
Cindy di larikan ke ruang IGD untuk melakukan penanganan cepat akibat pendarahan yang terbilang cukup hebat sebab di sepanjang tangan Alvian yang terus memegangi tubuh Cindy yang berlumuran darah
Riko menepuk pelan bahu Alvian "bersihkan dulu darahnya Alvian, aku akan menjaganya di sini" ucap Riko
Alvian masih memandangi pintua ruang IGD "tidak sampai aku tahu Cindy baik-baik saja" balas Alvian
Riko menghela nafas panjang "aku tuh gak ngerti jalan pikiran kalian bertiga, kalau kamu begitu mencintai Cindy sampai menghamilinya kenapa tidak meminta Cindy bercerai saja dari Dion dan kalian menikah" tanya Riko menanyakan apa yang ada dalam pikirannya selama ini tapi terus tertahan sebab tak ingin ikut campur dalam urusan orang lain
Alvian menoleh ke arah Riko "apa kau pikir aku tidak pernah melakukan itu" Alvian melirik ke arah seseorang di belakang tubuh Riko "aku sudah berkali-kali memintanya menjauh dari pernikahan di atas kertas ini tapi lagi-lagi dia bilang ingin mencoba membuat Dion bisa mencintainya" Alvian meraup kasar wajahnya "aku akui salah sudah memanfaatkan kesepian adik iparku saat suaminya mengabaikannya tapi aku gak sanggup melihatnya terluka sendirian jadi aku memilih ikut terluka bersamanya " jelas Alvian
Riko mengamati tatapan mata Alvian yang tidak terarah padanya membuatnya menoleh ke belakang dan melihat sudah ada Dion di sana "Dion" Riko tak menyangka Alvian akan berucap itu di depan adiknya
Dion menatap tajam kakaknya "aku tidak akan menceraikannya " ucap Dion dengan tegas
"jangan menambah lukanya lagi Dion, kalau sampai dia sadar dia pasti akan sangat membencimu sebab kau sudah melukai anaknya" balas Alvian
"bukan aku yang melukainya tapi tangan Riko yang sudah membuat Cindy jatuh" elak Dion tidak ingin di salahkan
"tapi tetap saja kau mencoba memaksa Cindy meminum obat penggugur kandungan" balas Alvian
"sekarang aku tak peduli anak itu masih ada atau tidak, Cindy tetap istriku sampai mati" tukas Dion
Alvian memicingkan matanya ke arah Dion "lalu bagaimana rencanamu untuk menghancurkan keluarga itu agar bisa membuat Qiana menjadi milikmu" tanya Alvian
Dion menyipitkan matanya "bagaimana kakak tahu hal ini" tanya Dion tak percaya bahwa rencananya sudah di ketahui sang kakak padahal ia pikir belum karena kakaknya hanya diam saja
"semua juga sudah tahu Dion, tak terkecuali Cindy" balas Alvian
"maksud kakak" tuntut Dion
__ADS_1
"kau pikir kenapa dia berusaha keras untuk tahu seluk beluk perusahaan keluarga kita" Alvian menunjuk ke arah Dion "itu karena kamu, dia tahu rencanamu yang ingin merusak hidup sahabatnya dan melemparnya jauh" balas Alvian
Dion memundurkan tubuhnya kebelakang dan jatuh terduduk "aku tetap tak ingin bercerai dari Cindy" tukas Dion
"sudah telat Dion, aku tahu betul sifat Cindy" Alvian menggelengkan kepalanya "aku tak bilang dia sudah mencintaiku melebihi cintanya padamu tapi dia sudah di titi lelahnya, titik di mana ia sama sekali tak ingin lagi memperbaiki hubungannya denganmu makanya dia memilih untuk memiliki anak denganku agar dia tak akan berpikir ulang untuk mempertahankan pernikahan kalian saat mungkin kau akan berbalik" jelas Alvian panjang lebar
"dia sudah memperhitungkan segalanya, bahkan mungkin dia juga sudah memperhitungkan perubahanmu di bagian akhir karena sudah memahami sifat keras kepalamu itu" tukas Alvian
Dion menyipitkan matanya ke arah Alvian "kalau gitu jauhi istriku dan jangan mencoba mengusiknya" balas Dion
Alvian menggelengkan kepalanya "maaf Dion kali ini aku tidak akan mengalah, sebab kakak yakin dia tidak akan kembali padamu kalau sampai kakak memilih melepaskannya dia akan berlari ke orang tuanya dan rasa cinta orang tuanya yang begitu besar padanya pasti akan membuatku tak bisa meraihnya jika aku nekat melepasnya kali ini" Alvian menolak tegas permintaan adiknya
Dion melangkah ke arah Alvian dan mencengkeram kerah baju Alvian "dia istriku kak!" bentak Dion
Alvian menatap datar adiknya "kau sendiri yang terus melemparnya padaku Dion, jangan lupakan itu bahkan kita punya perjanjian setelah kalian bercerai Cindy akan jadi milikku" balas Alvian tak mau menutupi keinginannya untuk memiliki Cindy lagi
"kau" Dion begitu geram dan memukul kakaknya tidak perduli akan membuat keributan di rumah sakit
"aku tidak akan melepas istriku" tunjuk Dion ke arah Alvian
"kita lihat saja nanti" balas Alvian
keributan yang terjadi di depan ruangan IGD tentu membuat pegawai rumah sakit bertindak, dan karena Dion yang memukul Alvian tanpa alvian coba melawannya membuat Dion yang di usir dari rumah sakit agar tidak kembali membuat keributan
"SIAL" Dion terus mengumpat di area parkir rumah sakit karena tak bisa berada dekat istrinya dan hanya bisa memandangi gedung Rumah sakit
***
"Keluarga nyonya Cindy Bantley" panggil pria berjas putih
__ADS_1
"iya, saya keluarganya " Alvian berlari ke arah dokter itu "bagaimana keadaannya dok dan bagaimana kandungannya" tanya Alvian secara beruntut
"kondisi pasien cukup lemah tapi syukurlah kami masih bisa menyelamatkan bayi anda tuan, tolong kali ini harus menjaganya dengan hati-hati jangan biarkan dia banyak berpikir dan ia harus bedrest total sampai kandungan istri anda cukup kuat" jelas sang dokter
Alvian bisa bernafas lega saat mendengar kandungan Cindy masih bisa di selamatkan "apa saya bisa menemuinya dok" tanya Alvian
"kami sudah membawanya di ruang rawat VIP sesuai dengan pesan anda pada petugas kami, nanti perawat kami akan mengantar anda ke ruangan rawat istri anda" balas dokter itu
Alvian langsung bergegas menemui Cindy agar bisa melihat keadaan wanita pujaan hatinya itu "ceklek" Alvian membuka pintu dengan cukup keras
"sayang" Alvian berlari ke arah Cindy yang sedang duduk di headboard dan langsung memeluknya
Riko yang tahu posisinya dan tahu betul pasti banyak yang ingin di bicarakan Cindy dan Alvian memilih menjauh dari sana, lebih baik ia akan mengurus penjaga yang akan menjaga Cindy nantinya sebelum Alvian memintanya
Cindy mengusap punggung Alvian dengan gerakan lembut "kakak pasti sangat ketakutan ya" tebak Cindy dengan seutas senyum tipis di bibirnya
Alvian mengurai pelukannya "kau tahu rasanya jantungku berhenti berdetak saat melihatmu pendarahan seperti itu, dadaku begitu sakit" Alvian mencengkeram kuat dadanya menyiratkan betapa sakitnya hatinya saat melihat Cindy terluka
Cindy menundukan kepalanya "maafkan aku kak, niat awal aku ingin memberitahu kehamilanku sebagai kado ulang tahunmu nanti, aku benar-benar tak menyangka akan ketahuan secepat itu sama mas Dion" ucap Cindy dengan penuh rasa sesal
Alvian menggenggam tangan Cindy dengan erat "apa saat kamu bilang melepas KB mu dan akan hamil anakku, kamu sudah tahu kalau sedang hamil" tanya Alvian
"iya, saat mengambil gaun untuk ke pesta pernikahan Tiara aku sadar kalau belum datang bulan cukup lama, awalnya iseng saja mengecek ke rumah sakit tapi nyatanya benar kalau aku sedang hamil" balas Cindy
Alvian langsung menghambur memeluk Cindy "sekarang tak ada alasan lagi kamu menunda perceraianmu" ucap Alvian
Cindy melingkarkan tangannya di pinggang Alvian "niat awal aku ingin mengikuti rencana awal mas Dion yang akan menceraikanku beberapa saat lagi kak, tapi dari pembicaraanku tadi dengannya dia tidak akan melepasku dengan mudah" balas Cindy paham akan tabiat suaminya yang memiliki gengsi tinggi tidak akan mudah melepaskanya
Alvian mengurai pelukannya dan menatap lekat Wajah Cindy "apa kau masih mencintainya" tanya Alvian
__ADS_1
Cindy memejamkan matanya sesaat "aku gak tahu kak, aku hanya merasa mati rasa dengannya jadi aku tak tahu masih mencintainya atau tidak" Cindy ingin jujur pada Alvian dan tidak mau menutupi apapun dari Alvian toh Alvian selalu bilang akan menerima Cindy apa adanya dan ingin Cindy jujur saja padanya walaupun menyakitkan
Sakit rasanya memang saat selama ini ia yang selalu ada untuknya tapi rasa Cindy untuknya belum cukup besar sampai bisa mematahkan rasa cinta Cindy pada Dion yang jelas mengabaikannya selama ini ta[i Alvian mencoba menerimanya toh Alvian sendiri yang menawarkan selalu ada di samping Cindy apapun keadaannya