
"Apa kau ingin makan dulu?"
Shena mengangguk lucu.
"Aku lapar!"
"Ayo. Kita pergi ke restaurant." Kata Ah dengan senyum semangatnya.
"Yeay. Kita makan." Girang Shena seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Tanpa sadar merangkul lengan Ash dengan girang.
Sesampai di restoran, Shena memesan beberapa jenis makanan, dan melahapnya secara bergantian, tanpa pedulikan pandangan pria di depannya.
"Apa kau akan menghabiskan semua makanan ini?" Tanya Ash di sela makannya. Ia sama sekali tidak merasa risih ataupun jijik, malah ia semakin terhibur.
"Tentu saja. Jika boleh." Jawab Shena kurang jelas akibat mulutnya yang penuh dengan makanan.
Ash hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, Lalu melahap kembali makanannya.
"Akhir-akhir ini aku mudah sekali lapar, karena sepertinya aku sudah ketularan Tuan Dayn dan Arthur yang tidak hentinya makan cemilan. Boleh bungkus untuk di rumah?"
"Tentu saja sayang.." Ucap Ash dengan tawa kecilnya.
Setelah memesan makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang, Mereka pergi meninggalkan restaurant itu dengan Shena yang terlihat senang begitu banyak mendapatkan makanan sampai ia bawa sembari dipeluk di dadanya kegirangan. Ash lebih dulu mengantarkan Shena untuk pulang ke Mansionnya, sebelum ia berangkat ke perusahaan di siang hari.
...***...
Di Perusahaan AV Corporation
Perusahaan utama seutuhnya milik Ash yang sudah dipimpin sejak dari usianya 18 tahun, Merupakan perusahaan peninggalan Ayahnya yang ia pimpin hingga sekarang dan menjadi nomor satu tidak tertandingi setelah Theo Corporation milik ayah mertuanya telah diserahkan sebagai warisan padanya juga.
Karyawan yang bertepatan jalan dengan Ash saling memberikan ucapan sambutan dengan hormat atas kedatangannya.
"Selamat siang, Presdir!"
"Selamat siang, Presdir..."
Ucap mereka sembari membungkuk hormat. Ash menanggapi mereka dengan anggukan kepalanya dan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.
"Kenapa mereka mendadak ingin bertemu sekarang?" Tanya Ash di lobby sambil berbincang dengan Kenan Sang Asisten pribadi barunya. Mereka sambil berjalan menuju lift untuk sampai ke ruangan Ash di lantai 102.
__ADS_1
"Sepertinya mereka akan membahas kerja sama dengan perusahaan kita." Jawab Kenan demikian.
"Bukankah aku sudah menolak berkas mereka."
"Anda tentu tahu, mereka tidak akan menyerah sampai mereka mendapatkannya."
"Kau atur saja semuanya." Titah Ash menyerahkan segalanya demikian.
"Baik, Presdir..." Jawab Kenan.
Ruangan CEO Ash Vinson...
"Oh, Tuan Ash, Anda sudah datang?! Saya sudah menunggu lama kedatangan anda." Ucap seorang kliennya mungkin. Ia bangkit setelah lama duduk ketika melihat kedatangan Ash yang telah lama dinanti.
"Silakan duduk, Tuan Arsen!" Titah Ash mempersilakan kliennya itu untuk duduk kembali bersama dengan dirinya.
"Agh, Baik." Jawab Arsen sembari mendaratkan bokongnya ke kursi yang saling berhadapan dengan Ash.
"Mungkin untuk mempersingkat waktu dan tidak menguras waktu banyak karena orang seperti anda pasti sibuk, Saya akan langsung saja. Kedatangan Saya kemari-..." Bicaranya menggantung karena terpotong oleh Ash.
"Oleh sebab itu, Saya kemari-..." Ucap penjelasannya terpotong kembali.
"Bukankah alasan Saya sudah jelas. Kenapa Saya menolaknya!?" Inilah kebiasaan buruk Ash yang selalu memotong pembicaraan, jika berbicara dengan orang yang tidak ia sukai. Tapi, banyak orang yang mengangumi karena Ash terlihat hebat seperti peramal. Mereka tahu pasti ada alasan dibalik sikap Ash yang begitu.
"Memang. Tapi anda juga tidak bisa membatalkannya sepihak. Ars Company sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Theo Corp. Anda bisa mengenal perusahaan kami dari jejak kerja bersama perusahaan yang sekarang diambil alih oleh anda."
"Itu dulu. Sebelum Theo Corp bangkrut, dan CEO sebelumnya melarikan diri. Tapi sekarang, Akulah CEO nya. Aku bisa melakukan cara apapun untuk perkembangan Theo Corp yang baru, termasuk menolak kontrak-kontrak yang tidak seberapa berpengaruh besar untuk perusahaan." Ketus Ash memberikan jawaban.
Tuan yang bernama Arsen pun cukup lama terdiam.
"Saya rasa pertemuan kali ini cukup. Saya harus pergi karena jadwal hari ini begitu sibuk." Kata Ash bangkit, berlalu pergi. Diikuti Kenan di belakangnya.
"Sial. Brengsek!!" Umpat Arsen yang masih ada di ruangan Ash meskipun pemiliknya sudah pergi.
"Hubungi Ayah segera. Aku ingin menemuinya." Titah Arsen pada Adiknya yang selalu ia bawa kemanapun dan mereka tidak pernah berpisah, bahkan sekarang Arsen tidak perlu memikirkan orang kepercayaan karena adiknya menjadi Asisten Pribadinya.
Namanya adalah Frey Bagas Oliver. Ia berusia 22 tahun yang berselisih umur 2 tahun dengan sang kakak. Ia juga adalah korban dari meninggalnya kedua orang tua mereka sejak kecil. Bahkan, ia tidak seberuntung kakaknya yang masih mengingat jelas wajah kedua orang tuanya, Karena Frey ditinggalkan saat usianya masih kecil dan hanya mengetahui melalui foto yang menjadi kenangannya.
__ADS_1
"Baik, Kakak." Ucap Frey segera mengocek handphonenya sembari berjalan tergopoh-gopoh mengikuti Arsen yang keluar dengan kesalnya sampai membanting pintu ruangan Ash keluar.
Di Lobby, Ash kembali bertanya pada Kenan.
"Apa jadwalku setelah saat ini?" Tanya Ash.
"Tidak ada Tuan. Hari ini semua jadwal anda di kosongkan. Sesuai permintaan Nona Muda Shena dan Tuan Besar Theo yang meminta anda agar anda bisa segera menemuinya." Ucap Kenan.
"Ck, Dia begitu tidak romantis untuk memintaku menemaninya seharian hari ini. Baru saja beberapa menit aku berpisah, dia sudah meminta Ayah menghalangi akses ku bekerja. Tidak masalah, Aku juga tidak bisa jauh dari istriku hanya untuk 5 detik saja." Kata Ash dengan senyum menawannya.
Kenan sendiri ikut tersenyum-senyum kecil melihat Atasannya yang mulai diperbudak cinta.
...***...
Di Mansion Ash...
Ash datang dan sudah melihat semua yang sedang berkumpul. Dan yang paling mengejutkannya adalah, Istrinya tengah berusaha memasukkan barang belanjaan mereka siang tadi hanya seorang diri yang rupanya sudah datang, dan Ash sendiri memang tadi melihat 2 truk yang berada di depan rumahnya.
"Sedang apa kalian? Dan kenapa Shena membawa barang belanjaan masuk sendirian?" Tanya Ash kebingungan.
Shena menoleh terkejut ke arah suara.
"Ck.. Kau jangan banyak bertanya. Seharusnya kau bujuk Ayah supaya tidak memberikan ku pekerjaan berat ini. Hufftt, Aku lelah." Ketus Shena menjawab.
"Tidak ada toleransi lagi, Sayang. Kau harus segera mempelajari ini, sebab ini akan menjadi tanggung jawabmu sebagai seorang istri, Salah satunya mengatur keuangan rumah tangga. Bukan malah menghabiskan uang suami mu sampai berbelanja 50 Milyar." Timpal Tuan Theo.
Rupanya ini dijadikan hukuman pada Shena yang diketahui mereka sudah berbelanja di supermarket dengan harga fantastis. Bahkan barangnya cukup sedikit, tidak sampai memenuhi seisi mansion itu, Tuan Theo hanya heran mengapa totalnya bisa sampai 50 Milyar. Apakah satu barang dihargai 50 juta?! Pikirnya begitu dan bahkan menyarankan Shena untuk berbelanja di pasar tradisional saja setelah ini.
"Tapi, Ayah... Barang yang ku beli saja sedikit sebenarnya. Hanya trolinya yang sedang sampai kebutuhan bulanan yang ku beli membutuhkan beberapa troli. Dan lagipula uang 50 Milyar itu atas usulan Tuan yang tidak ingin ambil pusing." Rengek Shena menjelaskan sambil sibuk mengangkat kardus berisi minyak yang lumayan berat.
"Kurasa apa yang dikatakan Ayah benar." Jawab Ash malah membela Ayah mertuanya.
"Ck, Kau sama saja. Ayah, Seharusnya menantu mu juga di hukum untuk membawakan barang-barang ini masuk. Kenapa hanya menghukum ku saja? Ini sungguh tidak adil!!" Kesal Shena mengerucutkan bibirnya.
Pernyataan Shena dihiraukan oleh Sang Ayah yang langsung disambut kemenangan oleh Ash.
"Ayah pergi dulu. Kau!! Jaga gadis nakal ini agar dia tidak bermalas-malasan dan jangan memanjakannya sampai Ayah kembali. Biarkan dia bekerja sendirian sekarang." Kata Tuan Theo memperingati Ash.
"Baik, Ayah mertua. Aku akan menjaganya agar tidak melarikan diri."
__ADS_1
"Ayo lanjutkan!!" Titah Tuan Theo sebelum benar-benar pergi.