Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 19 - Murka Seorang Ash


__ADS_3

Lanjutan...


"Itu tidak benar! Aku yang melihatnya lebih dulu." Shena membela dirinya.


"Nona. Tapi Nona ini sudah sejak tadi di sini." Pelayan tersebut menunjuk Shena.


"Mungkin anda yang salah!" Ucapnya lagi.


Soya menatap rendah pelayan tersebut, dengan sombong ia mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikannya pada pelayan tersebut.


"Aku akan membayarnya dua kali lipat. Sekarang cepat siapkan!" Ucapnya Soya dengan nada memerintah.


"Tapi Nona..."


"Apa yang kau tunggu? Kau menunggu wanita rendah ini membayarnya? Itu tidak mungkin terjadi karena dia tidak memiliki uang saat ini. Apa kau tidak tahu jika dia ini putri Tuan Theo yang melarikan diri dengan meninggalkan banyak utang. Bisa saja dia mencuri di sini dan akan menjualnya di luar."


Shena yang dikatai seperti itu tidak terima, Shena ingin menelepon suaminya untuk memintanya membayar semua barang belanjaannya, Namun Shena lupa jika ponselnya tertinggal di mobil.


"Bagaimana Nona? Apa anda akan membayarnya?" Tanya pelayan tersebut terlebih dahulu.


Shena terdiam, Ia bingung harus membayarnya pakai apa karena tasnya pun ada di dalam mobil. Ia kemari bersama Ash dan suaminya yang akan mengurus kebutuhannya.


"Tunggulah sebentar lagi! Aku lupa membawa tas dan ponsel ku, Aku akan mengambilnya!" Saat Shena ingin melangkah kakinya, Soya menarik kasar lengannya.


"Kau jangan berbohong, Aku yakin kau ini penipu. Kau pasti ingin mencuri, kan, di sini?!" Soya mulai mengeluarkan fitnahnya.


Shena menggelengkan kepalanya, tidak terima dikatakan pencuri.


"Jaga ucapan Soya! Aku bukan pencuri."


Hahaha...


Soya menertawakan Shena, Pata pelayan dibuat bingung.


"Kalian lihat penampilannya! Dia tidak mungkin mampu membayarnya karena dia sudah kehilangan semua hartanya."


Ucapan Soya sukses membuat pelayang yang berdiri di belakang Leni menatap tajam Shena.


"Nona ini benar, Kau pasti ingin mencuri barang-barang itu, kan? Aku sudah curiga dengan mu dari tadi. Karena penampilan mu saja tidak meyakinkan!"


Shena terkejut karena tiba-tiba security datang dan memegang kedua tangannya.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" Shena memberontak.


Dua security tersebut menggenggam lengan Shena dengan sangat kuat hingga lengannya yang putih berubah menjadi merah kebiruan.


"Lepaskan, tangan ku sakit! Aku bukan pencuri!"


Soya tersenyum puas, Ia berhasil memfitnah Shena. Tapi itu adalah yang diketahui karena Shena jatuh bangkrut.


"Bawa secepatnya, Pak. Jangan dibiarkan pencuri seperti dia berkeliaran di sini!"


"Aku bukan pencuri, Kau yang memfitnah ku!" Shena mulai menangis, ia ketakutan karena ia tidak pernah diperlakukan sekasar ini pada siapapun sekuat dan seberani apapun dirinya.


"Bawa saja wanita murahan ini, Pak. Dasar penipu!" Cela Rina pelayan yang mendukung Soya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu! Bukan aku yang murahan, dirimulah yang lebih murahan!"


Ucapan Shena itu sontak membuat Rina emosi, dengan sekuat tenaga ia menampar wajah Shena hingga telapak tangannya membekas di wajah Shena dan mengeluarkan bercak darah.


"Ahhh!" Shena menjerit kesakitan. Dan kepalanya harus terpaksa berpaling ke arah kanan.


"Sudah, sudah! Jangan berbuat ribut di sini!" Ucap security tersebut membawa Shena ke pos keamanan.


Shena dengan lemas terpaksa mengikuti dua lelaki yang menyeretnya tersebut. Tamparan penjaga toko itu sangat keras hingga membuatnya pusing dan hidungnya mengeluarkan darah.


"Duduk di sana!" Bentak salah satu security, ia membiarkan darah di wajah dan hidung Shena mengalir begitu saja tanpa di beri selembar tissue pun.


"Apa benar kau ingin mencuri barang-barang yang ada di toko tersebut?" Tanya pria berbadan besar itu.


Shena menggelengkan kepalanya, karena dirinya sudah sangat lelah.


Sementara itu ditempat lain, Willie membisikkan sesuatu kepada Ash hingga membuat wajah Ash berubah seram seketika.


BUGH!


Willie mendapatkan bogam mentah dari tangan Ash, membuat manager sekaligus tangan kanannya itu ketakutan dan tersungkur ke lantai.


"Dasar bodoh!" Bentak Ash pada Willie menggema di ruangan itu.


Ash dengan langkah cepat meninggalkan ruangan tersebut dan diikuti oleh Willie.


Ash yang tadi sibuk dan mulai lengah meminta Willie yang menggantikannya untuk mengawasi istrinya.


"Di mana istriku sekarang!" Ash menanyakannya dengan nada setengah berteriak.


"Ada di ruang keamanan Tuan!" Willie menundukkan pandangannya, karena memang kesalahannya yang lalai.


Sementara Soya, wanita itu mengambil barang yang diinginkannya dan meninggalkan toko itu dengan tertawa senang.


"Jangan lupa kembali lagi, Nona!" Ucap Rina tersenyum senang karena dirinya juga mendapat bonus dari Soya.


"Di mana keluarga mu!" Tanya security itu lagi di pos keamanan.


"Dia ada di sini! Dia sedang ada urusan." Shena berkata dengan air mata dan darahnya yang menjadi satu. la mengelapnya dengan tangannya hingga darah itu berserakan di telapak tangannya.


"Di mana?"


"Aku tidak tahu! Dia hanya berpamitan untuk pergi mengurus keperluan." Shena menggelengkan kepalanya.


"Jangan berbohong, cepat katakan!" Bentak security itu membuat Shena semakin menangis. Shena berdiri, dia ingin menjauh dari security itu karena takut.


"Hei, Jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Pria berbadan tegap itu kembali menarik Shena dengan kasar.


"KEPARAT!! LEPASKAN TANGAN MU SIALAN!!" Jerit Ash dengan wajah yang sudah memerah padam.


Sontak kedua security itu pun berbalik menoleh ke sumber teriakan.


"Tu-tuan muda!" Gumam security terhenyak.


"Tuan Ash!" Panggil Shena ketakutan.

__ADS_1


Ash dan Willie terkejut melihat wajah Shena yang banyak darah.


"SIALL!!" Jerit Ash kini memberi bogeman pada wajah security tersebut.


"Tenang Tuan!" Willie mencoba menarik Ash yang memukul security itu dengan sekuat tenaganya. "Dia bisa mati!"


Shena semakin menangis ketakutan.


"Paman! Tuan Ash!" Panggil Shena lirih.


Ash terhenti karena mendengar suara istrinya, Ia pergi menghampiri dan memeluk istrinya. la memeluk Shena dengan sangat erat.


Sementara Willie membereskan sang security, Karena jika sampai mereka tetap di sana maka sudah dipastikan Ash akan menghajarnya lagi dan bisa saja akan mati. Wajah keduanya pun sudah babak belur.


Ash melepaskan pelukannya, Ia merengkuh wajah Shena yang sembap dan terdapat banyak darah.


"Apa dia memukul mu sangat kuat? Di mana yang sakit!" Ash memeriksa wajah dan tubuh istrinya. Emosi Ash semakin memuncak saat dilihatnya wajah dan kedua lengan istrinya terdapat lebam kebiruan.


"Kurang ajar!" Ash menjerit kesetanan. Ia kembali menarik kedua security dari belakang dan membogemnya kembali.


Bam!


Ash melempar vas bunga batu yang ada di sampingnya, dan vas bunga itu tepat mengenai kepala pria tersebut.


"Aaaaa...." Sang security meraung kesakitan.


Willie kembali menghang Tuannya yang sudah membabi buta hendak membantai pria itu dengan kursi.


"Lepaskan tangan mu!!" Teriak Ash masih ingin menghajar security itu.


"Tuan tenanglah, Kita tidak bisa sembarang memukulnya. Jika sampai tewas, Tuan bisa di penjara."


Ash yang sudah ditaburi dengan bumbu emosi menatap nyalang ke arah Willie. Karena dongkol, Ia berbalik memukul Willie sekali lagi.


Bugh!


"Dasar bodoh! Tidak berguna! Sudah ku katakan jangan lepas pengawasan nya, Kau lihat sekarang apa yang terjadi pada istriku?! Ha?" Marah Ash padanya lagi.


Willie tidak melawan, Karena memang itu satu kesalahan besar dalam hidupnya.


"Maafkan Saya Tuan!"


Ash menghiraukannya lagi, Ia kembali memeluk istrinya yang sudah menggigil ketakutan.


"Sekarang kita pergi!" Ash ingin membawa istrinya pergi dari tempat itu, namun badan Shena limbung dan terjatuh pingsan.


Brugh!


Ash menangkap tubuh itu, Ash panik! la menepuk pipi Shena pelan dan memanggil manggil nama istrinya itu. Namun, Shena tidak bereaksi sedikit pun.


Ash membuka jasnya dan menutup kepala istrinya. Ia tidak ingin semua orang melihat wajah istrinya.


"Cepat siapkan mobil!" Jerit Ash panik.


Willie langsung mengikuti Ash dari belakang. Ia membuka pintu mobil dan kembali melajukannya.

__ADS_1


"Kalian urus semuanya dan selidiki semuanya." Ucap Willie terburu-buru pada anak buah yang lainnya.


"Cepat atau ku bunuh kalian semua!" Teriak Ash rahangnya sampai mengeras. Ia menjadi pusat perhatian semua pengunjung dan juga para pegawai toko yang berhamburan keluar.


__ADS_2