Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Ingin dekat (season 2)


__ADS_3

Dion menyunggingkan senyumnya samar saat qiana sudah mulai memanggil dengan tambahan 'mas' di depan namanya, dan entah mengapa itu begitu membahagiakan untuknya "ngomong-ngomong kamu sudah mulai ngambil jam tambahan belajar di luar sekolah belum" tanya Dion


"belum pak, saya rasa kurang perlu" Qiana menoleh ke arah Dion yang sedang berkonsentrasi menyetir "bapak kan tahu saya bukan yang tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik tapi hanya malas saja untuk dapat nilai baik" jelas qiana


"iya saya tahu, tapi pasti orang tua kamu nyuruh untuk ikut kelas tambahan karena nilai kamu itu kan" Dion tahu qiana memang cukup pintar, tapi pasti orang tuanya akan khawatir dengan sekolah qiana yang sudah di penghujung jalan tapi nilainya kurang bagus


"kalau nyuruh sudah pasti pak, mereka sudah kasih nama-nama guru yang ingin di jadikan pembimbing di masa kelas 3 saya ini tapi saya malas mau ikut kelas tambahan" balas qiana


"gimana kalau saya yang jadi guru pembimbing kamu selama masa ujian" tawar Dion


qiana mendelikan matanya "mas dion gak salah nawarin saya untuk jadiin mas sebagai guru pembibimbing saya untuk persiapan ujian" tanya qiana memastikan


"enggak, toh saya cuma ngajar aja dan banyak nganggurnya, bolehlah nambah-nambah uang jajaj" kekeh Dion


"bapak ceritanya mau jadiin saya ladang uang buat tambahan jajan bapak" sahut qiana


"emmm mungkin" balas Dion


"nanti tanya sama bunda dulu ya mas, soalnya yang atur untuk sekolah qiana itu bunda" balas qiana


"mama kamu emang gak ikut urusin" tanya Dion


"enggak, soalnya mama percaya sama pilihan bunda itu yang terbaik lagian bunda kan lebih sering keluar negeri sama papa jadi fokus sekolah qiana di urus sama bunda" balas qiana


"emmmm" Dion hanya membalas singkat


"besok kamu sekolah di antar kakak kamu atau di antar sopir" tanya Dion


"kayanya sama sopir deh, soalnya kata kak putera dia ada kelas pagi jadi mungkin agak ribet kalau harus ke sini dulu, kalau qiana tinggal di rumah ayah dan bunda lah mungkin dia sempatin mampir tapi kalau sekarang saat di rumah mama dan papa kayanya agak susah" jelas qiana


"gimana kalau saya yang jemput kamu biar kita berangkat sekolah bareng" tawar Dion


"saya sama Damian juga pak" sahut qiana


"ya gak papa qiana, kita semua kan satu sekolah" balas Dion


"ya sudah terserah bapak saja" balas qiana


tak lama berselang mereka sudah sampai depan rumah qiana "terima kasih ya pak" qiana melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil

__ADS_1


qiana memutar tubuhnya agar berdiri di dekat posisi Dion "hati-hati berkendara ya mas" ucap qiana


"iya, selamat malam qiana" Dion mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah orang tua qiana


Dion melirik qiana yang sudah masuk dalam rumah melalui kaca spion "aku pasti bisa dekat denganmu" gumam Dion dengan senyum tipisnya


Qiana masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kakinya menuju kamar adiknya untuk melihat apakah adiknya sudah tidur atau belum "ceklek" qiana menghampiri ranjang tisur adiknya


"kebiasaan" qiana mulai merapihkan barang yang masih berserakan di kamar Vansh, tak lupa membenarkan selimut vansh


"selamat tidur adik kakak" qiana mengusap kepala vansh dengan lembut, berjalan keluar kamar vansh dengan hati-hati


qiana bergegas masuk kamarnya untuk membersihkan diri agar bisa berbaring dengan nyaman saat tidur


"huuuh" qiana merebahkan tubuhnya setelah mengeringkan rambut basahnya "ngapain pak Dion tadi minta di panggil lain saat di luar sekolah ya" gumam qiana yang merasa aneh dengan sikap Dion yang sepertinya makin dekat dengannya akhir-akhir ini


"sudah lah" qiana malas memikirkannya dan memilih tidur saja


***


Qiana sudah bersiap sekolah dan meminta adiknya untuk sarapan bersama "yok vansh sarapan dulu" ajak qiana


"mama semalam telpon kamu katanya kamu gak ngangkat" ucap qiana


"iya kak, tadi pagi aku sudah lihat panggilan tidak terjawab dari mama dan sudah ngabarin ke mama kenapa aku gak angkat telpon semalam" balas vansh


qiana dan vansh mulai duduk di meja makan "kakak juga semalam sudah bilang ke mama kalau mungkin kamu ketiduran jadi gak angkat telpon kamu" balas qiana


"pagi om vansh, pagi qiana" sapa Damian


"pagi damian" balas qiana


mereka mulai sarapan bersama sambil mengobrol ringan "maaf nona" bik amra menyela acara sarapan qiana


qiana menoleh ke arah bik amra "ada apa bik" tanya qiana


"ada pak dion di luar katanya sudah ada janji sama nona" ucap bik amra


"suruh masuk aja bik, bilang kita lagi sarapan" balas qiana

__ADS_1


damian mengerutkan keningnya "pak dion, guru kita" tanya damian memastika


qiana mengangguk "iya, guru matematika kita" balas qiana


"buat apa dia sepagi ini sudah datang ke rumah kita" tanya damian heran kenapa gurunya bisa ada di rumah kakeknya di jam sepagi ini


"saya mau ajak kalian berangkat sekolah bareng" sahut Dion yang sudah dekat dengan meja makan


"duduk dulu mas, ikut sarapan" tawar qiana


"mas..." damian terperanjat kaget saat qiana memanggil dion dengan sebutan mas


vansh dan damian menatap dion dengan tatapan intimidasi pada laki-laki yang mencoba dekat dengan saudara perempuan mereka


"sejak kapan bapak dekat dengan princess kami" tanya damian dengan tatapan tak suka


dion tersenyum simpul menanggapi reaksi damian yang mendengar dirinya di panggil mas oleh qiana "itu hanya panggilan biasa saat di luar sekolah, saya hanya tidak mau terlihat tua saat ada di luar tak emmakai seragam dan di sebut bapak itu terasa kurang nyaman" jelas Dion


"oh" balas dion dengan ketus


"mas dion sudah sarapan belum, kalau belum ikut sarapan dengan kami yuk" ajak qiana dengan sopan


"sudah, kalian sarapan saja" balas Dion dengan senyum tipisnya


"ya sudah, kami sarapan dulu ya mas" qiana melanjutkan kembali sarapannya agar bisa segera berangkat sekolah


setelah sarapan, mereka semua segera menuju ke tempat aktivitas mereka masing-masing, vansh ke sekolahnya begitupun qiana dan damian yang ke sekolah mereka dengan di antar Dion


dion bisa melirik tatapan damian yang begitu menghundus tajam ke arah Dion "kenapa kamu menatap saya seperti itu damian" tanya Dion


qiana menoleh kebelakang "ada apa" tanya qiana


"jangan lupa ucapanmu qiana kalau tidak akan pacaran sama sekali, dan hanya akan langsung menikah dengan orang yang kau rasa tepat untuk menikah" ucap damian pada ucapan qiana yang terlontar di depan seluruh anggota keluarga besarnya


qiana mengerutkan keningnya "aku gak lupa dengan itu, kenapa kamu jadi ngebahas itu" tanya qiana


damian menatap tajam dion "bapak dengar sendiri ucapan sepupu saya kan, jadi jangan coba-coba mendekat" ucap damian dengan nada penuh intimidasi


dion terkekeh dengan penuturan damian "saya paham maksudmu, tapi sepertinya gak ada kata mundur buat saya" balas dion dengan melirik damian dari balik kaca di depannya

__ADS_1


qiana mengerutkan keningnya, jadi makin bingung dengan pembahasan damian dan dion "kalian bicara apa sih, jangan bikin bingung deh" tanya qiana yang benar-benar tidak tahu apa yang di bahas dion dan damian


__ADS_2