Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Rindu


__ADS_3

om bachtiar menatap layar ponselnya yang di sana susah ada dua wanita cantik beda generasi "kangen papa ya" tanya om bachtiar pada qiana yang terus menggembungkan pipinya yang terlihat sekali kalau dia sedang kesal


"pa pa lama" qiana yang masih belum begitu lancar bicara menjawab ketus pertanyaan pria yang ia tahu sebagai papanya


om bachtiar tersenyum simpul ke arah qiana "sabar anak papa, papa kan ke sini buat ketemu damian, kasihan dia baru ketemu papa sebentar sudah mau di tinggal lagi" om bachtiar berusaha merayu qiana agar tidak terus ngambek


"damian kan ada mama dan ayahnya, qiana juga mau papa ada di sini juga" balas qiana dengan polosnya


hati sheryl benar-benar mencelos mendengar itu dari bibir mungil qiana. bagaimana bisa karena ketakutanya ia menghalangi seorang ayah bertemu dengan anaknya, dan seorang anak tidak tahu siapa ayah kandungnya


om bachtiar melihat tatapan sheryl yang terlihat begitu terluka dan merasa sedih "papa besok pulang ya" ucap om bachtiar merasa harus cepat kembali dan menemani sheryl


qiana langsung tersenyum bahagia "beneran ya pah" qiana ingin kembali memastikan apakah benar om bachtiar akan segera pulang


"beneran sayang, kapan papa bohong" tanya om bachtiar


"ya sudah, papa main sama damian saja sebelum papa pulang" qiana langsung mengakhiri panggilannya ketika apa yang jadi tujuannya sudah ia dapat


setelah panggilannya berakhir, qiana turun dari pangkuan sheryl dan berlari ke arah pengasuhnya. Sheryl memandangi wajah qiana yang begitu bahagia saat mendengar om bachtiar yang qiana anggap sebagai ayahnya itu akan segera pulang "apa sebaiknya aku mengizinkan dia menemui qiana" sheryl bertanya pada dirinya sendiri apakah harus ia mempertemukan mario dan qiana padahal dirinya sendiri sedang sangat ketakutan  jika bertemu lagi dengan mario


***


kinan sedang sibuk menatap meja makan untuk sarapan keluarga besarnya "wah mama repot banget tuh" Hans menggandeng tangan putera ke arah meja makan


putera mengode hans dengan merentangkan tangannya untuk minta di gendong "cup" putera mengecup pipi kinan yang masih sibuk menata makanan itu "terima kasih sudah bekerja keras untuk buatin kami makan" putera berterima kasih pada kinan karena sudah memasakan makanan untuk dirinya dan juga keluarga besarnya


"sama-sama sayang" kinan balas mengecup pipi putera


hans menunjuk pipinya "papanya gak di kasih juga nih" tanya hans


"cup" kinan juga mengecup pipi hans memuat hans tersenyum bahagia

__ADS_1


"ya ampun" ibu intan menggelengkan kepalanya saat melihat kinan dan Hans yang selalu mengumbar kemesraan setiap harinya


"maaf ya bu, mas hans suka cemburu kalau hanya putera yang di cium " kekeh kinan yang sudah mulai terbiasa dan akrab dengan keluarga suaminya itu


"iya, ibu ngerti dengan sifat bayi besar kamu itu" ibu intan duduk di kursi yang biasa ia tempati


kini di rumah itu hanya ada hans beserta keluarga kecilnya dan juga ibunya. sedangkan kakek Ramon sudah di panggil sang kuasa sejak setahun lalu karena usia senjanya yang sudah tidak kuat lagi ia tahan


"iya nek, papa manja sekali padahal putera pengen punya adik tapi nanti papa pasti cemburu kalau perhatian mama kebagi lagi" putera menoleh ke arah hans "sabar ya pah, nanti kalau putera sudah sekolah, putera akan belajar mandiri biar mama tetep perhatiin papa terus" celetuk putera dengan polosnya


"ih pinternya anak papa" hans mengecup gemas pipi anaknya


"oh ya kinan, baju mama sudah jadi belum" tanya ibu intan


"baju yang mau buat acara nikahan anak teman ibu itu ya" tanya kinan yang di balas anggukan oleh ibu intan


"sudah jadi kok bu, tinggal di sesuain, mau di seseuain di rumah apa ibu mau ke butik aja" tanya kinan


"ke butik aja, sekalian ibu mau keluar rumah. hari ini kan putera mau main sama kakeknya jadi ibu pasti bosen di rumah" balas ibu intan


putera mengguncang lengan kinan "mah, kalau kakek bimo kasih hadiah mahal lagi boleh di terima enggak" tanya putera


"kamu lihat butuh atau tidak dengan barang itu, kalau tidak mending tolak tapi kalau kamu butuh, boleh saja" balas kinan


"iya mama" balas putera


"bimo pasti kesepian sekarang  karena anak-anaknya sedang sibuk dengan anak-anak mereka jadi bawa putera terus ya" tanya ibu intan


"iya bu, kasihan juga tua bangka satu itu jadi biar putera yang nemenin" hans mengusap kepala putera dengan lembut


"putera emang cocok buat nemenin orang yang lebih tua, kalau gak nemenin kakek pasti putera nemenin nenek" sahut putera dengan senyuman

__ADS_1


"iya putera emang paling pintar" kinan ikut mengusap kepala putera dengan lembut


setelah selesai makan, hans akan mengantar kinan dan putera ke tujuannnya masing-masing "mas nanti jadi makan malam bareng" tanya kinan


"jadi dong" balas hans yang masih sibuk menyetir mobil


"ya sudah nanti jangan lupa jemput kinan ya" pinta kinan


seusai mengantar kinan ke butiknya, han mengantar putera ke ayah bimo yang sudah menunggu di perusahaannya "sapa kakek tuh" hans menepuk pelan punggung putera untuk menyapa ayah bimo


"kakek" putera berlari ke arah ayah bimo yang kebetulan baru keluar lift akan menyambut kedatangan putera


"wah putera sudah sampai" ayah bimo menggendondong putera dan mengecup pipinya


hans berjalan ke arah ayah bimo "ini barang-barang keperluannya" hans menyerahkan tas ransel milik putera yang berisi barang-barang keperluannya


ayah bimo menerimanya "terima kasih sudah mengizinkan putera menginap di rumah" ucap ayah bimo dengan tulus karena hans berbesar hati mengizinkan putera sering menginap di rumahnya walaupun itu akan melalui hans dan tidak pernah melalui kinan


"gak masalah, anda kan tetap keluarganya jadi wajar jika putera mengenal anda" balas hans


"oh ya kinan tetap pesan untuk tidak membelikan barang tidak penting untuk putera yang nanti akan mengacaukan didikannya agar putera tidak suka menghamburkan uang" ucap han mengingatkan ayah bimo untuk tidak memanjakan putera


"iya, akan saya ingat" balas ayah bimo


"kalau gitu saya permisi" hans mengecup pipi putra dan berpamitan pada anak sambungnya itu dan bergegas ke rumah sakit untuk menunaikan tugasnya sebagai seorang dokter


ayah bimo melirik putera yang masih melambaikan tangannya ke arah Hans sampai benar-benar menghilang "putera sayang banget sama papa ya" tanya ayah bimo


"iya kakek, putera sayang banget sama papa" putera menoleh ke arah ayah bimo "tapi putera tetap sayang sama ayah brian kok kek walaupun ayah brian sedang sibuk dengan damian dan lebih perhatian dengan damian, putera ngerti karena putera gak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun, ada mama dan papa dan kakek juga" putera mengecup pipi ayah bimo


"iya, terlalu banyak yang sayang sama kamu jadi biarin ayah brian sibuk urus damian, kamu sama papa dan kakek saja" balas ayah bimo

__ADS_1


mata ayah bimo sudah berkaca-kaca akan ucapan dewasa puteranya yang belum genap tiga tahun itu.


Pernah terbesit penyesalan di dadanya saat dulu dia pernah memaksa kinan tapi penyesalan tak akan pernah bisa mengubah apapun jadi ayah bimo hanya bisa memperbaikinya, setidaknya ia akan menjaga jarak dari kinan dan menyimpan cintanya untuk dirinya sendiri saja dan akan melimpahkan cintanya yang besar untuk anaknya yang mungkin bagi orang-orang hanyalah seorang cucu


__ADS_2