Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Tak ada niat untuk pacaran (season 2)


__ADS_3

qiana dan damian berangkat sekolah dengan di antar oleh putera " makasih ya kak" qiana mengecup pipi putera dan turun dari mobil putera dengan langkah cepat


melihat qiana yang langsung berlari membuat senyum segaris itu muncul dari bibir putera "jangan memandang adikmu seperti itu kak, dia bukan kekasihmu" damian menepuk pelan pundak putera sebelum turun dari mobil


"masa aku seperti itu sih" putera mengabaikan ucapan damian dan kembali melajukan mobilnya menuju kampusnya


qiana masuk dalam kelas langsung menyapa ke tiga sahabatnya yang duduk dekat kursi tiara "tumben kamu gak berangkat siang" tanya qiana menghampiri sahabatnya itu


tiara menoleh ke arah qiana "kemarin nginep di rumah cindy jadi berangkat pagi deh" balas tiara kesal karena mami cindy begitu cerewet saat membangunkan cindy dan kebetulan dirinya juga di sana


"hahahaha" cindy memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa begitu keras "aku kan sudah bilang mamiku beda dengan mama kamu yang sibuk kerja " ucap cindy yang masih tertawa keras karena tiara yang harus bangun pagi


"bikin kesel aja mami kamu" tiara menoleh ke arah qiana "nginep di rumah kamu aja boleh" tanya tiara penuh harap


qiana langsung menggelengkan kepalanya "enggak boleh, aku tinggal dengan dua saudara laki-lakiku di mana tidak ada orang dewasa jadi gak boleh" balas qiana dengan tegas


"ya ampun qiana, segitunya kamu sama aku" balas tiara


"itu sudah pesan mama dan papa aku tiara, gak boleh bawa nginap teman-teman kita kalau gak ada orang dewasa di rumah" jelas qiana


"ya sudah deh" tiara memanyunkan bibirnya karena penolakan qiana


"lagia kamu kenapa minta nginep, biasanya juga kamu betah-betah saja di rumah kamu" tanya roland


"lagi malas dengar mama dan papaku berdebat, apalagi kadang mama bawa temannya pulang ke rumah dan berakhir pertengkaran antara mama dan papa yang buat kepalaku pening" balas tiara


"kenapa orang tua kamu betah banget sih pertahanin hubungan gak sehat kaya gitu, bukannya ini sudah berjalan sejak kamu SMP ya " sahut qiana


tiara mengedikkan bahunya "entahlah, padahal aku happy-happy aja kalau mereka bercerai, bisa ngurangin stres aku malahan" tiara menoleh ke arah qiana "kali aja saat mereka sudah berpisah mereka akan lebih sayang sama aku kaya ke empat orang tua kamu yang begitu sayang sama kamu" ucap tiara


"kamu iri ya sama aku" tunjuk qiana pada sahabatnya


"iya lah aku iri sama kamu, semua orang tua kamu sayang sama kamu juga tiga adik kamu itu, ya walaupun kadang adik-adik kamu ngeselin tapi mereka kan benar-benar sayang sama kamu" ungkap tiara


qiana hanya tersenyum simpul ke arah sahabatnya yang sedang merasa iri padanya


"triiiinggg" bunyi bel berbunyi, ke empat sahabat itu kembali ke tempat duduknya dan mengikuti pelajaran dari guru dengan cara mereka masing-masing


***

__ADS_1


Qiana berjalan ke arah halaman di mana sudah ada damian menunggu qiana "qiana" damian menghampiri qiana "aku mau pulang ke rumah dulu ya, rain sakit kata nenek jadi aku mau pulang buat bantuin nenek jaga rain kalau rain baikan aku pulang ke rumah kamu kalau enggak mungkin aku nginep jaga rain, gak papa kan"tanya damian


"gak papa dam, kamu kan mau jaga adik kamu. kita sama-sama punya tanggung jawab sebagai seorang kakak selama orang tua kita tidak ada" balas qiana


"ya sudah aku pulang, kamu mau aku antar atau nunggu kak putera jemput" tanya damian


"tunggu kak putera aja deh, mending kamu pulang aja, rain lebih butuh kamu sekarang" balas qiana


"ya sudah, aku pulang duluan ya princess" damian berjalan ke arah mobil jemputannya


qiana memilih duduk di bawah pohon besar menunggu jemputan kakaknya, sambil memejamkan matanya yang terasa mengantuk karena seharian belajar, apalagi dia masih kelelahan dengan acara sekolah adiknya


"kamu nunggu jemputan" tanya seorang pria menginterupsi tidur qiana


qiana membuka matanya untuk melihat siapa yang membangun tidurnya "bapak" qiana membenarkan posisi duduknya


"mau pulang sama saya saja" tawar pak dion


"enggak usah pak, kakak bilang mau jemput saya" tolak qiana


Dion melihat lingkungan sekolah yang sudah cukup sepi karena jam pulang sekolah sudah terlewat setengah jam yang lalu " di sekolah sudah cukup sepi loh" tanya dion lagi


"silahkan" dion memilik duduk dekat qiana untuk menunggu qiana menghubungi kakaknya


"kak" panggil qiana saat panggilannya sudah tersambung


"iya qiana" balas putera


"kakak jadi jemput enggak, aku sudah nunggu setengah jam nih" tanya qiana


"mobil kakak tiba-tiba mogok di jalan, kamu pulang sendiri bisa enggak, soalnya kalau nunggu kakak lama deh" balas putera


"ya sudah aku pulang deh" balas qiana mengerucutkan bibirnya


"maaf ya" ucap putera penuh penyesalan


"hmmm" qiana langsung mengakhiri panggilannya dan menoleh ke arah Dion


"saya boleh ikut bapak pulang" tanya qiana memastikan

__ADS_1


"tentu saja boleh, kan saya yang nawarin tadi" balas Dion


"ya sudah ayok pulang pak" ajak qiana


"ayok" dion berjalan lebih dulu dan qiana mengikutinya dari belakang


setelah mereka sama-sama naik mobil dan memasang sabuk pengamannya, dion melajukan mobilnya membelah jalanan


"kamu pulang kemana " tanya dion


"ke rumah papa saya pak, di jalan kemang" balas qiana


"oke kalau gitu" dion mulai menekan tombol navigasi di mobil miliknya


"mama sama papakamu masih di luar negeri" tanya dion


"masih pak, orang tua saya rencananya agak lama, dua minggu di sana dan ini baru juga 4 hari" balas qiana


"oh" balas Dion mengangguk paham


"apa biasanya kakak kamu yang selalu antar jemput sekolah" tanya dion


"seringnya iya sih, tapi kalau kak putera lagi sibuk, aku di antar sopir" balas qiana


"kamu ada sopir juga" tanya dion


qiana terkekeh pelan "ya adalah pak, bapak kan tahu keluaga saya, pasti orang tua saya menyediakan sopir untuk saya, khusus untuk saya malah punya dua sopir karena masing-masing orang tua saya memberikan sopir untuk saya" jelas qiana


"kan bapak gak tahu, bapak lebih sering lihat kamu di antar jemput sama kakak kamu itu" balas Dion


"itu karena saya adalah anak kesayangan di keluarga besar saya jadi mereka begitu menjaga saya pak" jelas qiana


"kalau gitu, gimana nanti kalau kamu punya pacar pastu pacar kamu akan kesulitan karena keluarga kamu yang terlalu melindungi kamu" tanya dion


"saya gak pernah memikirkannya, karena saya gak ingin berpacaran" balas qiana


dion mengerutkan keningnya  "kenapa tidak ingin berpacaran, biasanya anak seusia kamu lagi seneng-senengnya pacaran" tanya dion lagi


"malas aja" balas qiana dengan santainya

__ADS_1


__ADS_2