
Nightclub Berada...
Sepanjang siang hari hingga sore, Shena menghindari Ash yang masih saja kelimpungan mengetahui di mana keberadaan istrinya saat ini. Arthur yang sedang bersama Shena mengajak jalan-jalan siang tadi dan sekarang di malam hari ia mengajak Shena ke Nightclub.
"Diam, dan duduk di sini!! Suami mu sebentar lagi akan datang. Kau pergi untuk menghindari dia, bukan? Payahh!!" Ucap Arthur memaksa. Setelah mendudukkan Shena, Arthur duduk di kursi seberang berhadapan dengan Shena. Namun, sebelum itu ia pergi untuk mengambil minum.
Shena berdecak sebal, tapi menurut juga.
Seorang pria duduk di kursi sebelah kanan Shena.
"Nona cantik, Apa kau sendirian? Boleh aku duduk di sini?" Tanya seorang pria asing yang datang sudah bau menyengat mendekati Shena. Wanita polos yang tidak tahu tempat apa itu menganggap hanya restaurant biasa saja.
"Oh, Tentu saja. Kursi ini masih sebagian kosong mungkin. Lagipula tidak ada kursi kosong lagi karena semuanya sudah penuh." Baik hati Shena sangat ramah.
"Terima kasih. Nona, Apa kau ingin minum?! Ini untukmu." Pria itu mengulurkan gelas untuk Shena. Shena hendak mengambilnya, Tapi Ash tiba-tiba datang lebih dulu mengambil gelas itu.
"Jangan berikan dia wine. Istriku tidak minum. Ia belum cukup umur." Ketus Ash menatap tajam pria yang sedang menggoda istrinya itu. Lalu, mengambil alih duduk sebelah kiri Shena.
Kenapa Ash bisa datang? Pasti Arthur yang memintanya. Shena jadi tidak bergairah lagi karena Ash ada di sana padahal dia sedang menghindar.
"Kenapa?! Tapi dia ingin menerimanya. Benarkan Nona cantik?!" Pria itu hendak memegang telapak tangan Shena yang terletak di atas pahanya, Namun terburu-buru di tepis Ash dengan kasarnya.
"Jaga sikapmu Tuan!" Ucap Ash sorot mata elang.
"Ups. Maafkan aku. Dia terlalu cantik untukku, membuat ku hampir saja khilaf hanya untuk sekedar memandangnya." Ujar Pria itu tidak ada jeranya.
Ash sudah membuka kedua kancing jasnya agar terasa lebih longgar untuk mengambil ancang-ancang dan beranjak dari duduknya untuk siap memberikan pemuda itu pelajaran. Namun, tangan Shena menahannya dengan tatapan sedikit memohon untuk tidak membuat keributan. Dan Ash kembali duduk di kursinya.
Tatapan Ash menatap tajam ke depan mengintimidasi. Membuat Shena disebelahnya saja merinding melihat tatapan maut suaminya itu.
"Paman.. A-aku ingin ke toilet sebentar." Ujar Shena. Ia merasa tidak nyaman dan ingin menghindar dari Ash.
"Aku akan mengantarmu." Balas Ash. Ia hendak berdiri, Namun tangan Shena menahannya.
"Tidak perlu, Aku bisa sendiri. Kau di sini saja. Lagipula Arthur akan segera kembali. Bagaimana jadinya jika saat kembali, Dia tidak melihat Aku atau Kau. Sebaiknya kau menjaga kursi ini sebelum di isi oleh pengunjung yang berdatangan."
Shena kemudian berdiri, dan hendak pergi.
"Hati-hati Shena. Nama mu Shena, bukan? Sangat cantik seperti orangnya!" Teriak pria yang menggoda tadi.
Setelah kepergian Shena, sembari menahan amarah pada pria yang menggoda istrinya, Tatapan Ash jatuh pada Arthur yang hendak duduk.
Arthur yang mengerti maksud tatapan Ash, segera beranjak pergi menyusul Shena.
Setelah membersihkan diri di toilet, Shena segera keluar.
"Astaga!!!"
Shena terhenyak sampai mundur ke belakang kala mendapati Arthur berdiri di depan pintu toilet, dengan tatapan yang menggelikan.
__ADS_1
"Arthur, Kau membuatku terkejut saja. K-kenapa kau di sini? Kau tidak mengintip ku saat di dalam, kan?" Khawatir Shena.
"Mana mungkin! Aku bukan pria mesum, ya. Bisa-bisa sepupu menyebalkan itu membuat pipi ku memar. Kau ini lama sekali!! Ayo kembali, Suami mu itu tidak sabar menunggu."
"Aku tidak ingin, di dalam sangat aneh. Aku tidak tahu tempat apa ini. Kenapa kau jadi membawa ku ke tempat yang tidak nyaman seperti ini? Dan juga malah memanggil Tuan Ash kemari." Ujar Shena beraut wajah jadi masam.
"Jangan membantah. Ayo masuk saja!! Aku masih ingin berada di sini sebentar. Setidaknya kau dan Ash bisa menemani ku duduk manis di sana."
"Yasudah. Kau saja yang masuk. Aku tidak ingin."
"Ck.. Kepala batu." Arthur mengeluarkan ponsel dari saku dan menelepon seseorang.
Tidak berselang 8 menit, Dayn datang.
"Ada apa kau memanggil ku?!" Tanya Dayn saat datang dan menghampiri dua orang yang ia kenal sedang berdiri di luar.
"Tolong, Kau urus gadis batu ini. Dia tidak ingin masuk karena ada Ash di dalam. Aku tidak ingin ketinggalan acara minum ini.
"Pergilah! Biarkan dia dengan ku." Kata Dayn.
"Jagalah dia sampai Ash menjemputnya." Teriak Arthur dengan ia yang bergegas masuk kembali dengan sedikit berlari.
"Jangan khawatir." Balas Dayn.
Arthur pergi meninggalkan Dayn dan Shena.
"Mari Nona." Ajak Dayn.
"Kemana pun Nona muda inginkan, Saya akan menemani Nona. Aku panggil Nona saja ya, Karena jika Nyonya, itu panggilan sangat tua untuk mu." Kata Dayn.
"Hem.. baiklah. Terserah padamu." Shena melangkah lebih dulu dengan sedikit hentakan kesal di langkahnya
Dayn yang di belakangnya pun menahan tawa melihat tingkah Nona Mudanya yang sedikit kekanakan, Tapi menggemaskan jika marah.
Mereka pun menunggu Ash dan Arthur di sebuah cafe yang berada di depan nightclub itu.
"Nona, Apa kau ingin minum? Aku akan pesankan untukmu." Tawar Dayn.
"Emmm.. Boleh." Jawab Shena setuju.
Tidak lama, Dayn datang dengan dua gelas di tangannya.
"Ini untukmu, Nona." Dayn memberikan gelas pada Shena, dan duduk di kursi seberang meja berhadapan dengan Shena.
"Oh, Terima kasih, Dayn..Emm... Boleh aku bertanya?" Ujar Shena memulai perbincangan agar tidak merasa bosan.
"Tentu saja. Silakan Nona!"
"Apa hubungan mu dengan Paman Ash? Apa hanya sebatas Asisten Pribadi yang sekarang ditugaskan menjagaku?"
"Maksudmu Tuan Ash?" Tanya Dayn demikian karena ia bingung siapa Paman Ash? Padahal semua orang menyebutnya sebagai Tuan Ash.
__ADS_1
"Eemm... Iya."
"Ouh, Aku pikir siapa. Karena kau memanggilnya dengan Paman. Pppfftt... Kami satu sekolah, teman SMP, SMA, dan kuliah. Mungkin bisa dikatakan kami adalah sahabat sampai aku diangkat olehnya menjadi Asisten Pribadinya dulu bahkan dapat mengenal sepupunya Arthur yang menjadi sahabat." Pungkas Dayn menjelaskan.
"Dan sekarang rekan kerja?!"
"Bisa dikatakan begitu, Aku hanya membantu Tuan Ash saja."
"Kalian sepertinya sangat dekat. Apa kalian seumuran?" Tanya Shena demikian sampai membuat Dayn kebingungan kenapa bertanya seperti itu? Memangnya apa yang dipikirkan Nyonyanya?
"Tidak. Aku seusia dengan Arthur. Dan kami lebih muda 2 tahun dari Tuan Ash." Jawab Dayn.
"Kalian sudah cukup tua sekali, ya. Tapi entah kenapa wajah kalian sangat awet muda. Itu Artinya kau dan Arthur berusia 36 tahun?!" Lontar Shena diakhir membuat suara tawa lantang dari Dayn.
"Hahaha... Kenapa meleset seperti itu? Kami tidak setua itu Nona. Kami masih 24 tahun. Konyol sekali!" Ungkap Dayn yang masih tidak bisa menghentikan tawanya.
Shena pun kelimpungan. Keningnya sampai mengernyitkan lebih dalam.
"Lah! Baru saja kau mengatakan selisih 2 tahun dari Paman Ash. Jika umur dia 38 berar-..." Ucapan Shena terpotong oleh tawaan melengking dari Dayn yang semakin menjadi-jadi.
HAHAHAHA...!!
"Dia menipu mu!! Kau di bohongi! Hahaha..."
"Mengapa?! Ap-apa maksudmu?!"
"Apa Tuan Ash mengatakan padamu jika umurnya 38 tahun?!" Tanya Dayn sembari menahan tawa.
"Benar. Dia sendiri yang mengatakannya padaku."
Dayn kembali melanjutkan tawa melengkingnya. Semua pengunjung lain pun sampai melihat ke arah mereka berdua. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Heran mereka sepertinya seru. Shena jadi dibuat malu sekali.
"Dia membohongi mu! Usianya masih 26 tahun. Hahaha... Pantas saja kau memanggilnya dengan Paman. Hahaha... Rupanya kau mengira dia sudah setua itu." Ungkap Dayn dengan sela tawanya yang masih tidak menahan.
"Ash Vinson, Sialan!!! Rupanya dia membohongi ku!! Berani sekali dia membuat ku malu selama ini. Pantas saja dia tidak pernah marah saat aku menyebutnya Paman dan sudah tua, karena ia sendiri menyembunyikan identitas aslinya dariku. Payahh!!" Gerutu Shena sampai menggebrak meja cafe akibat terlanjur kesal.
Tawa Dayn semakin menjadi. Membuat Shena di seberang duduknya memajukan bibirnya kesal.
Tawa Dayn pun terhenti, Tapi malah terganti dengan cegukan. Ia tidak pernah puas tertawa seperti malam ini.
Ash yang sudah selesai langsung menghampiri keberadaan Shena dengan Dayn yang terlihat bersenang karena Dayn begitu tertawa puas. Arthur sudah kembali dengan Willie yang dipanggil Ash untuk menjemputnya yang sedang mabuk karena terlalu banyak minum. Ash sendiri memiliki jiwa dan badan yang sehat, ia tidak pernah mengkonsumsi alkohol yang sangat tidak baik untuk kesehatannya. Perihal makan saja ia mengkonsumsi makanan dengan pola sehat yang diperhatikan oleh ahli gizi yang bekerja sebagai maid di Mansionnya.
Tak lama beristirahat sejenak untuk mendinginkan badan di cafe setelah berada di nightclub yang panas dan tadi cukup berbincang dengan Shena, Ash sudah harus menerima teleponnya yang berbunyi.
"Tunggulah di sini. Aku akan menerima telepon terlebih dahulu." Kata Ash sedikit menjauh dari jangkauan Shena.
"Menerima telepon saja kenapa perlu menjauh seperti itu. Sepenting apa memangnya?! Heran, Terima di sini saja tidak apa. Lagipula aku tidak akan mengganggu. Jangan-jangan dia sedang membahas mengenai pertemuannya dengan Ayah Soya." Menggerutu Shena setelah Ash menjauh.
Sambil menunggu Ash, Shena mengedarkan pandangan. Secara tidak sengaja, pandangannya terfokus ke satu objek, ia sedikit memicingkan mata, dan melangkah mendekat.
Setelah dengan jarak yang cukup dekat, tepat di belakang punggung seorang pria. Dengan berani Shena menepuk pundak si pria. Kurang yakin di rasa, takut jika dirinya salah mengenal orang.
__ADS_1