Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 6 - Pernikahan


__ADS_3

Dalam satu mobil yang sama, Ash dan Shena berada duduk di jok belakang dengan mobil mereka yang dikendarai supir. Dan dikawal beberapa mobil para anak buah lain yang berjaga di depan dan belakang. Saat ini Ash tidak ingin mengambil risiko berada di mobil yang berbeda karena takut Shena akan bertindak gegabah lagi.


Mobil pengantin sudah terparkir di depan gedung pernikahan dan pintu mereka dibukakan oleh sang Asisten Pribadi Ash. Kedatangan mereka disambut oleh Para penjaga yang masih menjaga keamanan gedung, Para Maid, dan Tuan Theo yang terlihat tergesa-gesa menghampiri putrinya.


"Shena, Kau baik-baik saja, Nak?" Tanya Tuan Theo tersirat raut kekhawatiran yang mendalam di wajahnya.


"Aku baik-baik saja, Ayah.." Jawab Shena sambil menerjang ayahnya dengan sebuah pelukan karena ia merasa bersalah.


"Kenapa kau melarikan diri dari pernikahan mu? Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya Ayah bila kau tidak kembali. Tapi syukurlah Tuan Ash berhasil membawa mu kembali." Pungkas Tuan Theo membalas pelukan anaknya sembari mengusap lembut pucuk rambut putrinya.


"Maafkan Aku, Ayahh... Aku tidak akan menentang keputusan Ayah lagi. Aku menyesal.." Ujar Shena nada gusar.


Mereka pun melepas pelukan masing-masing.


Tuan Theo memegang kedua pipi putrinya.


"Ayah dengar, Kau melarikan diri karena tidak ingin menikah dengan Tuan Ash. Jika kau tidak siap ataupun memang tidak ingin menikah dengannya, Batalkan saja pernikahan ini. Apapun yang membuat putriku bersedih, itu adalah kesedihan Ayah juga. Maafkan Ayah sudah mengambil keputusan tanpa bertanya padamu dulu." Ujar Tuan Theo yang berubah pikiran dari rencananya.


"Tidak Ayah... Kenapa kau meminta maaf pada putrimu sendiri? Aku menyetujui pernikahan ini dan akan tetap dilangsungkan hari ini juga."


"Apa keputusan mu itu berasal dari dalam hatimu sendiri?"


"Terkadang hati tidak selaras dengan pikiran. Tapi aku menerimanya." Jawab Shena demikian menyetujui pernikahan ini, namun dirinya seolah mengatakan tidak.


Tuan Theo tidak dapat berkata-kata lagi. Ia hanya tidak yakin dengan keputusan putrinya itu yang terpancar dari raut wajahnya.


"Sudah.. Jangan menatap ku seperti itu. Mereka sudah menunggu ku. Ayah tenang saja!" Ucap Shena menenangkan hati ayahnya.


Karena tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Keputusan yang Shena ambil adalah keputusan Ayahnya juga meskipun Tuan Theo masih merasa bersalah dan ragu. Tapi keputusan itu sudah bulat dan keyakinan Shena sudah jelas.

__ADS_1


...***...


Pernikahan keduanya yang diadakan secara diam-diam dan tertutup itu sudah selesai. Ash dan Shena resmi menjadi sepasang suami istri setelah mengucap ijab kabul dan ikrar mereka di hadapan semua orang dan Pak penghulu, sekaligus bertukar cincin pernikahan sebelum pernikahan itu benar-benar selesai.


Pernikahan ini bahkan tidak banyak tamu yang datang. Hanya kedua mempelai, dan saksi yang dihadiri para maid, penjaga, bodyguard dan Asisten pribadi Ash. Ingin menghadirkan orang tua Ash bagaimana, Karena Ash sendiri sudah ditinggal Ayah dan Ibunya pergi sejak usianya 15 tahun akibat tragedi kecelakaan pesawat yang merenggut kedua orang tuanya. Jadi, tidak ada yang tahu bagaimana pria tangguh itu tumbuh dewasa, sukses dan tampan tanpa peran orang tua di masa remajanya yang harus sudah belajar dengan keadaan mendidiknya mandiri diusia yang cukup masih belia.


Meskipun pernikahan itu dihadiri oleh orang dalam saja, pernikahan tetap dilangsungkan secara mewah. Gedung yang mereka pakai pun memiliki desain hiasan yang megah. Karena Ash menganggap pernikahan ini untuk sekali seumur hidupnya sehingga harus terlihat berkesan. Ia juga memikirkan perasaan Shena, meskipun pernikahan ini dilakukan secara mendadak, Shena yang merupakan putri tunggal dan pasti memiliki segudang impian di hari pernikahannya yang ingin digelar bak seorang putri raja. Percayalah! Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu!


Pernikahan Ash dan Shena adalah pernikahan kedua mempelai yang sangat beruntung. Mengapa? Karena mereka tidak harus berdiri di altar berjam-jam hanya untuk menerima ucapan selamat dan menyalami para tamu yang melelahkan.


"Berbahagialah kalian berdua, Tuan Ash! Aku titipkan putriku padamu, Tolong jaga dia." Ucap Tuan Theo setelah selesainya acara.


"Tentu saja. Aku akan menjaganya dengan baik." Balas Ash.


"Putriku, Ayah tidak menyangka kau sudah dewasa, Nak. Ayah bersyukur bisa melihat pernikahan putriku satu-satunya ini meskipun ibumu tidak bisa. Sekarang status mu sudah bersuami dan ingat pesan ayah, Kau harus mematuhi suami mu ini dan bermurah hatilah padanya." Ucap Tuan Theo yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata.


Tangis Shena pun pecah karena perkataan ayahnya membuat dia terharu.


"Tidak ada pesan yang tulus yang keluar dari mulut seorang Ayah pada putrinya. Seorang anak perempuan adalah orang ketiga yang sangat mereka cintai setelah ibu, istri dan anaknya." Ucap Tuan Theo sembari mengusap air matanya dan memeluk putrinya.


"Jangan bersedih! Ini adalah hari pernikahan ku. Seharusnya kita berbahagia, bukan? Tapi kenapa banyak mengeluarkan air mata?!" Tanya Shena sambil melepas pelukannya.


"Kau benar. Ayah sampai lupa. Kalian bersiaplah. Tiket kalian 3 jam lagi." Ujar Tuan Theo setelahnya sambil menebar senyum.


"Memangnya kita ingin pergi kemana? Ayah juga ikut, kan?" Tanya Shena yang kebingungan.


"Tentu saja tidak. Mana mungkin Ayah mengganggu pasangan baru." Balasnya dengan senyum yang menggoda.


"Aku dan Shena tidak membutuhkan tiket itu lagi. Kita akan ke resort saja untuk beberapa hari sebagai gantinya." Timpal Ash.

__ADS_1


"Baiklah, Aku tidak pernah meragukan tempat pilihanmu, Tuan Ash. Ayo, Ayah bantu kalian bersiap-siap."


"Ku kira kita ingin ke perancis." Lirih Shena sangat pelan, tapi masih bisa didengar orang lain.


"Kau masih ingin pergi kesana?! Kita ke perancis sekarang!!" Timpal Ash menjawab keinginan Shena.


"Eh!!" Shena terpekik dengan keputusan Ash yang bukan main.


"Paman Jim. Siapkan Jet pribadi ku sekarang juga. Aku akan pergi ke Perancis sekarang." Titah Ash pada Paman Jim yang merupakan kepala pengurus Mansion.


Beliau berusia sama dengan Ayah Shena 48 tahun. Ia yang awalnya merupakan asisten pribadi Ayah Ash, Kini merupakan kepala pengurus Mansion yang memiliki Kekuasaan, Tanggung jawab dan Mengatur segala urusan yang ada di Mansion sepenuhnya. Sekaligus Ash sudah menganggap beliau seperti Ayahnya sendiri dan kepercayaan utamanya.


"Baik, Tuan Muda." Jawab Paman Jim. Dengan gerak cepat ia bersama anak buah lainnya untuk menyiapkan kepergian Tuan mudanya.


Di Mansion...


Ash dan juga Shena sudah mengganti pakaian pengantin mereka dengan pakaian sehari-hari. Saat ini, mereka sedang duduk di ruang utama sambil menunggu kabar mengenai keberangkatan mereka ke Perancis sambil menunggu informasi apakah jet pribadi mereka sudah siap.


Shena mulai bermain dengan ponsel dan sekilas kemudian datang Paman Jim dan kedua anak buahnya di belakang.


"Sudah Saya siapkan Jet pribadi Anda, Tuan Muda. Bandara di sana pun sudah bersiap menanti kedatangan Anda ke Perancis. Saya sudah berbicara dengan pihaknya." Pungkas Paman Jim memberitahu.


"Baik, Paman Jim. Terima Kasih..." Balas Ash.


Lalu, Kembali berkata...


"Kita berangkat sekarang. Ayah kita pergi dulu." Imbuh Ash. Ia menggandeng tangan Shena.


"Ta-tapi, Aku belum mengemas pakaian ku." Ujar Shena terbata.

__ADS_1


"Kita beli di sana." Ucap Ash penuh penekanan dan setelahnya Ash berjalan menyeret Shena keluar Mansion.


"HATI-HATI KALIAN!!" Kata Tuan Theo setengah berteriak, karena kedua pengantin baru sudah keluar dari pintu Mansion.


__ADS_2