
Hans sedang duduk di kursi kerja dalam ruangannya dengan senyum menyeringai mendengar suara dari seberang telpon sana "apa kau mendengar jelas apa yang mereka ucapkan" tanya Hans pada orang di seberang telponnya
"iya tuan, saya tidak harus menguping dengan sembunyi-sembunyi karena mereka tadi sempat berteriak jadi memudahkan semua percakapan mereka untuk saya dengar dengan jelas, kami juga merekamnya dan sudah mengirmkannya videonya pada anda" balas pria di seberang telpon sana
"bagus, kamu ikuti mereka terus dan kumpulin bukti-bukti tentang mereka, dan saya mau kamu juga foto mereka sebanyak-banyaknya" ucap hans dengan nada tegas
"baik tuan, saya akan kabari lagi jika mereka sudah sampai di tempat tujuan" ucap pria di balik seberang telpon dan mengakhiri panggilannya dengan Hans
Hans memandangi ponselnya dengan senyum penuh arti "kena kau!" umpat Hans dengan sedikit kekehan
"tok tok tok" pintu ruangan Hans di ketuk
Hans melirik ke arah pintu "masuk" ucap Hans
kinan dan sheryl berserta putera berjalan masuk ke dalam ruangan Hans
"anak papa" hans langsung menghampiri putera dan mencium pipi gembulnya
"cih" sheryl berdecih melihat Hans yang langsung menyambar pipi putera saat melihat dirinya dan putera datang
"harusnya urus pasiennya dulu baru nyapa anggota keluarganya "sinis sheryl pada Hans yang masih membuatnya kesal sampai sekarang
"sheryl" kinan menggoyang lengan sheryl yang masih dalam mode kesal saja karena kejadian tempo hari
Hans terkekeh "jangan selalu kesal dengan kakak ipar kamu sher" ucap Hans menasehati sheryl
"idiiiih" sheryl sedikit memundurkan tubuhnya dengan gerakan slow motion "gak ingat kakak, tentang janji kak kinan yang gak akan nikah lagi kalau brian belum move on" seru Sheryl mengingatkan Hans akan janji kinan pada brian yang gak akan menikah jika brian belum move on darinya
Hans tersenyum lebar pada sheryl "jangan khawatir, sebentar lagi kakak akan benar-benar jadi kakak ipar kamu" ucap Hans dengan penuh keyakinan
__ADS_1
"aneh" sheryl mengabaikan Hans dan duduk di kursi pasien
"sudah mas, periksa sheryl dulu aja" kinan menggandeng lengan Hans agar kembali duduk di kursinya dan memulai sesi konsultasinya dengan sheryl
kinan mengambil resep obat yang di tulis oleh Hans dengan tatapan heran akan raut wajah hans "mas ada kabar bahagia apa sih, kok sepanjang kinan di sini mas senyum, gak pudar-pudar gitu" tanya kinan yang heran karena hans terus tersenyum padahal sheryl terus melontarkan kata-kata yang sedikit kasar dan mungkin bisa menyinggung perasaan orang lain jika tak paham dengan watak sheryl
Hans memajukan wajahnya agar makin mendekat ke arah kinan dan menoel hidung kinan "senang aja bisa ketemu kamu dan anak kita" hans melirik putra yang masih sibuk berceloteh di strollernya
"hoek" sheryl berasa ingin muntah melihat kekasih kakaknya yang makin lama makin sok manis ini "gak usah terlalu manis-manisan deh kak, nanti kalau kebelet mau nikah gimana? kan kalian belum bisa nikah dalam waktu dekat" dalam pikiran sheryl, pernikahan antara Hans dan kinan akan sulit terjadi dalam waktu dekat karena Brian yang masih saja selalu ingin kinan rujuk dengannya dengan berbagai cara bahkan tak jarang brian meminta bantuannya untuk itu
"kita lihat saja nanti" balas Hans dengan ambigu
kinan hanya menatap heran Hans, merasa ada yang di tutupi dari kekasihnya itu karena tingkah aneh dari Hans yang tak biasanya akhir-akhir ini
***
"kau tidak apa-apa" tanya seorang pria pada kayla yang tadi hampir saja terjatuh tapi langsung di tahan pria itu
"aku juga gak ada niat begini kayla, waktu itu aku sedang dalam pengaruh obat karena ada wanita yang coba memasukannya dalam minumanku, karena ingin menjeratku" balas pria itu dengan jujur
"bukan berarti kau bisa seenaknya memaksaku untuk melakukannya" kayla jatuh terduduk dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan
pria itu ikut berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan kayla "aku kan sudah minta maaf kay, aku gak ada niat melakukannya denganmu, dalam pikiranku kau adalah dia" balas pria tersebut
kayla mendongak dengan masih terisak "kau mengira aku non kinan, dan berlaku seenaknya padaku hah" teriak kayla
"aku benar-benar minta maaf kayla, bukankah kau bilang untuk melupakannya dan tidak perlu membahasnya lagi. aku juga sudah minta maaf berkali-kali padamu, bahkan aku sudah menawarkan sejumlah uang untukmu untuk mengganti kerugian mulai tapi kau menolaknya " balas brian
ya laki-laki yang meniduri kayla adalah brian, kenapa mereka bisa berakhir dalam kondisi seperti ini? itu bisa terjadi karena ulah salah satu wanita yang menyukai brian gapi tak di hiraukan oleh brian.
__ADS_1
beruntung brian bisa menjauh dari wanita dengan susah payah, tapi sialnya brian malah bertemu dengan kayla dan membawa kayla pergi dengannya karena mengira kayla adalah kinan dan brian imgin kinan yang menyelamatkannya
Brian memaksa kaila untuk berhubungan badan karena mengira yang di sentuhnya adalah kinan.dan tambah sial lanjutan dari brian adalah , hans sempat melihat mobil brian yang berhenti di tengah jalan sepi yang kebetulan hans lewati sehabis ia mengoperasi pasien di jam malam.
dan tambah parahnya lagi hans yang penasaran dengan mobil brian yang berhenti di pinggir jalan sepi itu malah bergerak-gerak tak beraturan
saking penasarannya hans akan hal yang ia lihat membuat hans langsung tersadar dari kantuknya dan memilih menunggu mobil brian berhenti bergerak agar bisa di tanyain oleh hans
dan saat mobil brian mulai berhenti bergerak, hams melihat seorang wanita keluar dengan menangis dengan pakaian berantakan dan jalan wanita itu agak pincang juga kepayahan dan terlihat kesakitan di bagian selangkangannya
hans tentu mengenali siapa wanita yang keluar dari mobil brian adalah kayla, karena jalan yang ia lewati memiliki penerangan yang cukup terang, masalahnya hanya sepi saja dan tak banyak orang yang lewat karena itu sekitar jam 1 dini hari
kayla mendorong tubuh brian "kau pikir aku wanita bayaran hah!" bentak kayla tak terima akan ucapan brian yang akan mengganti rugi dengan sejumlah uang
"lalu aku harus gimana kayla" tanya brian dengan nada prustasi
kayla menggelengkan kepalanya dengan menyandarkan tubuhnya di badan mobil "aku gak tahu" kayla menatap brian dengan isak tangisnya "aku sudah coba merelakan kesialanku yang harus kehilangan mahkotaku karena laki-laki bajingan macam kau. tapi kalau sampai aku harus menerima satu kenyataan pahit lagi, dan memiliki anak darimu rasanya lebih baik aku mati saja" teriak kayla meluapkan emosinya yang begitu prustasi karena menerima kesialan secara bertubi-tubi
"jangan gitu kayla" brian menggelengkan kepalanya, tak mungkin ia akan bisa hidup tenang jika karena perbuatannya kayla akan memilih mengakhiri hidupnya
dulu saja saat kak rose bunuh diri di hadapannya, ia harus berjuang keras mengatasi traumanya itu dengan berkali-kali konsultasi dengan psikiater
brian memeluk kayla untuk menenangkan kayla "kita coba periksa dulu ke dokter aja ya, semoga saja benih itu gak tumbuh" ucap brian dengan berhati-hati agar kayla tak tambah tertekan
"bagiamana kalau benar aku hamil" tanya kayla membayangkan kemungkinan terburuk dari masalah yang di alaminya
"aku akan bertanggung jawab padamu" balas brian
kayla mendorong tubuh brian menjauh " tanggung jawab yang seperti apa" kayla memicingkan matanya ke arah brian
__ADS_1
"kita menikah" balas brian dengan berat hati
"gila kau!" teriak kayla menatap tajam brian yang membuat pilihan gila menurutnya karena kayla tahu betul brian masih terus berharap pada kinan walaupun kinan sudah ada hans