Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Bertemu Keluarga Aneh (Part 2)


__ADS_3

Kinan hanya memandang heran ke arah Hans yang bersikap biasa saja padahal orang yang berbicara tak jauh dari tempatnya duduk


kinan menggenggam tangan hans yang masih sibuk bermain dengan puter "mas, are you okay" tanya kinan dengan suara lirih


hans tersenyum hangat "mas baik-baik saja " hans mengusap kepala kinan "bahasan itu sudah mas dengar sejak mas masih kecil" ungkap Hans


kinan tersenyum pada hans " menganggap orang bagai angin lalu, emang jauh lebih baik mas" ucap kinan


hans terkekeh " bener itu" balas Hans


hans menggendong putera yang sedang terus mngoceh dengan bahas bayi itu dan terus membuat kinan dan hans tertawa gemas dengan tingkah putera


rasti yang mendengar tawa hans hanya menatap sinis ke arah hans "dekat sama janda beranak satu kok bangga" ucap rasti menatap sinis ke arah hans yang jelas hans tak melihat tatapan rasti


ibu intan ingin menyela tapi tertahan karena ada kakek Ramon "lebih baik dekt dengan janda beranak satu tapi sudah ada status yang jelas, ketimbang dekat dengan kekasih orang dan merebutnya paksa" sahut kakek Ramon melirik Jovan dan Sinta


rasti menatap tidak suka ke arah mertuanya "ayah masih saja ngebahas hal dulu" kesal rasti


"itu karena kau yang terus mengungkitnya" kakek ramon menoleh ke arah ibu intan "intan, bantu ayah menemui kolega ayah" pinta kakek ramon


"iya yah" ibu intan menemani kakek Ramon untuk menyapa para tamu undangan


sinta melihat interaksi hans dan kinan dalam diam tapi sorot matanya seolah menyimpan beribu rasa tak suka akan hal yang ia lihat di depannya, dan Jivan bisa melihat hal itu dengan Jelas


"mah" lisa, anak sinta dan adrian mengguncang lengan sinta "laper mah" ucap lisa


"ah, iya sayang" sinta sadar dari lamunannya dan membawa lisa untuk mengambil makanan


jovan hanya memandangi punggung sinta dan lisa yang makin menjauh "kakak gak takut istri kakak berjalan ke sana" ucap jeni


jovan menoleh ke arah adiknya "kenapa kau berucap seperti itu?" tanya jovan


jeni tersenyum simpul "mungkin kalian bisa menutupi dari semua orang tantang hubungan kalian yang terlihat harmonis tapi kakak gak bisa bohongin jeni kak, istri tercintamu itu masih menaruh harap besar pada kakak kita itu" balas jeni


"bahkan istri kamu sudah mulai dengan aksinya untuk mendekati kekasih kakak kita itu" tambah jeni dengan menunjuk ke arah hans dan kinan menggunakan dagunya


jovan mengernyitkan dahinya "apa maksudmu" tanya jovan


"dia mengajukan kerjasama dengan perusahaan adik wanita itu yang kebetulan di kelola olehnya" jeni menatap lekat kakaknya dan terkekeh pelan "tapi wanita itu tak bodoh dan menolak tegas ajakan istri tercinta kakak" jeni berlalu pergi meninggalkan kakaknya yang menatap tajam ke arah  Sinta


***

__ADS_1


putera muali menggeliat kearah tubuh Hans seperti mencari sumber kehidupannya "sepertinya dedek haus, cooler bag ASI putera di mana, biar mas ambilin" tanya hans


"di mobil mas, biar kinan aja yang ngambil" kinan menepuk pelan lengan hans dan berjalan ke arah luar untuk mengambil tas berisi ASI untuk putera


"sabar ya anak papa, mama lagi ambilin susu buat dedek" ucap Hans menirukan suara anak kecil


"segitu cintanya kamu sama wanita itu sampai kau begitu mencintai anak itu" ucap seorang wanita yang berdiri di hadapan Hans


Hans mendongak ke atas dan memutar bola matanya malas tatkala melihat siapa yang bicara "ini bukan urusanmu" Hans kembali mengajak bicara putera dengan bahasa bayi


"sebegitu mudahnya kamu melupakanku mas" tanya sinta dengan suara lirih


hans terkekeh pelan "tolong jaga sikapmu pada kakak iparmu"seru Hans dengan tatapan tajamnya


"aku..." sinta ingin kembali berucap tapi Lisa sudah memanggilnya "mah, ayo ke ayah" ajak Lisa


"sebentar lisa, mama sedang bicara sama om Hans" tolak Sinta


"tapi Lisa mau makan sama ayah mah"sahut  Lisa


"sepertinya anak anda lebih butuh bersama ayahnya dari pada bicara dengan papa orang lain"sahut kinan menghampiri sinta dan Lisa


sinta bergegas pergi meninggalkan hans untuk membawa lisa menuju ayahnya


"nih mas, ASI nya" kinan menyerahkan ASI putera pada Hans


Hans membantu putera memegang dotnya "minum dulu ya anak papa" cicit Hans


"mas gak nanya kenapa kinan bisa bicara seketus itu sama wanita tadi" tanya kinan penasaran karena Hans tak penasaran akan sikapnya pada Sinta yang begitu ketus padahal biasanya kinan tak bersikap itu dan Hans tahu hal itu


"mau ketus atau gak itu hak kamu kinan, mas mah gak mau komentar terlalu jauh atau membatasi kamu untuk bersikap" balas Hans


"sweet banget sih mas" ungkap kinan mencubit pelan pipi Hans dan itu membuat Hans tersipu malu


"jangan gitu ah kinan" hans mengusap pipinya yang sudah merona bak tomat yang sudah sangat masak itu


kinan memindai sekitar "mas dan keluarga mas emang jarang berbaur dan bicara ya" tanya Kinan karena kinan melihat semua anggota keluarga Hans sibuk dengan urusan masing-masing


"ya begitu lah" balas Hans sekenanya


"dedek tidur, kita tidurin di kamar mas saja ya" ajak Hans

__ADS_1


"emang boleh masuk kamar mas hans" tanya kinan tidak enak hati masuk kamar Hans


Hans tersenyum melihat kinan yang sedikit takut dan tak enak hati "kita kan mau nidurin dedek, bukan mau bikin adiknya dedek" balas Hans yang membuat muka kinan jadi memerah


"ih mas " kinan memukul pelan lengan hans "seriusan loh ini" ungkap kinan


"mas juga serius" Hans mengajak kinan menghampiri ibu intan


Hans menepuk pelan lengan ibunya "bu, hans mau nidurin putera di kamar dulu ya" ucap Hans


"ya sudah, nanti biarin kinan nungguin di kamar tapi kamu turun" balas ibu intan


"iya bu" hans mengajak kinan ke lantai atas di mana kamarnya berada


Hans menggendong putera dengan lengan kirinya sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan kinan erat masuk ke salah satu kamar yang terlihat itu adalah kamar utama di rumah itu karena terlihat ukuran kamar dan desainnya yang paling beda dengan yang lain


Hans mengajak kinan masuk dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. Hans berjalan ke arah ranjang untuk menidurkan putera, tak lupa ia meletakkan bantal di setiap sisi badan mungil putera


kinan duduk di tepi ranjang memandang Hans yang sedang menata bantal untuk putera "ini kamar mas" tanya kinan


"iya" balas hans duduk menghadap kinan


"kamar kakak besar banget ya, jauh lebih besar dari kamar sheryl yang di rumah mario" kinan malah mengomentari ukuran kamar Hans


"emang kamar kamu di rumah om burhan gak besar" tanya hans


"besar, kalau di rumah ayah malah kamarku jauh lebih besar dari kamar sheryl karena kata ayah aku anak tertua jadi di kasih yang paling besar" balas kinan


"kamar mas besar juga karena mas adalah cucu tertua di keluarga ini" balas hans


"berarti kamar adik-adik mas di rumah ini lebih kecil dong" tanya kinan


"kalau di rumah ini tidak ada kamar mereka, bahkan kamar ayah saja tidak ada" balas Hans


"kenapa" tanya kinan


"karena kakek tak mau menganggap anak-anak ayah dari wanita itu adalah cucunya, bahkan ayah di keluarkan dari KK keluarga Herlambang" balas hans


"tapi mereka masih bisa keluar masuk rumah ini mas" bingung kinan


"itulah anehnya keluarga ini. mas gak tahu bagaimana jalan pikiran orang-orang disini, terlalu rumit dan sulit untuk mas pahami" balas Hans

__ADS_1


__ADS_2