
"eughhh" laras memegang kepalanya yang serasa berdenyut sakit
laras membuka mata, dan mendapati ia tidak berada di kamarnya "di mana ini" gumam laras bangun dan mendudukkan tubuhnya "akhhh" laras merasakan sakit di area selangkangannya
"kenapa sakit sekali" laras memegangi **** *************
mata laras membelalak lebar kala mengingat kejadian semalam "gila kamu ras" umpat laras akan kegilaannya semalam "jangan pernah kamu minum lagi" dengan langkah terseok-seok dan menahan sakit laras memakai pakaiannya dan segera keluar dari kamar mario
laras berjalan sekuat yang ia bisa menuju kamarnya, sepanjang jalan ia terus mengumpati dirinya yang berani tidur dengan ayah dari anak yang ia asuh " gila kamu ras" gumam laras yang terus menyalahkan dirinya sendiri
setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, laras berjalan ke arah qiana " non qiana sudah makan belum" tanya laras menghampiri qiana
qiana melipat tangannya dan mencebikkan bibirnya ke arah laras "ya belum lah, bik laras lama banget perginya, qiana kan lama nunggu bik laras pulang" balas qiana
laras menoleh ke arah mario meminta jawaban akan anggapan qiana padahal dirinya kan tidak keluar villa sama sekali tapi mario hanya mengedikan bahunya "ya sudah bik laras bikinin sandwich buat sarapan ya" ucap laras
"iya bik" balas qiana
mario melirik gaya jalan laras yang sedikit kepayahan membuat mario menyunggingkan senyumnya "ayo main lagi ayah" teriak qiana menyadarkan lamunan ayahnya
"iya sayang" mario kembali menemani qiana bermain istana pasir yang di sediakan mario di halaman villa miliknya
"qiana" panggil mario di sela acara bermainnya
"iya ayah" balas qiana
"nanti jangan terlalu banyak minta sesuatu dari bik laras ya, mintanya sama ayah saja, kasihan bik laras dia sedang tidak enak badan soalnya" ucap mario
qiana mengernyitkan dahinya "sakit apa? perasaan bik laras baik-baik saja" balas qiana tak melihat laras yang sedang sakit
"bik laras tuh lagi sakit tapi gak mau ngomong sama kamu" balas mario
"masa sih yah" qiana tak percaya dengan ucapan ayahnya
"kalau gak percaya lihat deh cara jalan bik laras, agak gak bener nanti dan itu karena dia sedang sakit" jelas mario
__ADS_1
qiana mengangguk paham "iya deh yah karena bik laras sakit nanti qiana gak minta banyak sama bik laras " balas qiana
"anak pintar" mario mengusap kepala qiana dengan gemas
"nona" panggil bik laras menghampiri qiana dengan piring berisi sandwich yang sudah ia buat "nih sarapan dulu" laras menyerahkan sandwich itu pada qiana
qiana melirik gaya jalan pengasuhnya dan ternyata benar apa yang di ucapkan oleh ayahnya " bik laras kalau sakit istirahat saja, jangan memaksakan diri urus qiana, biar yang urus qiana ayah saja" ucap qiana
laras mengernyitkan dahinya "sakit" laras jadi bingung sendiri dengan ucapan qiana "bik laras gak sakit kok non, bik laras sehat-sehat saja" elak laras
"sudah jangan gak enak sama qiana bik, bik laras sakit bilang saja sakit, qiana lihat cara jalan bik laras yang aneh jadi pasti benar apa yang ayah ucapkan kalau bik laras sakit" balas qiana
laras menatap tak percaya ke arah mario "sudah qiana ayo cepat makannya katanya mau jalan-jalan sekitar sini" mario berusaha mengalihkan perhatian laras darinya
sungguh canggung rasanya kali ini saat ia harus bertatapan dengan laras, dia bingung sendiri mau bilang apa pada laras atas perbuatannya semalam yang dengan berani menyentuh laras
qiana menoleh ke arah ayahnya "sekarang di sini tinggal ayah yang belum mandi, mandi sana " usir qiana agar ayahnya segera mandi
mario mengusap kepala qiana dengan gemas "iya, ayah mandi" mario bergegas masuk kamarnya untuk segera mandi
mario mulai menarik selimutnya dan di sana mario dapat melihat jelas ada noda darah yang sudah mengering di atas ranjangnya "gila kamu mario, merawanin anak gadis orang aja" umpat mario merutuki kelakuannya tapi sudut bibirnya terangkat mengingat kejadian semalam
mario menarik selimutnya dan mengganti dengan selimut baru, mario lakukan sendiri karena memang di villa miliknya tak ada pembantu yang bekerja karena mario pikir jika mengajak laras tidak perlu menambah banyak orang yang mengisi liburannya bersama qiana
mario masuk kamar mandi sambil bersenandung, rasanya mood buruknya kembali baik karena hiburan kecil dari pengasuh anaknya yang mungkin tidak di sengaja itu
setelah selesai mandi mario membawa selimut yang terkena noda darah ke belakang untuk di cuci, gak mungkin juga kan dia minta laras yang mencuci padahal itu semua adalah perbuatannya jadi mario memilih mencucinya sendiri, toh tinggal di masukan dalam mesin cuci dan selesai
laras berjalan ke arah dapur dan melihat mario yang sedang berdiri di depan mesin cuci "tuan ngapain tanya laras
"nyuci" balas mario
"kok tuan yang nyuci, tinggal taro di keranjang cucian aja nanti biar saya yang nyuci" balas laras tak enak jika mario mencuci padahal ada dirinya
"itu kan karena perbuatan saya, bisa kotor seperti itu jadi saya yang nyuci lah, masa kamu" balas mario
__ADS_1
"ih gak papa tuan" laras mendorong tubuh mario agar pergi
"biar saya yang lanjutin aja, tuan nemenin non qiana nonton TV saja" ucap laras menunjuk qiana yang sedang menonton TV dengan dagunya
"tapi ada darah di seprei saya itu karena ulah saya jadi saya harus tanggung jawab lah" ucap mario dengan sarkas
laras mengernyitkan dahinya "seprei" seketika itu mata laras membelalak lebar mengingat dirinya bangun di kamar mario dan dalam keadaan sakit pada **** ************* "astaga" laras langsung berlari menjauhi mario dan menyusul qiana
sungguh laras begitu canggung dengan mario jika mengingat kejadian semalam "hahahaha" mario tertawa ringan melihat tingkah laras "aneh banget sih dia, bukannya marah atau berteriak ini malah malu dengan saya" mario menggelengkan kepalanya melihat laras yang duduk di samping qiana dan menonton TV dalam keadaan gugup
qiana sedang bercanda dengan qiana dan terlihat qiana mulai mengantuk " bik ngantuk" qiana mulai mengucek matanya karena mengantuk
"ya sudah yuk bobok" ajak laras
mario mengambil alih qiana "biar qiana tidur sama saya saja, kamu istirahat siang saja" mario langsung menggendong qiana menuju kamar qiana
laras memilih kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya melihat atap kamarnya menerawang kejadian semalam "gila apa kamu ras" umpat laras sedikit kencang mengingat kejadian semalam
"apaan coba" laras membalik tubuhnya dan berguling-guling tak jelas di atas ranjangnya
"ceklek" terdengar suara pintu terbuka dan laras langsung melirik ke arah pintu
"bisa kita bicara" tanya mario
laras menelan salivanya dengan susah payah "bisa tuan" laras membenarkan posisinya dan duduk di tepi ranjang
mario berjalan ke arah laras dan duduk di samping laras "soal semalam... " mario bingung harus bagaimana memulai obrolan mereka
"itu hanya reflek setelah mabuk jadi lupakan saja " sahut laras dengan cepat
"tapi saya mengambil mahkotamu" ucap mario mengingatkan
"anggap saja itu hari sial saya, dan lupakan saja soal semalam tuan, dan anggap tak pernah terjadi apapun" balas laras berusaha kuat mengontrol emosinya walaupun sungguh detak jantungnya berdegup tak beraturan
mario menatap tak percaya bahwa laras akan sesantai itu "tapi saya mengeluarkannya di dalam semalam dan tentu kamu ingat itu bukan hanya sekali, jadi gimana" walaupun mereka berdua mabuk tapi kesadaran mereka tak hilang sepenuhnya tentu membuat mereka bisa mengingat bahwa pergulatan mereka bukan hanya terjadi sekali dan malah terjadi sebanyak empat kali
__ADS_1
laras menatap dengan sejuta pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya menatap mario yang menunggu reaksinya, tapi dia sendiri juga bingung harus bereaksi apa