
Saat ini Ash masih dengan keperluan pentingnya di ruang meeting. la melupakan satu hal, yaitu Shena yang menunggu di ruangan kerjanya. Dan teringat akan Soya, Wanita itu sudah beberapa hari mencoba menemui dirinya. Seperti saat ini, ia sudah berada di depan ruangan milik Ash dengan rantang yang ia bawa ditangannya. Dengan percaya dirinya ia tersenyum dan memperlihatkan keangkuhan dirinya.
"Oke Soya, lakukan semuanya dengan baik. Kau tidak boleh gagal lagi." Batin Soya. Ia tersenyum membayangkan saat-saat bersama Ash berdua. Namun, semua senyumannya menghilang ketika pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang tengah terbaring tidur di atas sofa.
"Shena.." Pekik Gumam Soya menatap sekali lagi siapa wanita yang tengah tertidur itu.
"Apa? Bagaimana bisa wanita ****** ini ada di sini?" Soya sekali lagi menatap tidak percaya. Pasalnya, Soya tidak akan pernah percaya jika mereka sudah menikah. Orang seperti Shena mana mungkin bisa berkenalan dengan seorang pengusaha sukses seperti Tuan Muda Ash Vinson itu, Apalagi mereka sudah menikah.
Wajah Soya langsung berubah marah. la benar-benar tidak menyukai keberadaan Shena yang menurutnya begitu ingin menyaingi dirinya.
"Hei wanita tidak tau diri.." Bentak Soya menarik rambut Shena hingga wanita itu mengaduh kesakitan. Tangan kecil Soya dengan cekatan meremas anak rambut Shena hingga nampak hampir tercabut.
Shena tidak ingin kalah, Ia juga sama-sama berbalik menarik rambut Soya hingga mereka saling jambak.
"Lepaskan! Rambutku sakit.." Lirih Shena yang tidak tahu siapa yang melakukan ini. Lagipula tarikan itu saat ia sedang tertidur nyenyak. Mana tahu siapa yang sudah melakukan ini padanya.
"Kau, wanita tidak tahu diri! Mengapa kau ada di ruangan tunangan ku? Apa yang kau lakukan di sini?" Pekik Soya dengan begitu kerasnya, hingga beberapa karyawan yang sedang berada di lantai tersebut berlari melihat apa yang terjadi.
Namun, Tiba-tiba Shena mengetahui satu hal, Ia tahu siapa yang saat ini masih menarik rambutnya, dari suaranya sudah dipastikan jika seseorang ini adalah, "Soya ."
"Soya ? A-apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Shena yang juga terkejut melihat kehadiran Soya .
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Apa yang kau lakukan di sini? Jangan katakan jika kau berusaha menggoda tunangan ku.." Ujar Soya semakin menarik rambut Shena hingga kembali mengaduh sakit. Namun, Shena tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan ia hanya meremehkan Soya dalam hatinya.
"Soya tolong lepaskan, kau membuat kepala ku sakit."
"Kau hanya seorang ****** yang merebut pria yang sudah dijodohkan dengan ku! Kami bahkan seharusnya sudah bertunangan." Keras kepala Soya yang masih saja tidak membuatnya kapok dan terus mencap Ash adalah pria yang dijodohkan dengannya.
"Tunangan? Kau ini sudah pikun atau apa, Siapa yang kau sebut tunangan? Apa dia adalah suami ku? Soya, Sepertinya kau harus pergi ke psikiater untuk menyembuhkan mu dari penyakit jiwa. Siapa tahu kau sudah gila sampai otak mu itu tidak bekerja untuk menerima kenyataan bahwa aku ini istrinya." Ketus Shena kejam.
Pernyataan Shena dihadapan karyawan yang hanya menjadi penonton, Sangat membuat mereka syok rupanya Shena yang bergandengan tangan dengan Ash tadi adalah istrinya.
Shena mercerca sambil mencoba melepaskan tangan Soya dari rambutnya. Namun, Soya malah meminta beberapa karyawan yang tengah menonton mereka untuk membawa Shena keluar dari perusahaan milik Ash. Tentu saja tidak ada yang berani menyentuh istri dari seorang Ash.
Karena tidak ingin terkena imbas pertengkaran tersebut, salah seorang dari mereka melaporkan kejadian tersebut pada Asisten Kenan.
__ADS_1
"Tuan.."
Seseorang yang baru saja tiba memanggil Kenan, Kenan yang melihatnya langsung mengisyaratkan agar pria itu diam. Karena di dalam ruangan, Ash sedang melakukan meeting penting.
"Tuan ini penting, Ada seorang wanita yang mengamuk di dalam ruangan Presdir. Sebaiknya Tuan segera meleraikan mereka." Mengadu pria tersebut dengan cepat.
"Siapa yang bertengkar? Bicara yang jelas!" Kenan mengerutkan keningnya.
"Ada seorang wanita yang memaksa masuk ke dalam perusahaan, dan saat ini wanita itu tengah mengamuk dan mencoba mencelakai Istri Presdir Ash." Yah, semua karyawan di perusahaan itu memang sudah mengetahui siapa Shena sebagian. Apalagi saat acara pernikahan mereka waktu lalu, ada beberapa karyawan yang memang diundang.
Kenan yang baru mengerti dengan situasinya langsung terkejut dan masuk ke dalam ruangan, walaupun saat ini Ash tengah menatapnya dengan sangat tajam. Ia membisikkan ditelinga Ash hingga pria tersebut langsung berdiri meninggalkan ruangan.
"Siapa yang mengizinkan wanita itu masuk ke dalam perusahaan ku?" Suara Ash yang begitu menakutkan itu membuat Willie dan Kenan rasanya ketakutan. Tapi mencoba untuk tetap biasa saja.
"Wanita itu memaksa masuk, Presdir! Sepertinya dia masih berpikir jika Tuan sudah menerima perjodohan kalian waktu itu.." Jelas pria yang melaporkan.
"Seharusnya kau membuat penjagaan lebih ketat lagi, Jika sampai terjadi sesuatu dengan istri ku, Lihat saja!"
Ancam Ash dengan mengepalkan erat tangannya. Willie dan Kenan sudah menduganya, Ash tetap akan memarahinya walau dirinya tidak memberitahunya sekalipun.
"Lepaskan!" Teriak Ash menggema.
Bentak Ash yang begitu marah saat dirinya melihat wanitanya tengah meringis kesakitan.
Soya pun berbalik dan menatap pria yang tengah menatap elang padanya.
"Tu-tuan, Maafkan aku membuat keributan, Tapi wanita ini sudah lancang masuk ke dalam ruangan anda, Tuan." Ucap Soya mencoba menjelaskan yang sebenarnya itu tidak penting bagi Ash. Karena baginya, yang bersalah adalah dirinya yang sudah berani mengusik ketenangan istri dari seorang Ash.
"Lepaskan tanganmu, atau aku akan mematahkan tanganmu!!" Bentak Ash sekali lagi dengan nada yang tinggi, dan alhasil Soya terpaksa melepaskannya.
Ash yang begitu marah menatap wajah Soya dengan tatapan membunuh. la menarik istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" Tanya Ash memeriksa setiap inci tubuh istrinya.
"Aku baik-baik saja. Tapi kepala ku sakit sekali rasanya, Paman."
__ADS_1
Mengadu Shena menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya. Shena seolah sengaja membuat Soya iri seperti sebuah pemberitahuan kepada Soya bahwa dirinyalah yang sebenarnya wanita tidak tahu malu. Shena mengusap-usap kepalanya dan bersikap manja pada Ash sambil melihat Soya yang begitu terkejut melihat interaksi antar pasutri tersebut karena ia cemburu.
"Apa yang kau lakukan wanita gila? Lepaskan dia!"
Soya yang begitu kesal ingin menarik kasar tubuh Shena, Namun dengan sigap Willie dan Kenan menahannya.
"Jangan sekali-kali anda berani menyentuh Nona Shena! Atau anda akan menyesal nantinya." Hardik Kenan menyeretnya keluar dari ruangan.
Shena yang melihat kepergian Soya langsung saja melepaskan pelukannya dari tubuh Ash dengan wajah yang berubah kesal. Ia berjalan ke arah sofa dan kembali menjatuhkan tubuhnya dengan sangat kesal.
"Apa yang dia katakan tadi? Tunangan? Yang benar saja, Aku tidak habis pikir, Wanita itu selalu saja ada di mana-mana. Pernikahan ku sudah diketahui olehnya, Tapi dia wanita gila yang begitu keras kepala hingga kehilangan akal menepis hubungan ku dengannya! " Batin Shena mengentakkan kakinya dengan sangat kesal.
"Sekarang jelaskan padaku, Apa semua berita untuk menjatuhkan dia, Itu hanya sebuah kebohongan besar hanya agar Aku bisa mempercayai mu. Padahal kenyataannya, Ia masih kerap kali mendatangi mu setiap hari kemari? Apa kalian bersekongkol dan saat ini masih menjadi kekasih dari perjodohan yang selalu saja dia bahas kemanapun?" Tanya Shena dengan nada yang marah, Ia melihat Ash yang saat ini duduk disebelahnya.
"Kau pikir aku seburuk itu? Jika aku memiliki kekasih gelap di belakang mu, Aku pastikan wanita itu jauh lebih seksi dan cantik daripada kau dan juga wanita gila tadi." Ash menjawabnya sambil tersenyum jahil, Ia senang melihat Shena yang saat ini marah-marah karena kehadiran wanita lain.
"Apa katamu? Hei, Tuan Ash yang terhormat! Kau itu benar-benar menyebalkan.."
Ini adalah pertama kalinya Shena memanggil Ash dengan Tuan untuk pertama kalinya. Shena langsung membuang arah pandangnya. Ash mengangkat tangannya, Lalu mengusap rambut Shena dengan sangat lembut.
"Apa tadi sakit? Coba aku lihat.."
Bukannya diam, Shena malah langsung menepis tangan Ash dengan kasar. Entah setan apa yang merasuki dirinya, yang pasti saat ini ada sudah benar-benar kesal.
"Kau ini kenapa?" Tanya Ash saat lagi-lagi Shena menepis tangannya.
"Ah sudahlah, Aku malas berbicara dengan mu! Sekarang aku ingin pulang saja." Ketus Shena mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Ash yang tersenyum menatap istrinya yang tengah marah itu.
"Kau yakin ingin pulang?" Ujar Ash, dan Shena menghentikan langkahnya.
"Bagaimana jika teman mu yang tadi datang lagi? Apa kau akan baik-baik saja?" Tanya Ash kembali tersenyum saat wajah Shena berubah menjadi semakin marah. Cemburu? Ah entahlah, Ash tidak bisa memastikan itu. Yang jelas ia sangat menikmati hal yang terjadi seperti ini.
"Baiklah jika kau ingin tetap pulang, Aku akan meminta Willie mengantarkan mu." Ujar Ash lagi.
Shena yang begitu kesal mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan menatap Ash begitu tajam. la melipat kedua tangannya ke dada dan tidak ingin melihat wajah Ash.
__ADS_1