
"Jika begitu tunjukkan arti saling mencintai. Kiss him, and prove that he loves you. Itu pun jika kau memang benar-benar bukan pembohong dan tukang berimajinasi." Tantang Soya tersenyum devil.
Lanjutan...
"Sialan!! Brengsek!!" Umpatan geram Shena dalam hati.
"Lihat wajahnya langsung memerah begitu. Kau takut, Shena?! Apa sekarang selain pembohong, Kau juga memiliki penyakit gatal sampai memerah seperti itu?!!" Cerca Shena.
"Jaga ucapanmu Soya!!!"
"Hahahaa... Aku pergi dulu. Semua sudah jelas karena kau pembohong. Mana mungkin Tuan Ash ingin merasakan bibir mu itu apalagi sering digunakan untuk menyebut namanya di atas ranjang."
Soya menepuk pelan pundak Shena dan dengan keras mencengkeram bahunya dengan kuku jari panjangnya itu, Lalu pergi keluar toilet.
"Sialan kau Soya!!!" Gumamnya. Jika bukan di tempat umum, Shena sudah mengacak-ngacak rambut wanita itu dan mengungkapkan kekesalannya.
Tak lama setelah Soya merasa puas setelah menjatuhkan harga diri Shena, Ash juga datang untuk menjemput istrinya.
"Sudah selesai?" Tanya Ash dengan tersenyum.
"Iya sudah." Jawab Shena membalas senyum.
"Ayo, Kita harus segera pergi, yang lain sudah menunggu." Kata Ash menghiraukan ketiga tatapan wanita yang menatap mereka dengan nyalang.
Ash hendak melangkah dan menarik tangan Shena, Namun lengannya tertahan tangan Shena.
"Tunggu dulu." Titah Shena menahan lengan suaminya.
"Ada apa?" Ash kembali berbalik.
"Eemmm.. Akuu..."
Ash mengernyit menunggu kelanjutkan perkataan Shena.
Langkah Shena mendekati Ash, mengikis jarak antara keduanya. Dengan gugup, Shena menatap mata Ash yang juga menatapnya. Dengan berani, tangan Shena meraih rahang tegas Ash, dengan sedikit kaki menjinjit karena suaminya itu sangat tinggi dan ia hanya sebahu Ash jika disandingkan. Shena mendekatkan wajahnya ke wajah Ash, hingga bibir Shena hampir menempel pada bibir Ash, tapi tertahan karena ucapan Ash.
"Jadi, Ini yang kau ingin dan kau buktikan pada mereka?!" Bukan Ash namanya jika ia tidak mengerti maksud dari tindakan istrinya sekarang.
"Akuu..." Shena sangat gugup. Mata keduanya masih saling menatap.
__ADS_1
"Jadi, Kau lebih suka yang seperti ini. Hem?!"
Shena terpaku terdiam.
Bukan Shena yang menjalankan rencananya seperti keinginan awal, Ash yang mengambil alih segalanya. Ash merengkuh pinggang istrinya menjadi sangat dekat sampai tubuh mereka menempel dan ia lebih dulu meraup bibir mungil Shena yang menjadi benda favorit barunya sekarang. Mereka saling bertaut, dan ******* menghiraukan keenam mata yang sedang memanas.
Soya sangat terkejut, terhenyak, terpental dan terlainnya. Tubuhnya bergetar menahan amarah dengan getir.
Ash dan Shena menyudahi aktivitas mereka.
"Jadi, Begitu caranya agar kau ingin melakukan hubungan intim dengan ku Shena?! Bagaimana jika aku mengundang teman-temanmu untuk menyaksikan seperti apa aku meniduri mu malam ini?!" Melirik teman-teman Shena dengan ekor matanya.
Perkataan Ash sukses membuat Shena membeku. Dan Soya semakin terbakar emosi.
"Kau setuju, bukan?!"
"Paman, Aku..." Hatinya sesak karena perkataan Ash. Shena merasa bersalah pada Soya dan teman-temannya. Niat hati hanya ingin membuktikan di hadapan Soya yang tidak mempercayainya, Ash malah membalas dengan perkataan savage yang lebih kejam dari Shena bayangkan sampai wanita ular itu tidak mampu berkutik.
Tanpa menunggu jawaban Shena, Ash pergi menghampiri ketiga teman-temannya yang sedang saling menertawakan dengan getir dan terpaksa hanya untuk mempertahankan harga diri mereka. Tepatnya Ash kini tepat berdiri di depan Soya.
"Menyenangkan, bukan? Kalian sampai tertawa puas seperti itu. Itu artinya pertunjukan kami sangat mengagumkan." Pungkas Ash menyeringai.
"Aku peringatkan kalian terakhir kalinya!" Kecam Ash.
"Kenapa? Bukankah kita akan bertemu lagi, Tuan..." Ucap Soya sembari mendekatkan tubuhnya pada Ash sampai pria itu mundur.
"Jika kalian ingin hidup tenang, dan merasakan makan enak. Jangan menampakkan diri kalian dihadapan istriku. Atau kalian bisa lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menghancurkan hidup kalian."
"Kau pikir aku takut? Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa sekarang?! Huh!! Bahkan sepertinya kau sudah melupakan janji mu, Tuan. Aku Soya yang sudah disetujui perjodohannya dengan mu saat itu. Kau masih ingat atau tidak?" Ucap Soya membuat Ash teringat akan perjanjian di masa lalu dengan Ayahnya Soya.
Hal itu tidak membuat Ash takut sampai mati kutu. Berbeda dengan Shena yang cukup terkejut mendengar ungkapan Soya yang pernah dijodohkan dengan suaminya bahkan Ash sudah menyetujuinya.
"Aku tidak perlu tahu siapa kau. Sebaiknya kalian pulang, dan berdoa agar aku tidak menarik dana investasi di perusahaan Ayah kalian." Ucap Ash menatap wajah mereka satu persatu.
Lalu, Kembali berkata...
"Dan sebelum aku mengungkap rencana jebakan oleh mu dan Ayah mu padaku saat acara pelantikan malam lalu pada awak media. Aku tahu kau adalah orang yang memasukkan obat perangsang itu padaku. Bukankah ini akan menjadi berita besar yang menggemparkan karena kalian sudah mencoba berbuat jahat pada pria yang disegani di negara ini?" Ketus Ash beralih menatap Soya.
Soya kembali memanas dan tertegun.
__ADS_1
Shena yang hanya menjadi pendengar keributan mereka, sangat terkejut jika ternyata Soya adalah dalang dibalik Ash mengalami kesulitan di malam lalu dengan obat perangsang itu.
"Sampaikan salam ku pada ayahmu Yang Mulia Raja Gideon, Katakan bahwa aku mengundangnya minum kopi di perusahaan ku yang baru. Akan ku kirimkan undangan khusus itu padanya nanti." Kata Ash sembari mengejek nama ayah Soya dan tersenyum puas.
Setelah puas mencerca sampai mati kutu. Ash kembali berbalik dan malah melihat Shena sudah tidak ada di sana. Ia pun bergegas pergi mencari Shena yang tiba-tiba menghilang. Soya masih menatap pria itu dengan sangat kesal seperti banteng yang ingin segera menyeruduk bendera merah.
Di luar...
"Persetan dengan makan malam." Ketus Shena tiba-tiba yang terlihat kesal.
Shena berdesis frustasi bercampur kesal. Langkahnya mengentak tidak sabaran. Susah payah Shena menahan air matanya. Tapi mengapa? Sampai ia meninggalkan Ash yang masih di dalam!?
"Aish, Kenapa semua orang mudah berubah-ubah. Kenapa tidak ada satupun yang memihak ku bahkan sepertinya dia sama-sama menjebak ku." Sungut Shena masih berbicara kesal sendiri.
Dug!!
Karena fokus menangis, Shena jadi tidak sadar menabrak dada bidang seseorang yang berdiri di depannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya seorang pria yang masih terlihat setengah badannya.
"Ma-maaf Tuan, Saya tidak melihat ada orang berdiri di sini." Ucap Shena masih belum melihat wajah pria itu.
"Aku memang sengaja berdiri di sini untuk menahan mu. Kau terlihat sedang kesal. Kau salah arah Nona, tempat di sana, bukan kesini."
Shena mengangkat kepalanya.
"Kau!!!" Pekik Shena, ia kira pria itu siapa.
"Ck, Dasar cengeng! Menangis tidak tahu tempat." Ucap Arthur pria itu.
"Bukan urusanmu." Ketus Shena menghapus air matanya.
Arthur mencekal pergelangan tangan Shena.
"Kau ingin kemana? Tempat makannya sebelah sana."
"Aku ingin pulang. Bukan untuk pergi makan. Lepaskan!!
"Ayo ikut masuk denganku." Arthur menyeret tangan Shena dalam cekalan.
__ADS_1
"Aku tidak ingin. Aku ingin pulang. Lepaskan!!" Shena memberontak melepaskan cekalan tangan Arthur dan menarik-narik jas Arthur, sesekali memukul lengan Arthur. Tapi Arthur tidak gentar menarik Shena untuk ikut dengannya.