
"bik laras" panggil sheryl pada pengasuh anaknya
bik laras menghampiri sheryl sambil menggendong qiana "ada apa nyonya" tanya bik laras
"kasih qiana ke papanya ya bik, dan minta tolong antar tuan mario ke kamar tamu ya " pinta sheryl
mario menatap tak suka ke arah sheryl "kenapa kasih qiana ke tua bangka itu, harusnya dia sama aku" tanya mario tak suka dengan qiana yang di serahkan pada om bachtiar
"kalau kamu bisa bawa qiana, silahkan aja" sheryl mempersilahkan mario untuk mengajak qiana
mario beranjak dari duduknya untuk menghampiri qiana yang masih ada dalam gendongan bik laras "qiana, ikut ayah yuk" ajak mario merentangkan tangannya
"papa"qiana malah merentangkan tangannya ke arah om bachtiar dan mengabaikan mario
om bachtiar pun mengambil qiana dari tangan bik laras "lihat sendiri mas, dia masih asing dengan kamu jadi tolong sabar dulu" ucap sheryl memperingatkan mario agar lebih sabar mendekati qiana
"kalau gitu kenapa gak kamu aja yang gendong qiana malah kasih ke tua bangka itu" tanya mario dengan ketus
"aku harus masak mas, ini sudah mau jam makan malam, dan qiana biasa makan masakan buatan aku" balas sheryl mulai kesal pada mario yang terlalu banyak tuntutan
"mari tuan" ajak bik laras
sheryl menghela nafas saat punggung mario sudah menjauh "sabar ya sheryl, ada om di sini" om bachtiar mengusap kepala sheryl dengan lembut
"iya om" balas sheryl
"papa ganti baju dulu, bau" ucap qiana
om bachtiar mencium bau tubuhnya "iya bau" kekeh om bachtiar
"ya sudah om mandi dulu, baru main sama qiana" sheryl mengikuti om bachtiar masuk ke dalam kamar mereka untuk membantu om bachtiar menyiapkan pakaiannya
setelah melihat om bachtiar selesai mandi dan memakai pakaian santainya, sheryl segera keluar kamar untuk memasak dan om bachtiar mengajak main qiana di area bermain qiana yang ada di ruang keluarga
"om nih susunya" sheryl mengangkat botol susu qiana
"iya" om bachtiar bergegas mengambil botol susu qiana
"ni anak papa, minum dulu" om bachtiar memberikan botol susu qiana dan qiana langsung meminumnya dengan cepat
"ceklek" mario keluar dengan pakaian santainya dan berjalan menuju ruang keluarga yang letaknya tak berjauhan dengan dapur
__ADS_1
mario melihat sheryl yang sedang sibuk memasak dan om bachtiar yang sedang bermain dengan qiana "harusnya aku yang di posisi tua bangka itu" gumam mario kesal
mario menghampiri sheryl yang sedang memasak "apa mereka sedekat itu" tanya mario masih menatap om bachtiar dan qiana
"iya" balas sheryl
"harusnya aku yang ada di sana" mario benar-benar tak suka posisinya sekarang
"ya sudah, mas samperin saja dan dekati qiana" ucap sheryl mempersilahkan mario untuk lebih dekat dengan qiana
mario berjalan ke arah qiana "qiana" panggil mario dengan suara lembut
qiana menoleh ke arah mario "papa" qiana langsung berlari memeluk om bachtiar
"jangan takut sayang" om bachtiar mengusap punggung qiana untuk menenangkannya
mario benar-benar sedih anaknya takut dengan dirinya dan berlindung dengan orang lain
"qiana kenalan dulu, itu namanya ayah mario" ucap om bachtiar
"gak mau, orang itu nakutin" tolak qiana
"ini ayah nak, ayah kandung kamu, jangan takut ya" mario menyentuh punggung qiana
"cukup mario, pelan jangan paksa qiana nanti tambah takut dia" om bachtiar mengajak qiana keluar rumah untuk menenangkan qiana
"tunggu" mario ingin mengejar qiana
"cukup mas, jangan lupa janji kamu untuk tidak memaksa qiana" ucap sheryl
mario berjalan ke arah sheryl "ini karena kamu yang bawa lari qiana dari aku makanya dia takut denganku " mario menyalahkan sheryl
"kalau kamu gak belain Regina yang jelas mau bunuh qiana kamu pikir aku bakal milih kabur dari kamu hah! " teriak sheryl
mario tertegun mendengar bentakan sheryl "sudah lah mas, aku mau nyelesain masak" sheryl mengusir mario secara halus
***
sheryl sedang sibuk menyuapi qiana makan, dan terlihat sekali sheryl kerepotan mengurus sheryl
"sini sher, biar om yang suapin qiana kamu makan dulu saja" om bachtiar mengambil alih piring qiana
__ADS_1
"aku bakal cepat makannya om" sheryl pun mulai makannya dengan cepat agar bergantian dengan Bachtiar untuk menyuapi qiana
"jangan kebiasaan susah makan qiana" nasehat om bachtiar
"iya papa" qiana mencebikkan bibirnya sambil menerima suapan om bachtiar dengan terpaksa
mario benar-benar merasa miris melihat adegan ini tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena memang dirinya masih terasa asing untuk qiana
setelah makan sheryl memberikan buah untuk mereka makan di ruang keluarga "makan buah dulu" ajak sheryl
"Terima kasih mama" ucap serempak om bachtiar dan qiana
"Sama-sama" balas sheryl
sheryl duduk di samping om bachtiar dan mengambilkan buah untuk qiana dan om bachtiar
"di makan mas buahnya" ucap sheryl pada mario
"iya" mario hanya memandangi interaksi om bachtiar dan sheryl
dongkol memang rasanya saat melihat wanita yang masih bersarang di hatinya dengan kuat, saat ini duduk dekat dengan pria lain, dan anak kita tidak mengenali tapi kali ini mario tak bisa terlalu memaksa karena yang ada nanti hanya sebuah kata penolakan maka dari itu mario kali ini berusaha sabar agar kedua wanita di hadapannya itu akan kembali padanya
"mama, boleh malam ini tidur sama mama dan papa" pinta qiana
"qiana sudah besar gak boleh tidur sama papa dan mama" tolak sheryl yang sudah mulai membiasakan qiana tidur di kamarnya tapi tetap dalam pengawasan sheryl, di mana kamar qiana terpasang CCTV untuk memantau kegiatan anak saat di kamar
mario membelalakan matanya lebar ke arah sheryl dan juga om bachtiar "kalian tidur bareng" mario begitu terkejut sheryl dan om bachtiar tidur bersama
"iya, kami tidur sekamar" balas sheryl dengan santainya
"bagaimana bisa kamu tidur dengannya,kalian kan belum menikah" ucap mario tak suka jika sheryl dan om bachtiar sekamar
"om ini kenapa sih marah-marah" ucap qiana dengan ketus menggunakan bahasa bayinya
"itu salah qiana" sahut mario
"kenapa, kalau papa dan mama sekamar? semua temanku juga gitu. orang tua mereka sekamar" balas qiana dengan ketus
"tapi ayah kamu itu saya, bukan dia" tunjuk mario pada om bachtiar
qiana berdiri di atas sofa sambil berkacak pinggang ke arah mario "kalau om mau bikin kacau di rumah qiana, lebih baik om pergi dari sini, qiana gak suka" usir qiana dengan begitu kesal
__ADS_1
sheryl dan om bachtiar memandang qiana dengan terkejut akan kemarahan anak balita itu, yang mungkin dirinya sendiri tak tahu kenapa marah-marah