Menikah Dengan Orang Asing

Menikah Dengan Orang Asing
Pagi yang panas


__ADS_3

sheryl menggelung rambutnya yang basah dengan handuk dan berlari ke dapur "duh qiana belum makan" sheryl begitu gugup saat melihat jam sudah menunjukan pukul 7 pagi tapi dirinya belum menyiapkan sarapan untuk orang-orang


om bachtiar duduk di kursi pantry hanya tertawa tertahan melihat sheryl yang sedang gugup "jangan gugup gitu sheryl, kita gak buru-buru kok" om bachtiar mencolek pipi qiana "iya kan qiana" tanya om bachtiar pada qiana yang ada atas pangkuannya


qiana tak terlalu menangapi om bachtiar dan malah serius mengamati sheryl "mama tumben bangun siang, biasanya mama yang bagunin qiana" tanya qiana pada ibunya yang tidak seperti biasanya


sheryl menoleh ke belakang dan  melirik ke arah om bachtiar "itu gara-gara papa kamu" balas sheryl kembali melakukan aktifitas untuk membuat makanan qiana dan juga membuat sandwich untuk sarapan


qiana mendongak ke arah om bachtiar yang sedang memangkunya "kenapa mama bilang gara-gara papa, mama bisa bangun siang" tanya qiana dengan polosnya


"semalam papa sama mama begadang sampai malam" balas om bachtiar


"itu mama sama papa begadang, kenapa qiana gak boleh begadang" qiana mengerucutkan bibirnya kesal dirinya selalu di larang begadang tapi ini apa, papa dan mamanya malah begadang


"kan qiana masih kecil, mana boleh begadang, itu gak bagus" ucap om bachtiar


"itu juga gak bagus buat mama, buktinya mama bangun siang dan telat kasih qiana makan" qiana mengerucutkan bibirnya karena kesal


om bachtiar mencubit pipi qiana gemas "lucu banget sih anak papa" gumam om bachtiar


"pagi qiana" sapa mario menghampiri qiana


"pagi om" balas qiana masih sedikit ketus


mario duduk di pantri berdampingan dengan om bachtiar dan qiana yang sedang memperhatikan sheryl memasak mario begitu sesak saat melihat punggung sheryl "apa hubungan kalian sudah sejauh itu" mario tentu melihat jelas tanda merah di leher bagian belakang sheryl karena sheryl sedang menggelung rambutnya dengan handuk, dan tentu mario paham betul tanda merah apa yang ada di leher sheryl


om bachtiar melihat arah mata mario "ah, itu kau tahu" balas om bachtiar dengan santai


"bagaimana bisa aku dikalahkan oleh pria macam kau" mario menatap tajam om bachtiar sambil mengepalkan tangannya kuat


om bachtiar balas menatap mario dengan santainya "gampang saja jawabanya" om bachtiar menanggapi mario dengan santai dan tak ada kekhawatiran sama sekali "itu karena aku tulus mencintainya dan dia bisa merasakannya, tidak seperti dirimu yang penuh kepalsuan" balas om bachtiar dengan sarkas


"aku benar-benar mencintainya" elak mario tak ingin di katakan mencintai sheryl dengan kepalsuan

__ADS_1


"kalau kau mencintainya tidak mungkin lebih dari sekali kamu menyakiti sheryl karena wanita yang sama" balas om bachtiar


mario menatap tajam om bachtiar tapi yang di tatap hanya biasa saja "dia sangat mencintaiku dan kauhanya di jadikan pelarian saja olehnya" ucap mario


"gak masalah kalau aku jadi pelariannya, bisa menghilangkan kesedihannya itu sudah cukup bagiku. kalau dia balas mencintaiku anggap sebagai bonus saja" om bachtiar menatap lekat sheryl yang terlihat masih sangat sibuk "aku mencintainya dengan tulus, dan kebahagiaannya adalah yang utama, dia tidak balas mencintaiku juga tidak masalah" balas om bachtiar dengan bersungguh-sungguh


"mama masih lama tidak, papa dan qiana lapar nih" tanya om bachtiar dengan suara manja pada sheryl


sheryl menoleh ke belakang "sebentar lagi " sheryl mulai meletakan sadwichnya di piring besar dan meletakan di meja pantry


"qiana minta suapin ayah ya, mama mau ngobrol sama papa" ucap sheryl pada putrinya sambil menyerahkan mangkok makan qiana


qiana mencebikan bibirnya "iya mah" qiana menoleh ke arah mario "mau nyuapin tidak" tanya qiana


"tentu" mario mengambil mangkok qiana dan mulai menyuapi qiana makan


"qiana duduk sendiri ya, papa makan di belakang sama mama" om bachtiar mengambil beberapa sandwich  di piring lebih kecil dan meletakan jus ke atas nampan  dan menghampiri sheryl


"makan di kamar yuk" ajak om bachtiar


om bachtiar tentu tahu kekhawatiran qiana "qiana sama ayah mario dulu gak papa kan, mama ada yang mau di tanyain sama papa katanya" tanya om bachtiar


"iya papa, nanti abis makan qiana sama bik laras" balas qiana masih sibuk menerima suapan mario


om bachtiar menoleh ke arah mario "aku kasih kesempatan kamu buat dekat dengan anak kamu" ucap om bahtiar


mario menatap tajam ke arah punggung om bachtiar dan sheryl yang sudah menghilang di balik pintu kamar sheryl tapi mario tak bisa berbuat banyak karena baru kali ini qiana mau dekat dengannya dan tentu mario tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu


om bachtiar masuk ke dalam kamar mereka tak lupa menutup pintu kamar dan meletakan nampan berisi sarapan mereka di atas meja dekat sofa "makan dulu" om bachtiar menyerahkan sandwich pada sheryl


"om juga sarapan" sheryl ikut mengambilkan sandwich untuk om bachtiar


"bisakah panggilan kita di ganti" tanya om bachtiar

__ADS_1


sheryl mengerutkan keningnya "kenapa? sudah bertahun-tahun memanggil itu kalau di ganti nanti jadi aneh" balas sheryl memakan sandwichnya dengan lahap


"tapi kan saya bukan om kamu, dan kamu lupa semalam kita sudah sangat dekat" om bachtiar menautkan kedua tangannya dengan rapat di depan sheryl untum mengibaratkan apa yang terjadi semalam dengan mereka


muka sheryl bersemu merah saat mengingat pergulatannya dengan om bachtiar semalam "apaan sih om" sheryl membuang mukanya ke samping saking malunya


"ganti ya" pinta om bachtiar dengan suara manja


"maunya apa" tanya sheryl


"papa saja ngikutin qiana biar qiana gak bingung, dan saya manggil kamu mama gak sheryl lagi" usul om bachtiar


"tapi kita kan gak nikah om, masa manggil papa dan mama" tanya sheryl


"mau nikah dulu" tawar om bachtiar


"ya gak gitu juga om" balas sheryl


"ya sudah, gak papa lah kita manggil itu kalau di tanya orang tingal bilang saja buat qiana manggilnya karena qiana kan manggil saya papa dari dulu" jelas om bachtiar


"iya deh pah" sheryl tersenyum malu saking canggungnya saat pertama kali memanggil om bachtiar dengan paggilan yang berbeda


"terima kasih mah" om bachtiar langsung mencondongkan tubuhnya ke arah sheryl dan mengecup bibir sheryl


"papa" rengek sheryl dengan nada manja karena om bachtiar menggigit pelan bibirnya


"makin gemas deh kalau papa lihat mama lagi malu-malu gitu" ucap om bachtiar dengan gemasnya


om bachtiar memindahkan tubuh sheryl ke atas pangkuannya dan melahap bibir yang begitu memabukan om bachtiar itu dengan rakusnya  "emmmmm" sheryl mendorong tubuh om bachtiar agar menjauh darinya "ini masih pagi loh pah" sheryl mengingatkan om bachtiar bahwa ini masih pagi


"kenapa kalau pagi, pagi yang dingin ini kita buat panas saja pasti akan sangat menggairahkan " ucap om bachtiar dengan tatapan nakalnya


"nanti kalau qiana masuk gimana? biasanya kan dia masuk gak pakai ketuk pintu" balas sheryl

__ADS_1


'itu gampang" om bachtiar memindahkan kembali tubuh sheryl dan berjalan ke arah pintu dan "ceklek" om bachtiar mengunci pintu kamar mereka "selesai kan" om bachtiar langsung mengangkat tubuh sheryl tinggi dan memangut bibir sheryl dengan rakusnya


kaki shery mengalung di pinggang om bachtiar saaat om bachtiar menggendong sheryl bagai anak koala tanpa melepas pangutan mereka ke atas ranjang "mari panaskan pagi ini" ucap om bachtiar kembali memangut bibir sheryl


__ADS_2