Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Melamar (Season 2)


__ADS_3

Rain mengajak Adinda makan di salah satu resto bernuansa alam yang terletak tidak begitu jauh dari hotel  tempat mereka menginap. Di sana pemandangannya begitu indah dan sungguh tidak membosankan jika di pandang oleh mata


"wah indah banget pak tempatnya" ucap Adinda yang begitu takjub akan pemandangan yang ada di hadapannya


pemandangan yang begitu asri, hawa yang begitu sejuk dan gemerlapnya lampu-lampu rumah penduduk yang dapat mereka lihat dari atas sana


"tempat ini memang cukup indah, apalagi saat malam hari" balas Rain yang memang sudah beberapa kali ke sana


nuansa resto di bagian puncak tentu memberi kesan tersendiri untuk setiap mata yang memandang. Kerlip lampu malam dan perbukitan yang memanjakan mata memang tidak akan membuat mata yang memandang cepat bosan apalagi di tambah nuansa sejuk dari daerah perbukitan


"ayo makan" Rain mengajak Adinda berjalan ke area ujung resto yang terdapat satu saung menghadap hamparan perkotaan di bagian bawah yang begitu indah saat di pandang dari tempat mereka makan


saat mereka  sampai di sana sudah tertata makanan yang cukup banyak dan sudah tertata rapih "kok sudah banyak makanan sih pak padahal belum pesan dehkayanya " tanya Adinda  yang saat datang tadi langsung berjalan masuk dan belum sempat membeli makanan


"kebetulan saya punya nomor pemilik resto ini jadi tadi saya hubungin pemiliknya  dan minta untuk menyiapkan makanan saat kita jalan tadi" jelas  Rain kenapa sudah ada makanan di sana


kebetulan Resto tempat ia makan adalah milik sepepunya yaitu Qiana, Resto yang di berikan nenek Jemina sebagai hadiah ulang tahun Qiana yang ke 15 dulu jadi tentu mudah bagi Rain untuk meminta keistimewaan pada sang pengurus resto


"oh bapak kenal toh sama pemilik restonya "kini Adinda paham kenapa mereka dengan mudah masuk ke tempat makan yang di khususkan di tempat itu padahal di depan tadi cukup ramai tapi di bagian tempat ia makan cukup sepi pengunjung dan mungkin hanya mereka berdua saja yang ada


"ayok makan" ajak Rain yang di angguki Adinda


mereka makan dengan cukup lahap dan sangat menikmati setiap sajian yang di hidangkan "apakah sesuai seleramu" tanya Rain saat  melihat Adinda begitu lahap makan

__ADS_1


"iya pak" balas Adinda  masih sibuk mengambil makanan yang ada di depannya tanpa segan


Rain membiarkan saja Adinda makan dengan lahap sebab saat ia bicara, Adinda tidak akan kuat untuk makan dan mungkin nafsu makannya akan hilang begitu saja


Rain meletakan sendoknya setelah di rasa ia cukup kenyang dan ia lihat juga Adinda sudah selesai makan dan bahkan seperti kekenyangan


"kamu bisa masak dan bebenah rumah tidak" tanya Rain menatap lurus ke arah Adinda yang sedang menselonjorkan kakinya


Adinda mengerutkan keningnya tapi tetap saja ia menjawab walau bingung maksud pertanyaan Rain "tentu bisa lah pak, saya kan tinggal sendiri jadi sudah biasa mengurus rumah sendiri dan masak ya walaupun masakan saya gak tahu enak apa enggak sih tapi kayanya masih layak untuk di makan" balas Adinda


Rain tersenyum tipis menanggapi jawaban Adinda karena setidaknya ia memenuhi dua sayarat sebagai istri dalam benak Rain, bebenah rumah dan memasak sebab ia ingin hidup di rumah yang hanya di tinggali berdua dan sang istri "saya gak pilih-pilih dalam makanan kok, dan saya juga orang yang bukan hanya bisanya nyuruh tapi bisa bantu untuk pekerjaan rumah " sahut Rain dengan senyuman tipisnya


Adinda mengerutkan keningnya "maksudnya bapak ngomong gitu apa" tanya Adinda makin tidak mengerti arah pembicaraan Rain


"saya punya tabungan sendiri, dan 3 rumah juga 4 lahan tanah yang sudah atas nama saya dan itu hasil kerja keras saya sendiri selama saya kuliah dan bekerja menjadi seorang guru ya walaupun ada beberapa juga hadiah dari kakek saya" Rain memandang lurus ke arah Adinda dengan tatapan seriusnya " saat menikah semua harta akan saya berikan pada istri saya untuk di kelola dan saya tidak akan ikut campur apapun yang dilakukan istri saya perihal uang dan tanah atau rumah-rumah  itu karena saat saya menikahinya berarti saya percaya dia untuk mengelola keuangan saya" ucap Rain panjang lebar


"saya bukan orang yang romantis, saya lebih ke orang yang realistis jadi kalau kamu berharap saya melamar kamu dengan bunga atau untaian kata indah, maaf saja saya gak bisa. Saya lebih memilih melamar kamu dengan apa yang saya miliki sebagai bukti bahwa saya serius untuk menjalani hidup dengan kamu karena saat saya memberikan harta saya semuanya ke kamu itu berarti gak ada kemungkinan saya selingkuh karena saya gak punya apa-apa untuk selingkuh" jelas Rain tentang maksudnya memberikan seluruh hartanya pada istrinya nanti


Adinda membulatkan matanya lebar "bapak ngelamar saya" Adinda menunjuk dirinya saking terkejutnya akan ucapan Rain yang menyiratkan bahwa Rain melamarnya


"iya, saya melamar kamu untuk jadi istri saya dan teman hidup di sepanjang sisa hidup saya" tegas Rain


"haaa" mulut Adinda menganga lebar tatkala Rain melamar dirinya  dengan kata-kata yang terkesan lebih ke sebuah tawaran bisnis ketimbang sebuah lamaran untuk menikah

__ADS_1


Adinda mencoba mengontrol emosinya dan menggelengkan kepalanya "aku lagi gak mimpi kan" Adinda menepuk pinya namun pipinya merasa sakit "anda ngelamar saya beneran pak" tunjuk Adinda pada dirinya


"iya" Rain menganggukan kepalanya


Adinda mengangkat satu tangannya ke arah Rain "bapak gak lagi kesambet setan penunggu hutan kan pak" tanya Adinda dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung


"enggak lah" tegas Rain


"terus kok bapak negelamar Adinda gitu saja, kita memang kenal sudah tiga tahun pak tapi bapak itu gak ada tanda-tanda tertarik sama saya selama ini, dan ini bapak langsung ngelamar saya bukannya ngajak saya pacaran atau pendekatan dulu kek" Adinda masih tak habis pikir dengan Rain yang melamarnya dengan begitu tiba-tiba


"saya gak suka bertele-tele, saat saya suka pada seseorang dan yakin maka saya akan langsung menikahinya dan saya sudah yakin denganmu toh kita sudah mengenal selama tiga tahun jadi tidak perlu kata pendekatan atau pacaran,  langsung menikah saja" tukas Rain langsung ke intinya


"ya ampun pak" Adinda mengelus dadanya saking kagetnya dengan pemikiran Rain yang terkesan frontal dan baru pertama kali ia lihat


"jadi mau atau tidak mau" tanya Rain ingin langsung tahu jawaban Adinda


"biarin saya berpikir dulu napa pak" pinta Adinda dengan wajah memelas


"maaf Adinda saya gak suka menunggu" tukas Rain langsung menolak permintaan Adinda


"ya ampun pak" Adinda meraup wajahnya saking bingungnya harus menjawab apa pada Rain


"saya mau sekarang juga jawabannya Adinda" pinta Rain lagi

__ADS_1


Adinda menatap nanar ke arah Rain yang menuntutnya untuk langsung menjawab lamarannya yang tiba-tiba


"emang gila nih cowok ya" umpat Adinda begitu kesal akan permintaan Rain yang terkesan begitu memaksa dan membuatnya panik serta bingung


__ADS_2