
celetukan sang ayah tentu membuat Putera menaruh harap besar bahwa itu benar terjadi dengan istrinya "kalau ternyata aku gak hamil gimana kak?" Qiana tak ingin suaminya kecewa jika sudah begitu berharap akan sesuatu tapi ternyata tuhan belum memberikannya
Putera tersenyum ke arah istrinya "kalau belum tinggal buat lagi setiap malam" balas putera dengan begitu entengnya
"kakak" Qiana langsung saja merengek akan ucapan vulgar suaminya yang tidak tahu tempat itu
Putera menggenggam tangan Qiana dengan begitu lembut "dengar sweetheart" Putera membawa tangan Qiana ke atas pangkuannya " kakak menikah denganmu untuk jadi teman berbagi kakak di sisa hidup kakak, punya anak hanya sebagai salah satu reward saja untuk pernikahan kita" putera memandangi wajah Qiana dengan lekat "kakak tahu kamu merasa minder karena kedua sahabat kamu sudah lebih dulu hamil dari kamu, Cindy yang tinggal menghitung hari melahirkan sedangkan Tiara yang sudah mulai terlihat perut buncitnya" cicit Putera
Qiana menunduk tak sanggup menatap wajah suaminya karena jelas akan terlihat wajah sedihnya itu "kakak tahu kalau Qiana ngerasa itu" Qiana tak menyangka suaminya tahu akan kekhawatirannya yang sampai saat ini belum di beri kepercayaan memiliki keturunan padahal usia pernikahannya sudah memasuki usia 7 bulan lamanya
"tentu saja kakak tahu, kamu istri kakak dan wanita yang sudah ada di hidup kakak sejak kecil jadi tentu kakak tahu kesedihan kamu tanpa kamu bilang ke kakak" balas Putera
"aku cuman sedih belum jadi wanita sempurna yang bisa kasih kamu keturunan padahal teman-temanku sudah hamil dan tinggal aku yang belum" jelas Qiana
putera mengusap kepala Qiana "kamu lupa kalau usia pernikahan Cindy 3 tahun barulah mereka punya anak" tanya Putera
"iya ya kak" Qiana baru teringat kalau Cindy sudah lebih dulu menikah darinya dan baru di karunia anak setelah tiga tahun usia pernikahannya
"nah itu Sweetheart, kita baru 7 bulan menikah jadi santai saja. Kita di sini hanya memastikan saja" putera dan Qiana sekarang sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan Qiana apakah benar hamil atau tidak
Putera sengaja memilih rumah sakit luar, bukannya milik keluarganya karena tak ingin orang tuanya tahu karena putera punya rencana memberi kejutan pada keluarga besarnya jika benar Qiana hamil jadilah ia harus mengantri untuk periksa padahal jika di rumah sakit keluarganya tentu ia akan langsung masuk ke ruang dokter tanpa antri
"nyonya Qiana" panggil seseorang yang di lihat dari pakainnya adalah perawat
"iya" sahut Putera
__ADS_1
"silahkan masuk pak" perawat rumahs akit itu mempersilahkan Putera dan Qiana memasuki ruangan praktek dokter kandungan bernama dokter Andre yang bisa di lihat dari balik pintu ruangan tertera nama sang pemilik ruangan
putera dan Qiana berjabat tangan pada sang dokter " pagi dokter" sapa Putera menyapa sang dokter
"pagi pak, ada keluhan apa nih" balas sang dokter
"gini dok, istri saya kan telat datang bulan jadi saya mau periksain apa istri saya hamil atau tidak sebab, dari kemarin-kemarin saya bawaannya mual terus dan kata ayah saya mungkin istri saya sedang hamil" jelas Putera
"kalau begitu kita periksa saja ya pak" Qiana berjalan ke atas brangkar untuk di periksa
perawat dokter andre akan menyingkap pakaian Qiana tapi langsung di tahan Putera "boleh gak dok kalau saya saja yang megang alat itu, dokter lihat layarnya saja " pinta putera sebab putera tak ingin ada yang melihat perut sang istri
Dokter andre mengerutkan keningnya "anda bisa memakainya " tanya Dokter
"bisa dok, kebetulan papa saya adalah dokter kandungan jadi saya tidak asing dengan alat itu karena waktu mama saya hamil adik bungsu saya sering memakainya " jelas Putera
"Wah ternyata benar istri anda sedang hamil" ungkap dokter andre
putera bisa melihat bulatan kecil di dalam layar " berapa usianya dok" tanya putera yang sudah tahu kalau istrinya hamil saat melihat layar besar itu
"8 minggu usianya, dan kondisinya cukup sehat" jelas sang dokter
Putera mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan sang dokter tentang kehamilan Qiana sedangkan Qiana masih bengong memandangi layar yang ada di hadapannya itu, di masih tak menyangka kalau sekarang ada satu nyawa di dalam perutnya
Putera merapihkan pakaian Qiana dan mengusap lembut pipi Qiana agar Qiana tersadar dari lamunannya "terima kasih sudah memberikan hadiah berharga untuk kakak" Putera mengecup dalam kening Qiana
__ADS_1
Qiana memejamkan matanya saat Putera mengecup keningnya, ada rasa hangat mengalir di dadanya, bahagia, haru dan nyaman yang bercampur jadi satu, bahagia kini dia akan jadi seorang ibu
"aku hamil mas" cicit Qiana dengan suara seraknya
putera melerai kecupannya dan mengusap pipi istrinya yang sudah basah sebab menangis haru akan kabar bahagia yang sudah ia tunggu sejak mereka menikah "iya sweetheart kamu hamil dan kita akan segera jadi orang tua" balas putera
Qiana langsung bangun dan memeluk suaminya, menangis sesenggukan di dalam dada bidang sang suami karena kalai ini ia bisa memberikan hal yang membahagiakan untuk sang suami, karena ia sempat takut tidak bisa memberikan keturunan untuk putera
***
Di dalam perjalanan pulang tak henti-hentinya Putera mengecup tangan Qiana yang terus ia genggam dengan satu tangannya sedangnya sedangkan satu tangan lainnya masih sibuk di alat kemudi "kakak bahagia" tanya Qiana dengan senyum mengembangnya
"tentu saja kakak bahagia" balas Putera
"aku juga bahagia kak, kemarin aku sempat takut gak bisa kasih keturunan buat kakak tapi sekarang aku sudah yakin bahwa Qiana bisa kasih kakak anak" jelas Qiana
"dengar Qiana, kehamilan kamu memang membuat kakak bahagia tapi yang paling membuat kakak bahagia kakak adalah kamu, karena kamu sumber kebahagiaan kakak dan segalanya buat kakak" balas putera
"kita mau kabarin keluarga kita kapan kak" tanya Qiana
"besok kan waktu kita kumpul di rumah kakek Burhan nanti kita kasih tahu saja pas di sana " balas Putera
"boleh kak, sekarang kita kasih tahu ayah dulu di rumah. Ayah pasti senang banget dengar kabar ini" Qiana setuju saja akan ucapan putera
"pasti ayah senang banget dengar kamu hamil" timpal Putera
__ADS_1
"semoga dengan kabar kehamilan Qiana membuat keinginan sembuh ayah jadi makin besar ya kak" ucap Qiana menyelipkan sebuah Doa untuk ayah putera yang kini sedang sakit keras
"semoga saja Sweetheart" putera mengaminkan saja sebab ia juga ingin kebersamaan dengan kakek Bimo lebih lama sebab itensitas kebersamaannya dulu dengannya terbilang cukup sebentar karena memang dirinya yang tidak tahu kalau kakek Bimo adalah ayah kandungnya, dulu ia menganggap kakek Bimo hanyalah kakeknya saja