Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Perusak suasana


__ADS_3

keluarga besar herlambang itu mulai acara makan dengan saling melempar tawa dengan obrolan-obrolan ringan yang lebih banyak meledek jenny yang masih belum memiliki kekasih padahal usia sudah memasuki 29 tahun dan sebentar lagi akan memasuki kepala tiga "jangan meledekku untuk kapan menikah, bagiku menikah bukanlah tujuan utama hidupku, aku hanya menganggap pernikahan itu penting jika sudah bertemu dengan orang yang tepat, aku gak mau terburu-buru menikah" sekilas jenny melirik kakaknya jovan lalu menatap kinan dan Hans "aku ingin menikah dengan orang yang membuatku ingin menikah dan merasa dia lah jodohku jadi "jenny menaikkan kedua bahunya "so aku santai saja" balas jenny


ibu intan tersenyum akan prinsip yang dia yakini bahwa menikah tidak lah harus terburu-buru "ibu setuju dengan kamu jenny, jangan terlalu terburu-buru menikah kalau belum bertemu yang cocok dan jangan juga terlalu terpaku anggapan kalau wanita harus cepat menikah karena takut kesempatan memiliki anak semakin sempit. karena memiliki anak sendiri juga kadang bukan jaminan kita bahagia" sahut ibu intan


jenny tersenyum pada ibu intan karena setuju dengan pikirannya "iya bu, aku juga sempat mikir kalau mungkin sampai usia empat puluh tahun aku belum menikah ya sudah adopsi saja atau mengurus keponakanku saja nanti, toh keponakanku  tetap banyak jadi masih banyak anggota keluargaku yang lain yang tidak perlu aku pusingkan" sahut jenny


"kakak mah terserah kamu saja jenny, yang penting kamu bahagia" ucap hans yang di balas anggukan kepala oleh jovan


"oh jadi karena ini jenny kekeh gak mau saya jodohkan" suara wanita paruh baya itu menggelegar ke penjuru ruangan


ketiga bersaudara itu hanya memutar bola matanya malas melihat wanita yang kerjaannya marah-marah dan selalu merusak suasana


"kalian sudah datang" ibu intan yang awalnya duduk di kursi utama yang dulu biasanya di duduki kakek ramon pun bergeser ke samping di ikuti hans dan jovan yang ikut bergeser agar kedua orang tua itu bisa duduk


"sudah duduk jangan selalu marah-marah" ayah adrian duduk di kursi yang sempat di duduki ibu intan dan rasti duduk di samping ayah adrian tepat berhadapan dengan ibu intan


"ayo makan mas, kebetulan aku masak semua masakah kesukaan kalian, kesukaan rasti juga ada" ucap ibu intan mempersilahkan suami dan madunya itu untuk makan


"terima kasih intan" ayah adrian mulai mengambil makanan yang sudah di siapkan oleh ibu intan


rasti berdecih "bangga kamu sekarang mau punya cucu sendiri dari darah dagingmu" seru rasti dengan sarkas


hans mengepalkan tangannya mendengar ucapak rasti yang mungkin bisa menyinggung kinan atau membuat putera salah paham


ibu intan tersenyum ramah "tentu aku bahagia karena anggota keluargaku akan bertambah, cucuku putera akan ada teman bermain saat di rumah dan nanti saat Lisa bermain ke rumah ini di tidak akan bosan jika hanya bermain dengan putera saja" balas ibu intan dengan santainya


kinan begitu haru bahwa ibu mertuanya akan selalu menjaga hati anaknya sebagai bagian keluarga suaminya tanpa membedakan sedikitpun bahkan dia juga menganggap anak dari madunya sebagai cucu


"lisa itu cucuku, bukan cucu mu" sahut rasti tak terima karena anak dari anak kandungnya di bilang cucu

__ADS_1


"cukup ya rasti, jangan selalu memperkeruh suasana, di sini tujuan kita untuk memberi selamat pada kinan karena sedang hamil bukan untuk berdebat lagian tidak salah jika intan menganggap lisa cucunya, jangan lupa kamu kalau intan masihlah istriku, istri pertamaku" jelas ayah adrian dengan tegas


"mas" rajuk rasti


"diam! dan makan kalau tidak setuju silahkan keluar" seru ayah adrian dengan tegas


"kamu tega ya mas sama aku, aku ini istri kamu ibu dari kedua anak kamu" ucap rasti merasa begitu kecewa dengan sikap ayah adrian


"intan juga istriku dan ibu dari anakku sama sepertimu jadi porsinya sama" balas ayah adrian


rasti hanya bisa diam kali ini karena melihat suaminya yang sudah memakai nada tinggi, bisa-bisa jatah bulanannya di potong lagi seperti kemarin-kemarin saat dirinya bertengakr dengan ibu intan yang memberikan modal untuk jenny membuka usaha


ketiga anak ayah adrian juga hanya diam saja tak ingin ikut campur urusan rumah tangga orang tua mereka


"oh ya jovan, gimana rumah kamu yang baru betah di sana" tanya ayah adrian


"rumah sakit berjalan lancar hans" tanya ayah adrian di sela makannya


"lancar ayah, hans juga mau buka cabang di luar kota rencananya" balas hans


"bagus kalau gitu" ayah adrian senang dengan prestasi anak sulungnya


"ayah gak tanya gimana usahaku" sahut jenny


"ayah tahu kalau usahamu berjalan denagn lancar dan kamu sudah punya klien banyak kan kamu selalu cerita itu setiap hari" balas ayah adrian


"iya ya yah" kekeh jenny


ayah adrian kesulitan mengambil lauk yang ada di dekat lisa yang duduk tepat di sebelah ibu intan lalu dengan sigap ibu intan mengambilkannya "nih mas" ibu intan menyerahkan lauk itu pada ayah adrian

__ADS_1


"terima kasih intan" ayah adrian menerima lauk yang sudah di ambilkan ibu intan


rasti tersenyum miring ke arah ibu intan "gak usah sok belaga perhatian deh intan, mas adrian gak akan mau sama kamu ya, dia gak cerain kamu hanya karena ayah saja" ucap rasti dengan nada sinis


ibu intan terkekeh dengan ucapan rasti "yang mau simpati atau keperdulian mas adrian itu siapa" ibu intan menggelengkan kepalanya "gak ada tuh, saya sudah hidup sendiri selama 35 tahun tanpa ada masalah tuh, dan saya enjoy saja, walaupun tanpa mas adrian tidur di samping saya ketiga anak mas adrian menyayangi saya dan menghormati saya jadi sejauh ini saya nyantai saja" balas ibu intan dengan santai dan tak terluka sama sekali dengan ucapan rasti


"iya mama ini, jangan suka ganggu ibu deh, perasaan ibu gak pernah ganggu mama tapi mama nyerocos aja" ucap jenny membela ibu intan


"kamu sekarang berani sama mama" rasti menatap tidak suka dengan sikap anaknya


"jenny, jangan tidak sopan" ucap ibu intan mengingatkan bahwa dia tetap harus sopan pada rasti karena rasti adalah mama yang melahirkannya


"iya bu" jenny melirik ke arah mamanya "maaf mah kalau jenny gak sopan" ucap jenny menundukkan kepalanya


rasti menatap tidak suka pada istri tua suaminya "kamu yang sudah ngajarin anak-anakku untuk membangkang hah" ucap rasti dengan nada tidak suka


"sekali lagi kamu berucap, aku benar-benar akan memblokir kartumu, dan ini bukan hanya untuk satu bulan seperti kemarin tapi aku akan memlokirnya sampai batas waktu yang tidak ku tentukan" ucap ayah adrian


"mas tega sama aku" tanya rasti dengan mata yang berkaca-kaca


"kamu yang keterlaluan rasti, selama 32 tahun intan tidak pernah menuntut apapun dariku, waktuku, uangku ataupun sekedar suaraku saja tidak pernah ia dapatkan semuanya untukmu, tapi kamu terus menganggu hidupnya, seharusnya kamu menghormati dia sebagai istri pertamaku dan ibu dari anak tertuaku" ucap ayah adrian dengan nada tegas


baru kali ini ketiga anak ayah adrian setuju dengan sikap tegas pada rasti yang selalu keterlaluan pada ibu intan yang tidak pernah mengusik hidup rasti tappi rasti terus selalu memojokkannya


ayah adrian menatap ke tiga anaknya itu "ayah harap sikap kalian pada kedua ibu kalian sama jangan membedakannya" ucap ayah adrian penuh harap


"kami bertiga tidak membedakannya ayah, kita hanya bersikap sesuai dengan sikap para ibu kita, kami akan menghormati yang pantas di hormati dan mengahrgai pada orang yang pantas di hargai" ucap jenny mewakili ke dua kakaknya yang jarang berucap


ayah adrian melirik rasti "dengar sendiri apa yang putrimu ucap, jika sampai anak-anak lebih menghormati intan itu berarti ada yang salah dengan sikapmu" ucap ayah adrian yang hanya di tanggapi rasti dengan menundukkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2