Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Menutupi (season 2)


__ADS_3

Qiana menatap tak percaya ke arah revano yang nyeletuk padanya untuk menikah dengan putera


"plak" nenek jemina menghadiahi bantal sofa pada anak semata wayangnya "jangan asal ngomong kamu vano, qiana saja menghindari menikah dengan dion, ini malah kamu tambahin nikah sama putera yang sudah lihat qiana dari bayi" ucap nenek jemina


papa hans terkekeh "iya van, kamu lucu banget sih, apa masalahnya coba kamu panggil putera dengan sebutan om" tanya papa hans merasa lucu dengan revano yang kesal karena panggilannya akan bertukar posisi


revano mencebikkan bibirnya "kalau aku panggil putera dengan sebutan om, terus aku panggil kakak dengan sebutan kakek gitu" sahut revano menyebutkan papa hans yang biasanya di panggil dengan kakak jadi kakek karena papa hans adalah orang tua om nya


"boleh juga ide kamu" sahut mama kinan "kamu manggil kakak dengan sebutan nenek, nenek cantik" kekeh  mama kinan


"iiiiiihhhhh" revano jadi kesel sendiri


"sudah ah, gak usah ribet" kakek burhan menatap semua anggota keluarganya "panggil saja dengan sebutan seperti biasa kalian memanggil jangan terlalu memusingkan sebutan, yang penting kita hidup rukun dan saling menyayangi" ucap kakek burhan ingin menyudahi perdebatan tentang panggilan bagi keluarga besar mereka yang sebenarnya membingungkan itu


"benar itu" sahut nenek jemina membenarkan ucapan suaminya


nenek jemina melirik ke arah putera "entah sebagai cucu ataupun adik, nenek tetap sayang kamu putera" ucap nenek jemina


putera menggangguk "iya nek" balas putera


mama sheryl menoleh ke arah qiana "qiana nanti pulang ke rumah mama ya, mama kangen sama kamu" ucap mama sheryl


"malam ini mau nginep di rumah tante kinan lagi mah, soalnya besok kak putera mau ngajak qiana jalan-jalan, biar gampang jadi qiana nginep saja di sana" balas qiana


"kamu anak mama atau putera sih qiana, kamu bisa setiap hari ketemu sama putera tapi kenapa sama mama enggak" tanya mama sheryl dengan sedikit meninggikan suaranya


"itu karena kak putera gak banyak nekan qiana" qiana berjalan ke arah kamar yang ada di rumah kakeknya merasa malas bicara dengan mamanya yang ujung-ujungnya akan berdebat


mama sheryl melihat punggung qiana yang makin menjauh "mama salah apa sih pah" mama sheryl mengguncang lengan suaminya


"bukannya salah mah, tapi putri kita itu gak suka di tekan, dan kamu kalau minta sesuatu dari qiana itu suka maksa jadi dia berontak" papa bachtiar melirik istri dari ayah mario

__ADS_1


"kamu ngerasa bukan, kalai qiana jaga jarak sama kamu semenjak kamu ikutin ucapan sheryl yang mengharuskan qiana untuk melakukan sesuatu" tanya papa bachtiar


"iya om" balas bunda laras membenarkan pertanyaan papa bachtiar tentang sikap qiana yang sedikit menjaga jarak darinya akhir-akhir ini


"di antara kita semua, emang qiana paling dekat dengan putera karena putera selalu bisa menangani qiana yang sedang merajuk dengan cara-cara yang tidak meruntuhkan egonya" jelas papa bachtiar yang paham betul karakter anaknya


ayah mario menghela nafas panjang dan melirik mama sheryl "harusnya kamu tahu sifat putrimu itu persis menurun darimu, jadi jangan bertindak keras saat memberi pengertian padanya" sahut ayah mario


"apa aku terlalu keras" tanya mama sheryl dengan nada lirih


"iya" balas para orang tua membenarkan pertanyaan sheryl yang bisa melihat sheryl yang selalu marah-marah pada qiana jika memberi arahan pada qiana


"maaf deh, kadang aku merasa qiana makin jauh dariku jadi kadang aku suka memaksakan kehendakku" jelas mama sheryl


"dia sedang berada di masa peralihannya dan dia juga sedang mulai mencari jati diirnya sebagai pribadi dewasa jadi jangan terlalu ikut campur dalam hidupnya" ucap papa bachtiar menasehati istrinya agar lebih memberi ruang untuk putri mereka


"iya pah" balas mama sheryl


"boleh saja, tapi sebelum putera ke atas, ada yang mau putera sampaikan" ucap putera menatap kedua psang orang tua qiana


"ada apa" tanya ayah mario menatap lekat putera


"ini soal keinginannya yang pernah di bicarakan ke putera tapi kalian orang tuanya lah yang lebih bisa memutuskan" putera menghela nafas panjang


"qiana pernah mengutarakan untuk tinggal di apartemen sendiri, katanya dia merasa lelah harus bolak-balik dari rumah om mario, ke rumah om bachtiar" ucap putera


"kapan dia bicara seperti itu" tanya bunda laras


"belum lama ini, tapi dia sering cerita kurang nyaman dengan kondisi di rumah" balas putera


"apa ada sikap kami yang membuatnya tak nyaman" tanya papa bachtiar

__ADS_1


putera mengedikkan bahunya "entahlah om, dia hanya bilang tidak nyaman tapi sebab pastinya tidak pernah ia ceritakan" balas putera


ayah mario melirik ke arah mama sheryl "izinin dia untuk tinggal sendiri" ucap ayah mario


"tapi dia anak gadis mas" balas sheryl merasa tidak tepat untuk membiarkan qiana tinggal sendiri karena qiana yang seorang anak gadis


"kita masih bisa mengawasinya sher, lagian kamu kan punya apartemen yang di lingkungan aman dan pengawasan yang cukup bagus juga mudah di akses dan dekat dengan kampus qiana pula " sahut ayah mario


"tapi aku gak tenang mas" balas mama sheryl merasa sulit melepas qiana tanpa pengawasan


"gimana kalau putera yang ngawasin qiana, apartemen tante yang ada di situ, kan mama punya juga di gedung yang sama jadi aku masih bisa ngawasin qiana di kampus maupun di apartemen" usul putera


dalam benak putera akan bisa mendayung dua tiga pulau sekaligus, bisa mandiri, tidak di tekan orang tua dan bisa pacaran dan qiana dengan lebih leluasa


"alasan!" sentak semua orang dengan kompak sampai membuat putera begitu terkejut karena keluarganya berucap dengan kompak dan suara yang lantang pula


"emang kita gak tahu akal bulus kamu" sahut damian yang sudah gatal ingin ikut bicara sejak tadi


"akal bulus gimana" tanya putera seolah-olah tak tahu apa yang di pikirkan keluarganya


"alah emang kita semua gak tahu apa kalau kamu naksir qiana, di tambah tadi saat kita tahu kamu bukan anak om brian jadi jelas tambah yakin aku kalau kamu naksir qiana" ucap damian mengutarakan pikirannya selama ini


"ketahuan ya" putera mengagruk tengkuknya yang tak gatal


"iya, emang kita bodoh apa" sahut  Revano


"emang aku suka qiana" putera mengangkat tangannya membentuk huruf v "tapi aku tahu batasan dan gak akan aneh-aneh sama qiana, murni buat jaga dia aja" jelas putera


"oke deh, kami percaya kamu begitu sayang sama qiana" sahut mama sheryl


"ya sudah, rayu calon pacar kamu tuh buat jangan ngambek dan bilang kami izinin dia untuk tinggal di apartemen tapi pasword apartemen gak boleh di ganti" ucap papa bachtiar yang ingin tetap pasword apartemen di ketahui pihak keluarga jadi dia bisa tetap mengawasi qiana sewaktu-waktu tanpa hambatan

__ADS_1


"oke om" putera dengan semangat berlari ke arah kamar qiana yang ada di lantai atas untuk menyampaikan kabar yang pasti akan membuat qiana sangat senang


__ADS_2