
Lanjutan...
Ash membawa istrinya masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya. Shena senang karena Ash mengizinkannya untuk memelihara seekor kelinci yang akan dirawat baik dengan bantuan pegawai yang ditugaskan Ash.
"Terima kasih Paman, Karena sudah mengizinkan aku memeliharanya."
"Tidak perlu berterima kasih, Aku juga menyukai hewan peliharaan yang menggemaskan."
Shena mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, Aku sudah menyiapkan baju santai Paman. Paman bisa mandi sekarang." Shena berdiri untuk mengambil handuk di lemarinya.
Ash membuka sepatu dan pakaian luarnya, Ia memang sudah sangat lelah dan lengket hari ini.
"Akhh.." Keluh Shena memegang dadanya yang kembali terasa nyeri tiba-tiba.
Mendengar suara Shena yang seperti mengeluh sakit, Ash langsung secepat mungkin mendekati Shena.
"Ada apa? Apa dadamu sakit?" Tanya Ash panik, ia menuntun Shena duduk di pinggir tempat tidur.
"Hanya sedikit, Paman. Nanti akan baik-baik saja." Elak Shena menarik dan membuang napasnya secara perlahan.
"Apa Asma mu kambuh hanya karena kelinci tadi?" Tanya Ash memberikan air minum pada istrinya.
"Maaf Paman, Tadi aku sudah memeluk dan menggendong kelincinya lebih dulu sebelum kau datang." Ujar Shena jujur.
"Sudah berapa kali aku katakan, Kau itu ceroboh sekali. Apa perlu sekarang aku membuang Kelinci itu??" Bentak Ash membuat Shena takut dan hanya diam saja.
"Sekarang di mana Obat mu? Apa kau memiliki nya?" Tanya Ash lagi. la sangat kesal dengan keteledoran istrinya itu. Padahal baru saja Ash memberi tahunya.
"Sudah lama tidak kambuh. Jadi, aku tidak pernah mempedulikan obat itu lagi." Lirih Shena menundukkan kepalanya takut melihat wajah Ash.
"Dulu kau merengek pada Paman Jim untuk tidak meminum obat yang ku berikan dengan menyangkal bahwa kau bukan orang penyakitan. Tapi kau lupa dengan riwayat penyakit mu sendiri!" Bentak Ash karena peduli bukan benci.
Wajah Ash semakin kesal, Ia bangkit menghubungi seseorang.
"Paman, Aku mohon jangan membelikan obat itu lagi. Aku sungguh tidak apa-apa sekarang. Dan mohon jangan beritahu pada ayah mengenai masalah ini, Atau tidak dia akan lebih kejam darimu." Rengek Shena menghentikan Ash yang hendak menelepon.
Panggilan yang sempat tersambung itu, langsung Ash mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Kau duduk saja di sini, Jangan kemana-mana! Aku mandi setelah itu kita makan." Titah Ash tanpa memperpanjang masalah lagi.
Shena diam di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Jika sudah seperti ini, Ia paling takut dengan suaminya itu.
Selesai mandi dan memakai baju, Ash menggandeng tangan Shena menuju meja makan.
"Permisi Tuan muda, Paman Jim sudah menunggu anda di depan!" Bisik Ketua Maid di telinga Ash saat ia baru saja turun.
Ash langsung bangkit dan menemui Paman Jim yang sengaja ia perintah untuk membeli obat Asma istrinya.
"Ini obat yang anda minta, Tuan muda." Ujar Paman Jim. Mereka memang diam-diam membeli obat itu agar tidak diketahui Tuan Theo.
"Baiklah Terima kasih, Paman Jim. Kau boleh pergi sekarang." Ucap Ash memasukkan obat itu ke dalam saku celananya.
Saat sampai meja makan, Ash masih melihat Shena yang mengelus dadanya sesekali.
"Mengapa wajah mu pucat, Shena? Kau sakit?" Tanya Tuan Theo memegang kening putrinya. Beliau memang belum mengetahui jika Shena membawa seekor kelinci ke mansion.
"Tidak Ayah, Shena hanya sedikit lelah saja." Bohong Shena.
"Jangan terlalu memaksakan, Nak. Jika lelah kau istirahat saja! Mungkin saat di pasar tadi kau terlalu hiperaktif." Ujar Tuan Theo mengusap rambut putrinya.
Ash yang berdiri diujung sana seketika terdiam. Wajahnya berubah, tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang menyesali sesuatu.
"Apa mungkin Asma mu kambuh? Besok kita ke dokter ya, Ayah tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
"Tidak, Aku tidak ingin, Ayah! Cukup meminum obat dan istirahat saja, Nanti sakitnya akan hilang." Tolak Shena.
Ash bergabung dengan mereka, Lalu meletakkan obat istrinya ke dalam piring kecil.
"Ayo sekarang kau makan dulu, Setelah itu minum obat." Titah Ash seperti perintah seorang ibu pada anaknya.
"Apa yang terjadi pada Shena, Ash?" Tanya Tuan Theo beralih pada menantunya.
"Shena tadi mengatakan padaku jika dia pusing Ayah. Aku sudah meminta Paman Jim untuk membelikannya dan Ini adalah obatnya. Shena akan lebih membaik setelah meminum obatnya." Kata Ash yang ikut membohongi mertuanya. Ia pun tidak jujur jika Asma Shena kambuh hanya karena seekor kelinci yang ada di halaman belakang.
"Dia memang anak yang aktif sekali. Hanya sepulang dari pasar, dia sudah seperti ini. Lain kali bersikaplah biasa saja agar otakmu sendiri tidak pusing." Nasihat Tuan Theo.
Setelah puas memakan makanan, Shena meminum obatnya, Lalu beranjak ke kamar. Karena tadi Ash meminta Paman Jim untuk meminta resep obat yang baru pada dokter sahabatnya yang sudah ahli dalam bidangnya. Efeknya Shena akan lebih cepat mengantuk dan tertidur.
__ADS_1
"Tidurlah sayang." Ucap Ash mengecup kening istrinya.
Setelah dirasakan Shena benar-benar tertidur lelap, Ash beranjak meninggalkan Shena untuk menemui ayah mertuanya.
"Ayah!" Panggil Ash membuka pintu ruang kerja mertuanya.
"Masuklah Ash, Ada yang ingin ayah tanyakan juga."
Ash duduk di sofa yang memang disediakan oleh ayah mertuanya di ruangan itu.
"Apa Shena sudah lebih membaik?" Tanya Tuan Theo yang terlihat sedih.
"Ya. Shena sudah tertidur sekarang setelah meminum obatnya."
"Mendengarnya mengatakan sakit seperti ini, Ayah teringat akan riwayat penyakitnya yang sudah tidak kambuh lagi. Dan Ayah takut jika Shena sedang mengalami saat ini. Padahal ayah pikir dia sudah benar-benar sembuh. Ini adalah bawaan dari ibunya. Ibu mertua mu memiliki riwayat penyakit Asma yang turun pada Shena." Terang Tuan Theo.
"Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada istriku."
Ayah menatap menantunya dengan dalam, Ia melihat kesungguhan dimata sang menantu. Seharusnya ia tidak boleh meragukan keseriusan Ash walau pria itu terlihat cuek dan dingin.
"Lalu, Bagaimana dengan pria itu, Ayah dengar dari anak buah ayah jika saat ini dia sudah berada di Indonesia. Ayah tidak ingin hal buruk terjadi pada putri ayah. Meskipun dia anak angkat Thomi, Tapi tetap saja ia terlahir dari keluarga lain yang menjalin hubungan dengan putriku di masa lalu sampai meninggalkannya. Ayah takut dia membawa rencana jahat setelah kembali. Apalagi dia sangat membenci Ayah yang pasti akan imbas pada Shena juga."
Ash terdiam mendengar perkataan Ayah mertua nya. Kini ia harus lebih waspada dan lebih memperketat penjagaan pada istrinya.
"Dia terobsesi pada Shena, Ash. Dia bisa melakukan apapun untuk menyakiti dan mendapatkan Shena kembali." Sambung ayah lagi.
Wajah Ash berubah dingin, Ia menggelengkan tangannya dengan kuat sampai kuku-kuku jarinya memutih.
"Itu tidak akan terjadi Ayah, Dia tidak akan bisa menyentuh istriku sedikitpun. Jika sampai dia menyentuh istriku walau hanya seujung kuku pun, Akan ku pastikan dia lenyap ditangan ku."
Ash mengucapkan dengan kilatan emosi di matanya. Kisah mengenai Shena lah yang masih menjadi misteri, bahkan Shena sendiri masih belum tahu apa yang telah terjadi padanya beberapa tahun yang lalu.
"Baiklah, Ayah percaya padamu. Ayah harap yang terbaik untuk kalian berdua."
Setelah perbincangan itu, Ash kembali ke kamar istrinya. Ia menatap wajah tenang Shena yang tertidur lelap di dalam balutan selimut.
Ash bergabung dengan Shena membawa Shena ke dalam pelukan hangatnya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu bahkan merebut mu dariku." Bisik Ash memeluk tubuh Shena sangat erat.
__ADS_1
Wanita itu hanya menggeliat sedikit, Lalu kembali ke alam mimpinya. Ash mengecup kening Shena lama, Lalu ikut memejamkan matanya.