
Jemina memandangi ponselnya yang masih terlihat nama orang yang barusan melakukan panggilan telpon dengannya “kok om burhan aneh ya” gumam jemina merasa aneh dengan tingkah ayah burhan
jemina sedikit mengabaikan keanehan kekasihnya dan memilih kembali masuk ke ruang private yang sudah di pesan ayah bimo untuk bertemu rekan bisnisnya
Ayah bimo melihat jemina yang sudah masuk kembali dalam ruangan “siapa yang telfon kamu, jemnina” Tanya ayah bimo
“salah satu kenalan jemina yah” jemina duduk di samping ayah bimo
“masih lama gak yah, jemina bosan” ungkap jemina merasa sudah bosan di sana karena mereka sudah ada di sana selama tiga puluh menit
"sebentar lagi juga mereka akan sampai” balas ayah bimo
Dan benar saja dua orang beda generasi yang di tunggu itu pun masuk ke dalam ruangan “maaf bimo, tadi
ada sedikit masalah di jalan” ucap pria bernama Albert wijaksono menghamipiri ayah bimo dan menjabat tangan sahabat sekalihus relasi bisnisnya
Tuan albert melirik ke arah jemina yang tepat di sebelah ayah bimo “ini anak sulung kamu ya” Tanya tuan albert
memastikan bahwa wanita di sebelah ayah bimo adalah anak sulung ayah bimo karena mereka memang belum pernah bertemu
ayah melirik sekilas ke arah jemina “iya dia anak sulungku” balas ayah bimo
tuan albert menjabat tangan jemina untuk berkenalan “oh ya kenalkan” tuan albert menoleh ke arah pria muda di sebelahnya “dia anak saya, namanya dimas wijaksono” ucap tuan albert memperkenalkan anaknya pada jemina
Dimas mengangkat tangannya agar bisa berjabat tangan dengan jemina “dimas” ucap dimas
Jemina menyambut jabatan tangan dimas dengan sopan “jemina” balas jemina
__ADS_1
ayah bimo tersenyum simpul saat jemina berjabat tangan dengan dimas “ya sudah kita makan dulu ya” ajak ayah bimo untuk menikmati hidangan yang sudah di pesan ayah bimo sebelum tuan albert dan dimas datang
Saat makan, hanya terdengar obrolan seputar pekerjaan yang benar-benar jemina tak mengerti karena memang jemina sama sekali tidak pernah terjun ke perusahaan ataupun belajar tentang itu. dulu jemina hanya kuliah dengan jurusan tata boga, tapi jemina tak terlalu suka memasak hanya dia tahu dasarnya saja
tapi walaupun jemina tak suka memasak bukan berarti ia tak bisa memasak, bisa tapi dia tak suka berkutik di dapur yang menurutnya melelahkan. kadang jemina juga merasa aneh dengan dirinya kenapa mengambil jurusan tata boga jika dia tak suka memasak. dan jawabannya jemina hanya suka hal berhubungan dengan inovasi makanan dan pemasarannya saja, maka dari itu dia memiliki beberapa restoran yang dia rintis sendiri tanpa bantuan ayahnya
jemina memutar matanya malas saat mengaduk makanan yang sudah malas ia makan karena bosan“ kenapa juga aku di ajak ke sini sih” batin jemina merasa jenuh di dalam ruangan itu
tuan albert melihat raut wajah bosan yang terpampang jelas di wajah jemina “sepertinya anak kamu bosan dengan obrolan kita” seru tuan albert pada ayah bimo
Ayah bimo menoleh ke arah jemina “mungkin juga, dia kan memang gak suka mengurus perusahaan, biasanya yang urus perusahaan adiknya, di mah tinggal terima persenannya aja” sahut ayah bimo dengan kekehan
“gak gitu ya yah, jemina kan juga punya usaha sendiri” balas jemina mencebikkan bibirnya tak suka dengan pernyataan ayahnya yang mengatakan dia hanya menikmati hasil keuntungan perusahaan
Ayah bimo mengusap kepala jemina “iya ya, ayah tahu itu. Ayah kan hanya bercanda” balas ayah bimo
ayah bimo menoleh ke arah tuan albert “sayang tentu aku sayang banget sama dia, kan jemina anak perempuanku satu-satunya jadi tentu aku sayang dengan dia. Tapi kalau soal menikah aku gak pernah ngelarang dia, dianya aja yang gak mau menikah” balas ayah bimo dengan kekehan
"kenapa, anak kamu cantik loh dan pasti banyak yang antri" sahut tuan albert
"belum pengen aja om" sahut jemina yang tak ingin membahas perihal pernikahan
“gimana kalau kita jodohin anak kita, kebetulan dimas juga belum nikah padahal sudah 35 tahun “ tawar tuan albert agar jemina dan dimas di jodohkan
Ayah bimo jadi bersemangat setelah obrolan itu mulai di buka “sepertinya boleh” ayah bimo menoleh ke arah jemina “nikah saja sama dimas, dia anak yang baik dan pekerja keras loh” ucap ayah bimo
Jemina menatap tajam ayah bimo “gak mau” balas jemina dengan tegas
__ADS_1
tuan albert mengerutkan keningnya mendengar penolakan jemina yang begitu yakin dan tanpa berpikir panjang “loh kenapa, apa anak saya ada yang kurang” Tanya tuan albert
Jemina menoleh ke arah tuan albert “bukan begitu om, tapi saya gak bisa menerima perjodohan ini” balas jemina dengan tegas
“kenapa? Kita kan belum sempat saling mengenal kenapa sudah langsung menolakku” Tanya dimas sedikit tersinggung karena jemina langsung menolak dengan tegas perjodohan mereka yang belum di mulai dan baru di bahas itu
“iya jemina, kenapa. Usia kamu sudah 31 tahun loh, sudah waktunya menikah dan dimas adalah orang yang baik” ayah bimo ingin anaknya segera menikah apalagi menurut ayah bimo dimas orang yang baik dan pekerja keras
“aku gak mau yah, jadi tolong jangan di paksa ” ucap jemina dengan tegas
"ya kenapa, bilang sama ayah” Tanya ayah bimo ingin alasan pasti kenapa jemina menolak di jodohkan padahal usianya sudah menginjak kepala tiga bahkan adiknya saja sudah menikah dua kali dan akan segera memiliki anak
jemina menghela nafas panjang, mungkin sudah waktunya ia harus jujur pada ayahnya " sudah ada orang yang jemina cinta, dan kami sudah berpacaran 2 tahun lebih dan kami juga akan segera menikah” jelas jemina akan alasanya yang menolak tegas perjodohan yang di rencanakan ayahnya
“siapa?” ayah bimo menatap tajam putrinya yang menyembunyikan hubungannya selama dua tahun “kalau kamu pacaran dengannya selama itu harusnya dia sudah datang pada ayah dan meminta kamu pada ayah” tatapan ayah bimo benar-benar mengintimidasi jemina “atau jangan-jangan dia hanya mempermainkan kamu” tebak ayah bimo akan kekasih putrinya
Jemina hanya diam menunduk dan tak mampu menjawab dengan siapa ia berpacaran karena tak ingin membebani ayah burhan jika sampai ayahnya tahu kalau dirinya berpacaran dengan duda berusia 47 tahun yang jelas jarak usianya teramat jauh “jawab jemina” bentak ayah bimo
seseorang membuka pintu dengan kasar dan nafas terengah-engah, mungkin saja sehabis lari “itu aku” sahut seseorang di balik pintu
Ayah bimo menoleh ke arah pintu “kamu” ayah bimo menatap tajam ayah burhan yang barusan datang ke sana dan mengatakan dirinya adalah kekasih putrinya
“apa maksud kamu burha!n” teriak ayah bimo tak terima jika ayah burhan mengatakan dirinya adalah kekasih jemina
“aku kekasih jemina, dan kita berhubungan sudah dua tahun” balas ayah burhan makin memperjelas hubungannya denga jemina
“gila kau!” ayah bimo langsung memukul wajah ayah burhan dengan kasar sampai membuat ayah burhan terhuyung kebelakang
__ADS_1