Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Extra Part 23


__ADS_3

Sia memutar tubuhnya di depan cermin besar yang ada di kamar miliknya, di mana kamarnya setahun lalu kini berganti menjadi kamar yang jauh lebih besar dari sebelumnya


setahun bekerja di perusahaan Abraham group membuat perekonomian Sia jauh lebih baik, apalagi baru beberapa hati lalu jabatannya naik menjadi asisten manager yang artinya angka gajinya bertambah


sia kini menyewa unit apartemen yang secara khusus di carikan oleh Damian untuk tambatan hatinya. Sebenarnya Apartemen yang di tinggali Sia adalah milik Damian pribadi, mau di jadikan milik Sia pun Damian tak masalah, toh uangnya juga banyak dan apartemen miliknya tidak hanya satu


Tapi lagi-lagi dengan harga diri Sia yang begitu tinggi tentu Sia menolaknya mentah-mentah. Alhasil Sia membayar uang sewa seharga apartemen yang ia tinggalin saat ini dan Damian terpaksa menerimanya saja, dari pada calon istrinya marah dan memilih tinggal di kosan kecil yang kurang aman untuk wanita tercintanya itu


"ting tong" terdengar bunyi bel apartemen miliknya "itu pasti mas Damian


Sia melangkah ke luar kamarnya untuk membuka pintu agar Damian tidak lama menunggu " masuk dulu mas, Sia mau ambil tas di kamar dulu" Sia membuka pintu apartemennya dengan lebar agar Damian bisa masuk


Damian sempat diam terpaku melihat penampilan Sia yang begitu anggun membuatnya segera ingin mempersunting Sia agar tak. ada yang mengambilnya


Sia berjalan ke arah Damian "yuk mas berangkat" ajak Sia


"kamu kok cantik banget sih sayang, di rumah saja yuk" ajak Damian asal


sia memutar bola matanya malas "jangan mulai deh mas, acaranya bentar lagi di mulai loh, gak enak sama kak Qiana dan kak putera, di kira aku gak bisa ngomong mas Damian lagi" tegur Sia


"iya deh, ayuk" Damian menggandeng tangan Sia keluar unit apartemennya agar segera sampai ke hotel milik keluarga Hendrawan yang di jadikan tempat ulang tahun pesta perusahaan


Sia dan Damian datang cukup telat sebab Damian yang malah menikmati jalanan macet di sepanjang perjalanan mereka dengan santai padahal Sia sudah memperingatkan untuk memilih jalur alternatif

__ADS_1


"mas Damian sih, telat kita kan" kesal Sia sebab mereka sampai di jam 9 malam yang artinya acara pembukaan pasti sudah di adakan sejak tadi


"tenang sih sayang, misalkan Anak Qiana tidur tinggal kita samperin ke kamarnya buat kasih nyapa, kalau soal kado kan sudah pernah kamu kasih saat lahiran kemarin jadi santai saja" Damian menggandeng tangan Sia masuk ke dalam pesta untuk menghampiri keluarga besarnya


Damian tersenyum lebar saat sudah melihat keberadaan keluarganya di tengah pesta "ini nih, orang yang suka lupa diri. Sudah di bilang acaranya di mulai jam 19.30 ini malah datang jam 21.00" ledek Rain sang adik


"macet Rain" balas Damian dengan santai


Sia membungkuk ke arah keluarga Damian saking tidak enaknya terlambat "maafin saya ya om, tante karena gak bisa kasih pengertian mas Damian buat milih jalan alternatif" sesal Sia


"sudah Sia" mama Kayla mengajak Sia duduk di sampingnya "ini bukan salah kamu kok, tante tuh banget tabiat anak tante. Pasti dia yang ngeyel terus sama kamu" mama kaila melirik tajam ke arah Damian "dia tuh gak rela aja kalau ada yang tertarik sama kamu, dia tuh takut di tinggalin sama kamu makanya gitu tuh" ucap mama kaila


Sia tersenyum hangat saat keluarga Damian selalu bersikap baik dengannya "iya Sia, kak Damian aja yang parno di tinggalin sama kamu soalnya dia kan terlalu banyak keburukan" sahut Rain


"sudah-sudah" tegur Ayah Brian


"oh ya Dam, kita ketemu teman ayah yuk, dia katanya mau ketemu sama kamu untuk bahas penelitian kamu katanya. Tadi nungguin kamu lama" ajak ayah Brian


"ayok yah" Damian menoleh ke arah Sia "bentar ya sayang, nanti kita sapa kak putera atau samperin Qiana di kamarnya" ucap Damian


"iya mas" balas Sia


Sia kini mengobrol bersama dengan Mama Kaila, Rain dan juga istri Rain Bela

__ADS_1


"ngomong-ngomong kalian gak kepikiran anak kalian di rumah" tanya Sia heran melihat Bela dan Rain yang santai di pesta padahal dua anak mereka di rumah dengan baby siter mereka saja


"gak terlalu" Bela menunjukan ponselnya "aku selalu ngecek mereka setiap waktu jadi gak terlalu kepikiran jugaan mereka kalau tidur cukup anteng dan jarang kebangun malam" balas Bela dengan santai sebab ia selalu mengawasi anak mereka melalu CCTV yang terpasang di kamar mereka


Sia mengangguk saja" oh begitu ya" kini Sia tahu kenapa Rain dan Bela terkesan santai walau tak membawa kedua anak mereka


"kamu nanti kalau sudah menikah dengan kakakku dan punya anak, sering tanya Bela saja, Bela itu sangat pintar ngatur waktu buat urus anak kami berdua padahal dia kerja juga loh" ucap Rain


"aku masih belum kepikiran menikah" Sia menggaruk tengkuknya yang tak gatal


mama Kaila mengusap punggung Sia dengan lembut "gak usah buru-buru Sia, buat hatimu yakin dulu sama Damian si mantan playboy cap biaya kurap itu baru kamu pikirin menikah" Mama Kaila tak ingin membebani Sia jika ada yang menyinggung masalah pernikahan sebab mama Kaila tahu cerita pernikahan Sia dulu seperti apa dari Damian


"iya tante, makasih" balas Sia


"wah-wah ada wanita miskin yang nyasar di sini toh" seru seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamornya yang tak sadar usianya tidak pantas masih memakai baju seperti itu apalagi di acara bisnis seperti ini


Sia menoleh ke arah suara yang masih ia kenali dengan baik walau setahun lebih tak ia dengar "maaf tante Amra, saya dapat undangan kok jadi saya gak nyasar" balas Sia dengan senyuman


senyuman yang entah mengapa membuat Andreas yang ada di sebelah ibunya begitu berdebar tak karuan "sudah mah jangan bikin malu" tegur Andreas


Amra yang mengenal mama Kaila. karena ayah Brian yang juga adalah sahabat suaminya pun berdecak "Hati-hati sama dia Kaila" tunjuk Amra pada Sia dengan tatapan yang masih tertuju ke arah mama Kaila "jangan sampai suami kamu harus kasih uang buat hidup orang tuanya seperti suamiku" tegur Amra dengan tatapan mencibirnya


Sia mengepalkan tangannya erat, tak Terima jika orang tuanya masih di hina padahal ia sudah mengembalikan semua uang yang pernah di berikan Keluarga Murtada beserta bunganya

__ADS_1


Mama Kaila menggenggam erat tangan Sia agar Sia merasa nyaman "kalau dengan uang itu Sia mau menikah dengan Damian, saya malah sangat bersyukur loh toh suami saya uangnya banyak biar saya gak perlu khawatir anak sulung saya jadi bujang lapuk" Mama Kaila berdecak pelan "tapi sayang, Calon menantu saya ini masih ingin ngejar karir dan itu bikin anak saya ketar-ketir takut di serobot orang karena calon menantu saya terlalu baik untuk di lewatkan" kekeh Mama Kaila membuat muka amra sudah merah padam menahan amarah yang ingin meluap sedari tadi


__ADS_2