Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 61 - Suami Posesif


__ADS_3

Shena berjalan menyusuri pantai yang nampak sangat indah. Ini kali pertama ia bisa menikmati dunia luar tanpa ada Ash yang selalu ada di sampingnya. Jika tidak ada, Biasanya bodyguard yang di kerahkan.


Sebenarnya Shena tidak masalah dengan semua sikap Ash itu, Tapi terkadang ia juga merasa dirinya tidak sama seperti istri-istri lainnya yang memiliki kebebasan.


Tidak terasa sudah hampir satu jam Shena duduk di sebuah bangku dekat pantai tersebut, Ia masih belum ingin beranjak dari sana. Tapi dengan semangat ia kembali menyusuri setiap pantai dengan begitu riangnya hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang.


"Ah.." Shena jatuh terduduk di atas pasir.


"Maafkan saya tuan, Saya tidak sengaja.." Shena meminta maaf saat pria yang berbadan tegap itu membantu dirinya untuk berdiri.


Pria itu tersenyum dengan manisnya.


"Tidak masalah Nona, Anda tidak sepenuhnya salah. Saya lah yang menghalangi jalan Anda..." Pria tersebut membantu Shena untuk duduk di sebuah kursi.


Sebenarnya sejak tadi pria yang Shena tabrak ini selalu memperhatikan Shena yang riang menikmati indahnya pantai.


"Apa kakimu terluka? Tadi Saya lihat kakimu terkena bebatuan.." Pria itu berjongkok untuk melihat kaki Shena.


Shena menghentikan aksi pria tersebut dengan cepat, Ia tidak nyaman saat semua orang melihat interaksi mereka berdua yang menjadikannya pusat perhatian.


"Tidak perlu Tuan, Ini hanya luka kecil. Saya bisa mengobatinya sendiri..." Ucap Shena.


"Baiklah jika begitu, Sekali lagi tolong maafkan Saya..." Pria itu seperti benar-benar merasa bersalah.


"Tidak masalah Tuan..." Shena tersenyum sambil menggerakkan tangganya ke kiri dan ke kanan.


"Baiklah jika begitu.." Pria itu langsung berinisiatif untuk duduk di sebelah Shena. Namun, Sepertinya Shena memang tidak nyaman berdekatan dengan pria yang belum ia kenal.


Shena bangkit dengan hati-hati karena sepertinya kakinya keseleo dan terasa sakit. Pria itu tidak tega dan ingin membantu.


"Kemari, Saya bantu, Sepertinya Nona kesulitan untuk berjalan." Tawar pria itu terlihat sepertinya tulus.


"Eh, Tidak perlu Tuan, Saya bisa berjalan sendiri..."


Shena menolaknya dengan sopan. Karena bagaimanapun ia tidak ingin asal mempercayai orang yang baru saja ia kenal. Bagaimana jika pria ini berniat jahat padanya? Atau pria ini sebenarnya pria cabul? Ah bulu kuduk Shena seketika langsung merinding membayangkan hal-hal aneh tersebut.


Shena melihat pria tersebut tersenyum padanya dan itu di salah artikan oleh Shena. Dengan cepatnya ia berjalan menjauhi pria tersebut, Namun naasnya ia kembali terjatuh.


"Akhh.." Shena memegang kakinya yang tadi terluka.

__ADS_1


"Sial, Kenapa bisa jatuh lagi? Apa ini namanya kualat karena pergi tidak meminta izin pada suami?" Entahlah apa yang dipikirkan oleh Shena. Ia terus saja memaki-maki bebatuan yang membuat dirinya kembali terjatuh.


"Nona, Anda benar baik-baik saja?" Rupanya pria tadi kembali melihat Shena terjatuh dan membantunya lagi.


Shena yang semakin takut menolak sentuhan yang diberikan pria itu.


"Tidak perlu Tuan, Saya bisa sendiri."


"Tidak perlu sungkan, Kaki Nona sedang terluka. Sebaiknya Saya bantu saja." Pria itu keras kepala ingin membantu Shena.


Saat ia ingin menyentuh pergelangan kaki Shena, Ia terkejut tatkala seseorang langsung mendorong tubuhnya hingga terpental ke belakang.


"Apa yang kau lakukan?" Pria tersebut mendengar suara berat yang begitu dingin.


la melihat ke arah sumber suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ash. Pria itu yang melihat kehadiran Ash langsung terkejut.


"Tuan Ash, Bagaimana bisa anda berada di sini?" Pria tersebut langsung tertunduk hormat.


Namun, Bukannya menjawab pertanyaan pria itu, Ash langsung membawa Shena dengan menggendongnya pergi dari hadapan pria tersebut dengan tatapan elang.


"Siapa wanita itu sebenarnya? Mengapa Tuan Ash terlihat marah seperti itu?" Batin pria yang sebenarnya bernama Raka Davidson. Pria ini adalah salah satu anak dari rekan bisnis Ash yang kebetulan memilih menikmati pantai ketimbang mengikuti sang ayah yang sedang melakukan pertemuan bisnis.


"Bahkan Aku belum berkenalan dengan gadis itu, Aku berjanji akan mengajaknya berkenalan setelah kami bertemu lagi." Ucap Raka yang akan membuatnya dalam masalah besar.


Sementara itu, Shena yang saat ini sedang berada digendongan Ash memilih untuk diam. la tidak berani untuk sekadar melihat Ash yang sejak tadi diam dengan wajah yang dingin. Siapa yang berani dengan Ash yang seperti ini? Ditambah lagi Shena tidak memberitahu dirinya saat ingin meninggalkan Aula.


Ash meletakkan Shena di sofa di dalam kamar mereka, Aura menakutkan sangat begitu terasa diantara mereka berdua. Apalagi saat ini rahang Ash terlihat jelas mengeras dari sebelumnya.


Tanpa banyak bicara meskipun sebenarnya Ash sangat marah, Ia mulai mengambil obat p3k yang terdapat di sana dan mulai mengobati luka lecet lutut dan kaki Shena.


"Auhh.." Shena sedikit bersuara saat luka yang tidak terlalu besar di kakinya terasa perih.


"Pelan-pelan Paman.." Shena memberanikan diri untuk bersuara walaupun sebenarnya ia merasa takut.


Ash sendiri masih merasa kesal saat mengetahui Shena pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. la berusaha menahan dirinya yang kalut dalam emosi yang membuncah. Jangan tanyakan mengapa Ash begitu emosi? Jawaban karena ia juga takut jika terjadi sesuatu pada wanitanya! Apalagi sampai tadi Ash melihat Shena bersama pria lain.


Meskipun di Bali sangat aman, Jauh dari para musuhnya yang mengintai, Tetap saja Ash harus waspada karena tidak ada yang tahu jika bisa saja mereka mengikuti Ash atau Shena sampai ke Bali.


"Ini kali terakhir kau bisa pergi tanpa pamit dari ku! Aku tidak akan memberimu izin untuk pergi kemanapun tanpa diriku! Kau mengerti?"

__ADS_1


Shena duduk terdiam menundukkan wajahnya takut, Karena selain ayahnya kini rupanya ia juga takut dengan sosok Ash yang terlihat lebih menakutkan.


"Maaf, Tadi aku hanya bosan saja dengan perbincangan di dalam yang tidak penting itu." Shena mengangkat wajahnya dengan penuh penyesalan.


"Paman kan tahu, Jika Aku itu tidak menyukai dengan hal-hal seperti itu! Dan karena Paman sibuk, Terpaksa Aku pergi tanpa memberitahu Paman terlebih dahulu." Jelas Shena.


"Kau tahu bukan, Di luar itu berbahaya? Jika tahu seperti ini aku tidak akan ingin menuruti keinginan mu untuk tidak memakai bodyguard selama kita berada di Bali. Dan sekarang aku berubah pikiran, Kita akan tetap memakai bodyguard di mana pun dan kapan pun."


Shena yang mendengar perkataan Ash benar-benar menyesal. Benar yang dikatakan Ash, memang Shena yang meminta suaminya untuk tidak mempekerjakan para bodyguard selama mereka di Bali. Selain ia tidak nyaman, Ia juga malu dilihat banyak orang-orang karena terus saja dikawal bodyguard seperti orang penting saja.


"Nasib ku ini malang sekali, Berharap bisa bebas dari kekangan selamanya, Tapi rupanya suamiku lebih dari yang ku bayangkan." Batin Shena menatap Ash dengan wajah sedihnya.


"Paman, Aku sudah meminta maaf. Jadi, Aku rasa Paman tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku.." Shena terdiam saat pandangan mata Ash kembali terlihat tidak bersahabat.


"Apa katamu? Berlebihan? Jika saja tadi aku tidak menemukan mu dengan cepat bagaimana?" Bentak Ash emosi.


"Kau pikir jauh dariku itu tidak berbahaya? Bagaimana jika tadi kau di culik dengan pria yang tadi berpura-pura membantu mu? Lalu, Kau diperkosa, Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ash dengan nada suara yang sudah naik 8 oktaf.


Shena hanya bisa terdiam membiarkan Ash memarahinya saja. Ia tidak sanggup melihat wajah Ash yang kini terlihat memerah akibat emosinya.


Menurut Shena, Sikap Ash yang berlebihan ini sangat lebay, Toh dirinya baik-baik saja dan tidak terjadi apapun. Pria yang tadi tidak sengaja ia tabrak juga terlihat baik meskipun sempat berburuk sangka.


"Aku rasa pria ini berlebihan." Batin Shena.


"Kau seharusnya tidak melakukan hal seperti ini. Kau bukan anak kecil yang harus selalu ku beritahu. Kau bahkan sudah memiliki suami, Seharusnya kau sudah bisa berpikir-..."


Ash menahan emosinya dan mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya dan menelepon seseorang.


"Atur beberapa bodyguard untukku di Bali sekarang juga! Perintahkan mereka untuk menjaga wanita bodoh ini selama dua puluh empat jam!" Ash langsung menutup ponselnya dengan emosi. Ia kembali menatap Shena dengan tajam.


Willie cukup tersentak mendengar ucapan Ash dan dengan mudahnya, Tuannya itu selalu langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja.


"Ingat baik-baik! Kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa izin dari ku.."


Ash keluar dari kamar mereka dan mengunci pintunya rapat-rapat agar Shena tidak bisa pergi kemana-mana.


"Malang sekali nasibku ini!" Shena mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Suami ku ternyata lebih seram dari pada iblis..." Shena merebahkan tubuhnya ke sofa.

__ADS_1


__ADS_2