Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Batu kerikil (season 2)


__ADS_3

"pagi om, tante" sapa putera pada kedua orang tua qiana


"pagi putera" balas mama sheryl dan papa bachtiar bebarengan


"qiana mana om, kok gak kelihatan" tanya putera karena tak melihat qiana  duduk di kursi meja makan padahal di sana ada orang tua qiana dan juga adik qiana


"lagi ambil barang yang ketinggalan di kamarnya" balas papa bachtiar


putera melirik ke arah papa bachtiar "oh ya om, nanti suruh pak anto jemput qiana kuliah jam 2an ya, soalnya jam segitu putera paling masih di kantor dan kayanya gak sempat jemput qiana karena ada rapat" putera menyampaikan pada orang tua qiana kalau dirinya mungkin tak bisa menjemput qiana sekolah seperti biasa jadi lebih baik minta bantuan orang tua qiana untuk emnjemputnya sekolah


"iya nanti om suruh pak anto jemput qiana jam segitu" balas papa bachtiar


"makan dulu put" ajak mama sheryl


"putera sudah makan tante" tolak putera secara halus


"sudah sampai kak" qiana berlari menghampiri putera dan melingkarkan tangannya di lengan putera "yuk berangkat" ajak qiana


putera menoleh ke arah orang tua qiana " om, tante, kita berangkat dulu ya" pamit putera


"hati-hati ya" balas papa bachtiar


"kak besok jangan lupa temani vansh ke acara memanah loh" ucap vansh memperingatkan putera bahwa putera ada janji menemaninya besok


"iya, sore kan acaranya. Soalnya kakak bisanya selepas jam 4" balas putera memastikan janjinya pada vansh


"iya kak, jam lima acaranya" balas vansh


"kalau gitu kami berangkat ya mah, pah" qiana menarik putera agar lebih cepat berangkat


qiana dan putera bergegas masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya menuju kampus mereka "kakak hari ini cuma sampai jam sepuluh ya kuliahnya" tanya qiana menanyakan kembali jadwal kuliah sang kekasih


"iya, kakak cuma ada dua mata kuliah saja" balas putera


"oh" qiana hanya mengangguk saja


tak sampai setengah jam mereka sudah sampai kampus dan masuk ke kelas mereka masing-masing untuk belajar


qiana berjalan menghampiri roland, sahabatnya dan duduk di sampingnya "pagi roland" sapa qiana

__ADS_1


"pagi princess" balas Roland masih sibuk dengan ponselnya


qiana mencuri-curi lihat layar ponsel sahabatnya "pagi-pagi sudah sibuk aja" tanya qiana


"biasa, kesayangan aku nanti minta di beliin makanan pas mampir" roland mematikan ponselnya dan menyimpannya dalam tas


"kamu nanti mau ke apartemen tiara" tanya qiana


"iya" roland menoleh ke arah qiana "mau ikut" tanya roland


"enggak ah, nanti jadi obat nyamuk lagi" tolak qiana, tak ingin nantinya jadi obat nyamuk melihat keduanya sedang asyik pacaran


roland terkekeh "bener juga, yang ada nanti kamu ganggu kita" roland membenarkan ucapan qiana


"tapi nanti pas cindy pulang buat liburan, jangan sibuk pacaran ya, kita kumpul atas nama persahabatan kita" tunjuk qiana sedikit memberi ancaman pada roland


"oke" balas roland


"selamat pagi semua" sapa seseorang saat memasuk kelas qiana dan roland


qiana langsung mendongak mendengar suara yang tak asing di indera pendengarannya "mas Dion" gumam qiana tak menyangka kalau dion ada di hadapannya


qiana memicingkan matanya ke arah Dion " gila tuh laki, nekat emang dia" batin qiana


roland yang memang duduk berdekatan dengan qiana menyenggol lengan qiana "ngebet banget dia sama kamu princess" ucap roland


"bairin saja" qiana mencoba bersikap biasa saja akan kelakuan pria itu yang kini menjadi tenaga pengajar di tempatnya menempuh pendidikan


setelah bel istirahat, atau lebih tepatnya bel pergantian jam kuliah, putera menghampiri qiana ke kelasnya sebelum ke kantor karena jadwa kuliahnya hari ini sudah berakhir


putera masuk ke dalam kelas qiana dan menghampiri qiana yang sedang duduk di kursinya "sweetheart" putera mengecup kening qiana dengan lembut dan qiana biasa saja menerima perlakuan putera yang menjadi tatapan heran semua orang tapi qiana yang memang cuek itu tak menggubrisnya sama sekali


roland memebelalakan matanya lebar tatkala mendengar putera yang memanggil qiana dengan panggilan sweetheart "sejak kapan kakak panggil qiana begitu" tanya roland jadi kepo dengan panggilan putera untuk sahabatnya


putera mengernyitkan dahinya "ada apa dengan panggilan itu" tanya putera dengan santainya


"itu lebih ke panggilan sepasang kekasih tau gak, ketimbang panggilan ke kakak untuk adiknya" balas roland tak habis pikir denan panggilan putera untuk qiana, bukannya qiana adalah adik sepupunya


"kepo" sahut putera tak ingin menjawab roland

__ADS_1


putera ingin biar qiana saja yang menjelaskan pada roland, karena roland adalah sahabta qiana jadi qiana lah yang lebih berhak menjelaskan kenapa putera bisa sampai memanggil seperti itu


putera menoleh ke arah qiana "kakak berangkat ke kantor ya, nanti kamu di jemput pak anto buat pulang ke rumah" putera menyenggol ujung  hidung qiana dengan pelan  "ingat kabarin kakak saat sudah sampai rumah" pinta putera


"iya kak" balas qiana dengan senyuman


kekasihnya itu selalu bisa membuat hatinya berdebar, dan senang dalam sekali waktu


 putera bergegas meninggalkan kampus untuk datang ke kantor ayahnya tanpa tahu ada bahaya mengancam yang sedang mendekati wanitanya denga berbagai cara


"hei jelasin ke aku" tuntut roland saat melihat putera sudah menjauh


Belum sempat qiana menjawab, dion datang menghampiri qiana "bisa kita bicara" tanya Dion


"maaf mas, sepertinya tak ada yang bisa kita bicarakan" qiana menarik tangan roland agar menjauh dari Dion


dion menahan tangan qiana "jangan seperti ini qiana, tolong jangan hindari mas terus " pinta dion dengan suara lirh


qiana menghela nafas kasar "tolong jangan paksa qiana mas, qiana itu gak ada rasa sama mas, jadi qiana minta tolong dengan sangat jangan terus mengatakan ingin menikahi qiana " pinta qiana yang kini sudah mulai risih dengan Dion yang terus ingin menikahinya


Dion sebenarnya sadar usia qiana pasti belum lah ingin menikah tapi qiana sendiri yang bilang kalau dia tak ingin berpacaran dan ingin langsung menikahs aja jika sudah bertemu dengan pria yang tepat dan itu tentu membuat Dion terus ingin menikahi qiana karena Dion benar-benar tak ingin kehilangan qiana "kita bisa mencoba dengan jadi lebih dekat qiana, mas pasti bisa buat kamu jatuh cinta sama mas" ucap Dion dengan yakin


"maaf mas, qiana gak bisa " qiana kembali menarik tangan roland agar menjauh dari sana


roland hanya pasrah saja jadi bahan properti pendukung untuk di tarik sana-sini oleh qiana "kenapa kamu gak mau nerima pak dion sih, kayanya dia cinta banget sama kamu" tanya rolanda penasaran akan alasan qiana yang menolak Dion


"sudah aku bilang berapa kali kalau hatiku itu gak tergerak sama sekali karena mas dion jadi buat apa aku menjalin hubungan dengannya " balas qiana


"iya sih, kalau gak cinta ya gak bisa di paksa" roland mengangguk mengiyakan


"beli camilan di kantin yuk, sekalian nunggu kelas kita selanjutnya " ajak roland


"ayok" qiana ikut dengan roland ke kantin sekedar mengobrol untuk menunggu kelasnya beberapa jam lagi


"gimana tiara, masih betah dia di apartemen sendirian" tanya qiana


"masih, malahan dia seneng banget tinggal sendiri soalnya gak ada yang usik dia lagi sih, cuma..." roland menggantungkan ucapannya


"cuma apa" tanya qiana

__ADS_1


"saudaranya itu loh qiana" roland jadi bingung sendiri ingin menceritakan perihal saudara tiara yang baru saja muncul itu atau tidak


__ADS_2