengan terus menatap kinan
"jangan terus mandangin kinan mas" kinan jadi gugup sendiri karena Hans terus memandanginya
"pengen lihat wanita cantik dari jarak dekat" balas Hans
"apaan sih mas" muka kinan jelas bersemu merah saking saltingnya karena tingkah hans
"pengen mandangin wajah kamu setiap hari" ucap Hans
"ya gak bisa lah mas, kita kan belum menikah jadi ya gak bisa kalau setiap hari mas" bakas kinan dengan santainya
"ya sudah nikah saja yuk" ajak Hans
"mas" kinan menatap tak percaya ke arah Hans "mas kan tahu kalau aku janji sama Brian kalau kita akan menikah jika dia sudah move on dariku dan mengikhlaskan perceraianku dengannya" balas kinan
Hans menggenggam tangan kinan "kita kesampingkan perkara dia yang belum ikhlas melepaskan kamu. bagaimana jika dia menjalin hubungan dengan seorang wanita" tanya Hans dengan hati-hati
kinan menautkan kedua alisnya "emang brian sedang dekat dengan wanita" tanya kinan
"ini misalkan" perjelas Hans
"kalau dia sedang menjalin hubungan dengan wanita lain, itu tandanya dia sudah melepaskanku jadi gak ada istilahnya dia gak mau lepasin aku " balas kinan
senyum merekah Hans langsung terbit "ingat ya kinan, kalau brian menjalin hubungan dengan wanita lain, kamu harus mau nikah sama mas dan gak boleh nolak" ucap hans
kinan tergelak dengan tingkah hans "mas lamar aku atau mau ngancam aku" tanya kinan dengan kekehan
hans menatap lekat kinan dengan tangan mereka yang masi saling berpegangan "saat semua keadaan jadi lebih baik, maukah menikah dengan mas, dan maukah kamu jadi ibu dari anak-anak mas' pinta hans dengan bersungguh-sungguh
"mas" mata kinan sudah mulai berkabut
"maukah jadi pendamping hidup mas, dan selalu di sisi mas" pinta hans lagi
__ADS_1
kinan mengangguk "iya mas" pertahanan kinan sudah runtuh, tapi ini bukan air mata kesihan, ini adalah air mata kebahagian "kinan mau jadi istri mas, dan selalu ada di samping mas Hans" balas Hans
hans mengusap pipi kinan yang sudah basah "jangan nangis nanti cantiknya hilang" hans menegakan badannya "ayo kita makan lagi, masih laper mas" hans kembali makan dan kinan juga
***
"kay" panggil kinan dengan suara cukup keras karena jarak kinan dan kayla cukup jauh
kayla yang sedang menyiram tanaman bergegas berlari ke arah Kinan "ada apa nona" tanya kayla
"kay, bisa minta tolong beliin keperluan putera gak" tanya kinan
"tentu saja boleh nona, masa minta izin juga" balas kayla
"tapi kamu bawa mobil sendiri, soalnya sopir sheryl lagi izin gak masuk, terus si romi mau antar sheryl untuk periksa kandungan, dan saya juga ikut nemenin sheryl" ucap kinan
"ya gak papa juga sih non saya mobil sendiri, saya kan juga bisa bawa mobil dan punya SIM juga" balas kayla
"ya sudah, nanti beli semua yang ada di dalam catatan ya, jangan sampai ada yang kelewat" kinan menyerahkan karti kredit miliknya dan juga catatan serta kunci mobil yang akan di bawa oleh kayla
"makasih ya kay" ucap kinan kembali masuk ke dalam rumah
"sher" panggil kinan
"iya kak" balas sheryl menghampiri kinan yang memanggilnya
"iya kak, sudah siap kok" balas sheryl
kinan mendorong stroller putera keluar rumah menuju halaman, di mana Romi sudah menunggu
romi membantu menyimpan stroller putera kedalam bagasi dan bergegas membukakan pintu untuk kinan dan sheryl lalu berlari menuju kursi kemudi "siap non" tanya Romi
"sudah siap, yuk berangkat" balas kinan
tanpa mereka sadara sepasang mata sedang menatap ke arah mobil yang di naiki sheryl dan juga kinan
"kamu pasti akan kalah" gumam wanita yang terus mengamati rumah ayah burhan dan selalu mengamati sheryl
***
putera terus mengoceh khas suara bayi sepanjang perjalanan "makannya apa sih, bisa montok gini" gumam sheryl menirukan suara anak kecil dan menggigit gemas kaki putera yang sedang di angkat oleh kinan
"kamu ada-ada saja pertanyaannya sher, putera kan masih empat bulan ya masih ASI doang " kekeh kinan
"abisnya, putera bisa buntal kaya gini dan menggemaskan" sahut sheryl mencubit pelan pipi putera
__ADS_1
"anak kamu juga nanti juga gemesin kaya putera" balas kinan
sheryl mengusap perutnya "iya ya kak, gak kerasa bentar lagi, anak sheryl akan segera menyapa kita" ungkap sheryl
kinan mengusap perut sheryl "semoga persalinan kamu lancar ya" doa kinan
"amiiiin" balas kinan
***
kayla sedang fokus memeriksa setiap daftar belanjaan yang di berikan kinan" apa ya yang belum" kayla terus mengecek barang-barang yang ada dalam troli agar tak terlewat
"ah" kayla teringat akan barang yang tertinggal dan langsung bergegas membelinya
setelah selesai membeli semua barang yang di minta kinan, kayla menyimpannya dalam bagasi "akhirnya kelar, waktunya pulang " kayla menutup bagasi dengan cepat
kayla melangkah menuju kursi kemudi "greb"tiba-tiba ada yang menahan tangan kayla membuat kayla menoleh kebelakang
"kamu" kayla begitu heran dengan pria yang ada di hadapannya dan kenapa bisa dia ada di sini sekarang membuatnya terkejut saja
"kenapa kamu gak angkat telpon saya" tanya seoarang pria
kayla melepaskan cekalan tangan pria itu dengan kasar "kenapa juga saya harus mengangkat telpon anda, kita kan gak ada hubungan apa-apa" balas kayla mengusap lengannya yang terasa sakit karena pria itu cukup kuat mencekal tangan kayla
"ayo kita ke rumah sakit sekarang" ajak pria itu kembali menarik tangan kayla dengan kasar
kayla menyentak tangannya agar genggaman itu terlepas "kenapa juga ke rumah sakit, saya kan gak sakit" ucap kayla heran dengan ajakan pria itu
pria itu menatap tajam kayla "itulah sebabnya aku kesal kenapa kamu gak mengangkat telpon saya" ucap pria itu yang tak menjawab kebingungan kayla dan menyalurkan kekesalannya
"aku tuh gak ngerti, apa hubungannya gak angkat telpon sama datang ke rumah sakit coba" bingung kayla
"kamu bodoh atau apa sih kay" kesal pria itu memegang keningnya yang terasa berdenyut
kayla berkacak pinggang dan menatap nyalang pria di hadapannya "walaupun aku jadi pengasuh sekarang dan sempat jadi asisten rumah tangga, tapi aku gak bodoh ya" elak kayla yang merasa ia tak bodoh, karena tanpa orang ketahui kayla adalah lulusan universitas, tapi entah karena apa dia memilih kerja jadi asisten dan tidak memakai gelarnya
pria itu menatap kesal kayla, rasanya percuma bicara dengan kayla dengan bahasanya harus pakai bahasa yang langsung ke intinya "waktu itu kita gak pakai pengaman kayla, dan mungkin saja kamu sedang hamil" seru pria itu menunjuk perut kayla
kayla membelalakan matanya lebar "hamil?" kayla bingung dengan satu kata, yaitu hamil. otaknya seolah begitu sulit mencerna kata itu
"iya hamil!" bentak pria itu "itulah makanya aku kesal karena kamu gak mau angkat telpon saya, kalau kamu angkat setidaknya saya bisa mengingatkanmu meminum pil pencegah kehamilan" seru pria itu dengan suara lantang
mendengar kata hamil, seketika kayla jadi lemas, badanya begitu lemas seolah tulang-tulang di tubuhnya di cabuti.
kayla terhuyung dan hampir terjatuh, beruntung pria itu memeganginya agar tak terjatuh.
__ADS_1
tak pernah kayla pikir kejadiaan naas yang ingin dilupakannya bisa berbuntut panjang seperti ini dalam hidupnya