
qiana keluar kamarnya masih dengan rambut basahnya "kakak kapan sampai" qiana langsung mendekat ke arah putera dan mengecup pipi putera
"kebiasaan" putera menatap tajam qiana sambil memegang rambut qiana yang basah
"hehehe, maaf kak tadi males bener mau ngeringin rambut pakai alat pengering" balas qiana dengan wajah tanpa dosa itu
putera beranjak dari duduknya "ayo keringin dulu" putera menggandeng qiana untuk kembali masuk dalam kamar
"lima belas gak keluar, aku telpon tante ya" teriak tiara "ingat aku punya nomor semua keluarga kalian" ucap tiara dengan kekehan
putera melirik tajam ke arah tiara "iya sih tiara, cuma keringin rambut aja bikin perkara" kesal tiar
"sorry kak, dapat amandat soalnya" balas tiara
putera masuk ke kamar qiana dan mengambil alat pengering rambut yang tersedia di kamar qiana "kakak capek ya" tanya qiana
"lumayan, kakak kan kuliah sambil kerja juga" putera mulai menggerakan alat pengering rambut itu ke arah rambut qiana
qiana mengusap tangan putera yang bertengger di rambutnya "tetap semangat ya" ucap qiana
putera tersenyum ke arah qiana di hadapan cermin "tentu semangat, demi menikahi bidadari kakak" putera mengusap kepala qiana dengan gemas
"apaan sih kak, siapa juga yang mau nikah sama kakak" elak qiana
"sekarang emang belum mau, tapi nanti juga pasti mau" sahut putera begitu yakinnya kalau qiana akan mau jadi istrinya
"kepedean" balas qiana
"harus dong" kekeh putera
saat sudah kering putera mematikan alat pengering rambut dan menyimpannya dalam laci meja rias qiana
"sweetheart" putra membalik tubuh qiana agar menghadapanya
"apa kak" tanya qiana
"cup" putera langsung mengecup kilas bibir qiana "pingin dapat pengiring tidur nanti" bisik putera
"apaan sih kak" qiana memukul pelan lengan putera lalu segera berjalan keluar kaamrnya meninggalkan putera yang masih di sana, jantungnya benar-benar tak aman saat ini karena prianya yang selalu bisa membuatnya melayang setiap saat
putera mengejarnya dan senyum tipis, merasa lucu dengan tingkah kekasihnya itu "gemesin banget sih, jadi pengen cepet di nikahin" batin putera
__ADS_1
tiara yang melihat qiana dan putera keluar tersenyum mengejek "lewat satu menit lagi, aku sudah mau masuk nih" tiara melirik jam tangannya
"enggak usah lebay tiara" putera duduk di samping qiana berhadapan dengan roland dan tiara
"sudah jangan ribut terus, yuk makan" ajak qiana
qiana langsung membantu menyiapkan makanan putera, rutiitas yang mulai ia tekuni saat melihat mama kinan selalu menyiapkan makanan papa hans padahal dia sibuk bekerja "mau yang lain gak kak" tanya qiana
"enggak ah, segitu dulu nanti kalau kurang bisa nambah lagi" balas putera
"ya sudah noh" qiana menyerahkan piring yang sudah di isi dengan nasi serta lauk pauknya
"sudah belajar jadi calon istri yang baik di rumah mertua ya" tanya tiara di tengah kegiatannya menyantap makanan
"iya dong" balas qiana dengan bangga
"seneng deh di ajarin masak sama calon mertua" tiara merasa iri pada sahabatnya yang bisa di jarkan memasak
roland menoleh ke arah tiara "kalau kamu mau, kamu juga bisa minta di ajarin masak sama mami, ya walaupun mamiku gak pinter banget masaknya kaya mamanya kak putera tapi lumayan lah" ucap Roland
"tapi malu sayang, bumbu dapur aja kadang aku masih suka lupa loh" balas tiara
"cieeee calon istri" Roland jadi ingin tertawa dengan bayangan calon istri di usianya yang masih 19 tahun
"belajar masak butuh waktu lama kali, jadi gak masalah kalau mau belajar masak dari sekarang" timpal putera
qiana melirik ke arah putera "masakan qiana masih buruk ya kak" tanya qiana
"masih sih" putera mengusap pipi qiana dengan sayang "tapi gak masalah, saat ngerasa gak enak bisa lihat wajah kamu kok jadi akan enak saja" balas putera
muka qiana langsung memerah "kakak" qiana jadi malu karena gombalan receh dari putera
tiara menoleh ke arah Roland "kamu mau jadi bahan percobaan kaya kak putera" tanya tiara
Roland mengusap kepala tiara "gak masalah sayang, lagian masakan mami juga gak semuanya enak" ucap Roland dengan jujur
"mending belajar masak sama bundaku aja, bundaku cuma di rumah saja, dia pasti senang kalau ada kamu main ke sana, kamu tahu sendiri masakan bundaku juga enak gak kalah dengan mamaku ataupun mama kak putera" usul qiana
"boleh deh" balas tiara
"oh ya, kalian berdua nanti ikut ke acara ulang tahun perusahaan ayahku enggak" tanya putera
__ADS_1
"kayanya ikut kak, kemarin sudah dia ajak kakek buat ikut" balas tiara
"asyik ada pasangan dong gak cuma jadi ekornya mami dan papi" sahut roland senang bahwa kekasihnya memutuskan ikut
qiana melirik ke arah tiara "sudah dapat gaun belum, aku ada beberapa cadangan gaun di sini" tawar qiana
"enggak usah, mama sudah siapin gaun buat aku dan cadangannya juga" balas tiara
"ih jadi gak sabar pengen lihat pacarku pakai gaun" roland membayangkan kekasihnya yang nanti akan pakai gaun tidak seperti kesehariannya yang hanya memakai kao dan jeans saja
"jangan klepek-klepek ya" kekeh tiara
"jadi tambah gak sabar" roland sampai menepukan kedua tangannya saking tak sabar membayangkan tiara yang akan memakai gaun pasti terlihat begitu cantik
***
Acara yang di tunggu sejak putera mulai terjun bekerja di perusahaan pun datang, kali ini dia akan diperkenalkan sebagai penerus kerajaan bisnis keluarga hendrawan yang selama ini hanya di pegang oleh Bimo Hendrawan
untuk saat ini putera baru diperkenalkan kepada halayak ramai tapi untuk mengambil posisi itu sepenuhnya barulah nanti saat putera sudah menyelesaikan pendidikan S1 nya
yang beruntung karena otak pintarnya, putera sudah menyelesaikan separuh skripsinya jadi saat dia nanti menginjak semester 7 nanti, ada kemungkinan putera akan menyelesaikan kuliahnya tapi nanti putera juga tidak akan langsung mengambil pengurusan perusahaan sepenuhnya karena dia masih akan melanjutkan kuliah S2 nya
"selamat malam semua" Lelaki paruh baya yang sudah menginjak kepala 6 dan sebentar lagi akan menginjak kepala 7 itu naik ke atas podium dan berdiri di atas stand MIC yang sudah tersedia
"terima kasih sudah hadir di acara ulang tahun perusahaan keluarga hendrawan yang sudah menginjak usia ke 53" kakek bimo terkekeh mengingat usia itu "jadi ingat kalau saya sudah tua karena usia perusahaan saya" kekeh kakek bimo yang di ikuti para undangan yang hadir
"perusahaan ini di bangun mendiang ayah saya saat usia saya 15 tahun saat itu, usaha yang ia rintis dari 0 dan di berikan pada saya saat saya menikah dulu" kakek bimo melirik ke arah putera
"ayo naik son" pinta kakek Bimo
putera melepaskan genggaman tangannya pada qiana dan berjalan ke arah podium dan berdiri di samping kakek Bimo
kakek bimo merangkul pundak putera yang tingginya hampir sama dengan kakek bimo "kali ini tak hanya ulang tahun perusahaan saja tapi saya ingin memerkenalkan putera sebagai ahli waris perusahaan saya, karena sebentar lagi saya akan pensiun, usia saya benar-benar meminta saya untuk segera istirahat" kakek Bimo menoleh ke arah putera
"boleh kan pria tua ini meminta untuk menjaga perushaan warisan kakek kamu" pinta kakek Bimo
"iya ayah, putera akan menjaganya sebaik mungkin" putera menerima pemberian kakek bimo dengan besar hati
kakek bimo menyunggingkan senyumnya saat putera mengatakan ayah di depan umum "mungkin di antara kalian ada yang bingung kenapa anak yang di kenalnal sebagai cucu saya malah memanggil ayah pada laki tua ini" kakek bimo memandangi setiap tamu undangan
"itu semua karena putera adalah anak kandung saya" seru kakek bimo membuat acara pesta itu menjadi riuh akan suara bisik-bisik yang jelas kurang enak di dengar
__ADS_1