
'SIAL'
umpatan demi umpatan terus terlontar dari benak Vansh tapi tk bisa terlontar dari bibirnya dengan seenaknya
"ayolah mah" pinta Vansh dengan wajah memelasnya
"enggak, ya enggak Vansh! mau kamu teriak-teriak dan guling-guling di lantai gak akan ngubah keputusan mamah" balas mama Sheryl dengan tegas
"kok mamah tega sih sama Vansh, dulu kan mama yang terus maksa Vansh buat nikah, kenapa giliran Vansh sudah mau nikah ini mamah gak setuju" kesal Vansh sudah memanas dan berasa akan mendidih sebentar lagi
"emang mama yang maksa kamu buat cari calon istri tapi gak gini juga caranya Vansh" kesal Mama Sheryl akan ulah anaknya yang begitu keras kepala
mata papa bachtiar yang masih begitu lelah, hanya bisa mengerjap-ngerjap saja aat anak dan istrinya bertengkar di jam 1 dini hari seperti tak tahu tempat saja
"bisa gak sih marahannya di lanjutin besok lagi, Prisa masih ngantuk" protes Prisa yang begitu mengantuk tapi harus terbangun karena pertengkaran kakaknya dengan sang mamah yang di mulai sekitar satu jam lalu
"minta kakakmu yang nunda perdebatannya" tunjuk mama Sheryl pada Vansh yang berada tepat di depannya
"Vansh akan berhenti kalau mamah mau lamarin Rania ke orang tuanya besok" balas Vansh
"kamu pikir Rania itu anak kucing, main asal kamu lamar gitu aja hah!" Mama Sheryl berkacak pinggang ke arah Vansh yang masih terus ngotot ingin melamar Rania besok
"yang bilang Rania itu anak ayam siapa mah" kesal Vansh
"ya ampun Vansh, mamah kamu itu bukannya ngelarang kamu nikah sama Rania tapi tahu tempat dong, lamar anak orang itu banyak yang harus di siapin bukannya datang gitu aja, mama kamu tuh sudah berkali-kali ngurus itu jadi tentu mamah lebih tahu apa yang musti harus di urus" papa bachtiar mencoba menengahi ketegangan antara anak dan istrinya itu
"kalau nunggu persiapan mama pasti lama pah" Rengek Vansh yang kini duduk di samping papa bachtiar sambil mengguncang-guncang lengan sang papah
"Rania itu anak yang di banggakan orang tuanya Vansh jadi kalau mau lamar dia ya harus bikin persiapan yang matang dong" kilah mama Sheryl
__ADS_1
"ya sudah aku aja yang datang lamar Rania sendiri ke orang tuanya" putus Vansh
Mama Sheryl terkekeh "silahkan saja, yang ada kamu pasti di tolak sama Rania. mama kenal baik dengan Rania ya Vansh jadi dia pasti akan nolah tegas lamaran kamu jika bukan mama dan papa yang lamarin" ucap mama Sheryl penuh dengan kemenangan
sialnya apa yang di ucapkan mamanya adalah kebenaran karena ia tahu prinsip hidup Rania yang tidak akan melangkahi keputusan orang tua, dia begitu menghargai orang tua dan itu yang kadang membuat Vansh tidak berdaya
"kenapa dia begitu mengenalku" Vansh kembali teringat akan dugaan Rania perihal mama Sheryl yang tidak akan mau melamar Rania dalam waktu dekat
melihat wajah Vansh memberengut sebal membuat mama Sheryl bersorak gembira "mama seneng kamu udah ketemu pawangnya" kekeh mama Sheryl yang ikut bahagia akan pilihan anaknya
"makanya cepet lamarin napa mah, nanti kalau Rania hamil duluan salah mamah ya" ancam Vansh
"untuk itu mama yakin sama Rania yang gak akan mau berbuat lebih sebelum kalian menikah, karena mengenal Rania selama bertahun-tahun tentu membuat mama bisa membaca karakter Rania dengan baik" balas Mama Sheryl
"mamah!" rengek Vansh
"tapi pasti lama mah" protes Vansh
"akan mama usahakan lebih cepat Vansh, toh Rania ingin acara pernikahannya sederhana bukan jadi cukup acara lamarannya yang kita buat cukup berkesan" jelas Mama Sheryl
Vansh langsung memeluk mamanya "terima kasih mah" ucap Vansh dengan tulus
"karena sudah selesai, kita tidur lagi ya" Papa Bachtiar menggendong prissa untuk kembali tidur sebab dirinya memang sudah sangat mengantuk begitupun Prisa, putri bungsunya yang sudah kembali terlelap
***
"tok tok tok" terdengar suara pintu di ketuk
"masuk" seru Rania
__ADS_1
"ceklek" pintu terbuka dan tampilah seorang pria paruh baya masuk ke ruangan Rania
"pan Brian" sapa Rania bangun dari tempat duduknya menghampiri Brian pemilik perusahaan tempat ia bekerja
"duduk saja Rania, saya mau bicara" ayah Brian mengajak Rania untuk duduk di sofa yang berada di ruangan Rania
Rania duduk di hadapan ayah Brian dengan dahi mengernyit "apa ada amsalah pak, kok bapak sampai datang ke ruangan saya" tanya Rania
"tidak, pekerjaanmu bagus kok Rania. Cuma tadi saya di telpon mamanya Vansh untuk ngasih kamu cuti dua hari untuk persiapan lamaran kamu di hari jumat besok" balas ayah Brian
"jumat besok" Rania begitu terkejut akan acara lamaran yang akan di laksanakan jumat besok
acara lamaran itu memang sesuai dugaan kalau tidak akan berlangsung sehari setelah Vansh berucap akan melamarnya tapi Rania benar-benar tidak menduga kalau akan di adakan 2 minggu kemudian padahal dalam benaknya masih akan menunggu dua sampai tiga bulan lagi
"iya, kata mamanya Vansh juga dia akan mengurus dekor rumah juga segala pernak pernik saat acara lamaran kamu saat keluarga besar kami akan datang ke rumah kamu jadi jangan terlalu memikirkan hal itu dan cukup pulang ke rumah, temani kedua orang tua kamu biar sisanya keluarga kamu yang akan urus itu" jelas Ayah Brian
"tapi gimana kerjaan Rania pak, masih banyak yang harus di urus" sanggah Rania
"jangan khawatir Rania, perusahaan akan ada yang Handel selama keluarga besar kita akan mengurus pernikahanmu dan juga Vansh" ucap Ayah Brian
"baiklah pak" Rania hanya bisa pasrah saja akan ucapan atasan sekaligus om dari calon suaminya
"ya sudah kalau gitu om pamit dulu, dan besok kamu sudah bisa pulang ke Bandung untuk pulang ke rumah kedua orang tuamu" ucap Ayah Brian sesaat sebelum ia keluar ruangan Rania
Rania hanya bisa menghela nafas panjang akan tindakan Vansh yang begitu cepat ingin menikahinya "bagaimana bisa dia meyakinkan Tante Sheryl buat mempercepat pernikahan ya" gumam Raina bertanya-tanya bagaimana cara Vansh menyakinkan Mam Sheryl memercepat pernikahan mereka padahal Rania tahu betul kalau calon mama mertunya adalah orang yang selalu memperhitungkan sesuatu dengan matang
Bukannya ia tak suka menikah dengan Vansh atau pernikahannya yang diadakan dengan cepat tapi masih sulit percaya saja jika sebentar lagi ia akan segera melepas masa lajangnya bersama pria yang tidak pernah ia duga akan menjadi pasangan hidupnya
Rania mengambil ponselnya yang terletak di atas meja kerjanya untuk mengirimkan pesan pada Vansh "ayo kita bertemu di luar untuk mebahas acara lamaran kita" isi pesan Rania yang segera di kirim ke Vansh
__ADS_1