
"Bagaimana Ash? Apa Shena baik-baik saja?" Tanya Tuan Theo panik, pria paruh baya itu ingat betul bagaimana terakhir kali Shena mengalami trauma berat karena kejadian beberapa tahun lalu.
"Shena baik-baik saja, Ayah. Dia juga tidak histeris sama sekali. Sepertinya Shena hanya mencoba melawan rasa takutnya."
Ash mencoba merebahkan tubuhnya yang sudah benar-benar lelah didekat sofa kamar istrinya. Bekerja terlalu keras membuat tubuhnya semakin melemah.
Tidak lama ponsel milik Ash bergetar menandakan ada yang menghubunginya.
"Dayn." Lirih Ash.
"Hallo Tuan!" Panggil Dayn dari telepon sana, suaranya terdengar panik.
"Ada apa Dayn?"
"Deon berhasil lolos Tuan, Kami sudah mencarinya tapi dia tidak meninggalkan jejak sedikitpun."
Ash bangkit dari sofa dengan tangan yang mengepal geram.
"Mengapa bisa lepas? Kau memang sudah bodoh, Dayn." Maki Ash dengan suara naik dua oktaf.
"Pergi dan cari! Aku yakin dia belum jauh." Titah Ash selanjutnya.
Dayn langsung memutuskan sambungannya, Memang sudah salahnya tidak melakukan tugas dengan benar.
Ash beranjak dari kamar menuju ruang kerja ayah mertuanya, Ia ingin tahu lebih lanjut siapa Deon sebenarnya.
Tok... tok..
"Masuk." Sahut Tuan Theo dari dalam.
"Ayah, bisa kita berbicara sebentar?" Ucap Ash saat membuka pintu.
"Tentu saja, Duduklah!"
Ash langsung duduk di kursi dekat ayah mertuanya.
"Aku ingin tahu banyak mengenai Deon lebih lanjut. Ayah lebih mengetahui bagaimana tumbuh kembang Shena sekalipun. Bagaimana masa lalu istri ku dan juga dirinya?"
Tuan Theo terlihat menghela napasnya berat. Ada raut wajah kegundahan dan kebingungan dalam wajahnya. Sepertinya ia harus menceritakan semuanya dari awal. Tuan Theo mulai bercerita bagaimana mulanya Arsen cinta pertamanya dari belasan tahun meninggalkan Shena tanpa kabar, Hingga ia bertemu Deon dan menjalin hubungan dan rasa sukanya berubah menjadi obsesi. Dia menggunakan segala cara agar Shena ingin menemuinya termasuk mengkhianati putrinya akibat geram tidak mendapatkan lampu hijau dan melawan restu Tuan Theo sendiri yang tidak pernah menyukai Deon.
Ash mengusap dadanya yang terasa panas saat mengetahui Shena pernah mencintai dia pria lain sebelum dirinya. Ash tahu memang Shena pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, Hanya saja Ash tidak menyangka jika perasaan mereka sedalam itu terutama pada Arsen. Ash menghela napasnya berat, seandainya dulu ia bisa lebih cepat menemui Shena dan kenal lebih awal dengan Tuan Theo. Maka Shena akan mengenal satu pria seumur hidupnya dan ini semua tidak akan pernah terjadi.
"Apa Ayah mengetahui jika Deon sebenarnya bukanlah anak kandung Tuan Edison??" Tanya Ash kemudian. Raut wajah Tuan Theo langsung memerah. Ia sangat terkejut dan syok.
"A-ayah, Ayah... Tidak mengetahui Ash. Malah Ayah terkejut mendengar pertanyaan mu ini. Apakah itu benar?" Pungkas Tuan Theo yang terdengar gugup.
Terlihat ada sebuah ketakutan di raut wajahnya dan sebuah kesadaran bahwa Ash patut diwaspadai olehnya karena dia menantunya yang tidak bisa dipungkiri mengenai bidang meretas sebuah informasi layaknya seorang hacker.
"Ya. Willie menggali informasinya dengan masa lalu istriku. Dan tidak sengaja mendapatkan informasi lain yang menyatakan bahwa ia adalah anak adopsi Tuan Edison. Tapi ada pernyataan lain jika ia adalah anak hasil dari perselingkuhan Nyonya Edison sendiri." Terang Ash memberitahu Ayah mertuanya.
"Agh... A-ayah, Ayah... Benar-benar baru mengetahui masalah ini. Kau memberitahu ayah dan sangat terkejut ternyata mantan kekasih putri Ayah bukan anak kandung Edison." Ucap Tuan Theo yang kembali gugup ketika Ash membahasnya.
__ADS_1
Ash hanya mengangguk-angguk dan tidak memperpanjang masalah lagi.
Setelah mendengar semuanya, Ash langsung beranjak lagi ke kamar istrinya. la sudah sepakat akan menemukan Deon dan memberinya hukuman yang setimpal. Ash tidak perlu mengingat masa kelam istrinya. Yang terpenting adalah keselamatan Shena, dan Ash berjanji akan selalu menjaga Shena di mana pun dan kapan pun.
"Butuh sesuatu?" Tanya Ash.
Shena melihat suaminya sudah berdiri di depan pintu dengan segelas susu ditangannya, perlahan pria itu duduk dan meletakkan susu di meja dekat Shena.
"Aku takut sendirian, Paman. Kau jangan kemana-mana. Temani aku di sini, ya!" Shena memeluk tubuh Ash dengan sangat erat.
"Baiklah, Sekarang minum susumu dulu dan kita tidur."
Shena langsung meneguk susunya sampai habis. Setelah itu, Ia mulai berbaring dengan masih memeluk tubuh Ash agar pria itu tidak pergi kemana-mana.
...***...
Pagi ini Shena terbangun lebih dulu dari Ash, Ia membantu menyiapkan semua keperluan Ash dari handuk, pakaian, serta teh untuk sang suami.
"Paman, Bangun.." Shena menggoyangkan lengan berotot milik Ash.
"Sudah hampir siang, bangun Paman.." Shena menusuk-nusukan jarinya ke pipi Ash.
Grep!
Ash menangkap tangan Shena, Lalu menariknya sampai wanita itu terjatuh di atas tubuhnya. Belum puas, Ash membalikkan tubuh mereka hingga kini tubuh Shena berada di bawah kungkungannya.
"Nakal! Kau ingin menggoda ku pagi-pagi buta begini, ya?"
"Aku tidak bermaksud Paman, Kau saja yang tidur terlalu nyenyak. Dari tadi aku memanggil tapi kau tetap saja tidur. Lagipula ini sudah hampir siang.."
"Cium aku!" Pinta Ash, mata Shena langsung membulat terkejut.
"Mengapa tiba-tiba?"
"Karena kau yang menggoda ku lebih dulu."
Ash semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan Shena malah menghindar
"Menolak suami itu dosa besar. Cepat cium Aku!" Pinta Ash lagi.
"Lalu, Jika aku berikan ciuman, Aku akan mendapat apa?" Tanya Shena polos.
"Dapat hadiah..." Kata Ash mengarang dengan wajah kesal.
"Kau ingin memberikan aku ciuman atau aku yang akan mencium mu sampai.." Ash mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum usil.
"Sampai apa?" Tanya Shena menaikkan sebelah alis matanya menatap curiga suaminya.
Ash mendekatkan bibirnya ke arah telinga Shena dan berkata...
"Mencium mu sampai kau hamil!" Bisik nya sampai membuat bulu kuduk Shena merinding.
__ADS_1
"Dasar Mesumm.." Pekik Shena berusaha melepaskan pelukan Ash.
"Cepat berikan aku ciuman, atau kita seperti ini saja sampai besok." Ancam Ash dengan senyuman yang tidak bisa ia tahan.
"Jangan seperti ini Paman, Kau harus segera mandi dan berangkat bekerja, bukan? Ayo cepat lepaskan aku.."
Sekuat tenaga Shena ingin melepaskan pelukan suaminya, Namun apalah daya tenaga Ash jauh lebih besar daripada dirinya. Dan akhirnya Shena pasrah!
"Baiklah! Aku akan mencium mu, Tapi lepaskan dulu, Aku sesak." Ucap Shena dengan wajah serius. Namun, suaminya hanya sedikit merenggangkan pelukannya tanpa melepas.
"Cepatlah, Aku sudah menunggu.."
Shena awalnya gugup saat mata Ash tidak berkedip memandanginya, Tapi jika Shena tidak lakukan maka Ash akan terus seperti ini.
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi Ash sebelah kanan.
"Sudah! Aku sudah memberi mu ciuman. Sekarang lepaskan aku."
"Apa itu barusan? Mengapa tidak ada rasanya?" Tanya Ash yang pura-pura tidak tahu, Padahal ia ingin yang lebih.
"Cium bibir ku!" Kata Ash yang lagi-lagi membuat Shena gugup bukan main.
"Tidak ingin. Tadi Paman sudah berjanji akan melepaskan ku. Aku sudah mencium mu, sekarang lepaskan aku." Tolak Shena yang sebenarnya ingin sekali ia yang lebih dulu memberikan ciuman di bibir seksi milik suaminya.
"Baiklah, Jika begitu kita seperti ini saja sampai besok." Ash kembali mengeratkan pelukannya.
Shena menaikkan sebelah alisnya, Lalu berkata...
"Baiklah, Tapi berjanji setelah ini lepaskan aku." Ucap Shena, dan Ash mengangguk-anggukkan kepalanya.
Shena mulai menetralisir detak jantungnya yang berdegup sangat kencang. Ini pertama kalinya ia memulainya lebih dulu.
Cup!
Shena menempelkan bibirnya ke bibir suaminya. Rasanya kenyal. Walaupun Ash belum membersihkan mulutnya, tapi tidak sama sekali berbau. Malah terasa wangi. Saat Shena ingin menarik bibirnya, dengan cepat Ash menekan kepalanya agar tidak terlepas. Dan dengan cepat Ash membuka mulutnya, lalu melahap bibir istrinya. Shena sampai dibuat terkejut.
"Emmm..." Pekik Shena minta dilepaskan. Namun, rupanya permainan Ash membuatnya lupa diri.
"Huh..." Bunyi napas Shena setelah Ash melepaskan pagutannya. Napas Shena putus-putus dengan wajah yang memerah.
"Kau ingin membunuh ku Paman.." Kesal Shena memukul dada bidang Ash.
"Mana mungkin, Aku hanya mengajari mu cara berciuman yang sebenarnya."
Setelah mengatakan itu, Ash langsung bangkit meninggalkan Shena yang masih berbaring dengan wajah yang memerah. Baru beberapa langkah berjalan Ash kembali lagi memutar tubuh dan menghampiri Shena, Dan...
Cup!
"Selamat Pagi, Istriku..." Ucap Ash tertawa dan pergi meninggalkan Shena yang sekali lagi terkejut dengan perbuatan Ash yang tiba-tiba dan menjengkelkan.
__ADS_1
"Dasar Suami Aneh.." Pekik Shena kesal dengan mengumpatnya.