Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Ujian seorang kakak (Season 2)


__ADS_3

"Sesenang itu melihat anak Cindy dan Dion" tanya Putera ketika melihat Qiana tak henti-hentinya tersenyum melihat foto baby Delano di ponselnya yang tadi sempat ia ambil saat berkunjung


"iya kak, dia lucu banget" balas Qiana


senyum istrinya tentu membuat Putera ikut bahagia "saat melihat anak kita lahir nanti pasti akan jauh lebih membahagiakan" ungkap putera


Qiana mengangguk mengiyakan "tentu saja lebih membahagiakan karena itu adalah buah cinta kita " balas Qiana


"oh ya sayang tadi kak Jemina kirim pesan kalau ayah akan tinggal di sana sementara biar mudahin kakak ngurusnya soalnya kakak harus stay di rumah terus dan gak bisa bolak-balik ke rumah untuk saat ini" ucap putera


setelah kakek Bimo memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatannya di luar negeri, nenek Jemina memang sering bolak-balik ke rumah tempat ia di besarkan untuk membantu mengurus kakek Bimo, sebab tak mungkin ia memberatkan Qiana untuk mengurus ayahnya yang jelas dari kecil Qiana biasa hidup di layani. Walaupun sebenarnya Qiana tidak menolak tapi tentu nenek Jemina tidak setega itu pada Qiana untuk membebankan semua hal pada Qiana dalam mengurus sang ayah yang sedang sakit dan butuh perhatian lebih


Qiana mengerutkan keningnya "tumben nenek gak bisa datang ke rumah, biasanya juga dia yang kekeh datang padahal Qiana sudah bilang gak masalah kalau gak datang sehari saja" tanya Qiana


"biasa sih Revano bikin ulah lagi dia, jadi kakak di rumah buat jaga emosi kakak ipar" Putera kini merubah panggilannya pada nenek Jemina dan kakek Burhan hanya sekedar ingin membuat ayah Bimo nyaman, sebab setiap Putera memanggil nenek Jemina dengan sebutan 'nenek' dan bukannya 'kakak' terlihat raut wajah sedih dari kakek Bimo walaupun tak berucap apapun, beda saat putera memanggil nenek jemina dengan panggilan 'kakak'  dan panggilan kakek Burhan di ganti karena kakek Burhan yang merajuk jika istrinya di panggil kakak tapi dirinya malah di panggil kakek


"emang om Revano bikin ulah apa" tanya Qiana penasaran


putera mengedikkan bahunya "entah lah sweetheart" Putera memang tidak tahu masalah apa sebab nenek jemina tidak cerita padanya secara detil


"kalau gitu boleh mampir ke rumah bunda gak kak, aku kangen bunda lama kayanya gak ketemu" tanya Qiana


"boleh dong, biar kita nginep sana saja, sudah lama kan kita gak nginep di sana semenjak kita tinggal sama ayah, kalau nginep tempat mama nanti saja kalau mama sudah pulang dari jenguk Vansh di Inggris" balas Putera


"makasih ya kak" Qiana begitu bersyukur saat suaminya selalu menuruti apapun keinginannya dan selalu mengutamakan kebahagiaan serta kenyamanannya

__ADS_1


tak lama berselang putera dan Qiana sampai di rumah ayah serta bundanya "kok sepi ya kak" saat turun dari mobil dia tak mendengar banyak suara padahal biasanya rumah ayah dan bundanya adalah rumah yang cukup ramai sebab kedua adiknya adalah anak yang tidak bisa diam dan sangat suka berteriak jadi Bunda laras ikut berteriak untuk menenangkan kedua adiknya


"gak tahu sweetheart, kita masuk saja buat lihat" Putera juga tidak tahu kenapa rumah mertuanya itu sepi padahal ini masih jam 7 malam dan pasti belum pada tidur


Qiana masuk ke dalam rumah dan menanyakan keberadaan Bunda laras pada mbok nah yang sudah bekerja dengan ayah mario dari semenjak belum ada Qiana  "bunda kemana ,mbok " tanya Qiana


"di belakang tadi non, mbok seneng deh nona ke sini jadi bisa hibur nyonya " balas mbok nah


"hibur" beo Qiana mengerutkan keningnya  "emang bunda kenapa" tanya Qiana


"lebih baik nona tanya sendiri saja ya, mbok takut salah ucap" mbok nah tidak ingin mendahului tuannya sebab tak ingin di bilang terlalu ikut campur walaupun yang di ajak cerita adalah anggota keluarga


"ya sudah mbok, biar nanti Qiana tanya sendiri" balas Qiana


Qiana menoleh ke arah Putera "lebih baik kakak masuk kamar kita saja, Qiana mau bicara sama bunda dulu" ucap Qiana


Qiana berjalan menghampiri Bundanya yang terlihat sedang termenung memandangi pemandangan malam seorang diri "bunda kok di sini" tanya Qiana membuyarkan lamunan Bunda laras


Bunda laras menoleh ke arah Qiana  "Qiana " mata Bunda laras terlihat berakbut  dan Qiana bisa melihat itu dengan jelas sebab penerangan di rumah ayahnya cukuplah bagus


"bunda kenapa" Qiana menjadi begitu khawatir melihat wajah Bundanya yang terlihat sedih dan begitu tertekan


Bunda laras memeluk Qiana dan langsung menangis di pelukan anak sambungnya "hiks hiks hiks"  qiana tidak ingin bertanya lebih dulu dan terus mengusap punggung bunda laras agar Bunda Laras lebih nyaman dan akan bertanya setelahnya


cukup lama bunda Laras menangis, Qiana memberikan minum untuk bundanya "bisa cerita apa yang buat bunda menangis" tanya Qiana dan Bunda Laras tampak diam saja tak menjawab pertanyaan Qiana

__ADS_1


tak melihat keberadaan ayahnya, tiba-tiba muncul pikiran jelek di kepalanya "apa ayah selingkuh dari Bunda" Qiana menyingsingkan lengan bajunya "biar Qiana marahin ayah habis-habisan kalau sampai berani selingkuh" tukas Qiana dengan suara menggebu


Bunda Laras menggelengkan kepalanya "tidak Qiana, ayah gak selingkuh dari Bunda" elak Bunda laras "kamu tentu tahu dulu saat adik tiri bunda mencoba merebut ayah dari kita dengan berbagai cara tapi tidak di gubris sama sekali oleh ayah, dan saat ayah di jebak pun, ayah masih bisa menjelaskan pada bunda dengan baik jadi pernikahan ayah dan Bunda masih bertahan sampai detik ini " jelas Bunda Laras


"terus yang bikin bunda nangis itu apa" tanya Qiana


"adik kamu Qiana" Bunda Laras kembali menangis dengan sesenggukan saat mengingat anaknya yang membuat hatinya begitu sedih


"adik, yang mana bun? Edzar atau Nazhief" tanya Qiana memastikan


"Edzar, dia berani bentak bunda" adu Bunda Laras


Qiana memicingkan matanya "kenapa Edzar berani bentak Bunda" tanya Qiana


"bunda gak larang pacaran sama siapaun Qi tapi Bunda kali ini bunda gak terima saat Edzar pacaran dengan Lea, walaupun Zia ibunya bukan adik kandung bunda dan tidak memiliki darah yang sama tapi jelas bunda masih ingat jelas kelakuan Zia yang sudah coba rebut ayah dari bunda tapi Edzar malah bentak Bunda karena membatasi gerak hidupnya" jelas Bunda Laras


"ayah tahu hal ini enggak" tanya Qiana


"enggak, bunda gak mau bebanin pikiran ayah dengan kelakuan orang-orang yang pernah jadi bagian keluarga bunda" balas Bunda Laras


"emang dasar sih Edzar minta di jitak" umpat Qiana  begitu kesal dengan adiknya yang berani membentaj bundanya hanya demi anak wanita yang pernah mengancam hubungan kedua orang tuanya "terus Sih Edzar mana bun" tanya Qiana


Bunda Laras menggelengkan kepalanya "Bunda gak tahu Qiana, dia langsung pergi dari rumah setelah di marahi Nazhief karena bentak Bunda cuma karena bela Lea" balas Bunda Laras


Qiana mengusap punggung Bundanya "sudah bunda, istirahat saja ya biar Qiana antar sampai kamar ya" ucap Qiana

__ADS_1


setelah ini ia akan memberi pelajaran keras untuk adiknya yang sudah berani membentak ibunya, dia saja tidak pernah tega membentak bundanya yang begitu menyayangi anak-anaknya bahkan Qiana yang jelas hanya anak sambungnya tapi ini malah adiknya berani membentak ibunya hanya karena membela pacarnya yang jelas alasan tak di restuinya itu jelas


__ADS_2