
mobil Dion memasuki gerbang besar rumah kediaman keluarga atharazka "ini rumah mama dan papa kamu" tanya Dion
qiana mengangguk "iya pak, mau mampir" tanya qiana sekedar berbasa-basi
"apa boleh" tanya dion penuh harap
qiana jadi serba salah, ingin rasanya mengatakan tidak tapi dia sendiri yang menawarkan untuk mampir "emang bapak gak capek" tanya qiana
"enggak" balas dion dengan santai
"ya sudah masuk pak" ajak qiana
qiana turun dari mobil dion dan berjalan masuk ke rumah orang tuanya di ikuti dion di belakang
"silahkan duduk pak, saya ambilkan minum dulu di belakang" ucap qiana
"iya" dion duduk di sofa dan mulai memindai setiap sudut rumah kediaman keluarga atharazka
"silahkan di minum pak" qiana meletakan gelas berisi minuman di hadapan dion
"terima kasih" dion mengambil minuman itu dan menenggak sedikit
"rumahmu terlihat sepi sekali" tanya dion
"biasanya jam segini mereka ada di rumah yang ada di belakang, nanti saat jam makan malam baru mereka datang" balas qiana
"kau hanya berdua saja dengan adikmu?" tanya dion
"enggak sih pak, sebenarnya ada sepupuku, damian yang ikut menginap di sini selama mama dan papa pergi tapi dia sedang menunggui adiknya yang sedang sakit" balas qiana
"mana adikmu" tanya dion
"mungkin di belakang, biasanya jam segini dia sedang latihan memanah" balas qiana
dion mengangguk paham "oh ya" dion teringat sesuatu "kemarin aku sempat melihatmu menjawab semua pertanyaan dengan mudahnya, itu artinya kau menguasai pelajaran dengan baik mungkin cukup lebih baik dari teman-temanmu yang lain tapi kenapa kau malah selalu mendapatkan nilai kurang terus" tanya dion yang penasaran sejak kemarin
"gak papa cuma pengen aja pak, bisa kan gak harus di buat menonjol di kelas" balas qiana
dion mengerutkan keningnya "apa kau tidak salah berucap seperti itu" tanya dion
"maaf bapak, saya tidak ingin menjawabnya " qiana merasa tidak perlu menjelaskan alasannya pada guru yang ada di hadapannya
"oke kalau gitu" balas dion yang tak ingin melewati batas
__ADS_1
"princess" panggil putera berlari memasuki rumah qiana mencari keberadaan qiana
"Hai kak" qiana melambaikan tangannya ke arah putera yang sedang berlari menghampirinya
putera memperlambat langkahnya saat ada tamu yang berhadapan dengan qiana "anda siapa" tanya putera dengan nada tidak suka pada dion
Dion mengangkat tangannya ke arah putera "saya dion, guru matematika qiana" balas dion
putera melirik tangan dion dan terpaksa menjabat tangan dion "saya kakaknya qiana" balas putera
putera melirik ke arah qiana " ganti baju dulu sana sekalian mandi, biar kakak yang menemani tamu kamu" ucap putera
"iya kak" qiana berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya berada
putera duduk di hadapan dion dengan tatapan datarnya "Terima kasih sudah mengantar aduk saya pulang" ucap putera dengan tatapgaan datar
"tidak masalah, qiana adalah murid saya jadi tidak masalah jika saya mengantarnya pulang " balas Dion dengan senyuman tipisnya
"adik saya sudah sampai di rumah dengan selamat jadi untuk apa anda masih di sini" tanya putera
Dion kembali menyunggingkan senyumnya "baiklah"Dion beranjak dari duduknya, berdiri menatap putera dengan tatapan ramah "sampaikan salamku untuk qiana, dan saya pamit pulang" ucap Dion
"hmmmm" balas putera
putera berjalan ke arah kamar qiana di lantai atas "tok tok tok" putera mengetuk pintu kamar qiana
"masuk" seru qiana saat mendengar pintu kamarnya di ketuk
"ceklek" putera berjalan masuk ke kamar qiana "sudah mandi" tanya putera yang melihat rambut qiana masih basah
"barusan selesai mandi kak" qiana menggusar rambutnya yang basah dengan handuk kecil
putera berjalan ke arah qiana dan membawa qiana duduk di kursi meja riasnya "duduk dulu" putera mengambil pengering tambut qiana dan mulai menyalakannya untuk mengeringkan rambut qiana
"aku bukan anak kecil lagi kak"qiana berniat mengambil pengering rambut dari tangan putera tapi putera menahannya
"sudah diam saja, biar cepat selesai ini" balas putera
"kakak gak pulang ke rumah" tanya qiana
"nanti saja lah, abis makan malam" balas putera
"padahal masakan tante enak banget kakak malah milih makan malam di sini sih" tanya qiana
__ADS_1
"biar nemenin kamu di rumah, damian gak pulang kan" tanya putera
"iya sih, emang damian gak pulang tapi gak segitu khawatirnya sama qiana kak, di rumah ini papa kasih bodyguard yang gak sedikit buat jaga qiana dan vansh" balas qiana
"emang papa kamu kasih pengawal yang banyak buat kalian tapi hati kakak lebih tenang jaga kamu sendiri" balas putera
"terserah kakak saja deh" qiana tak lagi menolak karena putera jelas tidak akan mendengarkannya
baginya qiana adalah anak kecil yang harus tetap di jaga, walaupun sebenarnya qiana sudah di ikutkan olahraga bela diri sebagai perlindungan untuk dirinya di saat tak terduga
***
qiana dan putera turun ke lantai bawah menghampiri vansh yang sudah duduk di ruang keluarga setelah selesai berlatih memanah "sudah selesai latihannya" tanya qiana menghampiri vansh
vansh yang tadinya merebahkan kepalanya di sandaran sofa mendongak ke arah qiana
"iya kak, abis latihan. rasanya capek banget" balas vansh kembali menyandarkan kepalanya yang rasanya begitu lelah
"mau buah" tawar qiana
"nanti saja kak, lagi nafas dulu nih" balas vansh
"tadi kata bibik ada tamu, siapa" tanya vansh
"oh, itu guru kakak. tadi ngantar kakak pulang karena mobil kak putera mogok" balas qiana
vansh memicingkan matanya ke arah qiana "jangan bilang kakak pacaran sama guru kakak" tanya vansh dengan nada penuh intimidasi
"apaan sih" qiana menjitak pela vansh saking kesalnya
"aduuuh" vansh mengusap kepalanya yang berdenyut sakit karena jitakan qiana "jangan menjitakku " kesal vansh
"abis kamu suka ngomong asal" balas qiana tak terima jika adiknya mengatai pacaran padahal pacaran saja belum pernah
"iya sih vansh tahu kalau kakak itu gak mau pacaran dan langsung nikah saja" sahut vansh tahu apa yang ada di pikiran kakaknya
"itu tahu" qiana menatap tajam adiknya "ingat motto hidup kakak, no pacaran tapi langsung bawa ke pelaminan aja" ucap qiana mengingatkan adiknya motto hidup yang di ambilnya sejak dulu
"itu bagus princess, jadi nikahnya nanti saja ya " pinta putera
"ya tergantung lah kak, tergantung aku sudah ketemu yang cocok apa belum, kalau ketemunya sekarang lulus SMA langsung nikah saja" balas qiana dengan santainya
"haaa" mulut putera menganga lebar akan pernyataan adiknya itu
__ADS_1