
Terdengar suara petir di luar menyamarkan teriakan cindy yang memekikan telinga Dion tapi Dion reus melanjutkan kegiatan bejat itu tanpa perduli air mata Cindy terus mengalir dan Cindy terus saja meringis sakit
Dion terus memompa tubuh cindy “rasanya sempit sekali cindy, kamu pasti pandai merawatnya”dion terus meracau tak jelas dan terus memompa tubuh cindy
Apa dia tidak merasakan sesuatu yang robek di bawah sana, apa Dion belum pernah merasakan wanita bersegel sebelumnya? bukankah dulu saat Dion belum jatuh cinta pada Qiana, Dion pria yang cukup nakal karena sudah beberapa kali bercinta walupun dulu ia selalu memakai pengaman tidak seperti sekarang yang tidak memakai pengaman apapun saking tertutupnya akal sehat Dion karena hasrat yang sedang ia rasakan sekarang terlibih ini sudah hampir lima tahun ia tidak bercinta dengan siapapun
Cindy hanya bisa diam saja mendapati perlakuan Dion lagian percuma juga ia melawan karena semuanya sudah hancur, ia sekarang bukanlah gadis lagi, Pria di atas tubuhnya sudah merusak masa depannya dalam sekejap mata
hhh“uuuuukhh” dion menghela nafas panjang saat ia mendapatkan pelepasanya untuk yang pertama kalinya
“terima kasih cin” dion melirik ke arah cindy yang terus menangis sedari tadi “kamu jangan terus menangis terus dong cin” ada rasa bersalah setelah melihat cindy terus saja menangis sedari tadi
“kamu kan sudah sering melakukannya “ tuduh Dion mengiara Cindy sudah sering melakukan hal seperti ini karena tempat tinggal Cindy selama setahun terakhir
Cindy langsung duduk walaupun ia harus bersusah payah melakukan itu dan menahan sakit teramat sangat saat menahan **** ************* yang robek parah akibat keganasan Dion di tas ranjang
Cindy menahan selimutnya agar tidak melorot “plak” cindy langsung menampar pipi Dion dengan cukup keras
“bapak gila!” teriak cindy meluapkan amarahnya yang di nodai paksa oleh Dion
Dion memegang pipinya yang berdenyut, Dion menatap tak percaya cindy menamparnya kali ini
Dan entah kesadarannya yang mulai kembali atau gimana Dion beranjak dari tidurnya dan ia bisa melihat ada bekas merah di area selangkangannya yang pasti jelas Dion tahu itu bukan miliknya
Dion langsung menyibak selimut besar yang menutupi tubuh cindy
“kau masih......” Dion benar-benar tidak menyangka kalau cindy masih suci dan dia yang sudah merusaka Cindy
“aku benci sama bapak” cindy kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut, menangis terisak dengan posisi memunggungi Dion
__ADS_1
Dion memukul kepalanya dengan kuat "gila! gila! gila kamu dion!" Dion merutuki kesalahannya malam itu
apa mungkin karena alkohol sialan itu Dion jadi tidak waras, tapi Dion masih sadar saat melakukannya "maaf cindy" Dion menghampiri cindy dan memegang bahunya "maaf Cindy, saya benar-benar gak sadar melakukan hal ini sama kamu, mungkin ini pengaruh minuman itu yang membuat saya berbuat gila sama kamu" ucap Dion
"hiks hiks hiks" cindy terus saja menangis "masa depan saya gimana pak, kata mami saya harus jaga kegadisannya sebelum menikah dengan baik karena itu yang di pertahankan sebagai nilai lebih saat menikah nanti, terus saya gimana pak..." cindy benar-benar meratapi nasibnya
"nanti siapa yang mau nikahi saya, kalau bapak yang sudah buka segelnya" tangis cindy langsung kembali pecah begitu saja mengingat kejadian tadi
"maaf Cindy, saya akan tanggung jawab sama kamu" dengan reflek Dion berucap itu karena rasa bersalahnya
"emang bapak mau nikahin saya" tanya Cindy dengan polosnya
Dion memeluk tubuh cindy dari belakang "iya saya akan nikahin kamu, orang tua kamu akan ke sini kan dan semua keluargamu di Jogjakarta kam, nanti saya akan minta kakak saya datang untuk lamar kamu" ucap Dion tanpa banyak berpikir
Cindy langsung menoleh ke belakang dan memeluk Dion dengan erat "beneran ya pak, nanti gak akan ada yang nikahin saya lagi karena saya sudah gak segel dan ini salah bapak loh" ucap Cindy masih dengan suara isak tangis
dalam benak Dion akan memikirkannya nanti tentang qiana, yang penting sekarang menenangkan cindy, toh nanti dia masih bisa bercerai dari Cindy dan menikahi Qiana saat rencananya sudah siap dan matang untuk menyerang keluarga wanita yang begitu ia inginkan itu
tubuh polos cindy yang terus bergerak karena tangisnya yang belum berhenti itu tentu membuat tubuh Dion gelisah tak menentu "jangan terus gerak Cindy" pinta Dion dengan suara tertahan
Cindy mendongak "lah kenapa pak, saya gerak kan karena nangis dan itu semua gara-gara bapak" balas Cindy
"iya saya salah tapi.." Dion melirik ke area terlarang miliknya
"kenapa pak" tanya Cindy tak mengerti dengan tatapan mata Dion yang sedang berkabut gairah
"SIAL" Dion mengumpat kasar karena jiwa kelakiannya mucul dengan begitu cepat akibat kelakuan cindy yang jelas tak cindy sadari itu
"karena kamu akan jadi istri saya, ya sudah lah lanjut saja" Dion langsung menyambar bibir mungil milik Cindy tanpa permisi kali ini
__ADS_1
akhirnya pergulatan itu kembali terjadi, tapi kali ini Cindy tak pasrah sepert tadi, sungguh Dion mengajari Cindy dengan begitu cepat tentang praktek menjadi seorang istri, kini cindy tidak kaku lagi saat Dion memompa tubuhnya, cindy sudah bisa menyambut semua gerakan yang Dion mau membuat mereka tak hanya dua kali tapi berkali-kali dalam bercinta karena memang Dion yang tak mau berhenti menikmati manisnya percintaan mereka
entah sampai jam berapa mereka melakukannya sampai membuat mereka tak sadar bahwa matahari sudah berada di puncaknya
ponsel Dion dan Cindy terus berbunyi tapi sang pemilik tak terusik sama sekali saking lelahnya bergulat semalaman
ponsel yang tak henti-hentinya berdering membuat tangan Cindy bergera-gerak sendirinya walaupun matanya terus saja terpejam dan belum ingin membuka matanya
"halo" sapa cindy saat mengangkat panggilannya
"kamu di mana cindy!" teriak seseorang membuat cindy langsung terduduk karena teriakan orang itu "kamu gak tahu ya aku cari kamu dari pagi dan sampai jam 1 siang kamu belum juga bisa di hubungi, aku sudah telpon polis tapi harus nunggu 24 jam, terpaksa aku nelpon mami sama papi kamu tahu enggak" ucap Randi panjang kali lebar pada sepupunya
"maaf randi" Cindy melirik ke arah Dion yang sudah mulai membuka mata karena tadi Cindy yang ebrada dalam pelukan Dion bangun secara tiba-tiba
"sekarang kamu di mana, biar aku jemput" ucap Randi dengan kerasnya sampai Dion bisa mendengar suara Randi padahal Cindy tidak meloudspeakernya
Dion mengusap kepala Cindy "nanti saya saja yang anter ke rumah kamu" ucap Dion menggunakan bahasa bibirnya
"nanti aku langsung pulang ke rumah saja ya" ucap Cindy
"kamu yakin mau pulang sendiri tidak akau jemput saja" tanya Randi memastikan
"iya ran, nanti kita bicarain di rumah ya" balas Cindy
"oke aku tunggu di rumah, sekarang" tukas Randi dengan suara keras
setelah panggilan itu terputus cindy menangis di hadapan Dion "gimana ini pak" Cindy jadi panik sendiri
Dion memeluk Cindy dan terus mengusap punggung Cindy "tenanglah, biar nanti saya yang bicara pada keluargamu " ucap Dion
__ADS_1