
Baru saja Ash sampai di Mansion. Baru juga ia masuk, Ash harus menghentikan langkahnya di pintu lawang. Ash melihat Shena dari kejauhan sedang berlari bahkan sejak dari selasar saat keluar kamar dan kini menuruni anak tangga dengan tidak melihat langkahnya sama sekali yang membuat Ash khawatir Shena akan terjatuh. Sekarang, Shena berada di lantai bawah dengan masih berlari menghampiri Ash yang masih berdiam diri.
Brugh!
Dihampirinya Ash dengan sebuah pelukan keras. Untung saja tubuh Ash itu sangat kuat, seperti batu yang tidak mudah goyah sekuat apapun terjangannya. Shena memeluk Ash sangat erat, bahkan setelahnya terdengar sebuah tangisan.
"Aku pikir kau benar-benar memiliki masalah scandal dengan wanita lain yang mengaku hamil dengan mu. Sejak mendengar sekilas perbincangan mu di telepon, Hatiku merasa tidak tenang saat melihatmu juga harus pergi dengan tergesa-gesa. Tapi Syukurlah dengan mendengar berita mengenai dirimu yang baru tersebar, Hatiku kembali tenang!"
Ash membalas pelukan istrinya yang sedang terisak.
"Maafkan aku, Aku begitu banyak memiliki masa lalu kelam yang tidak istriku ketahui. Kau malah menjadi salah satu orang dari jutaan yang mendengar berita hari ini. Seharusnya aku menceritakan kisah ini dari awal padamu."
"Ssstt...!!"
Shena mendongakkan kepalanya, Ia meletakkan jari telunjuk Shena dibibir suaminya.
"Jangan katakan seperti itu! Kau bukan orang yang mengkhianati ku dengan merahasiakan sebuah masa lalu yang besar padaku. Sepenuhnya ini adalah kesalahan niat jahat teman ku dan juga Ayahnya. Aku pun masih tidak percaya jika Soya adalah wanita yang seperti itu. Kau hanya korban! Mana mungkin aku menyalahkan dan membencimu!" Kata Shena.
Ash mengusap air mata Shena dengan ibu jari tangannya. Ia memeluk istrinya itu kembali dengan giliran ia yang sangat erat.
"Terima Kasih sudah memberikan kepercayaan besar padaku. Setidaknya satu masalah kini telah usai dan aku bisa hidup bahagia bersama mu tanpa ada seorang pengganggu yang mengungkit perjodohan di masa lalu." Kata Ash. Meletakkan dagunya di pundak istrinya. Shena pun tersenyum dibaliknya dengan tangan yang mengusap lembut kepala Ash.
...***...
Pagi ini Ash bangun lebih awal, ia ingin mempersiapkan diri untuk meeting dengan klien penting dari Jepang. Sebenarnya ia ingin sekali membawa istrinya itu ikut bersamanya ke perusahaan, Namun ia tidak tega membangunkan gadis yang tengah tertidur nyenyak di atas ranjangnya itu.
"Aku pergi dulu, Sayang." Kata Ash mengecup kening Shena pelan agar wanita itu tidak terbangun. Lalu, Membuka pintu kamar pun dengan perlahan.
"Kalian jaga istriku baik-baik. Jika terjadi sesuatu langsung hubungi Aku!" Titah Ash pada dia pelayan yang ia percaya menjaga istri nakalnya itu.
"Baik Tuan, Kami akan melakukannya dengan baik."
Saat merasa semuanya sudah benar-benar aman, Ash pergi ke perusahaan menggunakan mobil yang ia kendarai sendiri karena ia memang sedang ingin mandiri.
"Hoamm!" Suara Shena yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
"Pukul berapa ini? Mengapa mata ku lengket sekali!" Gumam Shena berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang sempat berkelana di dalam mimpi.
Shena melihat ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang ia cari, Namun tidak ia temukan. Shena bangkit dengan rambutnya yang terlihat seperti singa yang siap memangsa seseorang.
"Kemana Paman pergi sepagi ini? Mengapa dia tega meninggalkan aku di kamar seluas ini sendirian." Kesalnya menendang bantal hingga terbang entah kemana.
Shena mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja.
"Kenapa bisa habis baterai nya.." Keluh Shena mengerucutkan bibirnya.
la berjalan mencari charger handphone nya yang tida tahu kemana, dan ternyata benda itu ada di dalam laci sebelah tempat tidur Ash.
"Aku mandi dulu saja, Mana tahu nanti baterai ponselnya sudah penuh." Kata Shena langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Namun, Kali ini ia tidak begitu lama membersihkan tubuhnya hanya 15 menit, Karena memang sudah tidak tahan dengan perutnya yang berbunyi minta diisi.
__ADS_1
"Bi! Ayah?!.." Suara Shena memanggil pelayan di mansion besarnya dan juga Ayahnya.
"Iya Nona Muda, Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya lelaki paruh bayar yang tidak tahu datangnya dari mana.
"Bapak siapa?" Tanya Shena bingung. Jujur saja, ia sama sekali belum mengenal semua pelayan dan pekerja di mansion suaminya itu.
"Perkenalkan Nona, Saya Jim! Nona bisa panggil saja Paman Jim." Ucap pria itu adalah Paman Jim.
"Ouh Iya... Aku melupakan mu Paman Jim. Padahal kita sudah pernah bertemu, Tapi aku lupa karena kau tidak pernah muncul."
Shena mengangguk-anggukkan kepalanya, Sebenarnya Paman Jim berbicara sangat sopan dengannya, Tapi melihat wajah Paman Jim, Shena jadi takut sendiri. Semua orang yang bekerja dengan suami memiliki mimik wajah yang sama, sama-sama dingin dan datar yang menjadi terlihat tegas orangnya.
"Mari Nona, Sepertinya anda sudah lapar. Saya sudah meminta Maid menyiapkan makanan untuk anda." Kata Paman Jim.
Shena menaikkan kedua alisnya, Bagaimana pria itu bisa tahu, Batin Shena terkejut.
"Paman Jim tahu aku memang sudah lapar. Apa jangan-jangan dia peramal? Atau orang pintar?" Batin Shena lagi seperti orang gila. la hanya menggerakkan alis, bibir dan kepalanya.
"Iya Paman!" Jawab Shena tersenyum hambar.
Sesampainya di meja makan Shena melihat hanya ada susu putih, sandwich dan obat-obatan.
"Paman Jim, Kenapa hanya ada susu dan sandwich? Lalu, Kenapa isinya hanya sayuran semua? Aku kan tidak menyukai sayuran..." Ucap Shena memelas, wanita itu enggan menyentuh makanannya.
"Ini makanan sehat Nona! Tuan yang sudah menyiapkannya."
Shena semakin memelas mendengar nama suami menyebalkannya itu, Ash selalu saja berlebihan jika menyangkut dirinya. Karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi, terpaksa Shena melahap juga semua yang sudah disiapkan Ash.
"Apalagi ini?" Tanya Shena melihat beberapa jenis obat-obatan yang diletakkan di atas piring kecil.
"Aku sudah selesai Paman Jim. Aku ke atas dulu." Shena ingin pergi begitu saja tanpa meminum obat nya.
"Anda tidak bisa kemana-mana sebelum meminum obatnya, Nona." Tegas Paman Jim masih dengan wajah datarnya.
"Tapi, Aku tidak sakit. Untuk apa aku meminum obat?" Tanya Shena nada kesal.
"Itu adalah obat vitamin. Tuan yang memintanya sendiri untuk diberikan setelah Nona selesai makan. Bagus untuk memelihara nafsu makan, kesehatan mental dan kekebalan tubuh." Terang Paman Jim.
Dengan terpaksa gadis itu meminum obat yang tidak pernah ia sukai sejak kecil, Ia meminum dengan sekali tegukan.
"Sudah! Sekarang beri aku jalan.."
Akhirnya Paman Jim memberikan jalan pada Shena. Semua pelayan tidak ada yang berani melawan perintah Paman Jim, karena bagi mereka pria paruh baya itu adalah bayangan dari Tuan Ash yang sudah menjadi Ayah angkat Ash sendiri.
Setiap langkah yang Shena lalui tidak lepas dari sumpah serapahnya untuk Ash, Karena Ash ia terpaksa memakan makanan yang sangat ia tidak suka. Apalagi Paman Jim, benar-benar membuat suasana hati baiknya hilang. Wajah pria itu selalu terbayang dibenak Shena.
"Cih, Sepertinya Paman Jim tidak pernah merasakan gula yang manis dan jeruk limau yang asam. Wajahnya tidak bisa memberikan reaksi apapun. Dasar keluarga wajah datar..."
Shena duduk di balkon kamar, Ia menghirup udara segar pagi yang akan membuat otaknya sedikit lebih tenang. la sudah sangat stres menghadapi tingkah suaminya yang sangat aneh di mata wanita manapun.
__ADS_1
"Sebaiknya aku telepon Tuan Dayn dan Arthur. Siapa tahu mereka memiliki sebongkah cerita menarik untukku. Kemana mereka berdua, ya. Biasanya sejak pagi pun mereka sudah mengganggu ketenangan ku. Ayah juga sulit untuk kutemui akhir-akhir ini. Sebenarnya apa yang direncanakan Ayah bekerja sama dengan Paman Ash?!" Ujar Shena mengambil handphonenya.
Kalian tahu, Beberapa waktu lalu Ash mengambil secara diam-diam handphone Shena. Hingga tersimpan satu nama kontak, yaitu 'Suami Tampanku' Siapa lagi, Jika bukan Paman Beruang Kutub Mesumnya Shena.
"Percaya diri sekali Paman ini, Sudah tua tapi seperti anak-anak!" Ejek Shena mengganti nama suaminya menjadi Paman Beruang Mesum.
"Nah ini baru cocok! Wajah Tarzan tapi hati Kelinci. Xixi..." Shena tertawa mengingat wajah Ash yang kaku dan datar.
Shena masih seru-serunya saling membalas pesan dengan Dayn dan Arthur yang bertugas di luar yang diajak oleh Ayahnya. Tiba-tiba ada pesan masuk dari ponselnya.
"Hallo Ratuku! Apa kabar?"
Deg!
Jantung Shena berdebar kencang. Sudah bertahun-tahun melupakan, Mengapa masih ada panggilan itu, Batin Shena melihat nama pengirim pesan dari pesan masuknya.
"Deon Edison??" Tertegun Shena.
Mata gadis itu tampak berair setelah melihat nama si pengirim pesan, la tidak menyangka jika pria itu masih menyimpan nomor yang tidak pernah Shena ganti sejak SMA.
"Bagaimana ini? Kenapa dia masih menyimpan nomorku? Apa mungkin dia sudah menghapusnya dulu, tapi mengetahui nomorku? Tapi dari mana ia mendapatkan nomor ini? Apa yang harus aku katakan?" Lirih Shena memandang ponselnya, ia sudah tidak ingin mengingat nama yang tertulis di ponselnya.
"Kau di mana Ratuku? Mengapa tidak dibalas? Aku merindukanmu... Kau juga merindukan ku, bukan? Aku senang kau datang di hari pengesahan ku. Itu adalah pertama kalinya lagi aku melihat mu."
Pesan itu lagi. Shena dibuat tidak sanggup melihat pesan itu. Sudah 4 tahun hubungan berakhir, Meskipun dulu ia sangat menantikan pesan dari cinta keduanya itu sampai tidak mengganti nomor karena berharap jika Deon akan menghubunginya dan meninggalkan sahabatnya yang kini berhubungan dengannya. Tapi mengapa harus kembali lagi?!
Shena tidak suka.
Shena meletakkan ponselnya dan membiarkan saja pesan masuk dari Deon Edison. Shena sibuk dengan pikirannya sendiri, Entah apa yang ia pikirkan tapi semua pikirannya itu sangat jauh.
Drrttt... drrttt
Ponsel Shena bergetar. Beruang kutub tua itu yang menelepon.
Shena tersentak dari lamunannya, Ia mengusap air matanya dan mengangkat panggilan dari suaminya.
"Hallo!" Jawab Shena setelah ponsel nya tersambung.
"Di mana? Mengapa lama mengangkat ponselnya?"
"Aku di kamar.." Lirih Shena menjawab.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa suara mu seperti habis menangis?"
Mungkin benar, siapa yang tidak bisa membedakan suara seseorang yang selesai menangis atau tidak. Dalam telepon pun Ash bisa menyadarinya.
"Tidak! Aku hanya merindukan mu. Aku kesepian.."
Ash terdiam, mungkin benar, Shena kesepian tanpa ada siapapun yang bisa diajak nya untuk berbicara.
__ADS_1
"Aku akan segera pulang, Kita akan habiskan waktu di luar."
Sambungan langsung terputus. Setidaknya Ash akan berusaha membuat istrinya tersenyum, walaupun kadang caranya agak sedikit berbeda dengan khalayak banyak pria lain.