Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 68 - Kepemilikan


__ADS_3

Lanjutan...


Ash lebih memilih mengambil obat yang sempat ia bawa. Lalu, Ia menghampiri Shena seperti siap untuk menerkamnya dengan tatapan tajam.


"Jika begitu, Apa menurutmu benda itu mungkin ada pemiliknya?" Pungkas Ash membingungkan.


"Apa maksudmu?" Tanya Shena yang mengernyitkan dahinya.


"Maksudku... Walaupun itu tampak seperti milikmu, Tapi sebenarnya itu milik orang lain." Lanjut Ash masih membuang istrinya kebingungan.


"Begitu? Jadi, Maksudmu aku harus melepaskan dan merelakan milikku pada orang lain, begitu?" Ujar Shena yang mulai ada penerangan dalam pikirannya setelah meresapi ucapan suaminya.


"Betul! Kau juga ingin mengatakan bahwa meskipun seseorang bersamaku, Tapi hatinya tidak bersamaku, begitu?" Ucap Ash seolah memberi sindiran pada Shena.


"Errr... Itulah maksudku. Baguslah jika kau mengerti." Kata Shena. Ia mulai melupakan rasa amarahnya.


"Apa kau mencintai Deon, Apalagi Arsen cinta pertama mu sebesar itu?" Tanya Ash mulai terbuka atas lontaran pertanyaannya.


Shena mulai bingung dengan arah pembicaraan ini, kemana arah ia harus menjawabnya.


"Apa hubungannya dengan Tuan Arsen?" Lirih Shena terbata.


"Kau itu Istriku, Tapi kau terluka demi dia, dan kau bersamaku tapi kau masih menyimpan hatimu padanya, dan sekarang kau bahkan seperti ingin aku memberikanmu padanya. Kau begitu terus terang padaku dengan mengatakan bahwa kau masih menyimpan hati padanya. Apa kau pikir Aku sedermawan itu?"


"Kenapa dia jadi berbicara seperti ini? Apa dia membaca pesan dari seseorang yang membuatnya marah? Aku rasa, Aku sudah menghapus semua pesan yang pernah Deon kirimkan. Bahkan tidak ada hal apapun dalam handphone ku menyangkut Tuan Arsen." Batin Shena bingung melihat raut wajah Ash yang banyak menyimpan emosinya.


Ash sontak berjalan mendekati Shena disaat istrinya itu sedang menatap wajahnya melamun dengan penuh intimidasi yang jelas saja membuat Shena refleks mundur dan hampir saja terjatuh jika saja Ash tidak sigap menangkapnya.


Ash dengan cepat menariknya, menyudutkannya di dinding dan menatapnya dengan intens. Apa Shena pikir dia bisa datang kemari sesuka hatinya. Gugup, Shena berusaha melepaskan diri darinya, Tapi Ash langsung mencengkeramnya erat.


"Bukankah kau tidak menginginkan ini? Tapi Aku bisa memuaskan mu." Ujar Ash. Lalu, mendekat untuk mencium Shena.


Panik, Shena sontak menggunakan tangannya menutup mulut sebagai tameng.


"Aku salah, Maaf. Aku tidak akan pernah memarahi mu. Tolong hentikan, Aku salah, Aku yang salah." Rengek Shena ketakutan.


"Dengar baik-baik. Mulai sekarang, Aku melarang mu untuk melihat atau tersenyum pada siapapun, Kau bahkan tidak boleh menyukai siapapun. Kau Istriku, Kau hanya boleh melihatku!" Ash langsung mencium Shena seolah mengklaim Shena sebagai miliknya seorang.


Dibalik penyatuan bibir mereka, Dengan sengaja Ash rupanya menyimpan obat itu di dalam mulutnya dan saat bibir mereka bertemu, Ash langsung memasukkan obat tersebut ke mulut Shena melalui mulutnya agar Shena dapat meneguk dan menelan obat itu.

__ADS_1


Shena sangat terkejut benda apa yang masuk ke dalam mulutnya, Matanya membulat sempurna. Ia memberontak dengan mendorong tubuh Ash, Tapi usahanya selalu sia-sia karena tenaga Ash lebih besar.


Shena hanya menahan benda itu di dalam mulutnya, Tapi karena dorongan Ash, Ia akhirnya menelan obat itu juga yang sudah dirasakan pahit memenuhi mulutnya.


Cuihh!!


Shena mendorong tubuh Ash yang berhasil terlepas darinya.


"Obat apa yang ku telan? Kau memasukkan obat apa padaku??" Sentak Shena sembari berusaha agar obat yang ia telan itu keluar kembali, Namun usahanya nihil karena Obat itu jelas sudah tertelan masuk ke dalam perutnya. Bahkan mungkin obat itu sedang bekerja.


"Ini sudah malam. Sebaiknya kita segera tidur." Pungkas Ash menghindari pertanyaan Shena.


"Paman Ash, Obat apa yang kau berikan padaku? Aku bertanya padamu, Setidaknya beri Aku penjelasan!!" Gertak Shena sembari menggoyangkan tubuh Ash.


"Bukan obat apapun. Itu adalah obat yang sering kau konsumsi." Jawab Ash tanpa rasa bersalah.


Shena termenung. Ia memikirkan obat apa yang ia konsumsi selain yang ia ingat obat pemberian Paman Jim berupa vitamin dan obat asma nya yang tidak perlu rutin di minum.


Tidak membiarkan Shena larut dalam pikirannya, Ash membawa istrinya untuk berbaring di ranjang. Seolah terpaku, Shena tidak memberontak, Ia hanya melihat Ash yang sedang menyelimutinya. Setelahnya, Ash beranjak naik ke atas ranjang dan mulai tidur bersama Shena dengan memeluknya hingga tidak terasa sudah terbawa ke alam mimpi.


...~o0o~...


Namun, matanya tertuju pada sebuah obat yang berada di nakas tepat di samping handphone milik Ash. Shena meraih obat tersebut dan menelisiknya. Ia mengingat bahwa obat itu diberikan Ash malam tadi.


"Obat apa ini? Kenapa pula nama obat di kemasannya harus di tiadakan. Tapi ini persis seperti obat yang sering diberikan Paman Jim. Pria itu sendiri yang memerintahnya untukku." Bicara Shena menatap obat kapsul di dalam toples itu menelisik.


"Percuma saja aku bertanya pada semua orang di Mansion ini karena tidak akan ada yang bisa menjawab ataupun menjelaskan sesuatu padaku. Aku harus menanyakan hal ini pada Dokter Anita. Dia pasti bisa memberiku jawaban yang pasti." Ambisi Shena menggenggam botol obat itu.


"Aku tidak mungkin hanya terus percaya dan diam saja tanpa mencari tahu banyak hal mengenai kebenaran obat ini sebenarnya vitamin atau bukan? Memangnya Aku selemah itu sampai harus meminum vitamin setiap hari?! Bisa saja pria itu mencoba meracuni ku." Kata Shena lagi yang larut dalam bicara sendirinya.


"Semua tidak ada yang tidak mungkin jika saja pria itu berniat jahat padaku. Bagaimana jika aku meninggal secara perlahan akibat mengonsumsi terus menerus obat ini? Ihh... Mengerikan. Aku belum siap untuk mati." Khawatir Shena sampai merinding seluruh tubuhnya.


"Apa yang sedang kau debatkan? Kau membicarakan ku?" Gema barito yang memenuhi ruangan.


Shena terkesiap melihat kedatangan Ash, Pria itu entah kapan keluar dari kamar mandi yang tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu ruang ganti sebelah pintu kamar mandi. Shena dengan segera menyembunyikan obat itu sebagai sampel dibelakangnya.


"Agh Tidak ada. Tuan, Bolehkah hari ini aku meminjam mobil mu?" Tanya Shena tanpa berbasa-basi yang terdengar getaran dari suaranya akibat masih gugup karena menyembunyikan sesuatu dan takut suaminya itu mengetahuinya.


"Pergi ke mana?" Tanya Ash dingin.

__ADS_1


"Jika aku menjawab keperluan yang tidak masuk akal, Pria ini pasti sudah mengetahui jika aku sedang berbohong. Apa benar aku menjawab akan menemui Dokter Anita saja?" Gumam Shena.


Melihat Shena sibuk dengan pikirannya sendiri yang lama tidak memberikan jawaban, Ash sampai mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang ganti, dengan masih menggunakan bathrobe dan rambut basahnya itu, Ia menghampiri istrinya. Saat sampai, Ash memegang kedua bahu istrinya yang cukup terperanjat dan Shena semakin mengeratkan botol obat itu sampai tidak terlihat.


"Apa yang kau pikirkan, Istriku? Kau terlihat kebingungan. Ada sesuatu yang menganggu pikiran mu?" Tanya Ash dengan nada lembut.


"Tentu saja itu kau yang mengganggu pikiranku dengan obat ini. Kesalahan dirimu sendiri yang tidak begitu terus terang, tapi ternyata kau tidak mengakuinya." Gumam Shena kesal.


Melihat Shena yang masih menatap, Ash mengangkat kedua alisnya yang sudah lama menunggu jawaban.


"Agh... Tidak ada." Jawab Shena malah demikian.


"Tidak ada? Bagaimana bisa berubah pikiran dengan cepat? Tadi kau sempat meminta untuk meminjam mobilku." Tanya Ash mengerutkan dahinya.


"Awalnya seperti itu, Rencananya Aku ingin membeli sesuatu di supermarket. Tapi aku akan menyuruh Maid saja yang membelikannya. Aku tiba-tiba jadi malas mengendarai mobilnya. Lagipula Paman tidak akan mengizinkan Aku pergi sendirian, kan?"


"Jika perlu Aku akan membelikannya untuk mu." Tawar Ash.


"Jangan! Ini masalah barang yang hanya diketahui wanita saja. Lelaki mana bisa membelinya untuk perempuan. Sebaiknya Paman segera berangkat, Jangan sampai memberi contoh yang tidak baik pada karyawan karena terlambat." Ucap Shena mendorong tubuh suaminya, Menghindari pertanyaan panjang dan rumit lagi nantinya.


Tanpa menaruh curiga dan tidak ingin lagi berprasangka buruk, Ash hanya mengangguk paham saja dan kembali santai. Sebelum pergi menuju ruang ganti, Dengan jahilnya Ash mencium bibir istrinya yang terlihat digigit oleh Shena sendiri karena gugup. Melihat hal itu membuat Ash geram yang tidak ingin membuat benda favoritnya itu terluka.


Cukup lama, akhirnya ciuman bibir itu terlepas dan seperti biasa Shena akan marah.


"Paman Ash... Kau sudah kebiasaan!" Marah Shena. Meskipun sudah melakukannya beberapa kali, Shena pasti akan tetap marah tanpa alasan.


"Hhh... Itu bukan menjadi kebiasaan ku, Tapi rutinitas. Aku pasti akan melakukannya secara teratur. Atau mungkin, Kau sendiri yang menginginkannya tadi? Bermula dari basa-basi, tapi rupanya kau malu mengucapkannya. Maka dari itu, kau sampai menggigit bibirmu sendiri?!" Begitulah ucapnya untuk menggoda Shena.


"Enak saja! Untuk apa Aku berperilaku seperti itu. Memangnya Paman pernah melihat aku pernah senang dicium, Paman? Lagipula fungsi bibir itu untuk makan." Gertak Shena.


"Tidak dengan ku. Fungsi bibir ku ini hanya untuk mencium bibir mu. Jika fungsi bibir untuk makan, mungkin setelah ini sarapan dan aku akan memakan mu!!" Goda Ash dengan kedipan genitnya.


Shena dibuat merinding sekaligus kesal, Namun ia tidak bisa berkata apapun lagi.


"Hhhh... Seingat ku mulut lah yang berfungsi untuk makan. Lain kali jika terlahir kembali ke dunia ini dan diberi peluang untuk sekolah kau jalani hingga lulus, Bukannya putus ditengah jalan hanya karena putus cinta." Ujar Ash sembari mengacak-acak rambut Shena yang belum mandi. Setelahnya Ash pergi ke ruang ganti dengan senangnya.


Ingin rasanya membalas dan berdebat dengan suaminya yang menyebalkan itu. Shena mengurungkan niat karena ingin fokus menjalankan aksinya menemui Dokter Anita menanyakan perihal obat.


"Awas saja nanti, Aku akan membalas mu setelah mendapatkan jawaban dari obat ini. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya, Aku akan pergi dengan cara sembunyi-sembunyi. Setelah keadaan Mansion terasa sepi, Aku akan diam-diam membawa mobil pria tua itu." Ucap Shena berambisi.

__ADS_1


__ADS_2