
Siang hari Shena terbangun karena perutnya yang lapar. la melirik ke samping tempat tidur, ternyata suaminya itu juga ikut tertidur bersamanya. Teringat kekesalannya tadi pagi, Shena memutuskan untuk menelepon restaurant dan meminta mereka untuk mengirimkan makanan ke kamarnya saja.
Hampir lima belas menit berlalu, Kini Shena sudah bersih dan wangi setelah membersihkan diri. la langsung menyantap makanan miliknya dengan lahap tanpa memikirkan suaminya itu. Menurut Shena perutnya lebih penting daripada pria dingin itu. Karena pria itu tidak seperti dirinya yang kesulitan untuk keluar dari kamar.
Tidak lama ponsel milik Ash berdering nyaring hingga memekakkan telinga si yang memiliki. Ash menggeliat sambil tangannya meraba-raba meja nakas mencari sesuatu yang membuatnya terganggu.
"Willie.."
Ash yang melihat nama itu langsung terbangun dan mengangkatnya.
"Ya Will..." Jawab Ash sambil melirik istri cantiknya yang tengah makan.
"Ada informasi penting, Tuan! Deon beserta anak buahnya sudah berhasil kami tangkap. Saat ini mereka berada di markas kita." Ucap Willie dari telepon.
Ash tersenyum senang mendengarnya, ajudannya itu memang patut diacungi jempol. Selain kuat dan jujur, pria yang selalu menjadi kaki tangan kanan Ash selama bertahun-tahun itu juga memiliki kecerdasan yang luar biasa sama seperti Dayn yang menjadi senior Willie. Tanpa Willie, Paman Jim dan Dayn, Ash tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini. Mungkin ia akan tumbuh menjadi anak yang terus dilanda kesedihan dan depresi akibat kehilangan orang tua di masa kecilnya.
"Bagus Will, Aku senang mendengarnya." Ash perlahan berdiri menghampiri wanita yang sejak tadi merajuk padanya hanya karena ingin melihat sunrise.
"Will, Beritahu Ayah mertua ku, biarkan dia yang menyelesaikan semuanya. Kau tetap pantau saja pergerakannya."
"Baiklah Tuan, Jika begitu saya tutup teleponnya." Ucap Willie yang tidak ingin berlama-lama mengganggu Tuannya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Shena memandang Ash sambil memikirkan apa yang sempat ia dengar tadi.
"Ada apa dengan ayahku? Apa tadi ayah yang menelepon mu?" Tanya Shena.
"Tidak terjadi apa-apa, Tadi Willie yang menghubungi ku." Jawab Ash singkat.
"Lalu tadi apa? Kau menyebutkan nama ayahku."
__ADS_1
"Urusan pekerjaan, Gadis kecil seperti mu tidak perlu tahu." Ash menarik hidung Shena pelan.
"Bagaimana, kau masih merajuk? Tidak jadi melihat-lihat kota Bali yang indah ini?" Tanya Ash memastikan sekali lagi, walaupun sebenarnya ia tahu jika Shena ingin sekali pergi dari tempat yang memuakkan ini.
Ash sebenarnya juga tidak tega mengurung Shena di dalam kamar, Tapi jika tidak seperti ini istrinya itu pasti mengulangi hal yang sama seperti yang sudah-sudah, pergi tanpa memberitahunya.
Shena masih diam tidak menjawab satupun pertanyaan dari Ash. Baginya diam adalah pilihan tepat. Setelah ini ia akan mulai berkemas untuk segera pulang ke Jakarta.
Ash menarik tangan Shena dan menaruhnya diwajahnya, sungguh wajah Shena sangat menggemaskan jika sedang marah. Apalagi wanita ini tidak seperti wanita kebanyakan yang sifatnya mudah ditebak, sikap Shena yang mudah berubah-ubah kadang membuat Ash lebih sulit menghadapinya. Ya, Ash pun memaklumi dengan usia Shena yang masih terpaut jauh darinya.
"Baiklah jika kau tidak ingin, Aku akan pergi sendirian meninggalkan mu di sini. Bagaimana?" Tanya Ash terdengar seperti ancaman, Namun Shena tidak mempedulikannya.
"Aku tidak peduli, Kau ingin pergi atau kau ingin apapun. Yang aku inginkan sekarang juga pesankan aku tiket pesawat untuk ku pulang ke Jakarta." Ucap Shena terdengar sangat ketus, bahkan bibirnya sudah maju beberapa senti.
Ash terus memperhatikan bibir Shena yang sudah merajuk bak muncung bebek. Ash menarik tengkuk Shena dan menempelkan bibirnya ke bibir wanitanya. Sudah cukup semalaman la tersiksa dengan semua kekonyolan yang dibuat Shena. Kini sudah tidak bisa lagi.
Shena berusaha menahan dada Ash yang begitu menempel ditubuhnya.
Tangan Ash memegang tangan Shena dan menahannya ke belakang. Bibirnya terus mengisap bibir manis milik Shena tanpa ampun. Sebagai seorang pria normal tentu berada dalam satu kamar bersama seorang wanita itu adalah tantangan terbesar mereka. Terlebih wanita itu adalah istrinya.
Bibir Shena memacari celah untuk menggigit bibir suaminya agar bisa lepas. Namun, sayangnya itu tidak bisa terlaksana saat tangan nakal Ash sudah masuk ke dalam bajunya dan mengusap kulit pundaknya lembut.
"Kau ingin kita tetap di kamar atau kita di luar kamar? Sepertinya di dalam kamar berdua seperti ini memang lebih menyenangkan." Bisik Ash dengan suara yang terdengar sensual.
"Dasar beruang kutub genit!" Shena menendang kaki Ash dan meninggalkan makanannya begitu saja. Sementara Ash hanya tertawa melihat reaksi sang istri yang terlihat ketakutan.
...***...
Sudah hampir pukul lima sore, Shena dan Ash masih menikmati waktu berdua pinggir pantai. Tadi setelah ancaman kecil yang dibuat Ash akhirnya Shena memilih keluar dari kamarnya daripada harus menjadi kungkungan Ash di bawahnya.
__ADS_1
Shena yang masih duduk di bawah pasir yang sedikit basah akibat ombak dari pantai tersebut. Kedua tangannya masih sibuk membuat sesuatu yang dia ingin di bawah sana, sedangkan Ash hanya duduk diam di atas kursi panjang sambil matanya terus memperhatikan apa yang sedang Shena lakukan.
Sekilas kejadian seperti ini pernah Ash lalui bersama seseorang yang pernah singgah dihatinya. Seseorang yang membuat dunia seakan berputar 180 derajat.
"Bagaimana kabarnya sekarang? Aku harap dia bahagia dengan pilihannya." Batin Ash tidak ingin mengingatnya lagi.
Ash masih menatap wajah Shena dengan memakai kacamata hitamnya, Tapi pikiran dan hatinya jauh pergi berkelana entah kemana, hingga beberapa menit kemudian lamunannya buyar karena tepukan di bahunya.
"Paman.. Hallo..." Shena menepuk pundak suaminya beberapa kali walau bagaimanapun hasilnya nihil karena Ash sendiri sedang memikirkan seseorang.
"Kau pasti sedang berkhayal, ya?" Shena terus menepuk pundak Ash dan melambaikan tangannya ke arah mata Ash.
Ash pun seketika tersadar dari lamunan panjangnya. la langsung mendekap tubuh Shena ke dalam pelukan eratnya. Hal ini membuat Shena bingung dan berpikir keras.
"Jangan berpikir untuk meninggalkan ku!" Suara bisikan dari bibir Ash semakin membuat Shena bingung.
"Kau baik-baik saja, Paman? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Shena menepuk pundak Ash agar suaminya itu sedikit lebih tenang. Shena tidak habis pikir dengan suaminya itu, lagaknya bak singa kelaparan jika berhadapan dengan orang tapi jika seperti ini ia malah seperti kucing yang membutuhkan perlindungan.
"Kau sudah selesai bermainnya, kan? Sekarang kita kembali ke kamar kita..."
Shena menghentikan Ash yang akan beranjak. la belum puas bermain di sana, Apalagi ia belum melihat sunset yang mungkin sebentar lagi akan sempurna terlihat.
"Sebentar lagi Paman, Aku ingin melihat sunset..." Shena menunjukkan arah matahari yang akan tenggelam.
"Kita bisa melihatnya dari dalam kamar, Ayo!" Lagi Ash mengajak wanita yang sejak tadi bertingkah layaknya anak kecil.
Shena tidak ingin mendengarkan kata-kata Ash dan memilih lari dari hadapan Ash begitu saja. Ash yang terkejut refleks mengejar wanita itu hingga semua baju mereka berdua basah karena air laut dan saling kejar-kejaran. Shena tertawa bahagia akhirnya bisa membuat seluruh tubuh Ash basah kuyup.
"Ternyata kau meminta diberi pelajaran.." Ash menyeringai tipis, dan dalam hitungan ketiga Ash langsung menangkap tubuh Shena dan menyiram seluruh tubuh Shena dengan air dan pasir. Mereka berdua saling membalas dan tertawa. Mereka juga mengabadikan foto mereka berdua dengan sunset sebagai latar belakangnya.
__ADS_1