
Ceklek!!
"Dok, Ayah mertua saya-" Bicara Ash terhenti saat dokter keluar menampilkan wajah yang tidak biasa.
"Saya mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tuan Theo kehilangan terlalu banyak darah, beliau dalam keadaan sangat kritis. Dia koma, kemungkinan selamat hanya 30% jika beliau mampu melewati masa kritisnya." Jelas Dokter.
Tubuh Shena seketika merosot terjatuh di lantai, tangisnya histeris. Ash mencoba menenangkannya. Direngkuhnya tubuh mungil itu.
Kondisi Ash dan Tuan Thomi tidak jauh beda dengan Shena. Tuan Thomi dengan segala penyesalannya tidak bisa menutupi kesedihannya.
2 jam berlalu dan Dokter keluar untuk memberikan kabar terbaru mengenai kondisi Tuan Theo yang kritis.
Tuan Theo dinyatakan meninggal oleh Dokter karena kondisi tubuhnya yang tidak mampu melewati masa kritisnya.
Shena kembali merosot, tangisnya bahkan lebih pecah. Ash sendiri tidak bisa membendung kesedihannya, ia telah kehilangan sosok ayah mertua yang sudah seperti ayahnya sendiri. Ia mengenang bagaimana awal mula mengenal Tuan Theo dan teringat pesannya untuk menjaga Shena bahkan ia menitipkan Shena padanya.
Dalam keheningan yang mendalam, berita tentang kematian Tuan Theo terdengar seperti guntur yang mengguncang hati semua orang di ruangan itu. Shena merasa dunianya runtuh saat ia memahami bahwa ayahnya, sosok yang begitu dicintainya dan mengayomi keluarganya, telah pergi untuk selamanya menyusul ibunya.
Ash tetap berpegangan erat pada Shena, mencoba memberikan kekuatan dan dukungan dalam momen yang penuh duka ini. Ia tahu betapa sulitnya untuk menghadapi kenyataan ini, tetapi mereka harus tetap kuat untuk melanjutkan hidup dan menghadapi masa depan yang tidak lagi melibatkan Tuan Theo.
Sementara itu, Tuan Thomi, Paman Shena, merasa beban berat di pundaknya. Ia merasa bertanggung jawab atas keponakannya yang sudah kehilangan sang ayah. Rasa penyesalan dan kehilangan begitu kuat di hatinya. Ia berlutut di samping ranjang adiknya yang sekarat, mencoba menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan seorang adik.
__ADS_1
Selama beberapa hari setelah kematian Tuan Theo, keluarga itu tenggelam dalam kesedihan dan proses berkabung. Tetapi, mereka juga menyadari bahwa kehidupan harus terus berjalan. Meskipun hati mereka hancur, mereka harus menemukan cara untuk bangkit dan menghadapi hari-hari yang akan datang.
Pemakaman Tuan Theo dihadiri oleh banyak orang yang mengenalnya dengan baik. Dia dikenal sebagai sosok yang murah hati, penuh kebijaksanaan, dan selalu siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Banyak kenangan indah tentang Tuan Theo terungkap dalam percakapan mereka, dan semua orang yang hadir merasakan betapa besar pengaruhnya pada mereka.
Setelah pemakaman, keluarga itu kembali ke mansion dengan hati yang berat. Ash, Shena, dan Tuan Thomi duduk bersama di ruang keluarga, memandangi foto-foto Tuan Theo yang tersusun rapi di meja. Mereka berbagi cerita tentang kenangan mereka bersama Tuan Theo, tertawa dan menangis bersama.
Pada akhirnya, mereka menyadari bahwa Tuan Theo mungkin telah pergi secara fisik, tetapi kenangannya tetap hidup di dalam hati mereka. Kebaikan, bijaksana, dan cinta yang ia miliki akan terus berlanjut melalui tindakan dan pengaruh yang ia tinggalkan di dunia ini.
Kehidupan berlanjut dengan luka yang perlahan sembuh, dan keluarga itu belajar menghadapi masa depan tanpa kehadiran fisik.
"Tuan Ash, apa kau masih memiliki obat penghilang ingatan itu?" Tanya Shena dengan nada sendu.
"Memangnya untuk apa? Kau sudah mengingatnya lagi?" Tanya Ash.
Ash memegang tangan Shena lembut.
"Shena, sayangku, aku tahu betapa beratnya saat kita harus melepas ayah. Dia adalah sosok yang sangat istimewa bagi kita semua. Tetapi, kita harus mencoba untuk melanjutkan hidup dengan mengenangnya." Kata Ash.
Shena menangis pelan.
"Aku tahu, Ash. Tapi rasanya begitu sulit untuk menerima kenyataan bahwa dia benar-benar pergi. Ayah ku adalah sumber kekuatanku dan inspirasiku. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpanya."
__ADS_1
Tuan Thomi menimpali dengan suara lembut.
"Shena, keponakan ku, kita semua merasakan kehilangannya. Tapi Theo ingin kita tetap kuat dan menghormatinya dengan melanjutkan hidup kita dengan penuh semangat. Ingatlah segala kebaikan dan pelajaran yang dia ajarkan kepada mu. Itu adalah hadiah berharga yang bisa kau simpan dalam hati selamanya. Sebelum dia pergi, dia sudah menitipkan mu pada pria baik pilihannya. Kau sekarang sudah memiliki Ash, dia pasti akan selalu memberimu kebahagiaan."
"Ayah menginginkan yang terbaik untuk mu. Dia ingin kau menjalani hidup dengan penuh cinta, kebahagiaan, dan rasa syukur. Kita harus menjaga semangatnya hidup dalam diri kita sendiri dan meneruskan nilai-nilai yang dia berikan kepada kita." Kata Ash.
Shena menghapus air matanya.
"Aku akan mencoba, Tuan. Aku akan berusaha menjaga semangat dan warisan ayah ku tetap hidup dalam hidupku. Aku tahu itu adalah cara terbaik untuk menghormatinya."
Tuan Thomi mengangguk setuju.
"Itulah yang harus kita lakukan. Kita harus saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dalam proses kesembuhan ini. Theo selalu menginginkan kebahagiaan kita, jadi mari kita lakukan itu untuknya."
Ash memeluk Shena erat.
"Bersama-sama, kita akan melalui masa sulit ini. Kita akan mengenang ayah dengan cara yang terbaik yang kita bisa dan memastikan dirinya terus hidup dalam keluarga kita."
Shena menggenggam tangan Ash.
"Terima kasih, Tuan, Paman. Kita adalah keluarga yang kuat sekarang. Bersama-sama, kita akan melangkah maju dan menjalani hidup dengan keberanian dan rasa syukur. Ayah akan selalu ada di hati ku."
__ADS_1
Dalam percakapan mereka yang penuh emosi itu, keluarga itu menemukan kekuatan satu sama lain untuk melanjutkan hidup mereka. Meskipun mereka akan selalu merindukan kehadiran Tuan Theo, mereka tahu bahwa menghormati dan menjaga kenangannya adalah cara terbaik untuk meneruskan perjalanan hidup mereka. Dengan cinta dan dukungan mereka satu sama lain, mereka bersiap untuk menghadapi masa depan dengan hati yang terbuka, mengikuti jejak kebaikan yang telah ditinggalkan oleh Tuan Theo.