
putera menatap tak percaya ke arah papa Hans "kenapa papa bisa berpikir seperti itu" tanya putera heran dengan pemikiran papanya
"papa pernah muda putera, jadi papa tahu bedanya perasaan seorang kakak untuk adiknya dengan perasaan pria pada wanita yang di taksirnya " balas papa Hans
"lalu" putera ingin tahu maksud papanya
"kamu kelola perusahaan ayah kandung kamu, sebagai cadangan untuk menghadapai Dion yang bukan orang sembarangan" balas papa Hans
"papa setuju kalau aku mendekati qiana" tanya putera yang tidak ingin menutupi perasaannya lagi karena nyatanya ia tahu bahwa dirinya dan qiana bukanlah saudara sedarah
papa hans menghela nafas panjang "kalian berdua memanglah tidak memiliki daah yang sama dengan papah, tapi kalian berdua adalah kesayangan papa, papa melihat kalian tumbuh sejak dalam kandungan dan rasa cinta itu sama besar untuk kalian berdua
papa tahu kamu menyayangi qiana jauh lebih besar dan qiana pun begitu menyayangi kamu dengan cukup besar tapi itu belum cukup sebagai patokan kalian bisa bersama" papa hans menatap sendu anak sambungnya itu
"papa mau kamu jadi lelaki kuat dulu, dan yakinkan dulu perasaan kamu sama qiana, karena qiana berbeda dengan kamu putera. kamu mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuamu tapi kau hanya dekat dengan kami berdua dan kedua adikmu. berbeda dengan qiana yang hidup dengan kedua keluarga orang tuanya yang jelas membuatnya tidak nyaman" jelas Hans
putera menundukkan kepalanya "putera tahu itu pah, kehidupan pernikahan orang tuanya lah yang menyebabkan ia kekeh hanya langsung menikah dan tidak pacaran. aku tahu bahwa dia tidak baik-baik saja walaupun pikiran dan mulutnya bicara ia baik" balas putera
"jadi papa mohon, untuk sekarang jagalah qiana seperti adik kamu, dan setelah kamu resmi mengambil alih perusahaan ayah kamu baru mulai mendekati qiana secara perlahan saat hatimu sudah mantap menginginkan hidup bersama qiana, jika tidak ingin hiduo dengannya maka ikhlaskan saja dia bersama Dion karena papa yakin Dion tidak akan menyerah mendekati qiana" jelas papa Hans
Flash Back Of
putera mengusap pipi qiana dengan gerakan pelan "ingin rasanya kakak bilang cinta sama kamu, tapi kakak gak boleh egois, kakak haru ikutin usul papah agar kamu tidak terluka" batin putera
putera kembali mengusap pipi qiana "qiana" panggil putera "qiana" panggil putera lagi untuk membangunkan qiana
qiana membuka matanya "kakak sudah datang dari tadi" tanya qiana mengucek matanya
"sudah, dari tadi bangunin kamu susah banget" balas putera mencebikkan bibirnya
__ADS_1
"gak tahu nih kak, qiana ngantuk banget kali ya sampai ketiduran lama" qiana melihat keadaan langit yang sudah berubah warna menjadi jingga
"maaf ya kak, pasti qiana tidurnya kelamaan" ucap qiana
"gak papa, yok ke restoran aja buat makan malam, kakak pengen traktir kamu makan" putera menggandeng tangan qiana dan qiana menerima genggaman tangan putera dengan senang hati
"oke kak" balas qiana
putera tersenyum tipis "maafin kakak qiana kalau kakak agak licik untuk dapatin kamu. kakak akan buat kamu terbiasa dengan kehadiran kakak dan membuat rasa sayang itu makin besar jadi saat kamu tahu kita bukan saudara kamu tak akan menjaga jarak dengan kakak" batin putera
sepanjang jalan menuju restoran, qiana menceritakan kegiatannya di kampus tapi tidak menceritakan pertemuannya dengan Dion karena tak ingin membuat kakaknya marah kembali akibat Dion yang terus nekat menemuinya dan ingin menjadikannya istri
putera dan qiana berjalan ke arah restoran dan mencari tempat duduk di bagian pojok restoran yang terlihat tidak banyak pengunjung
"kamu tunggu pesan duluan ya, kakak mau ke toilet sebentar" ucap putera
"iya kak" balas Qiana
"gimana kamu sudah dapatkan dia belum" tanya seorang pria
pria di seberang sana menggelengkan kepalanya " belum indra" balas pria tersebut dengan lesu
pria yang ternyata bernama indra itu tertawa keras "rasain kamu dion.... dion " ledek indra
ya ternyata yang berada di seberang tempat duduk qiana yang terbatas penghalang itu adalah Dion dan sahabatnya indra
"jangan ngeledek kamu deh, kamu gak tahu sih seberapa kerasnya usahaku mendekatinya selama tiga tahun ini, dan hanya bisa sampai segini saja padahal aku benar-benar tertarik padanya" balas Dion
"indera makin terkekeh "lagian kamu gila juga, suka sama anak di bawah umur" balas indra
__ADS_1
"sekarang dia bukan di bawah umur lagi, dia tumbuh jadi wanita yang begitu cantik tahu" balas Dion tak terima di katai menyukai wanita di bawah umur
"ya itu kan sekarang, dulu waktu kamu ngejer dia kan dia masih 15 tahun, masih di bawah umur lah" indera menggelengkan kepalanya melihat tingkat sahabatnya yang terbilang aneh "tapi ya dion, kamu yakin mau nikah sama wanita itu" tanya indera
"iya lah yakin, kalau enggak nngapain juga aku ngebet dekatin dia" balas Dion
"dion.... dion..... aku tuh tahu betul sama kamu, kamu tuh orang yang mudah bosen, kamu tertantang hanya karena dia terus menolak untuk pacaran makanya sekalian aja kamu mau nikahin dia. coba kalau dia langsung mau jadi pacar kamu kaya wanita-wanita yang pernah dekat dengan kamu, pasti kau juga akan tinggalin seperti biasanya" ucap indera yang hanya di balas tawa oleh dion
qiana menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya setelah mendengar obrolan Dion dan sahabatnya itu. sejenak ia merasa lega tidak salah dalam mengambil keputusan untuk menjaga jarak dari pria itu
di titik ini lah dia tambah yakin untuk tidak salah dalam memilih pasangan hidup yang akan menjadi pendampingnya selama ia menghabiskan sisa usianya. qiana benar-benar tak ingin seperti ayah dan mamanya yang sempat salah memilih pasangan
"sudah pesan makanannya" tanya putera menghampiri qiana untuk duduk di sebelah qiana
qiana tersenyum tipis ke arah putera "sudah kok kak, paling bentar lagi pesanannya datang" balas Qiana
putera mengusap kepala qiana dengan lembut dan kembali melihat ponselnya, sekedar mengisi waktu sampai makanan mereka datang
di sebelah tempat duduk qiana dan putera, Dion membelalakan matanya lebar mendengar suara wanita yang beberapa tahun ini selalu wara-wiri di otaknya "qiana" Dion beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang ada di samping tempat duduknya yang terhalang penghalang berwarna abu-abu itu
"Qiana" Dion tak percaya bahwa qiana ada di sebelahnya, dan pasti ia mendengarkan obrolannya dengan indra sahabatnya
qiana tersenyum tipis ke arah Dion "hai mas Dion" balas qiana dengan senyuman
"kamu dari tadi" tanya Dion
"hmmmm lumayan sih, sepertinya sebelum mas datang" balas Qiana dengan santai
putera menatap tidak suka ke arah Dion "kita pindah tempat ya qiana" pinta putera
__ADS_1
"jangan dong kak, pesanannya kan belum sampai jadi kita makan dulu" balas qiana
qiana menoleh ke arah Dion "maaf mas, qiana mau makan kalau mau bicara tolong nanti saja ya" pinta qiana dengan sopan