
Sesampainya di Mansion, Shena langsung turun dari mobilnya dan meninggalkan Ash. Ia berlari menghiraukan Paman Jim yang berdiri menyambutnya diambang pintu.
Setelah meletakkan mobilnya, Ash masuk ke Mansion dan disambut oleh Paman Jim.
"Selamat malam, Tuan.." Sambut Paman Jim menundukkan kepalanya.
"Paman Jim, di mana istriku?" Tanya Ash tidak melihat istrinya.
"Nona berlari ke kamar utama, Tuan Muda. Saya melihat wajah Nona muda murung."
Ash menghela napasnya berat, Ia pikir setelah tadi di mobil semuanya akan kembali membaik, Tapi ternyata dugaannya salah dan malah semakin keruh. Shena bukan gadis yang mudah luluh.
"Siapkan makan malam! Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."
"Baik Tuan muda!"
Paman Jim dan Ash langsung beranjak ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Sesampainya di kamar, Sayup-sayup Ash mendengar suara gemericik air, Mungkin istrinya itu sedang mandi. Ash mengambil baju santainya memilih mandi di ruangan sebelah.
Setelah sepuluh menit, Ash kembali ke kamar untuk mengajak Shena makan malam. Gadis itu nampak sedang memegang ponselnya tanpa mempedulikan suaminya.
"Ayo, Kita makan malam. Paman Jim sudah menyiapkan semuanya."
Shena menggelengkan kepalanya tanpa melihat.
"Aku sudah kenyang, Paman saja yang makan!" Tolak Shena ketus.
"Mari makan! Kau harus meminum obatmu juga." Ajak Ash lagi.
"Aku sudah katakan, Aku kenyang! Aku bukan orang penyakitan yang perlu minum obat juga. Aku tidak tahu apa maksud mu dengan memberikan ku obat. Aku tidak akan minum obat itu lagi." Shena menutup ponselnya, Lalu membaringkan tubuhnya ke dalam selimut yang menutupi tubuhnya sampai kepala.
Namun, Tanpa ia sadari tiba-tiba selimutnya terbuka dan tubuhnya terangkat.
"Aaaa.." Pekik Shena terkejut.
"Kau memang sulit diatur! Baiklah, Mulai hari ini aku akan memaksa mu dengan caraku."
Ash mengangkat tubuh Adis ke atas bahunya seperti seseorang yang sedang mengangkat karung beras.
"Lepaskan Paman! Kau ingin apa?" Pekik Shena menggoyangkan kakinya, Namun Ash langsung menepuk pantatnya.
Blush!
Pipi Shena merah merona kala Ash memukul pantatnya.
__ADS_1
"Diam! Atau aku jatuhkan tubuhmu ke bawah." Ancam Ash pura-pura ingin menjatuhkan tubuh gadis itu.
Shena langsung memegang baju Ash dengan erat.
"Jangan! Iya aku diam." Pasrah Shena yang langsung terdiam saat tubuhnya di bawa Ash sampai kemeja makan.
"Sepertinya kau memang menyukai diperlakukan seperti ini, Nona manis! Oh aku tahu, Kau sepertinya juga menyukai jika disentuh bagian seperti tadi dengan suami tampan mu ini.."
Shena kesal dan memukul dada bidang Ash.
"Kau terlalu percaya diri Paman kutub mesum! Aku bahkan tidak sudi berdekatan dengan mu." Cela Shena kesal.
Ash tersenyum geli melihat ekspresi wajah Shena, Gadis itu terlihat menggemaskan.
"Baiklah, Jika begitu aku tidak perlu mengajari mu lagi mulai besok. Kau sudah bisa merubah sikap bodoh mu sendiri, kan?" Sindir Ash.
"Apa maksud mu? Sikap bodoh apa?"
"Ya sikap bodoh mu yang membuatku merasa takut. Bersikap lah dewasa dalam menyikapi Shena. Kau bukan lagi seorang gadis yang hidup dalam lingkungan keluarga mu. Kau harus belajar menerima semua ini, dan kau harus belajar menjadi istri yang baik untuk suami mu."
Deg!
Shena tiba-tiba merasa bersalah!
Benar yang dikatakan Ash, Seharusnya ia harus belajar menerima kenyataan bahwa sekarang semuanya telah berubah. Padahal dulu dia bukan orang yang bodoh seperti ini, bahkan lebih mementingkan perasaan orang lain dibandingkan dirinya. Shena menyesali kebodohannya.
Ash memang suami yang benar-benar dewasa. Hanya saja kadang pria itu akan berubah dingin karena sesuatu hal. Bahkan juga akan menjadi pria yang paling kejam.
Shena menunduk malu, Ia malu belum bisa menjadi seorang gadis yang baik seperti yang Ayah dan suaminya inginkan.
"Maafkan aku Paman! Aku hanya belum siap menerima semua ini dengan tiba-tiba.." Jujur Shena merasa bersalah.
Dulu ia pikir setelah menikah dengan Ash suaminya tidak akan peduli dengan semua yang ingin ia lakukan. Namun, semuanya salah, dari sejak kecil hingga besar sudah sering hidup terbebas tanpa merasa terkekang meskipun Ayahnya orang berpengaruh, tapi dulu ia bisa bebas pergi kemanapun tanpa seorang penjaga. Dan sekarang setelah menikah pun hidupnya malah semakin terkekang. Itulah kadang yang membuatnya tidak bisa menerima semuanya secepat itu.
"Aku mengerti! Tapi cobalah sama-sama belajar menerima ini, Aku tidak ingin mengecewakan Ayah kita." Ucap Ash. Yang dimaksud adalah Tuan Theo.
Shena mengangguk, Memang sudah seharusnya la berubah dan menjadi wanita yang lebih dewasa.
...***...
Setelah selesai makan, Shena naik kembali ke kamarnya. Ia berdiri di depan balkon kamarnya yang nampak pemandangan kota Jakarta serta langit malam yang indah penuh bintang dan bulan yang bersinar terang.
"Aku kalah! Dulu aku selalu bermimpi menjadi wanita yang tangguh dan bisa berdiri sendiri. Aku tidak ingin bergantung pada pria manapun. Tapi semuanya hilang sudah, Aku harus terima diriku yang sudah memiliki tempat untuk ku bertumpu dan bertahan." Batin Shena menatap bulan dan bintang.
Dulu ia pernah kecewa karena dua pria, dan karena sebab itulah ia tidak bisa menerima pria manapun.
__ADS_1
Tidak ada siapapun yang tahu, itu semua ia kubur dalam-dalam bersama dengan memorinya yang kelam. Namun, sialnya memori itu kembali muncul.
Shena merasakan ada lengan kokoh yang menelusup masuk ke sisi dua tangannya dan melingkar indah di perutnya. Semula ia menolak, Namun tangan kokoh itu semakin memeluknya erat.
"Apa perkataan ku mengganggu pikiranmu?" Tanya Ash lembut ditelinga Shena. Gadis itu nampak sangat mungil di pelukan Ash. Karena tingginya hanya sebatas dada bidang Ash, sehingga Ash leluasa meletakkan kepalanya di pundak Shena.
"Paman benar, Pikiranku bodoh."
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud..."
"Tidak perlu Paman, Aku kalah! Aku terlalu egois.."
Ash semakin memeluk erat tubuh mungil Shena. Ia membiarkan Shena meluapkan apa yang ada dihatinya saat ini.
"Aku terlalu egois, Aku melupakan kebahagiaan Ayah. Ini terlalu cepat, Paman!" Lirih Shena, satu tetes air mata lolos begitu saja.
"Aku pikir aku kuat, Ternyata tidak! Aku lemah Paman, Aku rapuh.. Terlalu banyak yang membingungkan ku selama ini. Aku juga tidak mengerti kenapa Ayah bisa bangkrut. Apa kau tahu rahasia mengenai Ayah yang bisa saja kalian sembunyikan dariku?"
Ash membalikkan tubuh Shena, Lalu menatap mata Shena yang berkaca-kaca. la menyibakkan rambutnya dan mengusap air mata wanita itu.
"Berjanjilah untuk belajar dan bersabar! Kau akan tahu suatu hari nanti."
Shena menatap wajah Ash dengan begitu dalam, Ia meresapi setiap makna dari perkataan Ash yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Apa yang akan ku ketahui, Paman? Apa akan terjadi sesuatu?" Tanya Shena.
"Aku sudah katakan, Bersabar lah hingga waktunya tiba."
Seperti terhipnotis, Shena mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menatap wajah suaminya yang tampan, mata tajamnya, Hidungnya yang mancung, serta rahang tegas kokohnya.
Ash dengan lembut mengusap pipi Shena Shena yang terlihat sedikit tembam dan mulus. Mata mereka beradu pandang, perlahan namun pasti Ash sedikit memajukan wajahnya ke wajah Shena. Tidak ada penolakan dari gadis itu.
Ash kembali mendekatkan kepalanya dan sedetik kemudian ia menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Masih tidak ada penolakan.
Mereka berdua merasakan detak jantung yang berdetak kencang. Shena merasakan benda kenyal milik suaminya mulai bergerak menyesap manisnya bibir nya. Shena gugup, ia tidak tahu harus berbuat apa?! Ash adalah orang pertama yang pernah menyentuh bibir indahnya beberapa kali.
Ash melepaskan penyatuan bibir mereka, Ia melihat wajah Shena yang bingung bercampur malu. Ash tersenyum, wajah polos inilah yang membuatnya selalu rindu.
Ash kembali menempelkan bibirnya ke bibir istrinya, kali ini ia sedikit memberikan sentuhan dan pergerakan. la menyusuri dan menikmati bibir tipis milik istrinya. Perlahan namun pasti, Ash dan Shena merasakan desiran aneh yang tiba-tiba muncul dari tubuh mereka berdua. Mereka lakukan dibawah terangnya bulan yang menyinari.
Ash masih asik menelusuri bibir istrinya hingga beberapa menit mereka sama-sama merasa kehilangan oksigen. Ash menarik bibirnya hingga suara decakan keluar dari bibir mereka berdua.
Dada Shena kembang kempis mencari oksigen yang dirasanya hampir habis disekelilingnya.
"Maafkan Aku..." Ucap Ash lembut mengusap bibir Shena yang basah dan memerah karena ulahnya.
__ADS_1
Shena malu, entah keberanian dari mana ia langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Ash, dan memeluk pria itu sangat erat.