Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Peran Ibu bagi banyak orang (Season 2)


__ADS_3

sepulang Revano dari rumahnya,  Qiana memeluk suaminya "lelah kak" adu Qiana pada suaminya


Putera hanya bisa menghela nafas dan mengusap punggung sang istri "sabar ya sayang" ucap Putera


"ayah" teriak Ghaly saat melihat kehadiran ayahnya


buru-buru ghaly berlari ke arah ayahnya dan dengan sigap putera menggendong anaknya itu "ayah pulang" ghaly menciup pipi ayahnya


"iya sayang" putera balas mengecup pipi anaknya


"kenapa ghaly belum tidur padahal sudah malam" tanya Putera melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam tapi anaknya belum tidur


Ghaly mencebikkan bibirnya "mama kebanyakan anak sampai lupa dengan ghaly jadi gak ada yang dongengin ghaly, tapi sekarang ayah pulang jadi bisa dongengin ghaly sebelum tidur" ucap ghaly dengan semangat karena ayahnya bisa mendongeng untuknya


Putera dan Qiana mengerutkan keningnya "kenapa ghaly bilang mama banyak anak, kan anak mama dan ayah baru ghaly saja" tanya Putera penasaran akan pernyataan puteranya


"iya lah anak mama banyak, ada om Edzar, ada om Vansh, ada juga om Nazhief dan tadi juga ada om revano, mereka semua anak mama karena harus di marahin mama" ucap Ghaly dengan polosnya menghitung jumlah anak mamanya menggunakan jari mungilnya


Qiana dan Putera terkekeh dengan pikiran anaknya "mereka adik-adik mama dan juga om mama kenapa malah Ghaly bilang mereka anak mama" tanya Qiana dengan nada lembut


"anak mama lah, soalnya setiap mereka bikin salah mama yang marah, kan kaya ghaly kalau lagi ada salah mama selalu marahin, kalau ayah kan enggak" Ghaly melingkarkan tangannya di leher Putera "kalau ayah yang salah, mama akan ngambek karena ayah bukan anak mama tapi suami mama" jelas Ghaly


Qiana dan Putera terbahak keras akan jalan pikiran puteranya yang menganggap orang yang sering di marahi Qian jika membuat salah adalah anaknya sebab ia melihat ayahnya tidak pernah di marah oleh mamanya walaupun sedang membuat salah


"ya sudah, ayo Ayah dongengin" ajak Putera


Qiana menahan lengan putera "ayah mandi dulu dan ganti baju baru temenin Ghaly" Qiana mengambil alih Ghaly dari tangan Putera "nanti ayah nyusul saja kalau sudah selesai bebersih" Qiana menggendong Ghaly menuju kamarnya sedangkan putera akan membersihkan diri sesuai perintah istrinya


Putera menuju kamar Ghaly setelah berganti pakaian tidur untuk  berdongeng sebagai pengiring tidur Ghaly


"cup" Putera mengecup kening Ghaly saat Ghaly sudah tertidur walaupun putera baru berdongek tidak sampai 5 menit


mungkin Ghaly terlalu lelah sampai membuatnya begitu mudah tertidur. Putera membenarkan selimut Ghaly dan mematikan lampu kamar Ghaly agar Ghali lebih nyaman untuk tidur

__ADS_1


Putera berjalan ke arah kamarnya dan juga Qiana "ceklek" Putera membuka pintu dan langsung menutup saat ia sudah memasuki kamar "sweetheart" panggil Putera dengan suara seraknya


"iya kak" Qiana langsung meletakan ponselnya tatkala suami sudah masuk dalam kamar


"lagi bertukar pesan dengan siapa" tanya Putera


"sama Nazhief kak, katanya koasnya sudah selesai dan dia mau langsung lanjut kuliah spesialisnya " balas Qiana


Putera duduk tepat di sebelah istrinya "jadi dia ngambil jurusan psikiater" tanya Putera


"jadi, orang itu rencananya dari lama" balas Qiana


Qiana menyandarkan tubuhnya di pelukan Putera "Qiana jadi keinget ucapan Ghaly tadi tau kak" ucap Qiana membuat dahi Putera mengerut


"ucapan yang mana" Putera benar-benar tidak paham maksud Qiana


"itu loh kak, yang katanya anak Qiana banyak" jelas Qiana


"oh" Putera kembali tertawa "ada-ada saja ya pikiran anak kita" Putera begitu merasa lucu dengan celetukan spontan dari bibir sang anak yang terkadang di luar nalar tapi bisa di bilang masuk akan saat di jelaslan


"kamu bukannya ingin marah-marah Qiana tapi emang dasarnya mereka saja yang ingin lebih di kerasi" balas Putera menengkan istrinya gar tidak terlalu banyak berpikir


"terima kasih ya kak sudah nenangin aku sedikit" timpal Qiana


"sudah tidur yuk, besok kaka ada meeting penting soalnya " ajak Putera


"iya kak" Qiana dan Putera membenarkan posisi tidurnya dan segera bersiap untuk tidur sebab waktu memang makin malam dan mereka juga sudah sangat lelah


***


"hai sudah lama" Vansh duduk di kursi yang masih kosong


"kalau aku sih belum lama, tahu tuh si Dilan sama Damian sudah dari tadi apa belum" sahut Revano

__ADS_1


Vansh, Revano, Damian dan Dilan sedang berkumpul bersama di sebuah Cafe di salah satu kawasan Jakarta pusat


"oh ya Vano, aku denger-denger ada wanita yang minta kamu tanggung jawab ya" tanya Damian mendengar kabar itu dari mamanya


"tahu dari mana kamu" tanya Revano dengan tatapan sinis


"dari mama lah, emang dari siapa lagi" kekeh Damian melihat raut wajah kesal om dari sepupunya itu


"lagian om vano juga pecicilan sih jadi playboy kok gak taubat-taubat" ledek Vansh


"sebelum ngomong itu, ngaca dulu sama kamu yang gak bisa move on dari mantan kamu padahal sudah lebih dari 4 tahun kalian berpisah" balas Revano kesal dengan kedekan keponakannya


"aku tuh sudah move on jadi tolong jangan bilang aku belum move on hanya karena aku belum punya pasangan. Aku cuma malas memusingkan hal seperti suatu penjelasan pada pasanganku nanti" Vansh meminum minuman yang baru saja di hidangkan oleh pelayan "aku akan menjalin suatu hubungan dengan orang yang bisa mengerti diriku dan bukannya aku yang harus selalu mengerti dirinya" protes Vansh tidak ingin masih belum move on padahal bukan itu alasannya belum memiliki pasangan


"ah emang susah jadi kalian bertiga" Dilan hanya bisa menggelengkan ketiga orang di hadapannya sebab kisah cinta mereka terlalu ribet, berbeda dengan dirinya yang mulus-muls saja dalam berpacaran


'"kamu belum nemu masalahnya aja kaya kita makanya kamu anteng-anteng saja" kesal Damian yang juga jadi sasaran sebab ia baru saja di putuskan apcaranya karena Damian terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter yang tentu menyita banyak waktunya


"aku sih berharapnya kaya kak putera yang lancar saja dalam berhubungan dan semoga hubunganku dengannya sampai ke jenjang pernikahan" doa Dilan


"semoga saja, aku juga setuju kalau kamu menikah dengannya "sahut Vansh yang mengenal baik siapa kekasih Dilan sebab kekasih dilan adalah salah satu pegawai di perusahaanya jadi ia bisa mengenal siapa kekasih Dilan


"terima kasih Vansh" Dilan juga inginnya begitu bahwa dirinya akan menikahi kekasihnya di saat yang tepat


Dilan menoleh ke arah Revano "terus rencana kamu sama wanita itu gimana? soalnya kata mamaku kak putera bakal nurunin jabatan kamu kalau sampai ketahuan itu anak kamu" tanya DIlan penasaran dengan kelanjutan kisah Revano dengan wanita yang mengaku hamil anak Revano


"entahlah" Revano melorotkan tubuhnya dan menengadahkan kepalanya ke atas "mungkin aku harus siap-siap jadi gembel deh" tukas Revano dengan begitu pesimis


"gak usah lebah deh Om, kakak gak akan setega itu kalau buat om jadi gelandangan" protes Vansh tidak setuju akan anggapan Revano


"tapi aku bakal di turunin jabatannya" sahut Revano


"di turunin bukan berarti di pecar Vano, lagian kalau masih bisa kerja kan gak mungkin jadi gelandangan" kekeh Damian

__ADS_1


"iya ya" timpal Revano membuat Vansh, Damian dan Dilan tertawa melihat raut wajah Revano yang di tekuk


__ADS_2