Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Part 52 - Kapan Memiliki Anak?


__ADS_3

Ash sudah siap dengan setelan jas mahal miliknya. Hanya tinggal satu, yaitu dasi. Ash meminta Shena untuk memasangkan dasi pada istrinya.


"Shena, Pasangkan aku dasi! Aku sudah hampir terlambat." Kata Ash sedikit berteriak agar istrinya mendengar.


"Sebentar Paman, Aku sedang buang air kecil." Pekik Shena berteriak dari dalam kamar mandi.


Setelah selesai, Shena langsung mengambil dasi dari tangan Ash, Lalu menghadap suaminya.


"Sudah tahu terlambat, Mengapa kau masih menunggu ku? Bukankah Paman bisa memakainya sendiri." Ucap Shena yang mulai berjinjit memasang dasi suaminya.


"Lalu, Apa gunanya dirimu?" Ketus Ash.


Shena tidak menjawabnya, Ia malas berdebat dengan suaminya itu.


"Sudah. Sekarang sudah siap. Sekarang kita sarapan. Setelah itu, Baru Paman berangkat bekerja." Ucap Shena setelah selesai memasang dasi Ash dengan rapi.


Shena mengambil tas kerja suaminya dan menarik tangan Ash mengarah ke luar.


Jika terus berada di dalam kamar bisa-bisa Ash tidak akan pergi berangkat bekerja nantinya.


"Pagi Ayah, Pagi Tuan Dayn, Arthur." Sapa Shena.


"Pagi Sayang..." Jawab Tuan Theo.


"Pagi Nona Shena..." Jawab bersama Dayn dan Arthur.


"Ayo makan, Nak! Semua sarapan sudah disiapkan untuk kalian." Ajak Tuan Theo meletakkan dua piring untuk Shena dan Ash.


Semua orang sedang asyik sarapan tanpa bersuara. Hanya terdengar suara sendok dan piring saja. Tuan Theo sekali melihat Shena dan Ash bergantian.


"Ash, Shena.." Panggil Tuan Theo membuyarkan keheningan.


"Iya Ayah, Apa ada yang ingin ayah sampaikan?" Tanya Shena meminum susunya.


"Iya Nak, Ayah ingin menanyakan pada kalian, Kapan kalian akan memberikan Ayah seorang Cucu? Ayah sudah tidak sabar untuk menimang cucu." Kata Tuan Theo penuh harap, wajahnya nampak berbinar saat mengatakan kata cucu.

__ADS_1


"Iya benar, Kalian belum sempat berbulan madu lagi, bukan? Bagaimana jika kalian berbulan madu untuk kedua kalinya? Supaya cepat prosesnya." Kata Arthur bersemangat.


Dayn hanya tertawa cengengesan di sela makannya dan bahkan sempat tersedak.


Shena dan Ash sontak saling pandang. Ash pasti mendukung permintaan mertuanya itu. Ash pun sangat berharap agar Shena segera mengandung anaknya, agar wanita itu tidak bisa lagi lepas dari genggamannya. Karena Ash masih belum yakin dengan perasaan Shena saat ini, Apalagi Shena masih ada rasa dengan mantan kekasih cinta pertamanya itu. Jika memiliki anak, Shena sendiri tidak akan merasa kesepian lagi. Namun, Sepertinya berbanding terbalik dengan Shena, gadis itu masih harus berpikir panjang untuk segera memiliki anak. Shena takut suatu hari nanti Ash akan berpaling dan meninggalkan dirinya seorang diri. Entah perasaan apa yang mereka berdua tengah mereka hadapi saat ini, yang jelas Shena sangat takut jika Ash hanya mempermainkan dirinya!


"Tapi Aku masih muda Ayah, Apa tidak sebaiknya nanti saja?" Ucap Shena menundukkan kepalanya, Shena belum siap jika suatu nanti Ash berubah dan pergi meninggalkannya. Apalagi Shena banyak kekurangan, memiliki riwayat penyakit Asma, tidak berpendidikan tinggi dan masih banyak lainnya.


"Apa aku harus berubah dan menjadi orang lain, Baru Shena akan selalu bersama ku? Atau aku harus menjadi pria yang buruk seperti para mantan kekasihnya agar Shena mencintai ku? Aku bisa melihat keraguan di mata mu Shena, Meskipun kau tidak mengatakannya untuk tidak menyinggung perasaan ku." Batin Ash berkecamuk.


Sebenarnya Shena sendiri belum yakin dengan perasaan nya, tapi setiap kali bersama Ash, Shena merasa aman dan nyaman. Hanya saja diantara keduanya tidak saling tahu bagaimana hati yang sebenarnya?


"Tidak perlu memikirkan usiamu sayang, Ayah dan Ibumu dulu bahkan semua orang pasti ingin sekali memiliki anak saat berusia seperti kalian ini. Hidup jauh lebih bahagia saat memiliki anak, Shena." Jelas Tuan Theo.


Rupanya perbincangan ini membuat Shena tidak nafsu makan, Bagaimana pun Shena masih belum siap. Ash yang mengerti suasana hati Shena sedang tidak enak langsung membawanya pergi.


"Nanti kami akan pikirkan kembali, Ayah. Yang terpenting saat ini Shena siap dan menerima semuanya dengan ikhlas." Ucap Ash menyudahi perbincangan perihal dorongan kehamilan Shena.


Tuan Theo cukup terlihat berpikir dalam benaknya. Ash dan Shena memang sudah pantas mendapatkan anak seharusnya. Tapi mengapa mereka tersinggung? Batin Tuan Theo.


"Lho, Kalian tidak makan terlebih dahulu? Makanan kalian belum juga habis." Tanya Tuan Theo.


"Kami terburu-buru Ayah. Ditakutkannya Paman Ash akan terlambat nantinya." Elak Shena ikut berbohong.


"Baiklah, Jika begitu kalian berhati-hatilah." Kata Tuan Theo menyetujui keputusan anak dan menantunya.


Setelah Ash dan Shena benar-benar pergi. Tuan Theo langsung menatap Dayn dan Arthur dengan sedih.


"Apa Paman sudah kelewatan, ya? Apa Paman terlalu memaksakan kehendak pada Shena." Tanya Tuan Theo lirih pada keduanya.


"Jangan bersedih, Paman. Mungkin memang mereka berdua belum siap." Ucap Arthur.


"Benar Tuan Theo. Hargai saja keputusan yang dibuat Nona Shena. Mungkin ia memang masih membutuhkan banyak waktu." Timpal Dayn memberi pengertian.


...***...

__ADS_1


Sesampainya di Perusahaan, Ash mulai terus terang dengan langsung membawa Shena masuk ke dalam ruangannya melewati beberapa karyawan dan pegawai lain yang melihat mereka dengan tatapan bingung. Karena Ash belum pernah membawa Shena ke perusahaan saat mereka menikah dan pernikahan mereka pun tidak diketahui.


Ash menggenggam erat tangan Shena dan tidak memberikan celah bagi siapapun untuk menatap istrinya itu. Siapa yang berani menatapnya maka Ash langsung memberikan tatapan tajamnya.


"Tunggulah di ruangan ku terlebih dahulu. Kenan akan mengantarkan mu." Kata Ash.


"Paman jangan lama, Aku tidak ingin sendirian." Ucap Shena memegang tangan Ash.


"Hanya sebentar saja, Setelah itu aku akan menyusul mu. Kenan, mantan asisten ayah mu pun ada di sini menjadi asisten pribadi ku. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Setelah dirasa aman, Ash langsung pergi ke ruang meeting untuk bertemu dengan tamu jauhnya. Sementara Shena, gadis itu langsung pergi di antar oleh Kenan yang sangat senang bisa bertemu anak dari atasannya terdahulu yang menjadi Nona mudanya bahkan masih hingga sekarang.


Di Ruangan Ash...


"Silakan Nona, Tuan muda berpesan agar Nona lebih baik menunggu di sini sembari memakan makanannya hingga habis." Ujar Kenan yang sempat diberikan perintah oleh Tuannya itu.


"Baiklah terima kasih, Aku akan memakannya."


Shena duduk di sofa dengan beberapa makanan yang sudah tersusun rapi di atasnya. Susu, Salad, dan beberapa menu sehat lainnya.


"Suamiku ini selalu saja pengertian.." Batin Shena tersenyum sendiri mengingat suaminya itu.


Ash yang memperhatikan dirinya dari layar ponselnya menyunggingkan senyumnya. la sengaja menyiapkan makanan agar istrinya itu bisa makan sepuasnya. Tadi sebelum pergi Shena belum sempat makan karena perbincangan yang membuat nafsunya hilang.


"Makanlah yang banyak, Sayang... Setelah hari ini akan ku pastikan kau akan segera mengandung buah cinta kita. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Aku takut kau akan pergi dan meninggalkan ku sendiri."


Ash mengusap layar ponselnya, Lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya sebelum masuk ke ruang meeting. Padahal tidak sedang ada pertemuan klien atau rapat bersama karyawan dan ruangan itu kosong melompong yang hanya Ash seorang.


"Maaf Tuan, Saya datang terlambat. Ada sedikit kendala di jalan."


Ash langsung menatap tajam ke arah sumber suara tersebut, tatapannya penuh intimidasi.


"Bagus kau sudah datang! Aku tidak ingin berbasa-basi lagi." Ash langsung mengeluarkan beberapa foto dari saku nya, ia menatap wajah pria itu dengan tatapan serius.


"Singkirkan dia!" Ucap Ash dengan anda suara yang penuh dengan kemarahan.

__ADS_1


"Aku ingin istriku selalu aman dan terlindungi!"


__ADS_2