
Ash sedang berbincang santai dengan Ayah mertuanya di ruangan keluarga. Kebetulan Dayn, Arthur dan Shena sedang sibuk di kamarnya masing-masing sehingga ada peluang untuk Ash menanyakan suatu pertanyaan rahasia pada Ayah mertuanya.
"Apa pekerjaan sekaligus liburan mu kemarin dengan Shena begitu menyenangkan?" Tanya Tuan Theo memulai pembicaraan.
"Kami sangat menikmati destinasi wisata di sana, Ayah. Shena pun sangat bahagia bermain-main di sana. Ia kerap kali mengajakku ke pantai hanya untuk melihat sunrise dan sunset." Terang Ash menceritakan keberadaannya di Bali kemarin.
"Sudah sejak lama Shena memang menginginkan hal seperti ini. Hanya saat remaja, Dia benar-benar merasakan seperti orang pada umumnya yang bisa pergi dengan bebasnya. Tapi sayangnya semua bertahan selama beberapa tahun, Karena Suaminya sekarang lebih posesif dariku." Ucap Tuan Theo mengingat masa lalu dan ia pun tertawa bersama Ash.
"Hha... Ayah memang benar. Meskipun ia sangat bahagia kemarin, Tapi sebelumnya ia sangat marah padaku karena meminta bodyguard kembali untuk menjaganya di sana selama pekerjaan ku belum usai."
"Hha... Shena memang hanya menginginkan kebebasan, Itu adalah permintaan sederhana sejak kecil yang selalu ia utarakan pada Ayah, Tapi ayah tidak bisa mengabulkannya dan lebih memilih memberikan barang mewah yang sama sekali ia tidak minta." Ujar Tuan Theo menjadi sedih.
Tarikan dan hembusan napasnya sangat kasar.
"Ayah hanya berharap, Masalah ini cepatlah usai dengan bantuannya mu, Ash." Imbuh Tuan Theo lagi.
"Satu persatu masalah akan selesai, Ayah. Kita akan hidup bahagia bersama tanpa musuh yang selalu berusaha menjatuhkan kita." Balas Ash memberikan pengertian.
Tuan Theo hanya tersenyum dan berharap bahwa ketenangan hari itu akan benar tiba.
"Ayah, Kemarin Aku meminta Willie untuk menyerahkan masalah Deon padamu. Apa Ayah sudah menemuinya dan memberikan langsung pelajaran?" Tanya Ash pada Tuan Theo.
__ADS_1
Tuan Theo menjadi terlihat berpikir. Raut wajahnya pun berubah khawatir. Saat Ash melontarkan padanya, Malah terjadi sebuah keheningan karena Tuan Theo tidak spontan langsung menjawab.
"Agh... Ayah sudah menemuinya di markas mu. Willie sudah bekerja dengan sangat baik bisa menemukan pria yang sudah membuat putriku depresi. Ayah cukup geram melihat pria itu untuk pertama kalinya, dan ia juga sangat terkejut tiba-tiba Ayah muncul. Padahal mungkin yang ia ketahui bahwa Ayah pergi melarikan diri." Jawab Tuan Theo begitu tidak percaya diri. Ash hanya mengerutkan keningnya begitu dalam sampai menyipitkan matanya.
"Memang sudah saatnya Ayah muncul keluar dari persembunyian. Mereka semua harus tahu jika Ayah sendiri tidak melarikan diri, dan Ayah harus mematahkan anggapan negatif mereka selama ini. Lalu, Apa yang Ayah lakukan? Ayah memenjarakan dia?"
"A-ayah hanya... Tentu saja Ayah memaki pria itu. Tapi Ayah tidak membalas perbuatannya dengan setimpal, Ayah hanya memperingatkan dia untuk jangan mengusik hidup Shena lagi yang sudah bahagia dengan mu." Kata Tuan Theo yang sedari tadi menghindari kontak mata dengan menantunya.
"Dan Ayah memutuskan dia untuk membebaskan diri dan berkeliaran bebas di luar dengan kompensasi itu?" Tanya Ash tidak habis pikir, Karena sebelumnya ia sudah mengetahui segalanya dari laporan Willie.
"Mungkin kau sudah mengetahui segalanya dari Willie. Dia sudah banyak cerita padamu." Lontar Tuan Theo. Ia terlihat tidak ingin berlama-lama lagi berbincang dengan Ash mengenai masalah Deon.
"Kenapa? Setiap tindakan yang Ayah lakukan selalu ada alasan setelah berpikir panjang. Apa alasan Ayah untuk membebaskannya?" Tanya Ash yang masih tidak terima Deon berkeliaran di luar lagi.
Pernyataan Tuan Theo membuat Ash teringat akan informasi mengenai Deon bahwa ia sebenarnya bukan anak Tuan Edison, Tapi Ash belum ingin menceritakan pada Ayah mertuanya itu. Masih banyak bukti yang perlu Ash gali agar kebenaran Deon bukan anak kandung Tuan Edison itu faktanya.
"Ayah terlihat canggung ketika Aku selalu membahas Deon. Sejak tadi, Aku perhatikan Ayah menghindari kontak mata dariku, Seolah sebuah kekhawatiran yang mendalam, Tapi lebih ke arah sesuatu yang sedang ia sembunyikan." Batin Ash yang merasa kejanggalan.
Dari sana, Ash tidak bertanya kembali dan menghargai keputusan Ayahnya. Padahal jika ia menjadi Tuan Theo, Sudah ia cincang tubuh Deon yang menyakiti istrinya itu di masa lalu.
Setelah selesai berbincang, Ash pergi ke kamar untuk melihat bagaimana kondisi Shena sekarang. Shena terlihat sedang berbaring dengan sibuk memainkan ponselnya yang sedang berbincang dengan temannya Anna dalam pesan. Ia begitu bahagia bertukar pesan dengan temannya itu sampai tertawa sendiri dan kedatangan Ash pun dihiraukan.
__ADS_1
Ash datang dengan Air putih dan juga sebuah obat yang dibawanya. Namun, Melihat Shena tidak menyadarinya kedatangannya ke kamar, Ash sudah berburuk sangka dan menjadi geram sendiri.
"Kau sedang apa? Kenapa tertawa sendiri?" Ucap Ash setelah meletakkan gelas di meja nakas. Lalu, menghampiri Shena dan dengan sarkas ia mengambil ponsel istrinya secara paksa.
Shena terhenyak melihat handphonenya yang sudah melayang tidak berada di tangannya lagi.
"Pamaann... Kau ini tidak sopan mengambil handphone ku begitu saja. Berikan padaku, Aku sedang membaca pesan dari Anna dan teman SMA lainnya di grup Line ku." Rengek Shena jadi bangkit dari berbaringnya. Dan mencoba meraih kembali handphonenya dari tangan Ash.
Ash menjauhkan handphone Shena dari jangkauannya hingga menariknya sampai di udara. Ash juga sibuk membaca pesan yang sudah banyak, dan isinya hanya bergosip mengenai masa lalu dan cerita lucu-lucu lainnya. Jadi, ternyata itu yang membuat Shena tertawa sendiri.
"Paaman... Ayo berikan!" Shena sampai berjinjit, mengejar dan mengelilingi tubuh Ash untuk meraih handphonenya.
"Kenapa kau tertawa lebih bahagia dibandingkan saat dengan ku?" Tanya Ash dingin dan masih menjauhkan handphone Shena darinya.
"Tck... Ini bukan saatnya untuk berdebat. Memangnya aku tidak boleh tertawa selama hidup ini?" Ketus Shena kesal.
Diam-diam dengan lancangnya Ash menghapus semua pesan yang masuk dari teman-teman Shena itu. Setelahnya Ash kembali memberikannya pada Shena, Tapi sayangnya ia sangat kesal melihat semua pesan yang pernah masuk itu telah terhapus.
Dengan emosi yang membuncah, Shena tidak bisa mengontrol kembali emosinya dan membanting handphone itu ke lantai. Untungnya, Handphone itu mahal, sehingga tidak sampai rusak dengan layar retak atau membelah berkeping-keping.
"Kau jahat!! Bersenang bersama teman saja dalam handphone tidak boleh! Terus saja larang aku sampai mandi saja kau yang atur!!" Bentak Shena meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Ash tidak membalas perkataan apapun. Ia membiarkan telinganya untuk mendengarkan setiap sentakan dan umpatan Shena yang keluar dari mulutnya.
Ash lebih memilih mengambil obat yang sempat ia bawa. Lalu, Ia menghampiri Shena seperti siap untuk menerkamnya dengan tatapan tajam.