
Edzar menundukan kepalanya merasa bersalah pada bundanya karena sempat mengeluarkan kata-kata kasar yang pasti menyakiti hati bundanya "aku gak tahu kalau tante Zia bohongin aku kak" ucap Edzar dengan rasa bersalahnya
"itu lah kenapa kakak bilang kamu masih naif Edzar, tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah dengan baik" tukas Qiana menceramahi adiknya dengan tegas
"maafin aku kak" ucap Edzar lagi
"sama bunda minta maafnya bukan sama kakak, karena hati bunda kita yang paling terluka saat ini karena anaknya berani membantahnya hanya demi wanita yang membuat hidupnya begitu menderita " bals Qiana
"Edzar akan minta maaf sama bunda besok kak" ucap Edzar
"minta maaf nya jangan nanggung-nanggung, segera putuskan Lea saat ini juga dan berikan kabar itu buat bunda besok" ucap Qiana
Edzar menggelengkan kepalanya "enggak kak, aku gak mau putus sama Lea" tolak Edzar
"kamu masih berani bantah kakak hah!" teriak Qiana begitu kesalnya
merasa kemarahan Qiana yang sudah di puncaknya, putera segera mengambil alih " tenang sweetheart" pinta putera
Qiana menghirup nafas dalam-dalam sebab perutnya sudah mulai keram karena saking emosinya dengan adiknya itu "biar kakak yang bicara, kamu istriahat oke, kakak akan nasehatin Edzar dengan baik" tukas Putera memberikan usulan pada Qiana agar Qiana bisa istirahat sebab ini juga sudah sangat malam
"iya kak, nasehatin Edzar dengan baik kalau ngeyel aja, aku benar-benar akan putus akses keuangannya dan segala fasilitiasnya dan Qiana pastikan ayah gak akan bisa berucap apapun" tukas Qiana dengan nada tegas
putera membawa Edzar untuk keluar kamar mereka dan berjalan ke arah balkon yang berada di lantai 2 untuk bicara lebih nyaman "berapa usia Lea saat ini" tanya Putera dengan suara lembut
"sekarang 15 tahun kak" balas Edzar
Putera mengangguk "berarti benar usianya ya" gumam putera dengan suara lirih
"apa kak" sayup-sayup Edzar mendengar suara putera dan tidak mendengar secara jelas apa itu
"kamu cinta sama Lea" tanya Putera
"tentu saja " balas Edzar
putera kembali mengangguk "terus mau kamu nikahin" tanya Putera lagi
__ADS_1
"hah" Edzar melongo mendengar pertanyaan kakak iparnya itu
"mau kamu nikahin tidak" ulang putera
Edzar menggaruk tengkuknya yang tak gatal "belum pernah aku pikirin kak, kita masih muda juga" balas Edzar
"nah itu masih muda" tunjuk Putera "kalian masih muda, jadi putus pun yak akan masalah" sahut Putera
"tapi kak" protes Edzar
Putera menghela nafas kasar "kalian masih sangat muda Edzar, dan harusnya kamu bisa sedikit mneyadari apakah wanita itu baik atau tidak" putera duduk di samping adik iparnya itu "coba kamu ingat saat tante Zia cerita tentang keburukan Bunda, ada Lea atau tidak" tanya Putera
Edzar mengangguk "ada kak" balas Edzar
"dan dia diam saja" tanya Putera
"iya" Edzar mengangguk dengan berat
"dari situ terlihat jelas pacar kamu bukan wanita baik-baik, sebab kalau dia baik tidak mungkin saat mamanya menjelekkan orang tua pacaranya dia hanya diam saja" ungkap putera
Edzar membenarkan ucapan kakak iparnya "iya sih kak" balas Edzar
"tapi aku cuma pacaran sama Lea kak bukan mau nikah, kenapa juga bunda selebai itu buat larang aku pacaran sama Lea" ucap Edzar mengutarakan pikirannya
"bunda punya pertimbangan dan alasan cukup kuat untuk itu Edzar, ini bukan hanya sekedar Bunda yang harus mengorbankan masa mudanya dulu untuk membiayai sekolah tante Zia tapi lebih ke kelakuan tante Zia pada Bunda setelah pengorbanan yang di lakukan bunda untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak untuknya " ungkap putera
Edzar mengerutkan keningnya "maksud kakak" tanya Edzar
"samar-samar mungkin kamu ingat kalau pernah tinggal di rumah orang tua kak Qiana dulu cukup lama" tanya Putera
Edzar kembali mengingat masa kecilnya yang entah masih ia ingat atau tidak "kayanya sih pernah kak, tinggal di rumah selain rumah ini yang ada kak Qiana dan juga Vansh" balas Edzar
"dulu ayah kamu pernah di tuduh menghamili seseorang dan menampilkan bukti kuat di hadapan bunda sampai membuat bunda pergi dari rumah dengan membawa kamu dan juga adik kamu, dan pilihannya hanya mama sheryl karena hanya mama Sheryl yang menganggap bunda sebagai kakaknya" ucap putera
Edzar membelalakan matanya lebar "ada kejadian seperti itu, kok aku gak tahu" tanya Edzar
__ADS_1
"karena itu hanya sebuah jebakan, dan bunda ingin menjaga martabat suaminya, ayah kamu agar anak-anaknya tetap menghormati ayah tapi jelas saat itu kakak dan kak Qiana bisa memahaminya karena wanita itu menghampiri kaka Qiana untuk meminta pertanggung jawaban ayah Mario, dan jangan di tanya bagaimana reaksi keluarga besar kita" jelas putera
"jadi karena itu ayah nurut banget sama kakak" tanya Edzar
"salah satunya tapi bukan hanya itu saja sih, ayah sama mama punya kelemahan tak bisa menolak keinginan kakak kamu karena hal lin tapi tetap ini jadi salah satu alasan" balas Putera
"tapi itu gak benar kan kak, ayah gak ngehamilin orang dan aku gak punya adik lain selain Nazhief" tanya Edzar memastikan
"tentu tidak, kalau iya mana mau bunda kamu mempertahan pernikahannya" jelas Putera
Edzar mengelus dadanya bersyukur itu bukan suatu kenyataan hanya cerita jahat jebakan untuk ayahnya saja "dan kamu tahu gak siapa yang sudah jebak ayah dulu" tanya putera
"emang Edzar kenal" tanya Edzar tak menjawab pertanyaan putera
"tentu saja kamu kenal, mungkin kenal baik malah bahkan anak yang di katakan sebagai anak ayah kamu, kamu kenal dengan baik' bals putera
Edzar mengerutkan keningnya "siapa" tanya Edzar penasaran
"tante Zia, dan anak itu adalah Lea. Anak yang hampir jadi adik kamu kalau ayah kamu gak bisa buktiin kalau dia di jebak dan Lea adalah anak pria lain. Lea yang sama dengan Lea yang sekarang jadi kekasih kamu dan membuat Bunda kembali menangis " jelas putera dengan pembawaan tenangnya berbeda dengan Edzar yang begitu syok akan penjelasn Putera
"jadi itu sebabnya bunda...." suara Edzar tercekat tak mampu berkata apapun
"jadi bunda tentu punya alasan kuat melarang kamu pacaran dengan LEA, anak yang dulu hampir merebut kasih sayang sauminya untuk anak-anaknya dan sekarang malah membuat anaknya berani membentak dirinya hanya karena bunda ingin anaknya mendapat wanita yang baik" Putera menepuk pelan bahu Edzar yang sedang shock itu
"kamu bayangkan betapa sakit hati bunda mendengar puteranya berani berteriak padanya hanya demi membela wanita yang hampir mengahncurkan kehidupannya" ucap putera
"maaf kak, aku gak tahu" Edzar kini sudah tak mampu menahan isak tangisnya mengingat berdoasanya ia membentak sang ibu hanya demi seorang wanita yang baru beberapa bulan saja ia pacari
"minta maaf sama bunda bukan sama kakak" ucap Putera
Edzar langsung saja mengambil ponselnya dan mendial nomor seseroang tak pesuli ini sudah jam 12 malam "halo kak" sapa seseoang di seberang telpon
'kita putus saja Lea" ucap Edzar langsung pada inti pembicaraan
"jangan gitu kak, kita bisa bicarain baik-baik kak kalau kakaka gak berani bantah tante kita baskstreet saja gak masalah kok buat Lea" balas Lea tak ingin di putuskan oleh Edzar
__ADS_1
"maaf Lea, kakak gak ingin bersama kamu bukan hanya karena bunda" Edzar langsung menutup panggilannya dan kembali terisak
putera menepuk bahu adik iparnya dan berjalan meninggal Edzar sendiri sekedar memberi ruang untuk meluapkan tangisnya, sebab putus hubungan saat cinta-cintanya bukanlah hal mudah