
"maaf qiana" mati-matian putera mengatur degup jantungnya yang terus meronta ingin melompat dari tempatnya
"iya kak gak papa, kakak kan gak sengaja" qiana mencoba sekuat tenaga menetralisir debaran jantungnya yang terasa begitu kuat seakan sedang lomba lari sprint
lama putera dan qiana terdiam karena saking terkejutnya dengan posisi tadi "qiana" panggil putera
"ya kak" qiana menoleh ke arah putera
"mau bantu kakak buat milih furniture buat apartemen kakak gak" tanya putera
"emang tante gak urus hal itu" tanya qiana
putera menggelengkan kepalanya "mama kan sibuk di kantor, sedangkan papa kan juga sibuk. ayah nawarin sih tapi gimana ya..." putera bingung bagaimana menjelaskannya
"ya sudah nanti kita cari waktu luang buat pilih furniture ya kak" balas qiana
"terima kasih" putera mengusap pipi qiana dengan punggung tangannya dengan gerakan lembut
"makan yuk kak, laper" ajak qiana
"boleh" putera meraih tangan qiana dan mengajak qiana berjalan ke luar area kebun binatang
putera dan qiana memilih restoran tak jauh dari kebun biantang "kakak mau pesan apa" qiana sedang sibuk melihat buku menu untuk memilih makanan apa yang akan di santap untuk makan siang yang sebenarnya terlewat agak jauh karena tadi mereka terlalu asyik bermain
"samain aja sama kamu" balas putera
"ya sudah" qiana memanggil pelayan untuk memesan makanan yang akan ia makan
"drttt" ponsel qiana bergetar saat qiana sedang menunjukan makanan apa saja yang ia akan pilih "kak angkatin dulu, qiana lagi sibuk" pinta qiana yang masih sibuk memberi tahu makanan apa yang ia mau dan apa yang harus di kurangi dari menu itu
putera mengambil ponsel qiana dan melihat nama siapa yang memanggil "ngapain sih nih laki" putera menggeser icon berwarna hijau
"ada apa" tanya putera dengan ketus
"kenapa bisa kau yang mengangkat panggilanku" tanya balik pria di seberang telpon
"tak usah balik bertanya, tinggal bilang saja apa yang kau mau" balas putera dengan sebuah pertanyaan kembali
"aku mau bicara dengan qiana, berikan ponsel qiana pada pemiliknya" pinta pria itu dengan ketus
"dia sedang sibuk" putera langsung saja mengakhiri panggilan pria itu
__ADS_1
qiana yang sudah menyelesaikan pembicaraannya dengan pelayan menyipitkan matanya ke arah putera "siapa yang nelpon kak" tanya qiana
"pria gak penting" balas putera dengan ketus
qiana mengambil ponselnya untuk melihat dengan siapa tadi putera bicara "tadi mas Dion nelpon" tanya qiana
"iya" balas putera dengan ketus
"qiana gak ngapa-ngapain kenapa jadi marah sama qiana " qiana tidak suka dengan nada bicara putera karena ia merasa tak salah
putera tersadar kalau nada suaranya agak kasar "maaf qiana" putera menggenggam tangan qiana erat "tadi kakak kesal saja karena pria itu terus menghubungi kamu padahal kamu udah bilang gak ingin menjalin hubungan dengannya" jelas putera merasa bersalah pada qiana
"kesal sama mas dion jangan bawa-bawa qiana" tukas qiana
"iya sweetheart, I'am so sorry" ucap putera
"qiana maafin deh" qiana mencebikkan bibirnya masih kesal pada putera
putera berpindah posisi di samping qiana dan menarik kepala qiana agar bersandar di dada bidangnya "gak lagi deh sweetheat, don't be angry" pinta putera
"hmmm" qiana diam tapi balas melingkarkan tangannya di pinggang putera
"iya kak" qiana mulai menyantap makanannya sambil bicara banyak hal pada putera
***
putera mengantar qiana pulang ke rumah mama sheryl dengan selamat "langsung istirahat ya, besok kakak jemput dan kita kuliah bareng" putera mengecup kening qiana dengan lembut
"iya kak" saat putera mengecup keningnya, qiana memeluk pinggang putera sekilas
"hati-hati di jalan, dan jangan lupa kabarin kalau sudah sampai" ucap qiana
"oke sweetheart" balas putera
qiana turun dari mobil putera dan melambaikan tangannya melepas kepergian putera dari rumah mamanya. Melihat putera sudah keluar halaman rumahnya, qiana bergegas masuk ke rumah "papa" qiana langsung memeluk papanya dengan sayang
"putri papa senang ya hari ini" papa bachtiar mengusap punggung qiana dengan lembut
"iya pah, tadi kita main di kebun binatang, terus makan sama jalan-jalan di taman buat proses makan kita " cerita qiana tentang aktivitasnya seharian
papa bachtiar mengernyitkan dahinya "kamu mainnya di kebun binatang" tanya papa bachtiar memastikan
__ADS_1
"iya pah" qiana mengernyitkan dahinya "ada yang salah ya kalau main ke kebun binatang" tanya qiana
"ya enggak sih, cuma papa pikir kemana kan ini kencan pertama kalian" balas papa bachtiar
qiana melirik keadaan sekitar, dan saat tak ada mamanya maupun vansh qiana jadi berbisik dengan papanya "papa kok tahu? mama tahu juga ya" tanya qiana
"kalau mama sih gak tahu sayang" papa bachtiar mengusap kepala qiana "kalau mama tahu yang ada kamu di suruh nikah sesuai janji kamu yang gak akan [acaran dan langsung nikah saja" balas papa bchtiar
"makasih ya pah" qiana memeluk erat papa bachtiar "makasih gak kasih tahu mama" ucap qiana dengan tulus
"papa juga pernah muda sayang, ada baiknya kamu memang mencoba pacaran jadi nanti kamu bisa memilih pria mana yang akan jadi pemimpin di rumah tanggamu" jelas papa bachtiar
"iya pah, kak putera juga bilangnya gitu kalau coba pacaran sama dia jadi qiana nanti bisa lebih yakin milih pasangan hidup" ungkap qiana dengan polosnya
"dasar anak kurang ajar, coba ngiulin qiana rupanya " batin papa bachtiar baru tahu putera memanfaatkan kepolosan qiana
"kamu senang sama putera" tanya papa bachtiar
"senang, kan dari dulu emang qiana paling dekat dengannya ketimbang anggota keluarga yang lain "jelas qiana
"wah anak mama sudah pulang" mama sheryl datang dengan membawa nampan berisi buah potong "ayo makan buah dulu" ajak mama sheryl
"iya mah" qiana mulai mengambil buah yang ada di atas meja
"vansh" teriak mama sheryl memanggil anak bungsunya "vansh" teriak mama sheryl lagi sampai berkali-kali
"ya ampun mah" vansh jadi kesal sendiri karena mendengar teriakan mamanya "kebiasaan teriak-teriak" vansh duduk di samping qiana dan mulai mengambil buah potong di sediakan mamanya
"makanya kalau mama panggil itu cepat nyahut ya" mama sheryl mengambil buah potong juga
"qiana, nanti malam mama tidur sama kamu ya" ucap mama sheryl
"lah kok gitu mah" papa bachtiar jadi ketar-ketir sendiri jika istrinyatidak menemani tidur nanti malam
mama sheryl menatap tajam suaminya "malam ini aja pah, bentar lagi kan dia tinggal di apartemen" sahut mama sheryl
"tapi mah" papa bachtiar masih tak rela di tinggal istrinya
qiana terkekeh melihat raut wajah papahnya "minta temani vansh saja pah" sahut qiana
"malas"balas vansh dan papa bachtiar dengan kompak
__ADS_1