Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 27 - Cara Epic Membangunkan Suami


__ADS_3

Ash hendak memajukan badannya pada Shena. Tapi sebelum itu, kaca besar di samping ranjang, bahkan sebesar dinding kamar mengalihkan perhatian Ash.


"APA-APAAN INII??" Pekik Ash terkejut.


Shena tidak bisa menahan tawanya lagi dan ketika Ash baru menyadari, Dia langsung tertawa lepas dan lari begitu saja keluar dari kamar.


Yang dilakukan Shena.



(Ilustrasi)


"YAK!! Shena Myles!!! Ck.. Gadis nakal itu!" Ash berlari keluar kamar menyusul Shena untuk mengejarnya.


Ia berhasil merengkuh tubuh istrinya yang ditahan dan tidak bisa pergi lagi. Tepat di depan Shena, Ash menatap Shena yang setengah gugup.


Ia pun langsung kembali membawa Shena masuk ke dalam kamar mereka dan menguncinya karena jika terus saja di luar, Ash takut akan ada banyak orang yang berlelangan di koridor. Bagaimana jika orang itu melihat wajah cemong Ash? Ingin ditaruh di mana wajahnya nanti? Pasti akan ada yang memotret dan memanfaatkan keadaan dengan mengupload ke sosial media, lalu menjadi trending! Harga dirinya sedang dipertaruhkan!


"Kau pikir, Kau bisa melarikan diri dariku, Hem?? Lihat, Apa yang sudah kau buat dengan wajah ku!?" Ash menunjuk wajah cemongnya.


"A-a-a-a-apa?!!" Ketakutan Shena akibat gugup, takut Ash akan marah.


"Ngomong-ngomong, Suamimu ini juga bisa menggambar." Ucap Ash tersenyum smirk jahil. Membuat Shena menahan napasnya.


Sedetik kemudian, Ash hendak menarik Shena, tapi Shena berhasil menghindar, hingga Shena terpekik kaget.


Shena jatuh terperanjat di sofa besar karena tarikan Ash.


"Jaanngaann!!!" Teriak Shena dengan tawanya.


Tangan Ash membalikkan tubuh Shena hingga terlentang di bawahnya, dengan tangan kanan memegang spidol yang siap dilayangkan pada wajah Shena untuk menggambar sesuatu yang dilakukan juga seperti istri padanya.


"Paman!! Kau ingin apa?"


"Kau pikir aku ingin apa?"


"Singkirkan spidol itu, Paman."


"Tidak bisa!! Aku ingin menggambar sesuatu yang indah."


"Ta-tapi tidak di wajahku juga, kan?"


"Menurutmu?!"


"KYYAAA!!! Paman!!


"Tidak boleh! Ini tidak adil! Paman!! Oh, Aku tidak membawa Make Remover. Tolong jangaann.."


Ash tersenyum semringah berhasil melumpuhkan Shena.


"Kira-kira apa yang harus aku gambar?"


"Yaaaaa... Tidak Boleh.. Aku menyerah dan mengaku kalah. Aku bersumpah!!"


Ash tetap menghiraukan istrinya.


"Aish.. Jika Paman melakukannya, Aku bersumpah tidak akan bicara dengan mu selamanya."

__ADS_1


"Oh, Kau mengancam ku?! Bahkan aku rasa kau akan melanggar sumpah mu itu, karena kau tidak akan bisa berbicara dengan ku sedetik saja. Kau lupa ya, bahwa kau sering bertengkar dengan ku?"


"Tidak. Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan. Kau bahkan melempar ku ke kolam ketika membangunkan ku di hari pertama kali kita bertemu dan pernikahan itu. Dan sekarang, masa aku tidak boleh membalasnya. Ini tidak adil!!"


"Kenapa kau tidak membalasnya dengan menceburkan ku juga?!"


"Yang benar saja!! Aku mana kuat mengangkat mu. Sekarang Lepaskan!!! Yaa!! aku bahkan menyiapkan mu sarapan."


"Terima kasih. Tapi akan ku makan setelah tugas ku ini selesai."


Ash mendekatkan wajah dan spidolnya di depan wajah Shena, membuat Shena memejamkan mata. Tapi, bukan malah spidol yang di layangkan di wajah mulus Shena, melainkan Ash malah mengamati dalam-dalam setiap inci wajah Shena.


"Ini tidak adil!! Paman, Kau sangat menyebalkan.." Rengek Shena masih memejamkan mata karena ia kira Ash sedang mencorat-coret wajahnya.


Ash semakin mendekatkan wajahnya pada Shena.


Chup!


Satu kecupan dilayangkan Ash tepat di bibir Shena. Tidak ada *******, hanya menempel!


Refleks mata Shena terbuka lebar, tidak berniat membalas kecupan Ash. Ia masih mengira Ash akan mencorat-coret wajahnya, tapi yang ia dapat malah ciuman bibir. Sekian detik, kecupan itu menjadi ******* lembut.


Entah sejak kapan tangan Ash sudah berada di dalam kemeja yang Shena pakai. Itu adalah kemeja miliknya, Bahkan istrinya itu belum sempat mengganti pakaian karena tadi terburu lapar.


"Pa-maan..." Lirih Shena saat mulutnya sedikit ada celah untuk berbicara.


Ash terasa tuli. Ciumannya semakin panas, Membuat tangan Shena yang menahan dengan tangan Ash tidak hentinya mengelus perut rata Shena, hingga sampai pada 2 gundukan, tangan Shena menahannya.


"Paman.. Ak-aku belum siap untuk melakukannya lagi. Ku mohon, Jangan!" Kata Shena.


Tangan Ash berhenti. Seketika Ash bangkit dari atas tubuh Shena dengan wajah kesal dan kecewa. Sekesal bagaimana pun Ash pada Shena, Ash tidak akan bisa marah dengan wanita yang dicintainya.


"A-aku akan menyiapkan sarapan untukmu." Kata Shena dengan menunduk akibat malu.


Ia pergi melenggang keluar untuk menghangatkan sarapan Ash kembali untuk kedua kalinya karena makanan itu sudah dingin lagi.


Argh!!


Saat Shena keluar dan dikira sudah semakin jauh. Ash mengerang kekesalan dan mengacak rambutnya kasar. Entah karena ia kecewa pada dirinya sendiri selalu tidak bisa menahan hawa nafsunya, atau ia kesal karena Shena terus saja menolak saat diajak?! Entahlah...


...***...


Ash dan Shena sudah keluar dari hotel penginapan mereka dan rencananya akan pulang ke Mansion. Pakaian Shena pun sudah diganti sembari membersihkan diri. Pakaian itu sesuai dengan style yang ia sukai dengan menggunakan dress selutut. Ash meminta Arthur dan Dayn untuk membelikan pakaian baru Shena di mall. Mungkin ia bisa saja meminta mereka membawa pakaian Shena dari Mansion, tapi prinsip orang kaya mungkin pakaian yang sudah dipakai tidak bisa dipakai dua kali!


"Paman, Apa kita langsung pulang?" Tanya Shena di dalam mobil.


Meskipun Shena sudah tahu jika usia suaminya 26 tahun yang tidak setua ia kira tahu selama ini, Panggilan Paman ini sudah seperti panggilan sayang terhadap suaminya. Karena mereka sudah lama menikah dan Shena sudah terbiasa dengan panggilan itu, Shena sudah telanjur nyaman dan terasa sulit sekaligus kaku jika perlu memanggilnya dengan Tuan Ash atau bahkan Ash saja!


"Kenapa? Kau ingin mampir ke suatu tempat?"


"Akuu... Ingin ke supermarket. Aku ingin belanja bulanan."


"Baik. Kereta kencana sang pangeran ini, Siap mengantarkan Tuan putri ke tujuan." Goda Ash yang membuat Shena merasa terhibur dan hatinya jadi hangat mendengar perlakuan Ash yang selalu romantis.


Ash mulai melajukan mobilnya memutar arah.


Di Supermarket

__ADS_1



Mereka sudah berada di supermarket.


"Paman, Aku ambil yang ini, ya?!" Kalap Shena saat sampai di supermarket.


"Iyaa.. Ambil saja apa yang kau inginkan." Kata Ash.


"Aku ingin ini?!!"


"Ambil saja!" Ucap Ash terus mengikuti istrinya dari belakang dengan mendorong Trolly.


"Ini juga, ya?!"


"Iyaa..." Sabar Ash meladeni.


"Ahh, Aku juga ingin yang ini."


"Hemm..." Jawab Ash yang mulai bosan.


"Ini..." Kalap Shena tidak henti mengambil barang.


"Paman, Aku ambil ini ya, Apa kau ingin juga??" Tanya Shena lagi.


"Ambil saja sayang!" Jawab Ash berusaha bersabar. Hingga pada akhirnya ia kesal sendiri.


"Astaga.. Aku sering belanja sendirian, Tapi tidak selama ini. Aku sungguh lelah!" Batin Ash mendumal.


Mereka memang sudah berkeliling supermarket hingga 2 jam lamanya.


Shena terkekeh menatap Ash.


"Kenapa kau tertawa?"


"Ehehehe.. Kau lucu."


"Apa yang lucu?!"


"Ehehee... Bawa ini!! Ayo kita ambil barang yang lainnya."


Mereka memasuki beberapa rak barang, dan beberapa kali juga Shena membawa beberapa tumpukan snack cemilan juga masuk ke Trolly yang di dorong Ash.


Kedatangan mereka pun tidak luput dari pusat perhatian orang lain yang sedang berbelanja juga menatap kagum ke arah mereka.


"Astaga, Apa kau akan membeli semua cemilan ini?" Tepuk jidat Ash tidak habis pikir. Ash juga terlihat sangat lelah karena sudah lama menemani istrinya berkeliling kesana kemari sambil mendorong Trolly yang lama-lama ditambah banyak isi barang oleh Shena tidak tanggung dan membuatnya berat.


"Tentu saja tidak. Bukan aku yang membeli, Paman yang membelinya karena paman yang akan membayar semuanya, bukan?"


"Aduhh... Jadi, Seperti ini rasanya ketika seorang suami menemani istrinya berbelanja?! Lebih baik aku tunggu di kasir saja." Kata Ash mengeluh.


Shena hanya tersenyum terlihat giginya putihnya tanpa dosa.


"Belum selesai!! Kita harus berbelanja bahan memasak untuk maid."


"Astaga!! Kapan semua ini berakhir. Aku bisa pingsan di sini." Kata Ash tidak kuat lagi karena Trolly nya saja sudah sulit di dorong. Tapi Kesabaran Ash setebal selimut tetangga, Ia sangat berusaha mendorong Trolly itu dan perlahan hanya sedikit bisa maju.


Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini... Ini...

__ADS_1


Shena sedang memilih dan mengambil barang yang ia perlukan.


__ADS_2